
Deru kendaraan terdengar dari jauh dan kian mendekat. Para pengawal sudah bersiap di depan villa.
Calvin sudah bersiap di balik kemudi. Di sebelahnya Brian duduk sambil mengokang senjata.
Di kursi tengah Tasya diapit Amanda dan Eric. Ketiganya juga bersiap untuk berperang dengan senjata masing-masing.
Di mobil kedua Danang dan Andi bersiap di kursi depan. Sementara Rey dan Jessica bersiap di kursi tengah.
Di mobil ketiga Deni sudah menyalakan mesin. Tugasnya sebagai pembuka sekaligus penutup jalan harus dikerjakan secara benar.
Pria dewasa itu terbayang wajah istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Berharap mereka dan keluarga para pengawal yang lain sudah sampai di Singapura dengan selamat.
Di sebelahnya Hadi sudah siap mengokang senjata.
Beberapa buah mobil mendobrak masuk ke halaman villa. Disambut tembakan para pengawal dari tempat persembunyian masing-masing.
Deni melajukan mobil untuk menghalangi mobil lain yang hendak menabrak mobil yang dikemudikan Calvin, yang bergerak maju menerobos rintangan.
Mobil yang dikemudikan Danang pun merengsek maju. Ketiga penumpangnya menembakkan senjata ke arah mobil yang menerobos masuk.
"Maju!" perintah Rey pada Danang.
Kedua mobil para bos itu melaju keluar dari halaman. Meninggalkan para pengawal yang masih berperang dengan sengit.
Dua mobil musuh berbalik dan mengejar mobil bos. Deni menghantamkan mobilnya ke samping kanan mobil paling belakang.
Brrraaakkk!
Mobil itu berputar, supirnya kehilangan kendali. Kesempatan ini digunakan Hadi untuk menembaki bagian mesin mobil itu.
Duuuaaarrr!
Mobil itu meledak.
Mobil musuh yang mengejar mobil bos lolos. Namun, tidak dengan mobil musuh yang masih tertinggal.
Dari arah belakang villa ada dua buah motor yang mendekat. Penumpangnya melemparkan granat ke mobil musuh.
Booommm!
Mobil itu pun meledak. Nasib penumpangnya sama dengan mobil yang telah lebih dulu hancur.
Beberapa anggota musuh yang masih tertinggal, ditembaki para pengawal sembari bergerak masuk ke dalam mobil yang di kemudian Deni.
__ADS_1
Dua pengendara motor bergerak maju dan berhenti tepat di pintu pagar. Mereka menunggu mobil Deni lewat, kemudian mengikuti laju mobil hingga sampai ke tempat persembunyian yang baru.
***
Eric berdiri di teras belakang rumah yang baru mereka tempati beberapa jam yang lalu. Di belakangnya tampak Jessica duduk di kursi santai sambil memandangi punggung pria itu.
"Ko," panggil Jessica.
Eric hanya menoleh sekilas sebelum kembali lagi ke posisi semula.
"Lebih baik Koko kembali lagi ke Taiwan. Di sini sangat tidak aman," ujar wanita cantik itu sembari jalan mendekat.
Jessica melingkarkan tangannya di pinggang Eric dan menyandarkan kepala di punggung pria itu.
"Kalau aku pergi, apa kamu mau ikut?" tanya Eric pelan.
Jessica mengangguk. Memejamkan mata seraya tersenyum.
"Kalau begitu bersiaplah. Serahkan kendali di Bandung pada Rey. Biar dia yang melatih Kris," ujar Eric.
Pria itu mengangkat tangan Jessica yang melingkari pinggang. Kemudian membalikkan tubuh dan merangkum wajah wanita cantik itu dengan kedua tangannya.
Eric memajukan wajah dan mulai mengecup wanita cantik itu dengan hasrat yang membara.
Kemudian menjauhkan wajah dan menarik tangan Jessica. Mereka menaiki tangga dengan terburu-buru. Berbelok ke kanan dan masuk ke pintu paling ujung di lantai dua ini.
Brrraaakkk!
"I love you, Rima," ucap Eric setelah semuanya selesai. Tangannya melingkari pinggang Jessica dari belakang.
Wanita itu menutup mata dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa pedih dalam dada. Bulir bening menetes pelan.
Embusan napas Eric yang teratur menandakan pria itu sudah tertidur. Jessica memindahkan tangan Eric dan berbaring telentang.
Tangan kirinya mengusap wajah pria yang telah merebut hati dan jiwanya. Dipandanginya pria itu dengan batin yang terluka.
"Apakah aku harus membunuh Rima di dalam pikiranmu, Ko?" bisik Jessica.
Sementara itu di kamar sebelah. Amanda sedang beradu argumen dengan Calvin.
Sorot mata keduanya saling menusuk tajam.
Tangan Calvin mengepal dan bergetar dengan kencang. Susah payah dia menahan emosi. Sifat keras kepala Amanda membuatnya kesal.
__ADS_1
"Calvin benar, Manda," sela Rey dari pintu yang terbuka.
Pria klimis itu melangkah maju dan menghempaskan bokong di atas kasur. Memandangi pasangan muda di depannya sambil memijat pelipis.
"Aku tidak mau kembali ke Singapura!" tegas Amanda.
"Kalau begitu, kamu harus ikut kokomu ke Taiwan. Pilih yang mana?" tanya Rey sambil memandangi wajah Amanda yang merengut.
Wanita muda itu mendengkus dan membuang pandangan ke arah jendela yang terbuka.
Di luar sana tampak beberapa pengawal baru sedang berjaga. Sedangkan para pengawal lama diberikan istirahat di dua buah kamar di lantai satu.
"Tidak bisakah aku tetap di sini?" Amanda balik bertanya. Dia memandangi kedua pria bersaudara itu secara bergantian.
"Tidak bisa! Tidak ada yang bisa menjagamu terus menerus," jawab Calvin.
"Brian sedang fokus menjaga Tasya. Calvin tidak bisa membagi tubuhnya di dua tempat, Manda. Aku sendiri hanya sampai Kris sudah bisa ditinggal. Setelah itu akan menyusul kokomu," jelas Rey.
Amanda menunduk sambil melangkah gontai menuju kursi kecil di depan meja rias. Dia duduk dan menelungkupkan tangan di atas meja. Membenamkan wajahnya di sana dengan isakan lirih.
Calvin memutar bola mata dengan kesal. Dia terkejut saat Rey mengacungkan ponsel ke depan wajahnya.
[Hampiri dan peluk sampai dia berhenti menangis. Jangan mengatakan apa pun] ketik Rey di layar ponsel.
Calvin mengangguk, hanya bisa diam saat Rey bangun dan jalan keluar kamar.
Kakak se-ibunya itu menutup pintu sambil mengedipkan mata. Memberi kode pada sang Adik untuk menjalankan perintahnya.
Rey terdiam di depan pintu. Memasukkan tangan ke saku celana. Dia menghela napas panjang dan mengembuskan dengan cepat. Mencoba mengusir rasa perih dalam dada. Harus melepaskan wanita yang dicintai demi sang Adik. Sesuai amanat dari nenek, ibu kandung ayah tirinya.
Pria muda itu jalan menuruni tangga. Masuk ke ruangan kecil dan mengambil koper miliknya.
"Andi, ayo, kita berangkat," ajaknya pada pria bertubuh jangkung yang baru saja bangun tidur.
Andi mengangguk dan bangkit dari sofa. Berjalan masuk kamar mandi. Mencuci muka dan kumur-kumur.
Beberapa menit kemudian mereka sudah siap di dalam mobil. Brian dan Tasya melambaikan tangan mengantar kepergian Rey.
"Semoga dia bisa melupakan Amanda," lirih Brian.
"Pasti bisa. Tapi sayangnya wanita itu bukan dari kalangan kita," sahut Tasya.
Brian menunduk dan memandangi wajah istrinya yang tampak serius. "Maksudnya gimana, Ma?" tanyanya.
__ADS_1
"Rey akan jatuh cinta lagi pada wanita biasa. Tapi setelah itu dia akan pergi dan berhenti bergabung bersama kita," jelas Tasya.
"Kita harus menyeleksi orang baru untuk menggantikan posisi Rey dan Calvin. Karena Calvin sedang dipersiapkan menggantikan Eric," lanjut Tasya sambil memandangi suaminya yang mengangguk menyetujui ucapannya.