Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Sebuah Prasangka


__ADS_3

Jay perlahan mendekat dan menyudutkan Archi di dinding. Dipegangnya kedua bahu Archi dan pelan Jay menggiringnya ke arah lain.


Ranjang?


Secepat itu?


Archi yang terbius akan ketampanan Jay hanya dapat terdiam, mengikuti arah yang dituju oleh Jay.


Tubuh mereka begitu dekat saat ini, hingga membuat Archi panas dingin. Ia memang sudah menyukai Jay sejak usianya menginjak remaja. Baginya Jay adalah sosok yang sempurna untuk dicintai.


"Good night," bisik Jay sembari mendekatkan bibirnya di telinga Archi.


Gadis itu menelan saliva, ia benar-benar terhipnotis akan pesona Jay saat itu juga. Tanpa ia sadar, dirinya kini digiring ke ambang pintu.


Jay berhenti, ia menatap wajah Archi yang kini memerah. Sebuah senyum yang terkesan seperti ejekan merekah dari bibir Jay.


Archi masih terdiam, terkesima dengan pria yang dicintainya itu. Hingga sebuah dorongan pelan menyadarkan fantasi nakal yang sudah terbentuk di kepala Archi.


Gadis itu sudah berdiri di luar kamar Jay. Pintu kamar itu ditutup tepat di depan wajah Archi. Ia tak menyangka Jay telah berhasil membodohinya.


Suara kunci yang diputar seolah membakar telinga Archi, gadis itu marah tapi ia tak bisa mengeluarkan emosinya.


Hanya senyum simpul saja yang keluar dari wajah rupawan itu untuk menanggapi kesombongan Jay.


"Lihat saja, nanti! Aku akan membuatmu tergila-gila padaku," guman Archi.


Gadis itu kemudian berbalik. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jay memegang sebuah amplop putih berisikan surat misterius yang aneh. Ia menemukan surat itu ketika masih berada di rumah Dara.


Di luarnya mungkin bertuliskan surat itu berasal dari kantor pengadilan Asia Town, padahal nyatanya surat itu berasal dari pihak lain.


Sebuah nada ancaman dapat Jay rasakan dari setiap kalimat yang ia baca dari surat itu.


Ia mendadak khawatir dan menyuruh Chris mengirim beberapa orang untuk memastikan keselamatan Dara.


Tepatnya sudah tiga hari dari sekarang, Jay belum mendengar kabar apa pun dari para pesuruh Chris. Tapi pagi tadi, Chris sudah menemukan titik terang.

__ADS_1


Laki-laki itu datang ke ruangan Jay di kantor utama Won Company untuk membicarakan masalah ini.


"Surat itu berasal dari pihak pimpinan pabrik," ucap Chris sembari menyodorkan bukti tulisan tangan pimpinan pabrik yang berhasil ia dapatkan dari para pesuruh.


"Kenapa pimpinan pabrik melakukan pengancaman ini?" Jay bertanya sembari mengamati tulisan-tulisan itu.


"Hal itu dia lakukan karena merasa dirugikan atas kasus itu, tuan," jawab Chris.


"Dirugikan?"


"Pimpinan pabrik sudah ditetapkan sebagai tersangka monopoli harga," ucap Chris.


"Sudah?" Jay bahkan belum bergerak untuk mengurus apa yang sudah ia rencanakan.


Siapa kira-kira yang mencuri garis start Jay untuk melakukan hal tersebut.


Telepon di atas meja Jay berdering nyaring. Jay pun segera mengangkatnya.


"Hallo?"


Dahi Jay mengernyit. Telepon itu dari sang ayah yang kini berada di kediaman Jay.


Jay mendengus. Sebal rasaya menghadapi pengadu seperti Archi.


"Aku tidak mengusirnya. Dia yang pergi sendiri," jawab Jay cuek. Ia tak mau ambil pusing tentang masalah gadis pengganggu itu.


"Jay, bukankah sebelumnya ayah sudah membicarakan ini padamu...."


Jay terdiam, ia tak mau memperjelas topik bodoh ini. Tentangnya dan Archi sebaiknya tidak ditanggapi apalagi dilanjutkan.


"Cobalah untuk mulai menerima Archi karna suatu hari nanti kau akan menikah dengannya," lanjut Bill.


Jay menarik napas panjang dan menghembuskannya. Pria itu hanya sedang mengontrol emosinya, ia harus sabar menanggapi keinginan Bill yang konyol.


"Ya, baiklah," jawab Jay. Ia tak ingin ada perdebatan lagi.


"Bagus. Ayah punya dua tiket perjalanan ke Eropa untukmu dan Archi."


"Apa?"

__ADS_1


"Ayah yakin dengan berlibur bersama, kalian akan jadi makin dekat..."


Nuth...


Belum sempat Jay menjawab, Bill sudah menutup teleponnya.


"Ah sial!" umpat Jay. Chris yang ada di depannya pun jadi penasaran.


"Ada apa, tuan?" tanyanya.


"Ayahku menyuruhku untuk pergi berlibur bersama Archi ke Eropa," jawab Jay.


Raut wajah Chris pun juga ikut bingung. Ia sudah tahu bahwa Jay tidak menyukai Archi. Dan upaya yang dilakukan Bill untuk menyatukan keduanya membuat Jay sangat muak.


"Apa anda akan menuruti ayah anda, tuan?"


Jay memijat pelipisnya, rasa pusing tiba-tiba merayap ke kepala dan menutupi seluruh otak.


"Dengan sangat terpaksa," ucapnya frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah paket surat dan wesel dari Seattle sampai ke rumah Dara. Kemarin seharusnya Jay sudah sampai di tempat itu, tapi sampai sekarang ia masih belum datang.


Surat itu rupanya dikirim oleh Jay sebagai permintaan maaf karena ia tidak bisa kembali lantaran ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


Wesel yang diterima oleh Dara berisi uang sebesar lima ratus dollar. Jumlah yang menurutnya besar dan baru pertama kali ia dapatkan seumur hidup.


"Kenapa Jay mengirim uang sebanyak ini?" Dara kebingungan.


Setiap minggunya Jay hanya memberikannya seratus dollar, apakah ini pertanda bahwa Jay tidak akan pulang dalam kurun waktu lima minggu?


Perasaan Dara mendadak tak enak. Entah kenapa pikiran buruk seolah mengerubuti kepalanya.


Anehnya, Dara tak hanya berpikir bahwa Jay tak kembali dalam rentang waktu tertentu. Ia juga berpikir bagaimana jika Jay berpaling?


Wanita itu segera menepis pikiran buruknya. Ia seharusnya bahagia dan fak menebar prasangka.


Baru saja ia memenangkan kasus para pekerja yang melawan perusahaan sebesar Won Company. Ia juga baru saja mendapatkan uang yang banyak dari Jay. Jadi, seharusnya tak ada alasan untuk berprasangka.

__ADS_1


"Aku tak boleh curiga. Aku akan selalu percaya pada Jay," ucap Dara.


__ADS_2