
Kedua kubu masih memperhatikan lawan masing-masing. Bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Oma Lusi pada Calvin.
Pria bertubuh jangkung itu kembali menoleh dan memandangi sosok Nenek yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.
"Kenapa harus pergi? Itu namanya kabur," ujar Calvin.
"Mereka bukan lawan kita. Ilmu mereka jauh lebih kuat."
"Aku bisa mengalahkan mereka!" jawab Calvin dengan ketus.
"Jangan sombong! Aku hanya mampu menghadapi, tapi tidak mampu menghancurkan. Lawan aja sana kalau kamu mau hancur!" tegas Oma Lusi. Wajahnya tuanya tampak gusar melihat kelakuan Calvin yang keras kepala.
Zein tetap berdiri di tempatnya. Batinnya bergejolak, antara akan pergi atau tetap tinggal di sini.
"Bang," panggil seseorang dari belakang pohon. Tak lama kemudian Satya muncul dengan wajah berkeringat.
"Ini di mana?" tanya Satya sambil mendekat. Wajahnya berubah saat menyadari ada Rima di sebelah kanan Zein.
"Ini di tempat persembunyian komplotannya Eric, dan itu adalah salah satu anak buahnya," jelas Zein sambil menunjuk pada Calvin.
"Kalau yang di sebelahnya itu siapa?" tanya Satya lagi.
"Aku nggak tahu siapa nenek itu. Kalau yang sedang melindungi kita sehingga tidak terlihat oleh mereka, itu adalah kakekku dan guru olah napasku. Yang pernah kuceritakan dulu," sahut Zein.
"Kalau ini ... Teh Rima, kan?" Satya menunjuk Rima yang memandanginya seraya tersenyum.
"Kan udah pernah ketemu waktu di bawah pohon mangga," sela Zein.
"Waktu itu wujudnya seram, Bang. Yang ini ... nggak."
Senyuman Rima melebar, kemudian dia mulai mengubah sedikit wajahnya hingga agak menyeramkan.
"Jangan iseng, Rima," tukas Zein sambil menggeleng.
Rima terkekeh pelan saat menyadari wajah Satya tampak terkejut melihat perubahannya tadi.
Oma Lusi menarik tangan Calvin dan beranjak pergi dari situ. Tenaga tuanya ternyata sanggup menggusur tubuh jangkung Calvin yang mengikuti sambil menggerutu.
Danang yang melihat atasannya pergi akhirnya ikut masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dia terkaget-kaget saat menyadari kehadiran Tasya di dekat Calvin.
__ADS_1
Wanita berkulit putih mulus itu memang agak misterius bagi Danang. Sering tiba-tiba muncul tanpa terdengar langkah kakinya sama sekali.
"Mereka sudah pergi," ucap kakeknya Zein pada pria tua di sebelahnya.
"Iya, tapi kita tetap harus waspada. Serangan bisa saja terjadi kapan pun," sahut gurunya Zein.
Kedua pria itu membalikkan tubuh dan berjalan ke arah pohon.
"Disuruh pulang dari tadi malah diam di tempat!" omel kakeknya Zein. Tangan keriputnya memukul pundak cucu laki-laki kesayangannya. Dari sepuluh orang cucu, Zein lah yang punya kekuatan paling besar.
"Maaf, Kek. Habisnya gak tega ninggalin kalian di sini. Sedangkan akulah yang menyebabkan kalian hadir melampaui batas dunia," jelas Zein sambil meringis.
"Kamu! Kenapa gak bertobat saja. Jangan gentayangan lagi!" hardik Kakek pada Rima yang mengerucutkan bibirnya.
"Nantilah, Kek. Urusanku belum selesai. Aku susah payah mendekati orang itu, tapi entah kenapa tidak pernah bisa menakutinya sedikit pun. Dia malah dengan semangat memelukku. Aku merasa gagal jadi hantu," keluh Rima.
Zein dan Satya berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa mendengar penuturan Rima.
"Biarkan manusia yang mengurusnya. Ayo, ikut kakek kembali ke alam baka," ajak pria tua itu memujuk Rima.
"Kita bicarakan nanti saja gimana? Ada kekuatan lain yang hendak kemari. Kemungkinan dari kubu mereka," tukas Pak Mahmud, gurunya Zein.
Keempat mahluk di depannya mengangguk. Kemudian mereka beranjak masuk ke lorong waktu yang berada di belakang pohon.
***
"Aku sama sekali tidak mengira bakal bisa diterobos juga. Mungkin karena orang yang ikut dengan Rima itu juga mempunyai kemampuan yang mumpuni," jawab Tasya. Dia duduk di sofa ruang tamu sambil memijat pinggangnya.
"Sepertinya Tasya harus beristirahat menjadi penjaga kita. Apalagi beberapa bulan lagi dia akan melahirkan," ujar Rey.
"Iya. Aku juga khawatir kalo Cici dan anaknya kenapa-kenapa," sela Amanda yang duduk di sebelah kanan Tasya.
Sejenak hening dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bos, kalau boleh usul. Gimana kalau kita minta bantuan pada tim di Taiwan? Mungkin mereka punya orang yang bisa menggantikan posisi Cici," sela Calvin.
"Sepertinya saran dari Calvin itu bisa dijalankan, Ko. Kita bisa minta Mike atau Lee yang ke sini," tukas Brian. Dia sangat khawatir dengan kondisi istrinya yang sekarang menurun. Apalagi kehamilan ini sudah mereka tunggu selama tiga tahun menikah.
"Oke. Kita panggil Lee. Aku lebih sreg sama dia dibanding Mike," sahut Eric.
Rey mengangguk dan segera meraih ponselnya dari atas meja. Kemudian dia berjalan menjauh dan terlihat sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
Brian mendekat ke sofa dan duduk di sebelah kiri istrinya. Tangannya bergerak mengusap punggung Tasya.
"Ayo, Sayang. Kita kembali ke kamar," ajak Brian.
"Sebentar. Aku mau ketemu seseorang di halaman," jawab Tasya.
"Siapa, Ci?" tanya Amanda.
"Guruku," sahut Tasya.
***
Chandra merasakan genggaman tangan Satya mengencang. Demikian pula yang dirasakan Ary. Dia yang sejak tadi menempelkan tangan di dada Zein, merasakan gerakan tubuh pria itu semakin kuat.
"Mas!" panggil Chandra sambil menarik tangan Satya lebih kuat.
Tiba-tiba mata Zein membuka. Satya pun akhirnya tersadar.
"Air. Kasih air!" teriak Rama. Dia sendiri mendekat di sebelah kiri Ary. Tangannya memegang lutut Zein yang sedang mengerjapkan mata.
Dinar bergegas ke dapur kecil dan menuangkan dua gelas air, kemudian membawa kedua gelas itu ke dalam kamar, dan memberikannya ke Tia dan Triska.
Kedua wanita itu membantu Zein dan Satya untuk minum. Kemudian memberikan gelas kembali ke Dinar.
"Gimana?" tanya Ivan dengan tidak sabar.
Semua pasang mata para wanita melotot ke arahnya dan membuatnya cengengesan.
"Pokoknya seru," ucap Zein pelan. Bibirnya menyunggingkan secarik senyum. Tangannya menggenggam tangan Triska yang menatapnya dengan khawatir.
"Mas Rama, Mbak Dinar dan Bang Hasni. Dapat salam dari Teh Rima," ujar Satya sambil bangkit dan duduk tegak.
Ketiga orang yang disebut itu saling berpandangan dengan bingung.
"Ehm ... gimana jawabnya, ya? Bingung aku," ujar Dinar sambil mengusap kepalanya yang tertutup jilbab berwarna hitam.
"Enggak perlu dijawab. Lambaikan aja tangan kalian ke pohon mangga. Dia ada di situ," sela Zein.
Dinar, Rama dan Hasni saling tatap. Kemudian mereka beralih lagi memandangi Zein dan Satya yang tampak mengulum senyum.
Kedua pria di tempat tidur itu saling beradu pandang. Zein menepuk pundak Satya dengan pelan seraya berujar,"Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama, Bang. Lain kali ajak aku. Jangan keluyuran sendirian. Aku nyaris tidak bisa menemukan Abang tadi," jawab Satya.
"Kalau kalian pergi lagi, pokoknya aku mau ikut!" tegas Ivan, yang mendapat anggukan persetujuan dari keempat pria lainnya.