
Ivan duduk di bangku bawah pohon mangga bersama Tia. Sedangkan Ary dan Zein duduk bersila di atas rumput.
Di depan pagar tampak seorang tukang sedang mengaduk semen dan pasir. Seorang tukang lainnya tampak sibuk bolak balik mengangkut adukan semen ke lantai dua rumah kosan milik bu Wahyu.
"Malika adalah tunanganku, tiga tahun yang lalu. Dia seorang yatim piatu dan tinggal bersama tantenya, adik mendiang ibunya," Ivan mulai mengawali cerita.
Ketiga temannya menunggu dengan sabar dia melanjutkan cerita.
"Kami bertemu di kantor waktu dia baru masuk sebagai karyawan baru. Berbeda divisi denganku. Aku di operasional, dia di keuangan. Awalnya kami hanya berteman biasa. Lambat laun rasa cinta itu mulai muncul dan tumbuh mekar di hati kami," lanjut Ivan.
"Setelah enam bulan pacaran, aku nekat melamarnya. Kubilang nekat karena waktu itu di tabungan cuma ada uang satu juta rupiah. Alhamdulillah, dia menerima dan mengerti dengan kondisi keuanganku yang masih belum stabil."
Ivan sejenak berhenti bercerita dan memandangi wajah Tia yang duduk di sebelahnya.
"Wajahnya sedikit mirip denganmu, Tia. Makanya aku sempat kaget waktu baru masuk ke sini dulu. Kupikir kamu kembaran Malika," ujar Ivan sembari menatap Tia yang agak salah tingkah.
"Lanjut, Van. Penasaran yeuh!" tukas Ary yang mendapat anggukan Zein.
"Rese ihh! Aku mau negasin dulu ke Tia. Suka dan sayang ke Tia itu bukan karena dia mirip Malika. Tapi memang karena pribadinya yang baik dan sangat pengertian," sungut Ivan yang membuat Ary dan Zein tersenyum lebar.
"Aku paham. Ayo, lanjutin cerita tentang Malika. Keburu siang ntar di sini panas," sela Tia.
"Oke. Ehm ... habis itu hubungan kami berjalan seperti layaknya orang-orang pacaran pada umumnya. Nonton bioskop, jalan-jalan ke tempat wisata, ngobrol berjam-jam di kosanku kalo lagi kere dan belum gajian." Mengingat cerita kenangan dengan Malika membuat Ivan tanpa sadar tersenyum-senyum.
"Hubungan kami sangat direstui keluargaku, tapi tidak begitu di keluarganya. Om dan tantenya adalah pemeluk agama Kristen. Sedangkan Malika beragama sama dengan kita. Tantenya sih masih nerima aku dengan baik, tapi omnya gak. Tiap aku datang, om Daniel akan pergi entah ke mana. Kembali ke rumah kalo aku udah pulang. Kata Malika sih gitu."
"Alasannya om Daniel bersikap begitu, ternyata karena dia menginginkan Malika menikah dengan bos-nya. Laki-laki tua berperut buncit yang bertampang menyebalkan."
"Peristiwa memalukan terjadi saat aku datang membawa keluarga, untuk melamar Malika secara resmi. Saat itu hubungan kami sudah berjalan hampir dua tahun. Di acara lamaran itu tiba-tiba saja om Daniel datang dan marah-marah. Menghinaku dan keluarga sebagai orang miskin. Enggak pantas untuk keponakannya."
"Aku benar-benar malu diperlakukan seperti itu. Demikian pula dengan ayah dan ibu. Bahkan pamanku nyaris saja baku hantam dengan om Daniel. Setelahnya ayah langsung memintaku memutuskan hubungan dengan Malika karena benci dengan omnya."
__ADS_1
Ivan berhenti. Tangannya bergerak mengusap wajah. Seolah ingin menghilangkan kenangan paling memalukan dalam hidupnya itu.
Tangan kanan Tia bergerak meraih tangan kiri Ivan dan menggenggamnya dengan lembut.
Secarik senyuman terukir di wajah Tia yang tampak teduh, membuat Ivan perlahan berangsur tenang.
"Kami masih berhubungan secara sembunyi-sembunyi selama beberapa bulan berikutnya. Namun tiba-tiba Malika berhenti dari kantor, dan menghilang tanpa jejak. Aku seperti orang gila, mencarinya ke sana ke sini. Benar-benar putus asa," sambung Ivan.
"Seorang teman dekatnya saat kuliah akhirnya memberikan kabar bahwa dia mendapatkan undangan pernikahan dari Malika. Hatiku benar-benar hancur. Sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa berkhianat seperti itu."
"Suatu hari aku bertemu dengan Natalia. Dia adalah sepupu Malika. Anak bungsunya om Daniel. Dari Natalia aku mendapatkan informasi bahwa Malika itu dipaksa menikah oleh omnya dengan si bos wajah menyebalkan itu. Dan orang tua itu membawa Malika menetap di Surabaya."
Ivan berhenti lagi bercerita. Pandangannya menerawang.
"Entah setan mana yang berbisik padaku, hingga aku melakukan balas dendam pada om Daniel, dengan ... merusak kehormatan Natalia," lirih Ivan sembari menutup mata.
Tia menutup mulut dengan tangan kiri dan melepaskan genggaman tangan Ivan. Ary dan Zein saling berpandangan dengan bingung.
"Lalu, kapan dan bagaimana Malika meninggal?" tanya Zein mengalihkan pembicaraan. Dia merasa kasihan pada Tia yang masih menunduk. Mungkin saat itu Tia merasa kecewa pada Ivan.
"Malika meninggal setahun setelah dia menikah. Katanya sih karena pendarahan saat melahirkan. Bayinya juga hanya bertahan hidup beberapa hari sebelum akhirnya menyusul ibunya," jawab Ivan.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Tia yang masih menunduk. Ivan paham saat ini Tia sedang marah dan kecewa pada dirinya.
"Lalu, kenapa dia gentayangan dan pengen bawa kamu pergi?" tanya Ary.
"Itu yang mau kutanyain kemarin. Tapi dia sudah keburu dihancurkan. Gimana mau nanyanya coba?" Ivan bertanya balik sambil menggaruk-garuk kepala.
"Malika masih cinta sama kamu, Van. Makanya dia ke sini," sela Zein.
Sejenak hening. Yang terdengar hanya suara khas tukang es keliling. Disusul tukang cincau, cilok dan roti.
__ADS_1
"Aku lapar," ucap Ivan sambil meraih tangan Tia kembali. Berusaha memujuk Tia dengan gaya khasnya yang sedikit manja.
Zein dan Ary terkekeh saat melihat Tia menepis tangan Ivan. Wanita muda itu berdiri dan berjalan cepat memasuki rumah.
"Buruan, kejar sana! Jangan lupa minta maaf!" perintah Zein pada Ivan yang masih bengong di tempat.
Zein berpegangan pada Ary. Setelahnya dia pun menarik tangan Ary agar pria jangkung itu bisa berdiri.
"Buruan!" hardik Zein yang kesal melihat Ivan masih diam di tempat.
Ivan pun bangkit berdiri. Berjalan ragu-ragu menyusul Tia. Zein dan Ary mengikuti dari belakang.
Tiba-tiba Ivan berhenti saat melihat Triska keluar dari kamarnya. "Punya makanan, nggak? Aku lapar!" ujarnya dengan wajah memelas.
Dua jitakan mendarat di kepala Ivan yang langsung meringis. Sementara Triska masuk kembali ke kamarnya dan keluar lagi dengan membawa satu kaleng biskuit.
Zein mengambil kaleng biskuit dari tangan Triska dan membawanya ke kamar Tia. Disusul Ary yang menggusur Ivan. Sementara Triska ikut menyusul dengan raut wajah bingung.
"Tia," panggil Ivan ragu-ragu di depan pintu kamar Tia yang tertutup.
Triska merengsek maju dan membuka pintu yang tidak terkunci. Ivan pun melangkah masuk, Zein memberikan kaleng biskuit ke tangan Ivan, kemudian menarik tangan Triska untuk menjauh.
Ary menutup pintu kembali dan berjalan memasuki kamarnya. Sedangkan Zein menggamit lengan Triska dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
***
Menjelang tengah malam, dua orang petugas ronda sedang melewati rumah kosan. Mereka berjalan cepat tanpa menoleh ke arah rumah.
"Huft! Akhirnya lewat juga," ucap Encep sambil menghela napas lega.
"Makin ke sini asa makin takut lewat rumah itu, ya," sahut Jaja sambil menunjuk rumah kos-an.
__ADS_1
Wajahnya seketika memucat. Dia memandang tanpa berkedip ke pojok rumah kosan.