
"Kunaon, Ja?" tanya Encep yang bingung melihat temannya itu berdiri mematung.
(Kenapa, Ja?)
Jaja tidak menjawab. Dia membalikkan tubuh hingga sejajar kembali dengan Encep.
"Di belakang, ada ...." Jaja tidak sanggup meneruskan omongannya. Matanya membulat sempurna saat sesosok mahluk tampak melayang pelan dari sebelah kanannya.
Encep pun sontak terdiam saat matanya beradu pandang dengan sosok yang melayang itu.
Mereka berdua tidak bisa lari. Kaki seolah tertancap di aspal. Tubuh bergetar dengan gigi yang gemeletuk. Keringat mengucur keluar dari setiap pori-pori tubuh.
Sosok itu melayang mengelilingi tubuh keduanya beberapa kali, sebelum akhirnya berhenti. Menampilkan sosok asli dengan seringai lebar.
Darah merembes dari perutnya. Gaun bagian bawah langsung berubah warna menjadi merah. Buket bunga yang dipegangnya terlepas. Memperlihatkan bunga yang sudah busuk.
Wajahnya berubah. Mata melotot. Garis wajah yang bertonjolan menambah kesan seramnya.
Sosok wanita itu mengulurkan kedua tangannya ke arah Encep dan Jaja.
Dia maju dengan cepat dan menembus tubuh keduanya sembari tertawa mengikik.
Kemudian menghilang di balik kegelapan malam. Meninggalkan dua tubuh yang tergeletak tidak berdaya di tengah jalan. Pingsan.
***
Dua buah mobil berwarna hitam melintas perlahan di depan rumah orang tua Rima di daerah Kedunghalang, Bogor.
Mobil pertama berhenti di dekat pagar di ujung sebelah kiri. Mobil kedua berhenti di depan mobil pertama.
Kaca di bagian penumpang tampak terbuka sedikit. Sepasang mata memandangi rumah besar itu dengan tatapan sedih.
Kelebatan peristiwa lebih dari satu tahun yang lalu terulang kembali.
Sepasang mata itu mulai berembun. Namun, dengan cepat pemilik mata itu menyusut bulir bening yang hampir luruh dengan punggung tangannya.
"Bos, kita sudah bisa jalan?" tanya Rey dari sebelah kanan pria pemilik sepasang mata tersebut.
"Iya. Ayo, kita jalan lagi!" jawaban sekaligus perintah si bos.
__ADS_1
Dengan cepat sang supir menjalankan mobil kembali. Demikian pula dengan mobil di bagian depan yang sekarang kembali menjadi mobil di urutan kedua.
Beberapa menit kemudian kedua mobil itu berhenti di tempat pemakaman di ujung jalan.
Para penumpangnya turun, tapi tidak demikian dengan kedua supir. Mereka tetap stand by di posisi masing-masing.
Dua orang pengawal berjalan terlebih dahulu. Rey dan bos di barisan kedua. Di belakang mereka ada Calvin dan Amanda, serta dua orang pengawal lagi.
Seorang pria paruh baya segera menghampiri rombongan tersebut dengan badan yang dibungkukkan berulang kali. Di tangannya ada payung besar yang dibuka untuk melindungi para tamu dari sengatan matahari di siang hari.
"Mari, saya antar, Pak," ujar pria itu sembari menunjukkan jalan dengan jari jempol sebelah kanan.
Rombongan itu berjalan cepat menyusuri jalan yang tidak terlalu besar, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah makam dengan pagar berwarna putih.
Pria paruh baya itu membuka pintu pagar dengan cepat. Dua pengawal di depan menyebar di kedua sisi makam.
Rey, bos, Amanda dan Calvin masuk ke dalam pagar makam yang sangat bersih tersebut. Kedua pengawal tambahan berdiri di dekat pintu pagar.
Bos dan Amanda berjongkok. Tangan bos mengusap batu nisan itu dengan sorot mata penuh kerinduan.
Amanda mencabuti beberapa helai rumput yang tumbuh di tengah makam Rima. Dalam hati dia khusyu berdoa, agar Rima bisa tenang di alam baka dan mau memaafkan kokonya.
Puluhan kenangan tentang Rima berkelebat lagi di benaknya. Wajah wanita itu, suaranya, tawa riangnya, dan sikap manjanya yang membuat pria itu benar-benar jatuh cinta. Terlalu cinta hingga menjadi buta.
"Bos, kita nggak bisa di sini lama-lama," ujar Calvin pelan. Sejak tadi dia mengawasi beberapa penduduk sekitar yang terlihat penasaran dengan kehadiran mereka.
"Koko, ayo kita pergi," ajak Amanda sembari memegang lengan kokonya.
Pria itu tidak menjawab, dia langsung bangkit dan berdiri tegak di pinggir makam. Jentikan jarinya membuat Rey mengangguk paham.
Rey mengeluarkan sebuah amplop putih dan menyerahkan pada pria paruh baya, yang terus mengucapkan terima kasih sembari membungkukkan tubuh.
Dua pengawal di depan pagar segera merapatkan barisan. Kali ini mereka yang menjadi pembuka jalan rombongan kembali ke tempat parkir mobil.
"Jangan lupa karangan bunganya," ucap bos pada Calvin yang mengangguk.
Seorang pengawal menurunkan karangan bunga dan memberikannya pada pria paruh baya, yang berjanji akan meletakkan bunga itu di atas makam Rima.
***
__ADS_1
Suasana sepi di jalan depan rumah berlantai dua di Cijeruk, semakin bertambah sunyi di kala malam menjelang.
Dua orang pengawal yang bernama Uky dan Diran, tampak berkeliling tiap sudut halaman depan rumah. Mereka mengawasi setiap pergerakan yang mungkin saja terjadi. Angin dingin yang berembus sejak tadi membuat keduanya semakin merapatkan jaket yang dikenakan.
Sementara itu, di ruang kontrol CCTV tampak Calvin dan Rey sedang duduk di depan layar. Di tangan mereka masing-masing ada mangkuk berisi mie instan plus bakso, yang tadi dibuat Wendi, pria bertubuh gempal yang memang bertugas sebagai koki di situ.
Di kamar bagian belakang, si bos duduk di dekat jendela. Tatapannya menerawang menembus lebatnya dedaunan pohon jambu air di halaman belakang.
Di tangannya ada gelas sloki yang berisi cairan berwarna merah. Gelas itu digoyang-goyangkannya beberapa kali, sebelum akhirnya dia meminum isinya sedikit demi sedikit.
Pria bertubuh tinggi tersebut meletakkan gelas sloki di atas meja bulat di belakangnya. Kemudian dia meraih ponsel dari saku celana sebelah kanan.
Mengetuk layar ponsel dua kali, kemudian membuka tempat penyimpanan video. Memutar satu per satu videonya bersama Rima, saat mereka berekreasi di gunung Tangkuban Perahu, empat bulan sebelum pernikahan Rima.
"Maaf, Ko. Sepertinya ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir," ujar Rima. Wanita pemilik hatinya itu tampak serius dengan omongannya.
"Kenapa?" tanya Eric.
"Karena pernikahanku sebentar lagi akan digelar."
Eric mendengkus. Mengepalkan tangan dan memukul paha kanannya dengan kesal.
Beberapa umpatan dalam bahasa leluhur mengalir keluar dari bibir tipisnya. Rahang wajahnya mengeras. Matanya menatap tajam ke arah kawah yang mengeluarkan bau belerang yang menyengat.
"Koko, jangan mengumpat!" hardik Rima.
Eric terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah Rima.
Kedua mata Rima yang membulat sempurna dengan delikan tajamnya, mampu membuat Eric tak mampu berkata-kata lagi.
Pria tampan itu mengulurkan tangan kanannya dan merapikan beberapa helai anak rambut Rima yang terbang tertiup angin.
"Lupakan dia, dan menikah denganku," ujar Eric lembut, berusaha merayu Rima.
"Enggak bisa, Ko. Keluargaku tidak akan menerima pernikahan kita!" tegas Rima.
"Jangan pedulikan mereka! Kita akan pindah dari Indonesia dan akan menetap di negara lain!" jawab Eric tak kalah tegasnya.
Rima semakin melotot. Tangannya mencengkram lengan kiri Eric sampai buku jarinya memutih.
__ADS_1
Eric balas menatapnya dengan tajam. Mereka saling berpandangan selama beberapa menit sebelum akhirnya membuang pandangan ke arah lain.