Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Koko Kesayangan


__ADS_3

Dug! Dug! Dug!


Suara palu beradu dengan benda lainnya, terdengar jelas ke dalam kamar Ivan.


Pria muda itu terbangun karena terkejut. Setelah menyadari suara itu berasal dari para tukang yang sedang bekerja di atas kamarnya, Ivan pun bangkit perlahan dengan bertumpu pada kedua lengannya.


Dia duduk di tengah kasur dengan pandangan kosong dan kaki mengangkang. Tangannya bergerak mengusap wajah beberapa kali sembari menguap.


Pria dengan rambut acak-acakan itu akhirnya menjejakkan kaki ke lantai yang dingin. Berdiri dan melangkah perlahan menuju kamar mandi.


Guyuran air dingin membuat pikirannya seketika terbuka. Setelahnya dia bergegas ke luar dari kamar mandi dan berpakaian.


Mengenakan celana jeans warna biru tua dan kaus lengan pendek berwarna krem, membuat penampilannya tampak segar.


Matanya melirik ke jam di dinding, sudah pukul 8 pagi. Setelah menyisir rambut dan menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuh, Ivan melangkah ke pintu kamar.


"Mau ke mana?" tanya Tia yang sudah berdiri di depan kamar Ivan.


"Mudik. Ke Tanggerang," jawab Ivan pendek.


"Dipanggil sama Ibumu?"


"Gak. Kepengen pulang aja." Ivan berbalik dan mengambil tas ranselnya yang tergeletak di lantai. Mengisinya dengan beberapa kosmetik miliknya dan alat pengisi daya ponsel. Menutup resleting ransel dan meletakkannya di atas kasur.


Tangannya bergerak meraih jaket dari gantungan dan segera mengenakannya. Menarik ransel dari atas kasur dan menyampirkannya ke pundak sebelah kanan.


Pandangannya bersirobok dengan Tia. Wanita berjilbab biru itu menatapnya dengan mata yang berembun.


Ivan melangkah perlahan dan berhenti tepat di depan Tia yang berdiri di ruang tamu.


"Jangan nangis! Aku cuma pulang sebentar. Besok atau lusa juga udah pulang," ujar Ivan lembut. Tangannya bergerak mengusap kepala Tia.


"Apa yang kamu sembunyikan tentang Malika? Kenapa dia sampai mengejarmu ke sini?" Tia mengajukan pertanyaan dengan cepat. Sejak kemarin dia sudah menahan diri untuk bertanya.


"Ceritanya panjang, Tia. Nanti setelah pulang ke sini aku akan cerita, oke?" pujuk Ivan. Ada rasa tidak tega bila dia harus mengungkapkan semuanya saat ini.


"Sekarang aja. Paling cuma menghabiskan waktu setengah jam. Aku sangat penasaran!" tegas Tia. Dia tidak mau Ivan menghindar dan membuatnya harus menunggu lama hanya demi sebuah penjelasan.

__ADS_1


"Iya. Sekarang aja. Aku juga penasaran," ujar Ary dari seberang kamar. Pria jangkung itu berjalan cepat melintasi taman dan berhenti di depan pintu kamar Ivan.


Tia mengusap mata dengan ujung jilbab. Kemudian menarik lengan Ivan keluar rumah. Ary mengikuti di belakang.


Zein yang baru keluar dari kamar pun ikut-ikutan melangkah ke depan, sampai-sampai dia lupa untuk menjemur handuk yang masih tergantung di lehernya.


***


Hangatnya sinar matahari pagi yang menyentuh punggung tangan Amanda, membuat wanita itu merasa nyaman.


Jarang-jarang dia bisa menikmati hangatnya udara pagi di taman ini. Waktunya lebih banyak dihabiskan di dalam kamar. Terkurung.


"Kamu harus lebih banyak berjemur, biar kulit nggak terlalu pucat," ujar Rey yang duduk di sebelah kirinya.


Di tangan pria itu ada sebilah pisau yang digunakannya untuk memotong pear dan memberikannya pada Amanda.


"Katakan itu pada Calvin dan para penjaga yang lain, Ko. Aku hanya diizinkan untuk keluar rumah satu kali dalam seminggu. Itu juga dengan pengawalan ketat," sahut Amanda sambil menyuapkan pear ke dalam mulutnya.


"Mereka hanya kurang paham bagaimana cara menjaga seorang wanita. Kamu aja yang meminta untuk keluar. Paksa saja sedikit," balas Rey seraya tersenyum.


Amanda mendengkus dan membuang pandangan ke arah pohon rimbun yang menaungi mereka.


"Aku cuma pengen jalan-jalan. Hang out," sahut Amanda.


"Pokoknya jangan! Kasihan Calvin kelimpungan mencarimu!" tegas Rey.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" balas Amanda dengan nada suara yang meninggi.


"Oww ... begitu? Aku tidak tahu bagaimana nasibmu bila saat itu berhasil ditangkap oleh musuh! Kalau cuma dibunuh, masalah selesai. Tapi kalau kamu disiksa pelan-pelan, apa kamu sanggup? Aku yakin tidak!" tegas Rey.


Pria bertubuh sedang itu tiba-tiba berdiri. Berjalan menjauh sambil menggerutu.


Amanda tetap diam di atas bangku. Mencerna isi pembicaraan mereka barusan. Tanpa sadar dia bergidik. Ngeri.


Membayangkan siksaan para musuh-musuh kokonya membuatnya merasa takut. Takut yang melebihi rasa takut dihantui Rima.


Amanda tersadar, sudah lama Rima tidak menghantui dirinya. Ingatannya tiba-tiba mengembara pada sosok pria yang mengaku sebagai teman Rima. Pria bernama Zein itu juga menyebutkan nama Rama, Dinar dan Hasni.

__ADS_1


Amanda bertanya-tanya dalam hati tentang sosok pria itu. Sepertinya dia harus mencari tahu tentang pria tinggi besar yang pernah hadir pada malam itu.


Ada perasaan aneh dalam hatinya, seperti perasaan bahwa Zein bisa membantunya pergi dari sini. Dan tidak akan pernah kembali lagi.


Sekaligus, bisa membantu kokonya, untuk menebus semua kesalahan pada Rima, dan menjadi manusia yang berbeda. Manusia yang hidup normal seperti layaknya manusia lain. Bukan seperti sekarang. Menjadi buronan polisi.


Langit senja yang indah tidak mampu terlihat dengan jelas karena tertutup kabut tebal.


Rumah dua lantai ini memang terletak di perbukitan, di daerah terpencil di Cijeruk, Bogor.


Rumah ini dibeli beberapa bulan lalu, oleh sindikat tempat keluarganya bekerja, dan Amanda sudah tinggal di sini sejak tiga bulan terakhir.


Amanda yang ketakutan karena terus menerus dihantui Rima di kosan Bandung, akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah orang tuanya di Jakarta.


Namun, di sana dia hanya menetap satu bulan, sebelum akhirnya dibawa keluarganya pindah ke Singapura.


Dua bulan menetap di sana, Amanda berhasil kabur dan lari kembali ke Indonesia. Dibantu dua orang sahabatnya, Davina dan Hendri, akhirnya Amanda bisa bersembunyi di Jakarta.


Namun pelariannya harus berakhir saat dirinya nyaris saja tertangkap oleh pihak lawan. Hendri dengan terpaksa menghubungi Rey di tempat persembunyiannya bersama kokonya Amanda, di sebuah negara yang masih termasuk wilayah Asia.


Rey mengutus Calvin untuk bergerak menyelamatkan Amanda. Pria kurus dengan tanda lahir di bawah dagu itu merupakan orang kepercayaan kokonya, setelah Rey dan Brian.


Entah bagaimana caranya Calvin dan anak buahnya bisa menemukan Amanda. Sejak itu pula dia dikurung di sini, dan tidak bisa kabur lagi.


Kletak.


Kletak


Kletak


Suara derap langkah seseorang terdengar mendekati kamar yang ditempati Amanda.


Krrriiieeettt


Bunyi pintu yang terbuka membuat perempuan cantik itu menoleh. Amanda berdiri dari kursi yang didudukinya sejak tadi. Melangkah mendekati pria tinggi yang berdiri di ambang pintu.


Secarik senyuman mengembang di wajahnya saat pria itu membuka lengannya lebar-lebar. Amanda berjalan cepat dan menghambur masuk ke dalam pelukan pria tampan yang sangat disayanginya.

__ADS_1


"Koko," bisiknya sambil memejamkan mata.


__ADS_2