
Andi berkali-kali melirik ke spion. Tangan kirinya bersiap memegang pistol. Demikian pula dengan Rey dan Kris yang duduk di tengah. Sementara Jessica yang duduk di kursi penumpang bagian depan, tampak sibuk menelepon meminta bala bantuan.
"Jangan ngebut, Di. Pura-pura saja tidak lihat mereka," ucap Rey, mencoba menenangkan supir yang sangat tegang.
"Iya, Bos," sahut Andi.
Suasana kembali hening. Keempat pasang mata itu tetap mengawasi mobil berwarna merah yang sejak tadi mengikuti mereka.
Tiba-tiba saja mobil itu bermanuver. Mengebut dan berputar tepat di depan mobil yang dikemudikan Andi.
Pintu pengemudi terbuka. Seorang perempuan muda keluar sambil menunjuk-nunjuk pada Andi.
Dug! Dug! Dug!
"Buka!" teriak wanita itu sambil menggedor kaca dengan wajah masam.
Andi bergeming. Dia tidak berani membuka kaca.
"Ada apa, Mbak?" tanya Rey dari kaca tengah yang terbuka.
"Lu, yang punya mobil?" tanya wanita itu dengan suara keras.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"
Entah kenapa, tiba-tiba saja Rey ingin menyandai wanita muda ini. Dia berusaha membuat suaranya selembut dan setenang mungkin.
"Kasih tau supir lu. Nyetir itu yang benar. Di lampu merah tadi main serobot aja. Untung gue sempat ngerem. Kalo nggak jadinya mobil kita tabrakan," jelas wanita bergaun merah tersebut dengan mata yang menyorot tajam.
Rey mengangguk,"Iya, Mbak. Maaf. Supir saya masih baru bisa nyetir."
"Ajarin yang benar!" tukas wanita itu sambil berbalik. Masuk kembali ke mobilnya dan maju sebentar.
Kemudian berhenti lagi dan keluar dengan wajah panik. Dia membuka pintu tengah mobil dan tampak sedang histeris.
"Berhenti dulu!" perintah Rey. Dia membuka pintu dan bergegas turun. Jalan cepat ke arah wanita itu.
"Kenapa, Mbak?" tanya Rey.
"Tolong! Mama gue ...."
Wanita itu tidak sanggup melanjutkan omongannya karena sibuk membangunkan mamanya yang pingsan.
Rey menekan urat nadi di leher wanita dewasa tersebut. Tertegun sendiri saat menyadari di bagian kursi penumpang ini ada satu penumpang lagi. Seorang anak perempuan kecil yang menatapnya dengan mata bulat dengan sorot bingung.
"Kris. Jessica!" teriak Rey sambil melambaikan tangan memanggil keduanya.
"Kris, kamu bantu aku mindahin anak ini ke kursi depan. Jessica, nanti kamu sama Andi ikut nyusul ke rumah sakit terdekat, ya," ujar Rey sambil masuk ke pintu pengemudi.
__ADS_1
Kris memindahkan anak perempuan kecil itu ke kursi depan. Membantu memasangkan sabuk pengaman seraya tersenyum pada gadis kecil itu.
Sementara wanita bergaun merah tadi berputar ke pintu penumpang di sebelah kiri. Masuk dan menarik tubuh mamanya ke pangkuan.
Setelah Jessica dan Kris menutup pintu, Rey langsung tancap gas mencari rumah sakit terdekat.
***
Menjelang tengah malam, mobil yang dikendarai Zein memasuki halaman rumah kosan. Setelah melepaskan sabuk pengaman dan keluar, Zein mengambil tas berisi pakaiannya dari kursi tengah.
"Mau turun atau tidur di sini?" tanya Zein pada sosok wanita bergaun pengantin berwarna cempaka, yang sejak kemarin mengikutinya ke mana-mana.
"Turun tapi nggak bisa masuk. Terus aku disuruh jadi satpam gitu?" sungut Rima.
"Boleh masuk. Tapi jangan keluyuran kayak dulu lagi. Kasian yang lain ntar jadi takut," pujuk Zein.
"Terus aku nunggu di kamar mana? Bareng kamu? Ogah!"
Zein mengangkat alis dan mendengkus. "Kamu ngisi dapur atau tempat jemuran di atas. Ingat! Nggak boleh keluyuran!"
"Di kamar mas Rama aja deh. Boleh, ya?" Rima bernegosiasi.
"Dibilangin nggak boleh itu kudu nurut! Rama itu penakut. Ntar dia pingsan lihat kamu. Heboh semua!" tolak Zein.
Rima mencebik. Dia bersikeras tinggal di dalam mobil. Zein yang sudah lelah akhirnya meninggalkan hantu galau itu, dan jalan memasuki rumah.
"Katanya nggak mau masuk!" sungut Zein sambil meletakkan tas di dapur kecil. Kemudian dia masuk ke kamar mandi. Keluar lagi dengan wajah dan rambut basah.
"Buruan keluar! Aku mau ganti baju!" usir Zein lagi.
"Ihhh! Aku nggak mau ke tempat jemuran! Di dapur juga nggak mau!" protes Rima.
"Balik lagi aja ke pohon!" bentak Zein. Dia lupa, suasana yang sepi membuat suaranya terdengar kencang.
Tok, tok, tok.
"Abang?" Suara Triska memanggil dari pintu kamar.
Zein mendelik dan menunjuk pada Rima, yang segera menyamarkan diri di dekat lemari.
"Hai, sorry. Kebangun, ya?" tanya Zein sambil membuka pintu.
Triska melongokkan kepala ke dalam kamar. Meneliti setiap sudut untuk mencari lawan bicara Zein tadi.
"Abang, tadi ngobrol ama siapa?" tanya Triska mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu. Tadi lagi ngobrol di ponsel," kilah Zein.
__ADS_1
Triska memicingkan mata, mendorong tubuh pria itu dan jalan masuk ke kamar. Matanya memandangi sekeliling. Kemudian berbalik dan tersenyum pada Zein.
"Kirain ada orang lain di sini," ujarnya sambil merapikan rambut. Sedikit salah tingkah saat Zein jalan mendekat dan meraih tubuhnya masuk ke dalam pelukan.
Triska menyandarkan kepala ke dada bidang kekasihnya itu. Tangannya melingkari pinggang Zein. Tubuh mereka menempel erat. Seolah tidak mau berpisah lagi.
"Abang kangen," ucap Zein lembut.
"Aku juga," jawab Triska dengan pelan.
Jari telunjuk Zein mengangkat dagu wanita cantik itu, hingga wajah mereka saling berhadapan. Zein memajukan wajah dan mengecup setiap sudut wajah Triska.
Wanita itu memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya. Saat indera pengecap mereka bertemu, saling menyesap penuh rindu. Hingga melupakan tempat dan waktu.
Hawa dingin di lengan kanan Zein menyadarkan pria itu bahwa Rima masih ada di dekatnya.
Zein menjauhkan wajahnya dan memeluk Triska lagi. Matanya mendelik marah pada Rima yang sedang tersenyum lebar di dekat lemari.
***
"Jadi, Abang terima buat pindah ke Jakarta?" tanya Triska.
Saat itu mereka sedang duduk bersila di ruang depan. Menonton televisi dengan volume kecil.
"Iya. Enggak enak buat nolaknya. Om udah baik banget sama aku. Dari dulu. Sekarang kesempatanku buat balas budi pada beliau," jawab Zein.
"Terus hubungan kita, gimana?" Suara Triska mulai bergetar.
"Tetap berlanjut. Kita gantian mengunjungi aja. Tiap minggu. Gimana?" Zein berusaha memujuk kekasihnya yang mulai berwajah sendu.
Triska mengangguk pelan. Walaupun dalam hati sebetulnya dia tidak rela harus jauh dari Zein, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun.
Dia sadar, Zein melakukan hal ini juga demi kebaikan hidupnya. Bisa menjadi direktur di usia semuda itu bukan hal yang gampang. Pasti pemilik perusahaan sudah mempertimbangkan banyak hal, sebelum akhirnya memilih Zein untuk meneruskan perusahaan.
"Ini buat kita juga, Sayang. Dengan gaji yang lebih besar, abang bisa nabung lebih banyak untuk biaya beli rumah. Sesuai janji abang sama ayahmu tempo hari," jelas Zein lagi.
Hatinya terenyuh saat melihat Triska mengusap ujung mata dengan jari.
Zein meraih kepala Triska dan mengecup puncaknya. Tangannya bergerak mengusap punggung kekasihnya itu.
Dia tahu, Triska pasti sedih. Seperti halnya dia, yang sebetulnya juga tidak ingin berpisah.
"Abang istirahat, gih. Aku juga mau lanjut tidur," ucap Triska sembari bangkit berdiri.
"Tidur di sini aja. Abang janji, nggak bakal macam-macam." Zein mengangkat jari tengah dan telunjuk.
Triska menggeleng pelan. Dia jalan ke luar dan menutup pintu kamar Zein. Masuk ke dalam kamarnya dan menghambur ke atas kasur. Menangis sambil menutup wajah dengan bantal.
__ADS_1