
Rumah bergaya sederhana tapi tetap elegan itu tampak sepi. Sejauh mata memandang tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terdeteksi.
Zein mengusap wajah lelahnya dengan tangan. Berdiri dengan kaki menyilang di tembok pos satpam di bagian depan rumah.
Petugas kepolisian sedang menyelidiki rumah, sehingga mereka yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan untuk masuk.
"Kita terlambat," lirih Irwan. Dia berdiri di depan Zein dengan tatapan kosong. Pria berkulit kecoklatan itu tampak kecewa tidak bisa bertemu dengan Eric dan membuat perhitungan terlebih dahulu.
Masih terbayang jelas di ingatannya, saat mereka bertemu pertama kali di sebuah restoran. Saat itu dia yakin bila Eric telah membuntuti dirinya dan Rima. Bukan pertemuan yang tidak disengaja, seperti yang disebutkan pria bermata sipit itu.
"Padahal sedikit lagi!" jerit Rama sambil memukul dinding pos dengan kesal. Sementara yang lain hanya berdiri mematung di tempat masing-masing.
Hawa dingin di lengan kirinya membuat Zein terkesiap. Dia menoleh dan beradu pandang dengan sepasang mata bulat milik Rima.
Wanita itu memberikan kode dengan jari telunjuk agar Zein mendekat ke arahnya, yang sedang berdiri di bawah pohon palem di sudut kiri halaman rumah.
Zein menoleh ke Satya, memberikan kode ajakan dengan dagu. Pria muda itu bergegas mengikuti langkah Zein.
"Jangan ke sana, Van. Sepertinya Zein dan Satya sedang berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata," cegah Rama pada Ivan yang hendak mengikuti langkah Satya.
"Semoga saja itu adalah Rima," gumam Ivan. Dia hanya mampu memandangi punggung kedua temannya yang semakin menjauh.
Sementara itu di rumah kosan, para penghuni perempuan sedang bersembunyi di kamar Zein. Sementara Hasni yang merupakan pria satu-satunya dalam rumah, mengintip dari balik gorden kamarnya, mengawasi halaman yang kedatangan dua buah mobil dengan beberapa orang di dalamnya.
Empat orang turun dan berdiri di dekat pagar yang terkunci. Salah seorang dari mereka mengetuk-ketuk pagar sambil memanggil nama Triska.
"Triska, ini Hana dan Firman. Kami datang untuk menjemput kalian," ucap perempuan yang mengetuk pagar.
Triska yang mendengar namanya dipanggil oleh suara yang cukup dikenal, membuatnya memberanikan diri untuk mengintip dari jendela.
"Itu beneran Hana dan Firman. Ayo, kita keluar," cetus Triska yang bergerak mengambil tas miliknya dan juga ransel milik Zein. Dia melangkah maju dan membuka pintu kamar.
Dinar, Tia dan Ayu mengikuti sambil membawa beberapa buah tas di tangan. Hasni pun keluar sambil membawa koper yang berisi pakaian dirinya dan teman-teman pria lainnya.
Tia mengangkat kandang portabel milik Emak Chubie. Kucing abu belang hitam itu mengeong pelan saat kandangnya bergoyang.
"Aku pastiin dulu kalo itu mereka, ya," ujar Hasni sambil jalan ke luar rumah. Dia mengobrol sebentar dan membuka pintu pagar. Dua orang pria bergegas masuk dan membantu para perempuan mengangkat tas dan koper.
Mereka berjalan cepat menuju mobil yang di luar rumah. Keempat perempuan itu masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Hana, dengan seorang pria yang duduk di sebelahnya.
Hasni kembali lagi ke dalam rumah untuk mengambil benda milik Zein yang tadi dititipkan kepadanya. Kemudian dia mengunci pintu dan masuk ke dalam mobilnya.
Dua pria yang tadi membantu mengangkat tas, yang ternyata adalah Firman dan Adi, dua sahabat Zein sejak masih kuliah, masuk ke dalam mobil milik Rama dan Ary.
Mereka menyetir dan mengikuti kedua mobil yang telah terlebih dahulu berangkat menuju tempat pengungsian. Sementara Hasni kembali turun dari mobil, menutup dan mengunci pagar. Memandangi rumah sesaat sebelum akhirnya masuk dan langsung menjalankan mobil menjauh dari tempat itu.
***
Pesawat yang ditumpangi kelompok Eric mendarat di bandara Changi, Singapura. Setelah melalui petugas imigrasi mereka bergegas keluar dan menemui beberapa orang penyambut yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
"Bagaimana dengan Rey dan Kris? Apa kita harus membungkam mereka?" tanya Lee kepada Eric.
"Tidak perlu. Kita masih butuh bantuan mereka," jawab Eric sambil memandang keluar kaca mobil.
"Mereka sudah membawa polisi ke tempat persembunyian. Bagaimana Koko bisa mengampuni mereka begitu saja?" tanya Lee dengan bingung.
"Mereka sudah lama ikut denganku. Dari aku bukan siapa-siapa hingga sampai di posisi sekarang. Tidak mungkin aku harus membunuh mereka. Lagipula aku yakin, suatu saat nanti mereka akan kembali pada kelompok kita." Eric menjawab dengan suara yang tegas.
Dia mengingat masa lalu bersama kedua sahabatnya itu. Mereka merupakan orang-orang dari generasi kelima yang tumbuh dan berkembang bersama. Bagaimanapun dia harus melindungi keduanya. Karena sebetulnya hal ini sudah mereka prediksi sebelumnya.
Eric teringat obrolan mereka beberapa waktu lalu. Bersama Brian, mereka duduk melingkari meja di sebuah pub. Membicarakan detail peristiwa yang mungkin bisa terjadi, sesuai penglihatan batin Tasya.
"Kamu punya tanggung jawab pada keluarga di luar sana, Kris. Jadi kamu harus pergi dari kelompok. Demikian pula dengan kamu, Rey. Jangan lupa pesanku, untuk membuat pria bernama Zein itu percaya padamu. Kemudian bantai dia dan teman-temannya yang memuakkan itu. Selanjutnya terserah kamu mau melakukan apa pun pada perempuan cantik itu. Aku tidak peduli!" tegas Eric.
Rey tampak merenung. Entah kenapa tugasnya kali ini terasa sangat berat. Selain karena hatinya mulai berpaling, dia juga merasa tidak punya harapan untuk memimpin kelompok mereka. Itu berarti seumur hidup dia akan harus melayani bos. Dan kemungkinan besar akan menjadi pesuruh adiknya sendiri.
__ADS_1
Pria berwajah manis itu sangat memahami posisinya, yang hanya anak bawaan dari istri orang nomor tiga di sindikat mereka. Sehingga dia tidak akan pernah bisa menjadi bos, seberapa besar pun jasanya pada sindikat.
"Bos, kita sudah sampai," ucap Lee yang membuat lamunan Eric terputus.
Pria berambut sedikit gondrong itu turun dari mobil dan jalan memasuki rumah besar. Di ruang tengah tampak Ayah dan ibunya sudah menunggu.
"Amanda dan Calvin, apakah mereka sudah sampai?" tanya Eric pada sang Ayah.
"Pesawat mereka baru saja mendarat di pulau itu. Kamu beristirahat saja. Tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Di sana aman," jawab pria paruh baya itu dengan tenang.
Eric menoleh dan menarik tangan Jessica. Mengajak perempuan itu untuk ikut masuk dan beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai atas.
***
Matahari pagi menyapa para pria yang baru saja sampai di tempat persembunyian. Triska dan yang lainnya menyambut kedatangan para penghuni kosan itu dengan senyuman manis beserta kopi dan aneka kue untuk sarapan.
Adi dan Firman bergantian memeluk Zein. Sorot mata ketiganya memancarkan kerinduan. Sudah cukup lama mereka tidak berkumpul. Terakhir itu saat Zein baru pindah ke Bandung lagi. Setelahnya mereka tidak pernah bertemu kembali.
"Tamunya diajak masuk dulu, Pa," ujar Naila, istri dari Firman. Perempuan yang sedang hamil tua itu tampak kepayahan untuk berjalan.
"Halo, Sayang. Apa kabar anak kita?" sapa Zein sambil merangkul pinggang Naila yang tersenyum lebar.
"Kabar baik, Om. Dia juga nanyain kapan omnya akan segera menikah. Udah tua," jawab Naila.
"Hmmm. Anak kita keluar aja dulu, jadi saat aku menikahi cantikku itu, dia bisa ikut berfoto juga di pelaminan. Bukannya ngumpet terus di perut," seloroh Zein yang mendapat sambutan tawa kedua sahabatnya.
Setelah obrolan selesai, Zein pun menaiki anak tangga ke lantai atas sambil tersenyum kecil. Mengingat hampir empat tahun dia pernah menghabiskan waktu di rumah ini.
Bangunan yang telah direnovasi ini sekarang tampak lebih cantik dari yang dulu. Dua kamar di dekat tangga sekarang ditempati Hasni, Ary, Chandra dan Satya. Sementara Rama dan Ivan menempati kamar di sebelah kamar mandi. Zein menempati kamarnya yang dulu.
Para perempuan menempati kamar di rumah utama. Sedangkan Adi kembali mengisi kamarnya di lantai bawah rumah kosan ini.
Setelah mandi dan tidur sebentar, Zein bergabung dengan teman-temannya di kamar Adi. Mereka membicarakan langkah selanjutnya. Terutama berembuk tentang rumah yang akan mereka tempati nantinya.
"Rumah itu cuma ada lima kamar. Mungkin nggak cukup buat kita semua," ujar Rama.
"Ruang tengahnya cukup besar, kita bisa sekat jadi dua kamar," sela Dinar.
"Iya, betul. Aku sama Tia mau di ruangan tambahan aja. Barangku kan nggak sebanyak barang milik Mbak Dinar dan Ayu," sahut Triska yang mendapat anggukan dari Tia.
"Aku di kamar belakang aja. Kamar yang paling besar bisa ditempati tiga orang. Chandra, Satya dan Ary," ujar Rama.
"Jadi aku sekamar sama Zein?" tanya Ivan.
"Ogah aku sekamar sama kamu!" tegas Zein. "Kita sekamar aja, ya, Sayang," lanjut Zein sambil mengedipkan mata pada Triska.
"Beuhhh! Modus pisan!" celetuk Ivan.
"Namanya juga usaha," sahut Zein. "Aku tetap di sini aja. Toh sebentar lagi bakal beneran pindah ke Jakarta," lanjutnya.
Sejenak tatapannya bertemu dengan Triska yang balik memandangi Zein dengan tatapan mata yang sendu.
"Beres ini, kita ke rumahmu lagi, ya," bisik Zein lembut di telinga Triska yang hanya mampu mengangguk mengiyakan.
Siang harinya, para pria berkumpul di ruang tamu rumah Firman. Paman Firman yang juga merupakan Ayah dari Hana, Pak Dani, memimpin rapat dadakan dengan suara yang berat.
Mereka membahas banyak hal, terutama tentang menjaga keselamatan para penghuni kosan.
Setelah selesai rapat, mereka melanjutkan dengan obrolan santai untuk mengusir ketegangan di pundak dan hati mereka.
Bagi para pria, hal seperti ini memancing adrenalin. Namun bagi wanita, hal ini bisa menjadi hal yang menakutkan dan membuat trauma.
"Hari Sabtu ini, aku berencana hendak ke rumah orang tua Triska lagi," ujar Zein pada Adi dan Firman. Saat ini mereka sedang duduk bersama di kamar Adi.
"Mau ngelamar?" tanya Adi.
__ADS_1
Zein mengangguk.
"Yakin?" tanya Firman dengan senyuman mengembang.
Zein mengangguk lagi seraya tersenyum.
"Dari dulu atuh, Gurita!" teriak Firman sambil memeluk pundak Zein. Dia mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya yang paling ditunggu pernikahannya.
"Kalo gitu, aku ikut," tukas Adi.
"Ehm. Nanti ajalah. Belum tentu juga diterima. Malulah aku kalo udah bawa-bawa teman ke sana, tapi taunya ditolak," sahut Zein.
"Nggak bakal ditolak. Yakin deh," ujar Adi sambil menepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali.
"Siapin memang mas kawinnya. Kali aja langsung disuruh akad," sela Firman.
"Besok deh. Pulang dari kantor baru ke toko perhiasan," jawab Zein.
"Triska udah tau kalo kamu mau ngelamar dia?" tanya Adi.
"Belum. Mau bikin surprise aja," sahut Zein.
"Aku kok setuju sama si cumi gendut ini, ya. Mending langsung dinikahin aja, Zein. Bawa pindah ke Jakarta. Kita kumpul bareng di sana," tukas Adi sambil mengusap jenggot pendeknya.
"Tumben si paus beluga ini setuju ama gue?" Firman menatap Adi dengan mata berkilat jahil.
"Karena kali ini saranmu benar, Cumi. Makanya aku setuju. Dan sepertinya ini pemikirannu yang benar, nomor dua setelah keputusanmu menikah dengan Naila. Selebihnya cara berpikirmu selalu absurd," seloroh Adi yang membuat Firman merengut.
Sesaat Zein merasa dejavu. Teringat masa kuliah dulu.
***
Keesokan harinya.
Hana ditemani Firman datang ke kantor polisi untuk menjenguk Rey dan Kris. Keduanya tampak sehat dan tenang. Mereka sangat antusias menikmati hidangan yang dibawa oleh Hana.
"Ibu dan adikmu sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Orang-orang sindikat tidak akan menemukan mereka. Jadi kamu bisa tenang, Kris," ujar Hana.
Kris menghentikan kegiatan menyuap dan memandangi Hana. "Terima kasih. Aku nggak tahu gimana caranya membalas kebaikanmu," sahutnya.
"Cukup dengan tetap bekerja sama dengan polisi. Agar Eric bisa segera ditemukan. Hanya dia yang menjadi target utama. Lainnya tidak," jawab Hana.
"Sulit untuk bisa menangkap Eric. Dia orang penting nomor lima di sindikat. Pengawalnya banyak," tukas Rey.
"Tapi kalian tidak tahu kan, bila orang-orang kami juga sudah banyak yang menyusup ke tempat kalian? Bahkan salah satunya memiliki jabatan yang cukup penting," sela Firman yang membuat Rey dan Kris terdiam.
Keduanya saling bertukar pandangan. Mencoba menebak siapa orang yang dimaksud oleh Firman.
Setelah Hana dan Firman pergi, Rey dan Kris masih sibuk berpikir mengenai kelanjutan nasib mereka.
"Kita tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke sindikat, Rey," ujar Kris. "Aku akan pergi jauh dari sini. Memulai hidup baru bersama keluargaku. Mungkin memang sudah saatnya untuk berhenti menjadi ********," lanjutnya.
"Kita tetap akan dicari oleh mereka," sahut Rey.
"Tidak masalah. Aku sudah menyiapkan rencana agar bisa tidak terdeteksi. Tapi untuk itu kita perlu minta bantuan dari orang lain," tukas Kris yang membuat dahi Rey mengkerut.
***
Beberapa hari kemudian.
Sepasang pria berhenti di depan rumah kosan bu Wahyu. Celingukan untuk memastikan kondisi rumah sedang sepi. Kemudian mereka membuka pintu dengan kunci palsu. Masuk ke dalam rumah dan meletakkan kotak yang mereka bawa di dapur.
Setelah selesai mereka bergegas keluar rumah dan masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Danang. Tangannya mengusap permukaan benda kecil berwarna hitam. Kemudian menjalankan mobil dengan pelan.
Duuuaaarrr!
__ADS_1
Ledakan bersahutan membuat penghuni komplek segera keluar dari rumah mereka masing-masing. Mereka memandangi rumah kosan yang hancur dan terbakar.
Tidak berapa lama kemudian petugas pemadam kebakaran dan polisi segera mengamankan lokasi kejadian perkara.