Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Lirikan Jessica


__ADS_3

Pagi itu Bi Ai baru selesai menjemur pakaian. Bunyi ketukan di pintu depan membuatnya tergopoh-gopoh turun dari lantai dua rumah kosan.


Bi Ai mengintip sebentar dan tersenyum sambil membuka pintu.


"Mbak Jessica, ya?" tanya wanita paruh baya itu pada wanita muda yang berdiri di depan pintu.


"Iya. Maaf, ini dengan Bi Ai, betul?" Jessica bertanya balik.


"Iya, Mbak. Ini bi Ai. Tadi Bu Wahyu nelepon bibi, katanya Mbak mau masuk hari ini," jawab Bi Ai.


Jessica mengangguk mengiyakan.


"Ayo, Mbak. Masuk. Kamarnya udah bibi bersihkan tadi," ajak wanita itu.


Jessica mengikuti langkah Bi Ai melewati lorong teras sebelah kanan. Bentuk tangga sudah berubah, dari yang awalnya tangga putar sekarang menjadi tangga berkelok. Letaknya juga sudah dipindahkan, tadinya di depan kamar Ivan, sekarang tepat berada di atas dapur di bagian tengah ujung rumah.


"Mbak mau ngisi kamar yang mana? Nomor sebelas, dua belas a atau b?" tanya Bi


Ai.


"Ehm ... yang ini aja, Bi. Yang lain buat teman-teman saya. Mereka baru besok atau lusa baru datang ke sini," jawab Jessica.


Bi Ai mengeluarkan beberapa kunci dari saku celana panjang yang dikenakannya. Kemudian mengambil salah satu kunci yang telah diberi keterangan angka sebelas di dalam gantungan kunci.


"Mbak nggak bawa perabotan lain?" tanya Bi Ai yang bingung saat melihat Jessica hanya membawa sebuah koper ukuran besar di tangan kanan.


"Ada, Bi. Bentar lagi mobilnya nyampe. Tadi saya jalan duluan," jawab Jessica.


"Kata bu Wahyu, kalo mau masang pendingin ruangan harus pasang sendiri, dan ada tambahan biaya listriknya," jelas Bi Ai.


"Ok, waktu itu juga Bu Wahyu udah ngingetin," sahut Jessica. Kakinya melangkah masuk ke kamar sambil memandangi sekeliling ruangan yang berukuran tiga koma lima kali enam meter. Serta kamar mandi yang berukuran satu koma lima kali tiga meter, yang bersebelahan dengan dapur kecil yang berukuran sama di bagian kiri kamar.


Saat ponselnya berdering, Jessica langsung mengangkat telepon dan berjalan keluar. Menuruni anak tangga dengan berlari kecil dan meninggalkan Bi Ai di depan kamarnya.


Wanita paruh baya itu sedikit merasa aneh dengan wanita muda tersebut. Jessica seolah sedang menyimpan rahasia. Namun, Bi Ai menepis rasa tidak enak itu dan kembali ke tempat jemuran baju, yang sekarang dipindah ke atas kamar Ary.


Kemudian wanita paruh baya itu kembali sibuk melipat dan menyetrika pakaian yang sudah kering.

__ADS_1


Sesekali dia memperhatikan kesibukan Jessica dan keempat orang pria yang bertubuh tinggi besar semuanya. Mereka tampak sibuk memindahkan kasur, lemari dengan cermin besar, serta meja dan kursi putar. Meletakkannya di tiga kamar yang kosong tersebut dengan petunjuk dari Jessica.


Setelah selesai keempat pria tersebut segera berpamitan dengan menundukkan tubuh ke arah Jessica.


Wanita itu ikut keluar bersama keempatnya. Tak lama kemudian terdengar deru beberapa mobil yang menjauhi rumah.


***


Bunyi ketukan di dinding dan suara obrolan beberapa orang, terdengar dari lantai atas saat Tia memasuki rumah bersama Ayu.


"Penghuni baru udah masuk kali, ya?" tanya Ayu sambil mendongak ke arah tangga.


"Iya. Baguslah, jadi tambah rame," jawab Tia sambil membuka sepatunya.


"Penasaran sama penghuni lainnya. Semoga aja cowok ganteng," ucap Ayu penuh harap.


Tia sontak tertawa mendengar ucapan temannya itu. "Aku mau mandi dulu, ya. Nanti kita beli lauknya sama-sama. Males mau masak. Capek aku," ujar Tia.


Ayu mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamarnya juga.


Ivan memasuki rumah yang pintunya terbuka lebar itu dengan dahi berkerut. Dia mendongak ke lantai atas, kemudian melangkahkan kaki menaiki anak tangga.


Tampak tiga orang pria sedang memasang pendingin udara di dua kamar. Seorang wanita muda melambaikan tangannya pada Ivan.


"Hai," sapa Ivan saat Jessica mendekat.


"Hai juga. Baru pulang?" tanya Jessica dengan lembut.


"Iya. Ehh ... kita belum kenalan. Aku, Ivan," ujar pria muda itu sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Jessica," sahut wanita muda berparas cantik itu.


Ivan sejenak terpukau dengan keelokan wajah wanita di depannya ini. Ditambah dengan tubuh yang tinggi semampai serta kulit yang putih mulus, menambah kecantikannya menjadi nyaris sempurna.


Suara orang mengobrol dari lantai bawah mengalihkan perhatian Ivan. Dia melambaikan tangan saat melihat Ary, Chandra dan Satya menengadah.


Kemudian Ivan berpamitan pada Jessica dan segera turun ke lantai bawah.

__ADS_1


"Penghuni baru sudah masuk," ujar Ivan dengan wajah sumringah. Namun, senyumannya mendadak lenyap saat menyadari sepasang mata milik Tia mengintip dari jendela kamar


Sontak saja ketiga pria yang melihat hal itu langsung tertawa. Mereka tidak memedulikan Ivan yang menggerutu.


"Udah, buruan mandi gih. Nanti anterin aku beli lauk," ujar Tia sambil membuka pintu.


Ivan mengangguk dan beranjak menuju kamarnya, dengan diiringi tawa ketiga temannya itu, yang akhirnya terdiam setelah dipelototi Tia.


Malam itu langit sangat cerah. Udara yang cukup hangat membuat para penghuni kosan memilih untuk lebih lama di luar ruangan.


Seperti biasa, Ivan mengiringi nyanyian teman-temannya dengan petikan gitar.


Semua pasang mata beralih memandangi Jessica yang baru turun dari lantai dua. Senyuman manis tersungging di wajahnya yang tampak terpoles sempurna.


Gaun sepanjang lutut berwarna hitam yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


"Halo semua," sapa wanita berambut separuh punggung yang berwarna kemerahan tersebut.


"Halo," jawab beberapa orang.


Ivan bersusah payah menahan decak kekagumannya pada sosok wanita cantik itu. Dia sampai menggigit bibir bawah sambil pura-pura menyetem senar gitar.


"Mau ke mana, Mbak?" tanya Satya yang masih terpukau dengan penampilan Jessica.


"Mau kerja," jawab Jessica sambil merapikan rambut. Dia berdiri tepat di sebelah Hasni yang sejenak berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"Kerja? Kok malam hari?" tanya Chandra dengan polosnya.


"Aku kerja di klub malam. Jadi manajer di sana," jelas Jessica seraya tersenyum manis.


"Boleh dong, sekali-sekali kami ikut ke klub," tukas Ary yang sejak tadi tak henti menatap betis mulus milik wanita itu yang terpampang nyata di depannya.


"Boleh. Ehm ... hari Sabtu gimana? Biar seru gitu," ajak Jessica.


Ary dengan semangat mengangguk. Diikuti Ivan dan Satya. Sementara Chandra hanya memperhatikan ketiga pria itu yang sangat bersemangat.


"Oke. Aku pamit, ya. Udah rame klubnya," ujar Jessica sembari melambaikan tangan. Ujung matanya sempat melirik Zein yang duduk menyandar ke dinding. Pria itu satu-satunya yang tidak membalas lambaian tangannya.

__ADS_1


__ADS_2