Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Cinta Lama


__ADS_3

Sore hari yang hangat. Angin berembus lembut. Dedaunan berguguran menandakan sebentar lagi musim akan berganti.


Sebuah motor berhenti di depan pagar rumah kosan. Penumpangnya turun dari motor dan memberikan helm kepada pengendara, yang langsung melaju dari situ setelah pembayaran selesai.


Tia membuka tas dan mengaduk-aduk isinya untuk mencari kunci pintu depan. Tiba-tiba pintu terbuka. Seraut wajah muncul sambil tersenyum.


"Aih ... Chandra. Ngagetin aja," sungut Tia sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara Chandra langsung keluar rumah.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Tia merebahkan diri di atas tempat tidur. Menyibukkan diri dengan bermain ponsel.


Suasana hening dan sunyi di luar membuatnya merasa aneh. Biasanya tiap sore akan terdengar suara musik dari kamar Satya. Namun kali ini tidak.


Bbrrraaakkk!


Tia tersentak kaget mendengar suara dari kamar Satya. "Apa Chandra udah pulang?"


tanyanya dalam hati.


Bbrrraaakkk!


Bbrrraaakkk!


Bunyi itu terdengar lagi. Namun sekarang sudah berpindah ke teras depan kamar.


Suasana kembali hening. Tia pun kembali lega. "Mungkin Chandra lagi beres-beres," pikirnya.


Sekian menit berlalu, terdengar bunyi pintu rumah terbuka. Suara obrolan terdengar jelas.


Tia bangkit dan berdiri. Melangkahkan kaki menuju pintu kamar dan membukanya dengan cepat.


Dia tersenyum saat mendapati Chandra dan Satya sedang duduk di teras depan kamar.


"Tadi ke mana dulu, Chand?" tanya Tia sembari ikut duduk.


"Aku baru pulang, Mbak," jawab Chandra. Dia memandangi Tia dengan bingung.


"Ahh. Yang bener? Tadi kan kamu yang bukain aku pintu rumah," jelas Tia.


"Beneran bukan aku, Mbak. Aku baru aja nyampe," jawab Chandra dengan alis menyatu.


Tia memandangi Chandra dengan bingung. Ia memperhatikan baju Chandra yang berbeda dari yang tadi.


Seketika bulu romanya berdiri.


"Kalau bukan Chandra yang asli, lalu tadi itu siapa?" tanya Tia dengan pelan.


Mereka bertiga saling berpandangan dengan bingung.


***


Malam ini mereka makan dengan nasi kotak hasil kiriman dari Bu Wahyu. Sesekali terdengar canda tawa para penghuni kosan.


Tia yang sejak sore tadi ketakutan, akhirnya bercerita ke ketiga cewek lainnya. Mereka duduk di depan pintu kamar Zein.


Sementara Satya dan Chandra menceritakan semuanya pada keempat penghuni cowok lainnya. Sedangkan Hasni masih belum pulang dari bekerja.


"Para wanita, ayo, kita kumpul di sini," panggil Rama pada keempat temannya.

__ADS_1


Mereka semua berkumpul di tengah-tengah garasi. Saling berpandangan satu sama lain.


"Sepertinya pengganggu kita semakin menunjukkan diri. Entah itu Rima, atau hantu cewek yang di atas," ujar Rama.


"Zein akan meminta bantuan seniornya untuk mengusir kedua hantu itu secara permanen," lanjut Rama.


Bbbrrruuuggg!


Bbbrrruuuggg!


Suara benda yang dibenturkan terdengar dari arah dapur. Sontak semua mata beralih memandang ke sana.


Satya dan Ary, yang posisinya lebih dekat segera beranjak ke dapur. Mereka mengecek setiap sudut ruangan itu. Namun tidak menemukan apa pun.


"Gimana?" teriak Ivan dari garasi.


"Nggak ada yang jatuh," jawab Ary sambil berteriak pula. Pria bertubuh jangkung tersebut seketika terdiam. Dari posisi berdirinya saat ini, isi kamar Ivan terlihat jelas dari jendela yang terbuka.


Di atas tempat tidur tampak seorang wanita sedang duduk. Rambut panjangnya tergerai di belakang. Matanya menatap Ary dengan sorot mata dingin.


Ary menarik tangan Satya, kemudian menunjuk ke kamar Ivan.


"Van, cewekmu datang," ujar Satya cukup kencang.


Ivan yang merasa namanya disebut, segera berdiri dan berjalan ke pintu kamarnya. Yang lain mengikuti.


"Tunggu!" cegah Zein saat Ivan hendak membuka pintu.


Ivan memandangi Zein dengan alis menyatu.


"Biar aku yang masuk," jelas Zein.


Crrraaakkkk.


Lampu di kamar Ivan tiba-tiba saja padam. Para wanita sontak mundur dan menunggu di depan kamar Dinar.


Zein melangkahkan kaki memasuki kamar Ivan. Matanya mengawasi sekeliling ruangan dengan seksama. Berusaha menajamkan penglihatan untuk menangkap setiap gerakan di dalam kamar.


Ivan dan Rama melangkah masuk. Disusul Ary dan Satya. Sementara Chandra tetap menunggu di teras kamar bersama keempat teman ceweknya yang ketakutan.


Sesosok bayangan samar terlihat di atas tempat tidur. Duduk menyamping dengan kaki disejajarkan di atas kasur.


Rambut panjangnya menutupi wajah, hingga tidak bisa dikenali.


"Siapa kamu!" bentak Zein. Dia bisa menangkap aura berbeda pada mahluk ini.


Aura kebencian bercampur dengan kemarahan. Berbeda dengan aura Rima.


Sosok itu menoleh ke arah Zein. Namun wajahnya masih tidak terlihat.


Wwwuuuzzzz!


Angin kencang tiba-tiba bertiup. Rambut mahluk itu terangkat dan berkibar ke atas.


Wajah pucat dengan mata yang berwarna merah. Sorot mata itu begitu dingin. Menusuk ke dalam hati.


Zein menggerakkan tangan untuk membangun pagar gaib. Dalam hati dia merutuki diri yang lupa membeli bubuk bidara.


Sementara Satya juga menggerakkan tangan untuk membangun pagar pembatas di belakangnya. Agar mahluk itu tidak menyerang teman-teman di belakang.

__ADS_1


Wanita itu memandangi Zein dengan kepala dimiringkan. Iris matanya yang berwarna hitam tampak bergerak memutar.


"Malika," panggil Ivan sembari bergerak maju.


Namun, gerakannya terhenti karena tangannya ditarik Rama yang menggeleng.


"Diam di situ, Van," bisik Zein.


"Tapi dia itu Malika," jelas Ivan.


"Malika siapa?" tanya Rama.


"Mantanku sebelum Natalia," jawab Ivan.


Mendengar namanya disebut wanita itu mengalihkan pandangannya ke Ivan.


Sorot matanya berubah seketika. Demikian juga dengan wujudnya yang perlahan berubah menjadi sosok manusia.


Tangannya terulur ke arah Ivan yang bergerak maju selangkah.


"Diam!" bentak Zein.


"Dia manggil aku," sahut Ivan.


"Kalo kamu ke sana, bakal dibawa sama dia. Mungkin nggak bisa balik lagi. Tahu nggak!" tegas Zein. Rahangnya mengeras tanda dia mulai kesal.


Ivan beradu pandang dengan Zein dengan wajah yang mengeras pula.


Melihat kedua temannya sedang beradu keras kepala, Rama memajukan tubuh hingga berdiri tepat di tengah keduanya.


"Zein benar, Van. Jangan ke sana. Kecuali kalo kamu mau jadi hantu juga," ujar Rama pelan tapi tegas.


Ivan memandangi Rama dan Zein bergantian. Mencoba memahami tujuan mereka.


"Diajak bicara aja. Apa maunya mahluk itu," tukas Ary sambil menepuk pundak Ivan dari belakang.


Ivan beralih memandangi wanita di depan. Menghela napas dan mengembuskan dengan cepat.


Ia membetulkan posisi tubuh hingga berhadapan langsung dengan wanita tersebut. Jarak mereka hanya beberapa langkah saja. "Malika," panggilnya.


Wanita itu menatapnya lekat.


"Mau apa ke sini?" tanya Ivan.


"Ke-te-mu ka-mu," jawab wanita itu dengan suara berdengung.


🦉


Sementara itu di depan rumah, mobil milik Hasni menyorotkan lampu ke arah pohon mangga. Pria bertubuh agak gemuk itu mendorong pagar rumah hingga terbuka lebar.


Kemudian dia memasuki mobil kembali dan menjalankannya hingga parkir dengan rapi di belakang mobil Ary.


Hasni turun dari mobil, tangannya meraih tas kerja dari kursi samping pengemudi. Menutup dan mengunci pintu mobil dengan pelan.


Dia berjalan menuju pagar dan menutupnya kembali. Tak lupa memasang gembok di pintu pagar.


Kakinya melangkah menuju rumah. Berhenti saat melihat bayangan samar berdiri di depan jendela kamar Triska.


Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai keluar dari semua pori-pori tubuh.

__ADS_1


Sosok itu melayang ke arahnya. Berhenti dengan jarak tiga meter di depannya.


__ADS_2