Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Fans Zein


__ADS_3

Sebuah mobil SUV berwarna hitam parkir di halaman rumah kosan. Ketiga orang di dalamnya turun dan bergantian masuk ke dalam rumah.


Bi Ai yang sedang membersihkan dapur hanya bisa memandangi ketiga pria yang langsung naik ke lantai dua, tanpa menegurnya sama sekali.


Ada perasaan ngeri dalam dirinya saat melihat kedua orang pria bertubuh tinggi besar, serta seorang pria bermata sipit yang berjalan paling depan tadi.


Dalam benak wanita paruh baya itu banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab. Yang pasti, dia tidak merasa nyaman dengan para penghuni baru.


Sementara itu di lantai atas, Rey sudah merebahkan diri di atas kasur. Kedua tangan terlipat di belakang kepala. Kaki kirinya ditumpangkan di atas kaki kanannya.


Pria tampan itu memejamkan mata dan mencoba untuk tidur sejenak. Sayup-sayup dia mendengar langkah kaki orang yang mendekat.


Rey memicingkan mata dan tertegun saat melihat Jessica sudah berdiri di samping kasur.


"Ngopi?" ujar wanita itu sambil mengacungkan secangkir kopi di tangan kanan.


Rey bangkit dengan bertumpu pada kedua siku, duduk bersila di atas kasur dan menerima cangkir dari tangan Jessica.


Uap panas yang mengepul dari cangkir itu dihirup Rey dalam-dalam. "Harum," ucapnya.


Jessica mengangguk, kemudian meletakkan cangkirnya di atas lantai dan menghempaskan bokong di sebelah Rey.


"Ci Tasya tadi menelepon. Dia memintaku untuk menggantikannya menjaga rumah. Untuk sementara. Hanya sampai Lee datang," ujar Jessica membuka pembicaraan.


"Iya. Sebelum aku berangkat dia juga ada bilang begitu," jawab Rey.


"Rencananya aku akan berangkat lusa. Apa kamu mau ikut?"


Rey berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeleng,"Kamu berangkat sama Andi saja. Biar aku dan Feri tetap tinggal di sini. Kris belum bisa dibiarkan kerja sendiri. Masih amatir."


Jessica mengambil cangkir dari tangan Rey dan meletakkannya di sebelah cangkirnya. Wanita cantik itu menggeser duduknya hingga menempel dengan pinggang Rey.


Tangan wanita itu terangkat dan merangkul pundak pria tampan itu, meletakkan dagunya dengan manja ke pundak Rey, sambil terus memandangi pria itu dengan tatapan intens.


Perlahan dia memajukan wajah dan mengecup pipi kiri Rey berulang kali. Membuat pria itu menghindar sambil melotot ke arahnya.


"Jaga sikapmu!" hardik Rey.


"Kenapa? Apa kamu enggak suka dengan wanita?" ledek Jessica. Dia ingat gosip yang beredar tentang Rey di kalangan teman-teman sindikat.


"Aku pria normal!" tegas Rey.

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa menghindar?"


"Karena kamu milik Eric."


Jessica tertawa. Dia memandangi Rey sambil menutup mulutnya.


"Aku bukan milik siapa-siapa. Aku milik diriku sendiri. Jadi terserah aku mau berhubungan dengan siapa pun. Eric tidak bisa melarangku," ujar Jessica setelah tawanya berhenti.


"Lebih baik kamu kembali ke kamarmu!" usir Rey.


Jessica berdiri. Melangkah pergi dengan santai. Di depan pintu dia berbalik dan berujar,"Aku akan kembali, dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang kuinginkan!"


Kemudian dia membuka pintu dan beranjak keluar. Menutup pintu kembali sembari tersenyum licik ke arah Rey.


***


Malam itu hujan turun dengan sangat lebat. Membuat para penghuni kosan lebih memilih berada di kamar masing-masing, ketimbang berkumpul di garasi.


Triska duduk di lantai sambil bermain ponsel. Sementara Zein duduk di sebelahnya dengan laptop di atas pangkuan.


Derap langkah beberapa orang terdengar dari teras depan. Tak lama kemudian keempat orang dari lantai atas itu melewati depan kamar Zein yang pintunya terbuka lebar.


Triska sempat beradu pandang dengan pria yang berjalan paling depan. Entah kenapa ada rasa aneh melihat pria itu.


"Cih! Melirik mulu!" gerutu Triska setelah Jessica menghilang dari pandangan.


"Apaan?" tanya Zein. Tatapannya tidak lepas dari layar laptop.


"Fans Abang," sungut Triska.


Zein berhenti sejenak dari aktifitas dan menoleh ke arah kekasihnya itu. Senyum mengembang di wajahnya tatkala menyadari wanita cantik di sebelahnya ini sedang cemburu.


Tangan kanan Zein bergerak merangkul pundak Triska. Dia memajukan wajah dan menggosokkan hidungnya ke pipi kiri wanita pemilik hatinya itu.


"Gak usah cemburu. Abang enggak suka sama yang permakan begitu. Lebih suka sama yang alami kayak kamu," ucap Zein lembut.


"Gembel!" sahut Triska.


"Gombal kali."


"Budu!"

__ADS_1


Zein tertawa mendengar ucapan wanita berkulit putih itu. Tangannya tak henti mengusap pundak Triska hingga akhirnya wanita itu tersenyum juga.


"Sabtu, kita jadi kan ketemu keluargamu?" tanya Zein mengalihkan perhatian.


"Iya. Abang kudu kuat mental, ya," jawab Triska sambil menyandarkan kepala ke pundak Zein.


"Siap! Tenang aja."


Sejenak hening. Yang terdengar hanya suara rintik hujan yang mulai mereda.


Kemudian Triska bangkit dengan bertumpu pada tangan Zein. Mengelus pipi pria itu sebelum melangkah keluar kamar. Menutup pintu dan kembali ke kamarnya sendiri.


Setelah membersihkan diri dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berbaring ke arah kiri, memeluk guling sambil mengusap Emak Chubie yang sudah tertidur sejak tadi.


Kucing senior itu berpindah lebih dekat ke tubuh Triska. Bergulung di atas guling dan melanjutkan tidurnya.


Di luar rumah kosan, beberapa orang masih berkumpul di saung. Kali ini mereka lebih ramai, karena didatangi beberapa pemuda dari RT sebelah.


Suasana saung yang penuh canda tawa, tetap saja membuat Jaja sedikit khawatir. Sesekali dia melirik ke arah pohon mangga di sebelah kanan depan saung.


Saung ini hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari pagar pembatas rumah kosan dengan rumah Pak Tono, pria tua yang membiayai pembuatan saung ini.


Pak Tono sendiri hanya sesekali ikutan kumpul di saung. Tubuh tuanya tidak memungkinkan untuk sering bergadang.


"Liat apaan?" tanya Supri pada Jaja.


"Pohon mangga. Bisi we manehna muncul deui," jawab Jaja.


(Bisa aja dianya muncul lagi)


"Tong sieun. Pan loba batur ayeuna mah," sela Idim.


(Jangan takut. Kan sekarang banyak temannya)


Jaja bergeming. Dia tetap mengawasi pohon mangga.


Malam beranjak semakin larut. Beberapa orang mulai berpencar untuk keliling komplek.


Karena kejadian perampokan di blok sebelah minggu lalu, maka pengamanan dan pengawasan lebih ditingkatkan lagi. Walaupun saat perampokan itu terjadi pada siang hari, tetap saja membuat penghuni lain khawatir. Mereka rela untuk menambah uang iuran keamanan daripada tidur tidak tenang.


Kali ini Jaja tidak mau lagi ditinggal sendirian di saung. Dia memilih ikut dengan Supri dan Idim untuk berkeliling komplek.

__ADS_1


Jalur mereka kali ini berbeda. Dari saung mereka belok ke kiri. Berjalan lurus sampai belokan warung nasi uduk, kemudian memutar ke kanan. Jalan lurus lagi sampai pos keamanan blok sebelah, terus berbelok lagi ke kanan sampai keluar jalan raya utama komplek. Berbelok lagi ke kanan dan jalan lurus kembali ke saung.


__ADS_2