Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Kebohongan Jay


__ADS_3

Dara terbangun, ketika Noah sibuk memainkan rambutnya yang terurai panjang. Bocah balita itu memang senang menyentuh rambut sang ibu. Dara tersenyum, diraihnya tubuh sang putra dan dibawa ke pelukannya.


"Noah, maafkan ibu ya. Ibu sangat sibuk sampai tak sempat bermain denganmu," ucapnya. Meski ia tahu bahwa Noah masih kecil dan belum bisa mencerna perkataannya, apalagi mengerti betapa kacau keadaannya saat ini.


"Ayo kita buat sarapan," ucapnya sembari bangkit dan menggendong sang putra.


Ia berjalan ke dapur. Tempat itu bersih dan nampak rapi, padahal Dara lupa kapan terakhir ia membersihkannya.


Wanita itu kemudian membuat sarapan dan makan sambil menyuapi Noah. Hari itu ia merasakan kosong. Baru semalam tadi ia menangis, paginya ia seperti tak mengingat apapun.


Ia menatap ke arah kamar mandi yang kosong, kemudian beralih ke halaman belakang yang juga kosong. Ia juga tak punya cucian untuk dijemur karna belakangan ini ia lebih sering menggunakan jasa cuci tetangga sebelah.


"Apa Jay sudah berangkat ke kedai?" gumamnya. Ya, Dara yakin Jay pasti sudah berada di kedai karna waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Setelahnya, wanita itu bersiap untuk mengantarkan Noah ke tempat pra sekolahnya. Setelah mengantar ke sana, Dara masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.


Wanita itu akhirnya kembali untuk memastikan apakah Jay benar-benar ada di kedai mie Bibi Kim. Meski harus berjalan kembali ke sana dan menempuh jarak kurang lebih satu kilometer, Dara tak keberatan karna ia hanya ingin memastikan Jay ada di sana.


Sesampainya di kedai, ia melihat Bibi Kim sedang mengelap setiap meja yang ada di dalam kedai. Wanita separuh baya itu nampak sangat sibuk, keringat yang mengalir di pelipisnya adalah bukti.


"Selamat pagi Bibi Kim," sapa Dara.


Wanita yang semula sibuk dengan serbetnya kini menghampiri Dara, berkacak pinggang seolah ingin melontarkan protes.


"Di mana Jay, kenapa dia belum datang?" tanya Bibi Kim.


Di saat itu juga, tubuh Dara seolah melemas. Kaki-kakinya terasa keberatan menahan berat tubuh yang tak seberapa itu. Wanita itu hampir tumbang, dunia di depannya seolah berputar dan bergetar. Ia hanya membisu, sedangkan keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya layaknya deras hujan.


"Dara?" Bibi Kim menepuk pundak Dara.


Pakaiannya seketika basah, Bibi Kim bisa merasakannya dengan telapak tangan yang menyentuh pundak Dara.


"Kau baik-baik saja?" tanya Bibi Kim cemas.


"Jay tidak ada di rumah," jawab Dara, melenceng dari pertanyaan Bibi Kim barusan.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Aku ke sini untuk memeriksa apakah dia sudah berangkat ke kedai atau belum," lanjut Dara.


Bibi Kim mengangkat ujung bibirnya, sebuah senyum sinis tergambar dari raut wajahnya.


"Baguslah dia pergi," ucap wanita separuh baya itu. Ia kembali sibuk mengelap meja-mejanya. "Aku curiga kalau dia adalah orang suruhan Won Company."


"Apa landasan Bibi Kim mengira begitu?" tanya Dara penasaran. Ia mencoba mengendalikan dirinya, meski rasanya sakit karena telah ditinggalkan oleh Jay begitu saja.


"Beberapa kali aku mengetahuinya berbohong," jawab Bibi Kim. Raut sesal tergambar jelas di wajahnya, sebenarnya ia sangat kecewa pada Jay. Wanita itu bahkan sudah sangat mempercayai Jay di perkenalan sangat singkat itu.


"Kenapa bibi tak memberitahu aku?" protes Dara.


Wanita separuh baya itu melirik sebal. "Sepertinya kalian sedang dimabuk cinta," ucapnya.


Dara menahan sesak di dadanya, entah mengala kepalanya mendadak pusing seperti dihantam oleh benda keras. Mengetahui Jay pergi dan mungkin saja menipunya selama ini, membuat Dara merasa shock berat


Beberapa detik kemudian yang ada di pandangan Dara hanyalah gelap. Gadis itu tumbang dan tak sadarkan diri.


"Dara!!!" seru Bibi Kim yang terkejut karna Dara tiba-tiba pingsan.


Jay mengganti pakaiannya sendiri. Selama tinggal di Asia Town bersama Dara, ia selalu mengenakan pakaian almarhum suami wanita itu. Benar-benar tak tahu diri.


"Cih... Dia pasti membayangkan wajah suaminya ketika melakukan itu denganku," gumam Jay.


Pria itu kini hanya mengenakan kaos oblong tanpa lengan, jeans dan sepatu lusuhnya yang dulu. Saat ini ia sedang menaiki sebuah bus yang menuju ke Seattle.


Bus itu berhenti di sebuah terminal di mana penumpang yang menuju Seattle harus berpindah ke bus lain. Jay cukup terkejut dengan rute bus, baru kali pertama ini ia menaiki bus untuk melakukan perjalanan jarak jauh.


Sebenarnya bisa saja ia menelpon Chris untuk menjemputnya seperti biasa. Tapi, Jay tidak bisa menunggu terlalu lama di Asia Town. Ia sudah tak sanggup lagi berada di sana. Tepatnya, ia akhirnya menemukan alasan sepele untuk meninggalkan tempat itu dan tidak diharapkan untuk kembali.


Saat turun dari bus, Jay segera mencari tempat telepon umum. Ia memiliki misi lain untuk kembali ke Seattle. Pria itu menekan beberapa digit nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Jay memang memiliki keahlian menghafal beberapa nomor secara khusus.


"Hallo," ucapnya sesaat setela teleponnya diangkat. "Ini aku, Yah."

__ADS_1


"Jay? Bagaimana kabarmu? Kapan kau akan memutuskan kembali ke Seattle?" tanya Bill.


"Ya, hari ini aku akan pulang." Jay merendahkan nada bicaranya


"Syukurlah kau memutuskan pulang. Kau benar-benar pulang 'kan? Maksudku, bukan hanya mampir." Bill memperjelas


"Iya, Yah. Aku pulang."


"Baguslah. Sudah seharusnya kau menjalani hari-hari normal seperti biasa. Datanglah untuk makan malam bersama, Ayah akan menyuruh juru masak untuk membuatkan makan malam untuk kita," ucap Bill. Sosoknya yang baik dan ramah mungkin bisa menipu Jay selama bertahun-tahun, tapi Jay sudah semakin dewasa. Dia bukanlah anak remaja berusia lima belas tahun seperti yang telah ditemui Bill dulu. Jay selalu mencoba berhati-hati pada ayah angkatnya itu.


"Ya, sampai jumpa." Jay menutup teleponnya.


Ia kembali mencari bus, tapi bus yang menuju ke Seattle sudah tidak ada di sana. Sehingga Jay harus menggunakan taksi.


Supir taksi yang melihat penampilan Jay, mungkin akan menilainya rendah. Ia berulang kali melirik remeh dari spion depannya.


"Seattle cukup jauh, sekitar dua puluh kilometer," ucap pria Amerika berkulit hitam itu.


"Hmmm..." sahut Jay.


"Ongkos taksinya sangat mahal." Ia kembali melirik pada Jay. "Apa anda bisa membayarnya?"


"Berapa?" tanya Jay dengan nada bosan.


"Mungkin bisa sampai lima puluh dollar."


Jay tidak merespon, ia hanya sibuk memandang ke luar jendela.


"Awas saja jika tidak membayar, aku akan langsung menelpon polisi," gerutu si supir taksi.


Setelah menempuh perjalanan yang jauh, taksi itu akhirnya berhenti di depan rumah Jay. Ia melongo dan kembali melirik ke arah Jay. Sebuah lembaran uang senilai seratus dollar melayang tepat ke wajahnya. Dollar itu baru saja lolos dari tangan Jay dan dilempar secara tidak sopan di depan wajah si supir taksi.


"Ambil kembaliannya!" ucap Jay yang kemudian melangkah keluar taksi.


Mobil taksi itu masih belum berjalan. Si supir taksi masih penasaran apakah Jay akan benar-benar masuk ke rumah mewah itu. Tak berapa lama gerbang rumahnya terbuka. Seorang pria separuh baya berjas hitam keluar dan menyambut penumpang taksinya.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah, tuan Jay."


Supir taksi itu benar-benar terkejut. Memang benar ia tak bisa menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya.


__ADS_2