
...Aku ada satu permasalahan di sini. Mungkin aku tidak akan pulang beberapa hari. Tapi jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya sendiri. Tidak perlu mengirim orang, aku akan menghubungimu dan memintamu menjemputku untuk pulang....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Saya Jay Parker, berjanji di hadapan Tuhan, hamba Tuhan, dan saudara seiman, bahwa sesuai dengan kehendak Tuhan, saya menerima engkau, Alexandra Meggie, sebagai istri yang sah dan satu-satunya mulai saat ini dan seterusnya." Jay berucap di depan pastur.
Debaran jantung Dara seperti hendak meletup keluar. Ia gugup, gelisah dan takut meski ini bukan kali pertama ia menikah.
"Bagaimana, Alexandra Meggie, apakah anda bersedia menjadi istri yang sah dan satu-satunya dari Jay Parker?" Pastur berucap.
Sebuah senyuman terukir di wajah jelita Dara, wanita itu mengangguk dan menjawab. "Saya bersedia."
Beberapa saksi yang ada di gereja itu di antaranya adalah Bibi Kim dan para tetangga ikut berbahagia atas pernikahan sederhana itu. Dara hanya mengenakan gaun lama milik Bibi Kim yang kebesaran di badannya, sedangkan Jay juga dipinjamkan jas yang ukurannya lebih besar dari badan.
Dua mempelai itu memang terlihat menyedihkan. Tapi semuanya merasa senang, siapa pun yang ada di sana turut menitikkan air mata karena terharu dengan proses pernikahan yang dilakukan seadanya.
"Jay Parker, anda diijinkan untuk mencium istri anda," ucap sang pastur.
Jay tersenyum, sebuah kecupan singkat melayang di bibir tipis Dara. Siapa sangka momen pernikahan yang pernah diimpikan oleh Jay justru terjadi di kota kecil ini. Benar-benar di luar ekspetasinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay membereskan beberapa barang miliknya yang ia bawa ke Asia Town. Dia bahkan tak berpikir bahwa akhirnya akan menikah dengan cara seperti ini. Dunia memang penuh dengan misteri.
"Dara," panggilnya. Sang istri muncul dari dapur dan masih mengenakan celemek di tubuhnya. Jay memasukkan sejumlah uang di kantung bagian celemek itu.
__ADS_1
"Aku hanya bawa sedikit uang kemarin, jadi hanya itu yang bisa ku berikan," ucap Jay.
Dara tersenyum, ia menghitung uang pemberian sang suami. "Tiga puluh tujuh dollar. Ini sudah lebih dari cukup," balas Dara. Wanita itu kemudian melepaskan celemek di tubuhnya, ia kemudian meraih mantelnya yang tergantung di sudut kamar. Tak lupa ia membangungkan sang putra—Noah—untuk diajaknya mengantar si 'ayah baru' ke halte Asia Town.
"Kau tidak mau sarapan dulu?" tanya Dara.
Jay menggeleng. "Aku takut terlambat. Pamanku pasti akan mengomel."
"Kenapa kau tidak bekerja di sini saja? Dengan begitu kita bisa tinggal bersama layaknya keluarga normal," ucap Dara.
Jay bilang ia sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di Seattle, saat akan menikah, Jay bilang ia harus mengambil cuti dadakan selama tiga hari. Jika ia tak masuk setelah tiga hari cuti, Jay khawatir ia akan dikeluarkan.
"Sementara aku harus menyelesaikan kontrak kerjaku di sana. Setelah kontrak satu tahun itu habis, akan ku pikirkan untuk mencari pekerjaan di Asia Town," jawab Jay. Pria itu memegang kedua bahu Dara. "Tenang saja. Aku akan pulang paling lama satu bulan sekali."
"Iya, tidak apa-apa. Oh ya, titip salam untuk pamanmu. Kapan-kapan ajak dia ke sini, agar aku bisa lebih mengenalnya."
Jay mengangguk, pria itu kemudian melayangkan kecupan di dahi sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay terdiam di meja kerjanya. Beberapa laporan terbaru atas aliran dana yang melenceng dari pencatatan perusahaan baru saja ia terima.
Kepalanya seperti akan pecah karena memikirkan masalah yang tak kunjung selesai. Bahkan satu masalah belum selesai, tapi muncul lagi masalah baru.
"Tuan. Mengapa waktu itu anda menelponku dan menggunakan bahasa Spanyol?" tanya Chris yang baru saja datang.
__ADS_1
Ia membawa sebuah nampan berisi semangkuk salad sayur dan segelas jus untuk makan siang Jay.
"Sudah ku bilang, ada masalah yang harus ku selesaikan di sana. Masalah yang tak bisa kau campuri," jawab Jay sembari meraih segelas jus di depannya untuk dirasakan.
"Mohon maaf, tuan. Boleh saya bertanya?"
Jay melirik ke arah Chris. "Boleh. Tanya saja."
Chris nampak ragu, walau pada akhirnya ia tetap memutuskan untuk bertanya.
"Mengapa anda mengirim sejumlah uang lewat wesel untuk nona Alexandra Meggie, apa dia memeras anda?" tanya Chris.
Jay tersenyum bosan. Chris rupanya tak memikirkan hal yang lain.
"Alexandra Meggie kehilangan pekerjaannya karena perusahaanku. Jadi, aku harus bertanggung jawab," balas Jay.
"Tapi tuan, bukankah dia tidak tahu kalau anda pemilik perusahaan Won Company?" Chris kembali bertanya.
Jay mulai memutar otak. Ia kadang hanya menjawab sejadinya, tapi ketika ditanya tentang alasan lain maka ia akan bingung.
"Emmm... Kau tahu 'kan, selama berada di Asia Town, aku tinggal di rumahnya. Uang yang ku kirimkan untuknya itu adalah biaya ganti rugi karena telah menampungku di sana," jawab Jay. Kali ini cukup masuk akal.
"Oh, jadi begitu." Chris mengangguk paham.
Jay tersenyum kecut. Di dalam kepala ia mulai merutuki dirinya sendiri. Entah mengapa menyembunyikan statusnya dengan Dara, membuat Jay merasa tersiksa.
__ADS_1