
Dara meringkuk di depan meja makannya setelah menata beberapa hasil panen yang diberikan para kliennya di lemari makan. Amplop tipis yang terselip di jasnya ia ambil. Di dalamnya terdapat uang pecahan sepuluh dolar sebanyak lima lembar. Jumlah yang tak seberapa jika dibandingkan dengan resiko besar yang akan Dara hadapi.
Meski begitu, sebuah senyuman tulus merekah di wajah Dara. Tak peduli berapa banyak uang yang akan ia dapatkan, misinya sebagai pengacara adalah untuk menegakkan keadilan. Walau tetap saja ketukan palu hakim yang akan menjadi penentunya. Untuk upah yang tak seberapa itu ambil saja sisi baiknya, Dara tak perlu kebingungan lagi untuk mencari bahan makanan, lemarinya sudah penuh dengan itu.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu menyadarkan Dara dari lamunan singkat. Gadis itu segera berdiri.
"Jay?" tebaknya. Mungkin saja Jay kembali untuk mengambil sesuatu, meski Dara yakin bahwa Jay tidak meninggalkan satu pun barang di sana.
Binar ceria lenyap dari wajah Dara ketika bukanlah Jay yang ia dapati berdiri di depan pintu rumahnya. Dua orang laki-laki berpakaian hitam dan nampak misterius berdiri di sana.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Dara, ia sedikit menutup pintunya untuk mencegah orang-orang itu masuk.
"Kau Alexandra Meggie?" tanya salah satu laki-laki di depannya.
"Bukan." Dara menggeleng. "Kau salah rumah," lanjutnya.
Kedua laki-laki itu nampak tak percaya. Mereka kemudian memaksa untuk masuk, Dara menahan pintunya sekuat tenaga. Tapi, hal itu percuma karena kedua orang itu mendobrak pintunya hingga terbuka.
"AAAAAAAAAAA!!!!" Dara berteriak.
Jay yang baru sampai di persimpangan jalan dan mendengar teriakan itu segera berlari sekuat tenaga.
"Dara... Noah..." Ia bergumam khawatir.
Ketika sampai di sana, Jay segera mengetahui bahwa dua orang yang tadi mengintai rupanya benar-benar menghampiri Dara.
Tanpa pikir panjang, Jay segera menarik baju bagian belakang salah satu laki-laki yang hendak masuk. Kemudian Jay melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah lawannya. Melihat temannya yang kesulitan menghadapi Jay, laki-laki yang satunya mencoba menyerang Jay juga.
Dua melawan satu, tentu saja Jay kewalahan. Hingga salah satu dari laki-laki itu mengambil sebuah pisau lipat di saku celananya dan menusuk dada Jay.
"JAY!!!!" Dara memekik ketika melihat Jay terkapar dengan darah yang mengalir dari dadanya.
"Tolong!!! Tolong!!!" seru Dara lagi. Ia mulai menangisi Jay.
Kemana perginya orang-orang ketika tetangganya sedang mengalami kesulitan begini?
Dua laki-laki itu kemudian kabur. Sesaat setelah dua orang itu pergi, beberapa tetangga Dara mulai keluar dari rumah masing-masing.
Bibi Kim yang kala itu baru pulang dari kedai mie miliknya terkejut melihat kerumunan orang di depan rumah Dara.
"JAY........."
Suara itu yang pertama kali terdengar oleh Bibi Kim. Wanita separuh baya itu berlari dan segera menghampiri kerumunan itu. Melihat Jay yang tak berdaya, membuatnya kesal pada seluruh orang yang ada di sana.
"APA YANG KALIAN SEMUA LAKUKAN?! CEPAT PANGGIL AMBULANCE!!!" marah Bibi Kim.
Salah seorang tetangga kemudian menawarkan diri. "Aku supir taksi, aku bisa mengantarkannya ke rumah sakit," ucap pria Amerika yang kira-kira berusia empat puluh tahun itu.
__ADS_1
"Ya! Cepat ambil mobilmu!" pinta Bibi Kim.
"Baik, tunggu sebentar," jawab pria itu. Ia kemudian berlalu kembali ke rumah untuk mengambil mobil.
Tak berapa lama taksi itu datang, orang-orang membantu Dara menuntun Jay dan menaikkannya ke dalam taksi.
"Bertahanlah, Jay. Kami akan membawamu ke rumah sakit," ucap Dara. Tubuhnya masih gemetar karena melihat kejadian yang cukup brutal di depannya.
Jay meraih tangan Dara. "Noah...," bisiknya parau, mengingatkan bahwa ada anak yang harus mereka jaga.
"Tenang saja, kami akan menjagakan Noah," jawab Bibi Kim. Dara mengangguk, ia kemudian menutup pintu dan taksi pun mulai berjalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Taksi yang membawa Jay ke rumah sakit akhirnya datang. Kira-kira pukul sebelas malam, Bibi Kim tak bisa tidur dan berjaga untuk menunggu Noah yang dipastikan aman di kamarnya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana bisa Jay terluka parah seperti itu.
Jay turun dari taksi dengan dituntun oleh Dara. Wanita itu membawanya masuk ke rumah dan membawanya duduk di ruangan depan, di mana Bibi Kim sudah menanti di sana.
"Dara, apa lukanya parah?" Bibi Kim menanyakan keadaan Jay.
"lukanya tidak terlalu dalam, tapi dokter harus menjahitnya untuk menghindari pendarahan. Untung saja pisau itu tidak mengenai organ vital, jika itu terjadi, mungkin Jay sudah kritis sekarang," jelas Dara.
Bibi Kim menunduk, raut tidak enak merebak di wajahnya. Ia merasa sangat jahat pada Jay sebelumnya. Pria itu bahkan rela melindungi Dara dan Noah dengan sepenuh jiwanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bibi Kim lagi.
Bibi Kim yang mendengar jawaban itu segera menghampiri Jay untuk meminta maaf.
"Jay, terima kasih sudah melindungi Dara dan Noah. Maaf jika sebelumnya aku tidak memperlakukanmu dengan baik," ucap Bibi Kim.
Jay yang masih merasa kesakitan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kau harus merawat Jay sampai sembuh," pinta Bibi Kim.
"Ya, perbannya harus diganti setelah tujuh jam," jawab Dara.
Bibi Kim mengangguk. "Bibi akan masuk dan tidur dengan Noah." Wanita separuh baya itu kemudian berlalu meninggalkan Jay dan Dara di ruangan depan.
Dara duduk di samping Jay dan meratapi apa yang baru saja terjadi. Tatapan Jay masih kosong, itu karena shock berat atas kejadian tadi. Sebenarnya Jay juga tak menyangka bahwa ia akan menerima tusukan di dadanya. Hampir saja ia mati.
"Tenang saja, aku akan mengganti ongkos taksi dan ongkos berobat di rumah sakit tadi," ucap Jay.
"Taksinya gratis. Ongkos di rumah sakit juga tak seberapa jika dibandingkan dengan keselamatan kita." Dara memegang tangan Jay. "Terima kasih banyak," ucap Dara.
Dua pasang mata itu bertemu. Saat itu, baik Jay atau pun Dara menyadari pesona dari masing-masing diri mereka. Mata sipit tegas dengan alis rapi dan hidung mancung Jay seolah membius Dara. Begitu pun sebaliknya, wajah rupawan Dara dan bibirnya yang berbentuk hati membuat Jay terpesona.
"Sama-sama." Jay mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dara kemudian beranjak ke dalam untuk mengambilkan alas tidur, bantal dan selimut untuk Jay.
"Kau bisa beristirahat sekarang," ucap Dara seusainya menyiapkan alas tidur untuk Jay.
__ADS_1
Jay hanya mengangguk. Kemudian ia mulai berbaring dan memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay mengerjap, ia membuka matanya setelah tidur yang tak terlalu panjang. Ia masih merasakan nyeri sehingga tanpa sengaja terbangun beberapa kali.
'ngantukkkkkkk...' Seolah ia memekik di dalam hati sekeras mungkin.
Sepasang matanya kembali terpejam, namun terbuka lagi setelah beberapa detik. Samar-samar ia melihat wajah seorang wanita yang menyambutnya. Lambat laun wajah itu semakin jelas hingga membuat Jay tersadar bahwa wanita itu rupanya adalah Dara. Jay hampir terperanjat dan reflek terbangun.
"Akh..." Jay mengaduh, bergerak saja rasanya sakit.
"Jangan terlalu banyak bergerak," ucap Dara. Wanita itu membawa perban dan obat luka.
"Aku akan mengganti perbanmu," ucap Dara lagi.
"Jam berapa ini?" tanya Jay. Matahari sepertinya belum muncul.
"Jam empat pagi, memang belum tujuh jam. Tapi, sebaiknya segera diganti sebelum Noah bangun," jawab Dara.
Jay mengangguk paham. Akan repot mengganti perbannya jika Noah sudah bangun.
Dara kemudian membuka perban yang membalut dada bagian kiri Jay. Sebuah tato singa berukuran besar terukir di sana. Tubuh bagian atas Jay yang atletis dan tak berbalut apapun membuat Dara gugup. Ia mulai gagal fokus.
Pelan-pelan ia membersihkan luka Jay dan mengoleskan obat di atasnya. Jay yang merasakan perih dan nyeri mulai berkeringat hingga membuat tubuhnya nampak seksi di mata Dara.
Ah..
Wanita itu mungkin sudah gila. Otaknya berpikir terlalu jauh. Bahkan jantungnya berdebaran seolah menerjemahkan apa yang terbesit di otak Dara.
Setelah selesai mengoleskan obat, Dara kemudian menutup luka Jay dengan perban yang baru.
"Selesai." Dara menghembuskan napas lega.
"Terima kasih," ucap Jay.
Dara mengangguk dengan gugup, melihat Jay yang bertelanjang dada bisa membuatnya semakin gila. Gadis itu kemudian meminjamkan Jay sebuah kemeja milik mendiang suaminya.
"Pakai baju ini. Kurasa ini lebih mudah dipakai."
Jay meraih kemeja berwarna hitam itu dan memakainya. Jemarinya mulai mengancingkan baju. Lagi-lagi Dara salah fokus pada lengan sebelah kiri Jay yang penuh dengan tato.
Sexy... batin Dara
"Aku pasti sudah gila," gumamnya lirih.
Jay mendongak, ia mendengar gumaman itu.
"Apa katamu?"
__ADS_1