Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Skenario


__ADS_3

Di dalam mobil yang melaju kencang, Eric tampak mengusap rambutnya dengan kesal. Dia keceplosan tadi. Tentu saja itu adalah kesalahan yang fatal.


Jessica sedang berbicara dengan seseorang di saluran telepon. Sedangkan Calvin masih fokus memperhatikan jalan raya. Berjaga-jaga bila ada penguntit.


Kabar dari Rey tadi sudah membuatnya cukup resah. Ditambah lagi tingkah Eric yang tidak sengaja menyebut nama wanita berjilbab tadi di kosan. Membuatnya jadi bertambah beban pikiran.


"Malam ini kita menginap di mana, Vin?" tanya Jessica yang rupanya sudah selesai menggunakan ponsel.


"Langsung ke villa aja, di sana lebih aman. Rey nanti menyusul," jawab Calvin.


"Barang-barangku di kosan gimana dong?" sambung Jessica.


"Besok pagi biar orang suruhan kita yang ambil. Sekalian angkut semuanya. Dipindah ke apartemen yang akan ditempati Rey dan Kris nanti," sahut Calvin.


Pria bertubuh jangkung itu mengambil ponsel dari saku jaket dan mengetik pesan pada orang suruhan.


Sementara itu Eric menyuruh Andi untuk berhenti di sebuah restoran cepat saji, dan membeli makanan untuk dibawa pulang. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Puncak, Bogor.


Sementara itu di rumah kosan, Zein dan Rama yang bergegas pulang setelah ditelepon oleh Dinar, tampak duduk termenung di ruang tamu kamar perempuan berjilbab itu.


Dinar dan Ayu berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Sementara Tia dan Triska duduk bersandar ke dinding kamar. Satya dan Chandra duduk termangu di dekat pintu.


"Gimana? Ketangkap?" tanya Ivan yang baru datang. Di tangannya masih memegangi helm. Wajahnya pun tampak berkeringat.


"Belum. Udah keburu kabur dia tadi," jawab Satya pelan.


Ivan menghempaskan bokong ke lantai teras depan kamar. Mengusap peluh dengan saputangan handuk yang diambilnya dari kantong celana.


"Rumah ini jadi nggak aman," keluhnya.


"Terus kita kudu gimana nih? Aku jadi takut," ujar Rama dengan suara bergetar.


"Tunggu kabar dari pamanku dulu. Setelah itu baru kita pikirkan jalan keluarnya," jawab Zein.


Pria berambut cepak itu memandangi wajah teman-teman kosannya. Dia sedikit bingung tentang bagaimana caranya bisa menjaga keamanan mereka semua.


Pindah sebetulnya adalah solusi yang baik. Akan tetapi hal itu akan sangat merepotkan.


"Aku mau mandi dulu. Nanti habis Magrib kita omongin lagi," jelas Zein sambil berdiri. Dia memberi kode pada Triska dengan anggukan dagu ke arah luar. Triska mengangguk dan berdiri, jalan mengekor di belakang Zein.


"Gimana ini, Bang? Aku tambah takut," bisik Triska sambil duduk di atas kasur di kamar Zein.


"Seperti yang tadi abang bilang, Sayang. Kita tunggu kabar dari paman," sahut Zein.


Tangannya bergerak membuka kancing kemeja kerja, melepaskan kemeja itu dan melemparkannya ke sudut kamar.


Tubuhnya yang masih terbungkus dengan kaos tanpa lengan itu terlihat kekar dan ... seksi.


Triska memandangi pria itu sebentar, sebelum akhirnya menunduk malu saat Zein menangkap basah pandangannya.


"Abang mandi dulu, ya," ucap pria itu sambil berbalik. Jalan masuk ke kamar mandi sambil mengulum senyum.


Triska berdiri dan jalan keluar, tak lupa menutup pintu. Dia berdiri dengan mata membeliak. Kemudian membuka lagi pintu dan memandangi sudut ruang tamu kamar Zein.


"Aneh. Tadi kok kayak ada orang, ya?" gumamnya. Kemudian Triska menutup pintu kembali dan melangkah masuk ke kamarnya sendiri.


Rima yang memandangi perempuan itu tampak tersenyum jahil. Dia berjalan masuk ke kamar dan duduk manis di atas lemari.


Gaun panjangnya yang menjuntai mengagetkan Zein yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ngapain di situ?! Turun!" hardik Zein.


Rima melayang turun dan duduk di atas meja kerja. Memandangi Zein yang sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk.


"Tempat ini sudah tidak aman," ujar Zein. Pria itu maju ke cermin besar dan menyisir rambutnya dengan jari.


"Karena koko?" tanya Rima.


"Iya. Dia nekat sekali masuk ke sini." Zein duduk di atas kasur dan bertopang dagu dengan tangan yang diletakkan di atas lutut.


"Aku tidak bisa menyentuhnya tadi. Tubuhnya seperti dilindungi dengan kekuatan gaib," sahut Rima. "Tapi aku cukup puas saat melihatnya disiram air dan ditampar dua kali sama mbak Dinar," sambung Rima sembari bertepuk tangan.


"Kata Satya, pria yang bersamanya itu adalah pria yang bertemu kita di villa waktu itu," sela Zein.


"Yang punya tanda lahir di dagu itu kan? Kalo nggak salah namanya itu Calvin. Dan dia ... adik beda ayah dengan Rey," jelas Rima.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku ini kan hantu, yang bisa berpindah ke mana-mana sesuka hati. Aku pernah mendengarkan obrolan Calvin dan Rey melalui telepon."

__ADS_1


"Kapan itu kejadiannya?"


"Kira-kira beberapa hari yang lalu. Pintu kamar Rey terbuka. Dia juga nggak pasang pagar gaib. Jadi aku bisa leluasa untuk masuk," terang Rima.


Selanjutnya dia bercerita panjang lebar pada Zein. Saat azan Magrib berkumandang, hantu centil itu berangsur menghilang. Pergi meninggalkan Zein yang melamun seorang diri.


***


Keesokan harinya.


Bi Ai yang sedang menyetrika di kamar Dinar, tiba-tiba terkejut saat seorang pria memasuki rumah dan langsung naik ke lantai atas.


Beberapa orang pria bertubuh tinggi besar pun ikut masuk dan menaiki tangga tanpa permisi sama sekali. Selanjutnya mereka turun dan naik, bolak balik mengangkut perabotan dari tiga kamar.


"Bi," panggil pria penghuni kamar nomor 12b itu dari pintu kamar Dinar yang terbuka.


"Ya?" jawab Bi Ai sambil jalan mendekat.


"Saya mau pamit pindah. Sekalian mau nitip ini ke bu Wahyu," ucap Kris sembari mengulurkan tiga buah set kunci pada Bi Ai.


"Dan, ini. Titipan bos buat perempuan yang matanya sipit, rambutnya panjang dan berkulit putih. Kalo nggak salah kamarnya yang itu. Pintu kedua dari sini," imbuh Kris sambil menyerahkan buket bunga dan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado yang cantik.


"Neng Triska?" tanya Bi Ai.


"Iya. Bener. Triska," sahut Kris.


"Dari siapa tadi?"


"Dari bos. Namanya ada di dalam kotak itu."


Bi Ai berdiri mematung saat Kris berbalik dan melangkah keluar. Jalan terus dan menutup pintu depan. Deru mobil yang menjauh menandakan mereka sudah pergi.


Wanita paruh baya itu menghela napas lega. Kemudian meletakkan bingkisan itu ke atas meja di kamar Dinar. Keluar dari kamar dan menaiki tangga.


Sesampainya di atas, ketiga pintu kamar terbuka lebar. Dia melongokkan kepala ke setiap kamar yang kondisinya sama. Kosong.


***


Sore harinya, ba'da Asar Bi Ai kembali lagi ke rumah kosan. Duduk di kursi teras menunggu penghuni kos pulang.


Zein dan Triska sampai lebih dulu. Dengan lancar Bi Ai menceritakan semua kejadian tadi pagi. Kemudian menyerahkan bingkisan yang membuat Triska terkejut.


"Dibuka, Ris," titah Zein dengan rahang yang mengeras. Pria bertubuh tinggi tegap itu berusaha menahan rasa cemburu dalam dada. Dia harus tetap fokus untuk bisa tenang dan tetap berpikir jernih. Menyingkirkan jauh-jauh rasa curiga dalam hati.


Dengan tangan bergetar dia membuka kotak itu. Mulutnya membuka saat menyadari benda berkilauan di dalam kotak itu adalah perhiasan emas.


"Tutup dan bungkus lagi. Besok abang kembalikan ke Eric," titah Zein dengan wajah memerah menahan emosi.


"Dari mana Abang tahu kalau ini hadiah dari Eric?" tanya Triska.


"Itu, ada namanya ditempel di bungkus kado," tunjuk Zein pada secarik kertas yang bertuliskan nama Eric. Triska meraih kertas itu dan membacanya dengan suara yang cukup keras.


"Hai, Triska. Terimalah hadiah ini sebagai permohonan untuk menjadi temanmu. Tertanda. Eric."


Perempuan berwajah cantik itu terdiam. Tangannya melipat kertas itu hingga berbentuk kecil dan memasukkannya ke dalam kotak perhiasan. Membungkus lagi hadiah itu dengan selotip yang banyak.


Zein melangkah ke luar kamar Triska, berdiri menyandar ke dinding dengan tatapan berkilat.


Tangan kanannya mengepal membentuk tinju. Eric sudah berani menantangnya. Sekarang dia harus memberikan pelajaran pada pria itu.


"Bang," panggil Triska. Wajahnya yang mungil tampak mengintip dari pintu.


"Hmm?" jawab Zein.


"Abang, marah?"


Zein bergeming. Dia bingung harus menjelaskan hal ini pada Triska.


"Lumayan. Tapi ke Eric. Bukan ke kamu," jawabnya.


Triska diam. Terus memandangi wajah pria yang telah mencuri hatinya itu dengan tatapan bingung.


"Abang mandi dulu, ya. Nanti kita bicara lagi," ucap Zein sambil mengacak rambut Triska yang membalasnya dengan senyuman tipis.


Satu per satu penghuni lain pulang. Setelah salat Magrib, Zein mengumpulkan semuanya di ruang tengah dan menceritakan kejadian tadi pagi.


Malam yang semakin larut, tidak menyurutkan langkah Zein untuk segera bertindak. Dia sudah merencanakan ini sejak tadi sore, dan sudah menyampaikan rencananya pada sang paman nun jauh di sana.


"Bang," panggil Satya dari luar pintu mobil.

__ADS_1


Zein membuka kaca dan memandangi wajah kelima temannya itu dengan bingung. "Kalian mau ngapain?" tanyanya.


"Kami mau ikut!" tegas Ary yang berdiri di sebelah Satya.


"Enggak usah! Ini urusanku. Kalian tetap tinggal di sini dan jaga para perempuan!" tolak Zein.


"Pokoknya kami mau ikut!" tukas Ivan yang langsung masuk ke kursi di sebelah Zein.


Ary, Satya, Rama dan Chandra pun bergerak masuk ke mobil.


"Bahaya! Udah deh. Tinggal aja!" teriak Zein.


"Jangan keras kepala! Pokoknya kami ikut!" tegas Rama dari kursi tengah.


Dug!


Zein memukul setir mobil dengan keras. Akan tetapi, akhirnya dia tidak bisa berbuat apa pun untuk mencegah keinginan teman-temannya yang memaksa untuk ikut.


Dengan menggerutu akhirnya dia mulai menjalankan mobil, menembus kegelapan malam dan menantang maut.


Sementara itu, di klub malam, Rey sedang duduk sambil memperhatikan layar ponsel. Wajah cantik milik Hana menatapnya balik dengan senyuman mengembang.


Batin Rey bergemuruh setiap mereka berdekatan. Membuatnya merasa bimbang, apakah dia benar-benar sedang jatuh cinta atau hanya kekaguman belaka.


Kisah hidup Hana yang begitu dramatis membuatnya terenyuh. Kebetanian perempuan itu membuatnya kagum. Ditambah lagi dengan sosok Aira yang sangat lucu. Membuatnya merasa sulit untuk lolos dari jeratan kasih sayang dari Ibu dan anak tersebut.


Suara ribut-ribut di luar ruang kerja membuat lamunannya terputus. Ditambah lagi dengan bunyi benturan dan bentakan yang semakin mendekat.


Rey menarik pistol dari laci mejanya. Bersembunyi di belakang pintu dan menunggu dengan jantung yang berdebar sangat kencang.


Brrraaakkk!


Pintu terbuka. Sosok Kris didorong ke belakang, disusul dengan Zein yang berdiri miring. Dia bisa merasakan ada sosok manusia yang bersembunyi di belakang pintu.


"Keluarlah! Tempat ini sudah dikepung. Anak buahmu sudah diamankan!" teriak Zein.


"Dia bohong, Bos. Jangan dipercaya!" sela Kris dari tengah ruangan.


"Tidak percaya? Coba lihat dari kamera pengawas. Sudah banyak mobil polisi di depan sana!" bentak Zein.


Kris menoleh ke kanan untuk mengecek layar CCTV. Di depan klub memang banyak mobil yang menutupi pintu masuk. Namun dia tidak bisa memastikan apakah itu benar-benar mobil polisi atau bukan.


"Apa maumu, Zein?" tanya Rey sambil jalan keluar tempat persembunyian.


Kedua pria itu tampak saling berhadapan. Wajah mereka tampak serius dengan garis rahang menegang.


"Beri tahu aku, di mana lokasi persembunyian Eric. Setelahnya aku akan melepaskanmu pergi!"


"Kamu pikir aku bisa dibodohi?" Rey tersenyum miring.


"Aku punya penawaran untukmu. Bila kamu setuju, kamu bisa aman!" tegas Zein.


Rey terkekeh pelan. Dia tidak takut dengan gertakan Zein. Sudah seringkali dia berada di posisi seperti ini, dan dia sudah sangat paham dengan permainan pihak lawan.


"Aku serius, Rey. Atau kamu mau bicara langsung dengan Hana dan Aira?" tanya Zein sambil menunjukkan ponselnya pada Rey yang membelalakkan mata.


Di ponsel Zein tampak Hana dan Aira sedang mengobrol dengan seorang pria bertubuh gempal yang tidak dikenal Rey.


"Siapa pria itu?" tanya Rey dengan gusar.


"Dia Firman. Salah seorang sahabatku yang kebetulan merupakan sepupu dari Hana. Bu Dewi itu adalah adiknya Bu Asih, mamanya Firman," jelas Zein.


Rey terdiam. Benaknya sibuk menyusun rencana untuk kabur. Akan tetapi hatinya menolak. Rasa lelah untuk terus sembunyi dan berlari itu kembali muncul.


"Bos," panggil Kris. Dia menunjukkan layar ponsel yang menunjukkan para penjaga di klub sudah menyerahkan diri kepada polisi.


"Masih belum terlambat untuk bertobat, Rey. Kamu juga, Kris. Lihat itu di luar. Adik dan ibumu juga ikut menunggu!" tegas Zein.


Kris kembali lagi melihat ponsel dan terpaksa harus mengakui kebenaran perkataan Zein. Pria itu merutuki diri karena belum sempat mengungsikan keluarganya ke tempat yang lebih aman.


"Sebutkan saja lokasinya. Setelah Eric tertangkap maka kalian akan dibebaskan. Kalian bisa memegang kata-kataku ini. Percayalah! Aku tidak bohong!" lanjut Zein.


"Aku bahkan sudah bernegoisasi agar nama kalian akan dihapus dari data buronan polisi. Ini juga berkat bantuan dari Hana," sambung Zein.


"Apa hubungannya dengan Hana?" tanya Rey. Dia semakin bingung dengan peran serta wanita itu.


"Ayahnya Hana adalah seorang perwira di kepolisian. Dan beliau adalah sahabat seangkatan pamanku. Mereka berdua yang membantu dalam pencarian Eric dan komplotannya," jelas Zein.


Rey menutup mata, menghela napas panjang dan mengembuskan perlahan. Sekarang dia paham. Ternyata dia sudah terjebak dalam skenario ayahnya Hana.

__ADS_1


"Sekali lagi kutekankan. Kamu bisa percaya padaku. Lagipula Hana sudah berjanji akan turut meringankan dirimu dan Kris. Karena kalian telah membantu Bu Dewi, yang saat itu memang benar-benar sedang sakit. Hal itu di luar skenario kami," tambah Zein.


"Demikian juga denganku. Aku bersedia untuk tidak menyebutkan nama kalian berdua. Dan tidak mengaitkan kalian dengan peristiwa terbunuhnya istriku!" timpal Irwan yang baru masuk ke ruangan bersama dengan Rama.


__ADS_2