Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Tangisan Ayu


__ADS_3

Pagi itu surya bersinar terang dan hangat. Di jalan komplek mulai ramai orang-orang berlalu lalang.


Sekali lagi Bi Ai masuk ke rumah kosan dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya terlihat pucat dengan butiran keringat di wajah dan sebagian jilbab yang basah.


"Kunaon, Bi?" tanya Triska. Ia sedang menyisir bulu Emak Chubie di teras depan kamarnya.


Bi Ai mendekat dan langsung duduk di sebelah kanannya. Mengatur napas yang masih memburu sebelum menceritakan kejadian tadi malam pada Triska.


"Terus, mang Usepnya sekarang gimana?" tanya Triska lagi.


"Sekarang demam dia. Ngigau terus kata istrinya. Rumahnya kan di sebelah rumah bibi. Heboh sekampung lah, Neng," jawab Bi Ai.


Tia yang sejak tadi ikut menguping dari depan kamar akhirnya bergerak mendekat dan duduk di sebelah kiri Triska. "Beneran itu hantunya Rima?" tanyanya.


"Kata Usep mah gitu, Neng. Pake baju putih. Ada hiasan renda di kepala. Dia gak lihat detail karena takut," jelas Bi Ai. Tangannya bergerak mengusap lengan yang berbalut kaos lengan panjang berbahan tipis.


"Hadeuh. Kok jadi gentayangan di luar, ya?" Tia mengetuk-ngetuk dagunya dan berpikir sejenak.


"Karena di sini hampir tiap hari kusiram ujung-ujung rumah pakai air campur bubuk bidara. Dia jadi sulit buat masuk," tukas Zein yang keluar dari kamar sembari mengusap rambut yang basah dengan handuk.


Triska mendongak dan sejenak terpukau melihat penampilan Zein yang tampak segar. Dia tidak sadar telah melongo sampai akhirnya lengannya dicolek Tia yang tersenyum lebar.


"Ngaruh, ya, Bang?" tanya Bi Ai sambil memandangi Zein yang bergerak mendekat dan duduk di sebelah kiri Tia.


"Iya. Tadinya mau nyari pohon bidara buat ditanam di sini. Tapi belum ada waktu buat belinya. Tiap hari sibuk ngantar sekaligus menjemput tuan putri ini. Supaya gak diganggu sama fans-nya," sahut Zein yang langsung dibalas pelototan Triska.


"Bibi mau juga ahh, Bang. Masih ada bubuk bidaranya?"


"Tinggal dikit, Bi. Nanti Bibi tolong cipratin dulu ke setiap sudut rumah. Sisanya boleh dibawa pulang," sahut Zein.


Bi Ai mengangguk. Kemudian dia bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat cuci. Tak lama kemudian terdengar suara radio dangdut yang selalu disetelnya setiap hari.


"Kita mau sarapan apa hari ini?" tanya Zein pada Triska.


"Hmm ... apa, ya? Bingung," jawab Triska.


Dia memandang balik pada Zein seolah minta pendapat.


"Ada ide gak, Tia?" Zein beralih menanyai Tia yang sedang bermain ponsel.


"Ehm ... bosen aku sama nasi uduk. Lontong kari atau lontong sayur kayaknya oke juga," jawab Tia.


"Aku mau lontong kari, ya," tukas Rama yang baru keluar dari kamar. Dia menjemur handuk di jemuran besi depan kamarnya.


"Oke. Yang lain mau sekalian dibeliin?" tanya Tia sembari bangkit berdiri. Menepuk-nepuk bagian belakang celana sebelum mendekati Rama.


"Boleh. Berarti beli dua belas bungkus. Enam lontong kari dan enam lontong sayur," sahut Rama sembari mengeluarkan dompet dari


saku celana.


Triska beranjak ke kamar untuk mengambil dompetnya. Kemudian berjalan bersama Tia menuju gerobak lontong sayur dan kari yang nongkrong di dekat pos ronda.


"Ada kejadian apa lagi kata bibi?" tanya Rama pada Zein.


"Katanya, yang ngeronda kemarin digangguin Rima. Orangnya lagi tidur. Sarungnya ditarik-tarik," jelas Zein.

__ADS_1


"Waduh! Kok jadi ke mana-mana, ya?"


"Gak ngerti juga aku. Jadi ngerasa aneh. Kayak ada yang memanfaatkan situasi."


"Maksudnya?" Rama memandang Zein dengan lekat.


Zein menggeleng pelan. Dalam benaknya dia masih menerka-nerka berbagai potongan kejadian belakangan ini. Ada yang mengganjal, tapi dia belum tahu pastinya seperti apa.


"Mas," panggil Ayu dari depan pintu kamarnya.


Rama menoleh.


"Ke sini!" Ayu melambaikan tangan.


Rama bertatapan dengan Zein sebelum akhirnya bangkit berdiri dan melangkahkan kaki mendekati Ayu.


Ayu menarik tangan Rama masuk ke kamarnya. Meminta Rama duduk di sebelahnya.


"Kemarin malam ke mana? Kutungguin," bisik Ayu. Mungkin dia tidak mau Isti mendengar pembicaraan mereka.


"Ke ... rumah Winda," Rama menjawab sambil memandangi wajah Ayu yang mendadak masam.


"Siapa itu Winda?"


"Pacarku."


Ayu mendengkus dan memalingkan wajah ke arah lain.


"Kenapa?" tanya Rama.


"Yu, aku itu nganggap kamu kayak adik. Sama seperti yang lainnya. Maaf kalo mungkin aku pernah ngerasa ngasih harapan walaupun aku tidak bermaksud begitu," jelas Rama.


Ayu mengangguk. Namun, tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kita ngobrol yang lain aja, ya," ujar Rama berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ayu menggeleng dan bangun dari duduknya. Melangkah masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran air untuk meredam suara tangisannya.


Rama menghela napas panjang dan mengembuskan dengan cepat. Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah ke luar kamar Ayu.


Di teras depan kamar Zein sudah ada Ivan, Dinar dan Satya. Tak lama kemudian Tia dan Triska datang sambil membawa kantong plastik besar.


Dinar bergerak mengambil piring dan sendok dibantu oleh Satya.


"Ayu, Isti, ayo kita sarapan," panggil Tia di depan kamar Ayu.


Isti keluar dan mendekati yang lain. Mengambil dua bungkus plastik dan kembali lagi ke kamar. Yang lain saling berpandangan.


Zein memandang Rama yang tersenyum lemah. Kemudian mereka melanjutkan memakan sarapan.


Chandra dan Ary keluar dari kamar dan langsung duduk bergabung dengan yang lainnya.


"Kalian pulang kapan?" tanya Ary sambil mengunyah.


"Minggu pagi. Mau nginap dulu di rumah Karin," jawab Dinar.

__ADS_1


"Kalo mau makan, di laci dapur ada sarden, kornet dan telur. Nasi minta tolong masakin pagi-pagi sama bibi. Jadi kalian pulang kerja udah ada nasinya," lanjut Dinar.


"Iya, Bu," sahut Ary sambil menghormat.


Dinar tersenyum melihat tingkahnya. Pria muda ini mengingatkannya pada sosok sang adik yang bertugas sebagai tentara di perbatasan.


"Mau berangkat jam berapa?" tanya Zein.


"Jam sepuluh deh. Aku mau nyuci mobil dulu," jawab Rama.


"Oke. Aku sama Triska juga mau ngantar si Emak Chubie ke klinik," sahut Zein.


"Gak usah diantar ke klinik, Bang. Sini, biar aku yang urus aja," tukas Chandra.


"Siap bersihin pup-nya?" tanya Triska.


"Siap, Teh. Udah biasa ngurus kucing di rumah. Mbok sama bapak penyayang kucing," jawab Chandra.


Triska bangun dan beranjak ke kamar. Kemudian keluar lagi sambil membawa tempat makanan kucing berbentuk dispenser dan menyerahkannya pada Chandra.


"Pintu kamar mandi dibuka aja. Dia biasa pup di toilet," jelas Triska yang dibalas anggukan Chandra. "Makasih, ya, Chan," sambung Triska seraya menepuk pundak pria muda tersebut.


"Iya, Teh."


Bi Ai yang diberi sarapan oleh Tia ikut duduk bergabung. Dengan antusias wanita paruh baya tersebut bercerita kepada yang lain tentang peristiwa semalam yang menggemparkan kampungnya.


Kampung tempat tinggal Bi Ai berada di bagian belakang komplek. Banyak warga kampung yang bekerja sebagai asisten rumah tangga atau tukang kebun dadakan bagi penghuni komplek.


Tepat pukul 10 pagi itu rombongan penghuni kosan berangkat diantar oleh Bi Ai sampai depan pagar. Sedangkan Satya, Chandra dan Ary sudah berangkat kerja dari tadi.


Dari sejak berangkat, Ayu memilih tidur di jok paling belakang. Dia duduk bersama Ivan dan Tia. Sedangkan Zein, Triska dan Isti duduk di jok tengah. Dinar menemani Rama menyetir di depan.


Sepanjang perjalanan Ayu memilih tidak ikut nimbrung dalam obrolan setelah dia bangun dari tidurnya. Ia lebih memilih bermain ponsel.


Dinar yang merasa aneh dengan tingkah Ayu, menghampirinya saat mereka berhenti sebentar untuk beristirahat di rest area tol menuju kota Bogor.


"Kenapa, Yu? Dari tadi diam terus. Biasanya kamu kan ceria," ujar Dinar.


"Enggak ada apa-apa, Mbak," sahut Ayu.


"Enggak apa-apa tapi matamu sembab," tunjuk Dinar.


Spontan Ayu memegang matanya dan tersenyum lemah pada Dinar.


Perempuan berjilbab itu memang paling perhatian dibanding yang lainnya. Mungkin karena usianya yang lebih tua dibanding penghuni wanita yang lain, Dinar selalu berperan sebagai Kakak buat mereka.


"Kamu nggak bisa bohong deh. Mbak tau banget kamu pasti habis nangis," lanjut Dinar.


"Nanti aku cerita, ya, Mbak. Tunggu kita jauh dari yang lain," sahut Ayu.


Dinar mengangguk dan menggamit lengan Ayu untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Kali ini Dinar memilih duduk di jok belakang bersama Ayu dan Isti. Sementara Ivan dan Tia pindah ke tengah, duduk bersama Triska.


Rama menemani Zein yang menyetir dengan santai.

__ADS_1


Tepat setelah azan Zuhur mereka pun tiba di rumah orang tua Rima. Suasana di rumah besar itu sudah ramai. Tenda didirikan di halaman yang luas. Beberapa orang terlihat hilir mudik mengatur segala sesuatu untuk persiapan acara haul sore nanti.


__ADS_2