Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Musuh dalam Selimut?


__ADS_3

Hari demi hari dilewati. Jay semakin aktif bekerja di kedai bibi Kim, ia pun juga mulai nyaman memasak mie setiap hari.


Sementara itu Dara, mulai penasaran dengan kasus Betrice. Meski sudah beberapa minggu berlalu, pertanyaan-pertanyaan masih menghujam pikirannya.


Hari ini, Dara bahkan memutuskan untuk menjenguk Betrice di penjara. Tapi, ia tak mengajak Noah untuk menghindari hal yang tak diinginkan.


Bayangkan saja jika Betrice benar-benar seorang pembunuh, Dara takut jika keselamatan Noah terancam.


Wanita Afrika-Amerika itu muncul dengan borgol yang terpasang di kedua tangannya. Di sana ada sebuah kaca pembatas yang memisahkannya dengan si penjenguk. Wanita itu duduk tepat di depan Dara. Sebuah senyum ramah merekah di wajahnya. Senyuman yang sama, senyuman yang dulu sering menyambut Dara ketika mengantar dan menjemput Noah di tempat penitipan.


"Aku tidak menyangka akan ada yang datang untuk menjenguk seorang pembunuh sepertiku," ucap Betrice sambil terkekeh.


Wajah sendu Dara tak menggapi kekehan itu. Ia kemudian menjawab. "Apa kabar, Betrice?" tanya Dara.


Betrice tertawa. "Apa kau baru saja menanyakan kabarku?" tanyanya. Air mata terlihat menggenang, tapi sebisa mungkin Betrice menahannya.


"Aku baik. Tahanan lain takut padaku karna image pembunuh itu," ucapnya.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Dara.


Betrice terdiam. Ia kini menghindari tatapan Dara.


"Jawab aku, Betrice."


"Kau bukan pengacaraku ataupun hakim. Ku rasa kau tak berhak menanyakan itu," balas Betrice.


"Apa aku harus jadi pengacaramu dulu agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dara.


Betrice tak dapat berkata-kata, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sepertinya jam waktu berkunjung sudah habis," ucapnya yang kemudian beranjak dari tempat duduk untuk pergi.


"Betrice, tunggu! Aku tahu kau butuh waktu untuk menenangkan diri dan menceritakan semuanya padaku. Aku janji akan selalu datang untuk berkunjung," ujar Dara.


Betrice meliriknya sekilas. "Terima kasih," ucapnya sebelum sosoknya benar-benar hilang dari balik pintu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sekarang Dara belum menerima kabar dari kantor pengadilan. Meski ia tak menerima kejelasan kasus itu apakah akan berlanjut atau tidak, ia tetap sibuk mengumpulkan bukti-bukti yang bisa ia pakai dalam persidangan selanjutnya.


Beberapa pekerja yang ia temui nampak acuh dan tak menghiraukannya. Mereka bilang usaha Dara hanyalah sia-sia. Wanita itu mulai frustasi. Memang benar ia tak akan menjadi kaya meski menyelesaikan kasus ini, yang menjadi beban baginya adalah kekecewaan para pekerja yang harus ia tanggung juga.


Sepulang dari kantor, Dara mendapati Jay dan Noah sudah tertidur di kamar. Ia memang kembali sangat larut hari ini. Wajah-wajah lelap itu seolah membuat Dara melupakan bebannya untuk sejenak.


Ia duduk di samping kasur lantai itu dan membelai rambut sang putra. Jay yang menyadari keberadaan Dara pun terbangun.

__ADS_1


"Kenapa baru pulang?" tanya Jay. Sebenarnya ia ketiduran karna kelelahan.


Belakangan ini ia juga tak perlu khawatir meski Dara pulang larut malam. Orang-orang yang dikirim oleh Chris katanya bergantian untuk mengawasi tempat itu dan memastikan keselamatan Dara.


"Aku tadi mengunjungi beberapa pekerja Won Company," jawab Dara.


Jay menguap, rasa kantuk benar-benar menyerangnya malam ini. Tapi, ia harus mendengarkan cerita Dara.


"Lalu?" tanya Jay sembari mengucek kedua matanya yang menyipit.


"Mereka ingin menyerah dengan kasus ini." Bibir Dara bergetar, pelupuknya tergenangi oleh air mata.


"Bagaimana denganmu? Apa kau juga ingin menyerah?" tanya Jay.


Dara menggeleng, air matanya mulai turun membasahi pipi. Jemari Jay segera mendarat di wajah Dara untuk menyeka air matanya. "Kau bisa membuat laporan baru untuk melanjutkan proses hukum. Kurasa itu akan mempercepat jalannya penyelidikan," ucap Jay memberi saran.


"Baik. Aku akan melaporkannya besok," jawab Dara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dara kini tertidur di samping Noah, Jay yang sebelumnya berpura-pura tidur kini segera bangun untuk pergi ke tempat telepon umum. Tempat itu memang buka 24 jam, jadi siapa pun bisa ke sana sewaktu-waktu.


"Hallo, ini Jay Parker."


"Tidak apa-apa, aku tidak bisa berbicara lama di telepon. Jadi, dengarkan aku baik-baik," ucap Jay.


"Baik, tuan." Chris bersiap mendengarkan titah Jay.


"Aku membutuhkan pengacara untuk menyelidiki kasus monopoli harga yang dilakukan oleh Won Company," ucap Jay.


"Pengacara di pihak pekerja?"


"Bukan," sahut Jay. "Tapi pengacara untuk membela perusahaan," lanjutnya.


Chris benar-benar terkejut saat itu juga. "A-apa maksud anda, tuan? Apa anda ingin melawan para pekerja perusahaan anda sendiri?" tanya Chris bingung. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ada di kepala Jay.


"Aku hanya berniat menumbalkan pimpinan pabrik di Asia Town. Jika aliran dana dari pusat adalah tepat, itu artinya pihak daerah yang menyelewengkannya," jelas Jay.


Chris benar-benar tak habis pikir. Bahkan sebelumnya ia sudah memberikan bukti dokumen kas pada Jay yang menunjukkan bahwa Bill Parker adalah calon tersangkanya.


"Tapi, tuan. Bukti apa yang harus ditunjukkan untuk menjatuhkan pimpinan pabrik?"


"Dokumen dana penyelewengan yang pernah kau berikan padaku," jawab Jay.

__ADS_1


Chris kembali terkejut. Apakah mungkin siasat yang dilakukan Jay kali ini adalah untuk melindungi sang ayah angkat?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Jay kembali ke rumah, ia mendapati Dara sudah terbangun dan menunggunya di ruangan depan sembari berkacak pinggang.


"Dari mana saja kau?" tanya Dara yang seolah siap akan mengomel.


Jay kemudian mengeluarkan tangannya yang ia sembunyikan di balik saku. Ia menunjukkan sebuah bungkusan berwarna merah di depan wajah Dara.


"Aku membeli ini," jawab Jay. Yang ada di tangannya saat ini adalah sebuah alat kontra-sepsi.


Wajah Dara seketika memerah, runtuh sudah pertahanannya di depan Jay, begitu juga kecurigaan yang tadinya memenuhi kepala.


"Kalau sudah tidur dan terbangun di tengah malam, biasanya orang akan jadi susah tidur. Jadi, bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama?" tanya Jay dengan menampakkan raut polosnya.


"Jangan berisik. Nanti Noah terbangun juga," jawab Dara seolah menyetujui ide Jay.


Sementara itu Bibi Kim rupanya melihat Jay yang sebelumnya pergi buru-buru ke tempat telepon umum. Ia bertanya-tanya, mengapa Jay pergi ke tempat itu saat larut malam begini. Penasaran dengan hal itu, ia pun memutuskan untuk bertanya pada penjaga telepon umum.


"Permisi. Mohon maaf, bolehkan aku bertanya?" tanya Bibi Kim.


Si penjaga tempat telepon umum itu mengangguk. Lelaki tua itu tadinya sibuk membaca koran.


"Apa pria yang tadi sering datang ke sini?" tanya Bibi Kim.


"Pria yang mana?"


"Pria Asia yang baru saja keluar."


Lelaki tua itu mencoba mengingat-ingat. Meski sudah renta, penglihatan lelaki tua itu masih jelas. Ia bisa mengingat seluruh wajah yang ia temui setiap hari.


"Ya, dia sering ke sini. Saat malam atau bahkan dini hari," jawabnya.


"Berapa kali dia datang dalam seminggu?" tanya Bibi Kim lagi.


"Ehmmm... Sekitar tiga sampai empat kali."


Mendengar jawaban itu, Bibi Kim menjadi curiga. Bagaimana seorang tuna wisma yang hanya memiliki paman, bisa sering-sering datang ke tempat telepon umum. Bahkan sebelumnya Jay berkata bahwa ia tak pernah mengetahui kabar sang paman sebelum mereka bertemu lagi kemarin.


Bibi Kim kemudian berpamitan. Di sepanjang jalan, otaknya masih menerka-nerka.


"Jay, siapa kau sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2