
Jay membuka matanya ketika Archi mengguncang bahunya.
"Bangun, Jay," ucap Archi. Pesawat mereka baru saja mendarat.
Jay yang merasa tak nyaman disentuh oleh Archi pun segera terbangun. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Beberapa penumpang terlihat sudah mengeluari pesawat.
"Kita sudah sampai," ucap Archi lagi.
Jay sekali lagi tak menggubrisnya. Ia berdiri, meraih barang bawaannya yang ada di atas.
Jay mencoba meninggalkan Archi yang nampak kesulitan mengeluarkan kopernya yang ada di atas.
"Tch!" Jay berdecak.
Mau bersikap acuh pun Jay tak bisa. Ia kembali dan membantu Archi menurunkan kopernya.
Gadis itu tersenyum, ia tahu Jay tak akan bisa benar-benar mengabaikannya.
Keduanya keluar dari pesawat, tapi Jay tak ingin berjalan berdampingan dengan Archi. Pria itu mendahului Archi.
Di dalam kepalanya kini hanya ada Dara, ia ingin sekali mengabari wanita yang telah ia nikahi secara diam-diam itu.
Jay segera menuju tempat telepon umum yang ada di kawasan bandara. Ia pun segera menelpon Chris.
"Hallo, Chris. Boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Jay.
"Tuan Jay, anda sudah sampai di Paris? Syukurlah." Chris yang kelewat senang mendengar kabar dari Jay bahkan tak sempat merespon permintaan tolong Jay.
"Ya, aku baru saja sampai," ucap Jay.
Ia melirik ke arah luar. Didapatinya Archi yang terlihat berjalan mendekatinya.
"Chris, aku tak bisa lama menelpon. Ada sesuatu yang harus kau lakukan," ucap Jay.
Ia ingin meminta bantuin Chris agar mengabari Dara. Tapi setelahnya Jay teringat bahwa ada sebuah status yang harus ia sembunyikan dari siapa pun.
__ADS_1
Ah... sial! Batin Jay.
"Apa kau menelpon ayah?" tanya Archi yang baru saja sampai di hadapan Jay.
Gadis itu ikut masuk ke sebuah petak, tempat di mana telepon itu diletakkan.
Jay buru-buru menutup telepon, ia meninggalkan Archi begitu saja di dalam sana.
"Jay, tunggu!" teriak Archi.
Mereka berdua dijemput sebuah limousine dan dibawa ke sebuah hotel bintang lima yang letaknya tak jauh dari menara Eiffel.
Bill Parker menyewakan Jay dan Archi sebuah kamar exclusive yang jendelanya menghadap langsung pada ikon kota Paris itu.
"Ayah benar-benar ingin memanjakan kita dengan keindahan kota Paris. Apa kau senang, Jay?" tanya Archi yang saat ini berdiri di depan jendela.
Lagi-lagi, Jay tak mempedulikannya. Pria itu kini merebahkan tubuhnya pada sebuah ranjang empuk ukuran king size di dalam sana.
"Kau kelelahan?" tanya Archi, gadis itu ikut berbaring.
Di saat itulah, Archi merasa bahwa dirinya benar-benar diabaikan. Jay sudah seperti patung hidup yang berada di sampingnya. Bahkan menjawab pertanyaan singkat saja ia tak mau.
Archi membaringkan tubuhnya dan terlentang. Ia juga ikut fokus menatap langit-langit di kamar itu.
"Aku rindu hari-hari di mana kita saling bercerita dan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Sepertinya kesempatan itu mustahil akan datang lagi," ucap Archi.
"Kau tahu itu mustahil, kenapa masih bersikeras untuk mewujudkannya lagi?" Jay akhirnya membuka suara.
"Ya. Nyatanya sekarang kau sudah tak mempedulikanku lagi. Padahal dulu kau sangat menyayangiku—"
"Sebagai adik," potong Jay.
"Terserah. Aku yakin suatu saat kau akan bisa menerimaku dengan peran yang lain, bukan sekedar adik." Archi memang keras kepala.
Tiba-tiba Jay teringat pada Dara. Mereka sama keras kepalanya. Itu membuat Jay sebal.
__ADS_1
Ia menoleh menatap wajah Archi yang kini muram. Rautnya yang biasanya ceria kini nampak sedih.
"Aku tak tahu apa yang kau inginkan dariku? Ada banyak pria baik di luar sana, kenapa harus aku?" tanya Jay.
"Tahukah kau, meskipun jika kita tidak saling menginginkan, ayah akan tetap menikahkan kita."
Ya, itu semua memang terkesan gila.
Jay rupanya masih tak punya kebebasan meski kesuksesan sudah di tangannya. Ia tetap diharuskan patuh pada sang ayah yang merawatnya selama puluhan tahun untuk sekedar balas budi.
"Harusnya kau tak usah menginginkanku. Aku sudah menyerahkan hatiku pada wanita lain," ucap Jay.
Begitu sakitnya hati Archi mendengarkan itu. Ia tersenyum tipis. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan mendapatkan penolakan secara frontal dari Jay.
"Aku tidak peduli. Aku sudah pasti menang melawan wanita yang beruntung itu," balas Archi.
"Aku bosan berdebat denganmu." Jay tersenyum sinis.
Tanpa ia perkirakan, Archi tiba-tiba mendekatinya dan melayangkan sebuah kecupan kilat di bibir Jay.
Saat itu Jay terdiam, ia terkejut dengan keberanian Archi.
Otaknya kini dihujani dengan ribuan sumpah serapah, rasa bersalah kini memenuhi kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gelas yang ada di tangan Dara tiba-tiba terlepas dan pecah. Air teh hangat yang ada di dalamnya tumpah membasahi lantai.
Jantungnya mendadak berdebar-debar, Dara merasa tak tenang. Dibandingkan mengurus tehnya yang tumpah di lantai, Dara memilih untuk kembali ke kamar untuk memeluk sang putra yang tertidur lelap.
Malam ini hujan turun lagi. Hampir setiap malam kota kecil itu didatangi oleh hujan.
Suasana yang cukup muram bagi Dara, ditambah ia begitu merindukan Jay.
Perasaannya yang tak enak membuatnya merasa khawatir pada sang suami. Ia takut terjadi suatu hal pada Jay.
__ADS_1