Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Calon Penghuni Baru


__ADS_3

Udara hangat di senja hari itu membuat banyak orang keluar dari rumah. Ada yang hanya sekedar berjalan-jalan. Ada pula yang benar-benar sedang ada keperluan hingga harus keluar.


Seperti perempuan muda yang memarkir mobilnya di depan rumah kosan milik


bu Wahyu tersebut.


"Punten," ujarnya sembari mengetuk pintu yang telah terbuka.


"Mangga," sahut Bu Wahyu yang memang sedang menunggu perempuan itu.


"Masuk, Neng," ajak perempuan paruh baya tersebut. Kemudian beliau menggamit lengan perempuan muda bertubuh tinggi tersebut.


"Kamarnya sebelah mana, Bu?" tanya perempuan itu.


"Kamarnya ada di lantai atas. Tapi belum selesai Neng. Kira-kira satu minggu lagi baru bisa ditempati," jawab Bu Wahyu.


Perempuan muda itu manggut-manggut. Matanya berputar melihat sekeliling rumah kosan yang masih sepi.


"Mau lihat contoh kamarnya?" tanya Dinar dari depan pintu kamarnya.


"Boleh, Mbak. Kalau diizinkan," jawab perempuan muda itu seraya tersenyum.


"Silakan," ujar Dinar sambil mundur sedikit saat perempuan itu masuk ke ruang tamu dan mulai melihat ke dalam kamar, dapur kecil dan kamar mandi.


"Kamarnya enak, ya. Luas dan adem," ujar perempuan itu sambil berbalik ke arah Dinar dan Bu Wahyu.


"Iya, Mbak. Makanya saya dan teman-teman betah tinggal di sini," sahut Dinar.


"Di atas nanti ada berapa kamar, Bu?" tanya perempuan itu ke Bu Wahyu.


"Ada tiga yang lagi dibangun. Rencananya sih cuma mau nambah dua kamar lagi di bagian sini. Bagian depan tidak akan dibikin kamar. Biar buat ruang berkumpul aja," jawab Bu Wahyu.


"Pas banget, Bu. Saya juga rencananya mau ambil tiga kamar. Buat saya dan tiga rekan sekantor. Yang satu kamar diisi dua orang aja. Bisa kan, Bu?"


"Bisa, Neng. Alhamdulillah. Belum selesai tapi udah ada yang mau nempatin." Bu Wahyu mengusap dada sembari tersenyum lega.


Perempuan muda itu meraih amplop berwarna coklat dari dalam tasnya. Kemudian memberikannya pada Bu Wahyu.


"Langsung saya bayar kontan, ya, Bu. Untuk tiga kamar. Kalau kurang nanti saya tambah pas pindah ke sini," ujarnya.


"Iya, Neng. Hatur nuhun," sahut Bu Wahyu.


"O iya. Kita belum kenalan. Saya Dinar," ujar Dinar sambil mengulurkan tangan.


"Saya Jessica. Panggil saja Jessi," sahut perempuan itu sembari berjabat tangan dengan Dinar.


Menjelang Magrib para penghuni kosan pun berdatangan. Setelah selesai mandi dan salat Magrib, mereka pun berkumpul di ruang tengah. Mengobrol sambil menyantap makan malam.


"Lain kali bikin kayak gini, ya, Sayang. Abang suka," ucap Zein ke Triska.


"Iya. Jangan lupa kasih uang belanjanya banyakan, ya, Sayang. Keempat anak kita itu makannya banyak. Dari tadi nambah mulu," jawab Triska sambil tersenyum.


Zein mengalihkan pandangannya ke arah keempat temannya yang balik memandangnya dengan mulut penuh.

__ADS_1


"Sekalian obat cacingnya, ya, Bang. Kupikir mereka miara cacing dalam perut," sela Tia yang duduk di sebelah kanan Triska.


"Udah nggak mempan obat cacing, Tia. Obat naga aja. Ivan kan miara naga di perut. Sama dengan Satya, Chandra dan Ary," tukas Rama yang duduk di sebelah kiri Zein.


Ayu sampai tersedak saat berusaha menahan tawa mendengar guyonan teman-temannya. Sementara keempat orang yang menjadi objek obrolan hanya meringis malu.


"Minggu depan kosan kita nambah penghuni baru. Empat orang," ujar Dinar setelah selesai makan.


"Cowok atau cewek, Mbak?" tanya Ary.


"Yang tadi ke sini buat bayar kosan sih cewek. Tinggi. Cantik. Namanya Jessica," jawab Dinar.


Ary, Satya dan Chandra berpandangan. Mendengar penghuni baru itu cewek, mereka jadi bersemangat.


Lain halnya dengan Triska. Dia melirik Zein yang sedang mengobrol dengan Rama. Ada rasa was-was dalam hatinya. Entah kenapa.


Setelah selesai membereskan peralatan makan dan membawanya ke tempat cuci piring, Triska menarik tangan Zein dan menggusurnya masuk ke dalam kamar.


Emak Chubie yang sedang tidur di atas karpet ruang tamu, sontak kaget saat Triska dan Zein tiba-tiba duduk di dekatnya.


Kucing belang abu itu berpindah tempat ke ujung ruang tamu dan melanjutkan kembali tidurnya.


"Jangan tebar pesona, ya, Bang," ujar Triska sambil memandangi Zein yang balas memandangnya dengan bingung.


"Tebar pesona ke siapa?" tanya Zein.


"Penghuni baru!" ketus Triska.


"Yaelah. Kirain apaan? Ketemu orangnya aja belum. Gimana mau tebar pesona?" tanya Zein. Seulas senyum mengembang di wajahnya.


"Iya, deh. Iya! Puas?"


Triska mengangguk.


"Cemburu, ya?" goda Zein.


Triska mendelik ke arahnya.


"Dicemburuin gitu jadi pengen ngigit," ucap Zein sambil mengarahkan bibirnya ke lengan Triska yang menjerit kaget.


"Ssssttt. Jangan teriak! Ntar yang lain kepo," ujar Zein.


"Abang sih. Pake mau ngigit segala," rajuk Triska.


"Abisnya gemes," sahut Zein.


Pria itu tersenyum saat menyadari wajah Triska merona. Perlahan dia memajukan wajah dan mendaratkan kecupan di pipi kiri wanita pemilik hatinya itu.


"Deuhhh! Yang pacaran!" ledek Ivan dari pintu yang terbuka.


Triska meraih tempat tisu di dekatnya dan melemparkan benda itu ke Ivan yang segera berlari menghindar.


***

__ADS_1


Grrrrr. Grrrrr.


Triska tersentak kaget saat mendengar geraman Emak Chubie.


Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan diri dengan penerangan yang minim.


"Aneh, perasaan tadi lampu ruang tamu nyala. Kok sekarang mati, ya?" gumamnya.


Grrrrr. Grrrrr.


Tangan Triska bergerak meraih ponselnya yang sedang diisi daya di meja samping tempat tidur. Mencabut kabel pengisi daya dan mengaktifkan senter.


Emak Chubie sedang berdiri tegak sambil menggeram ke arah jendela.


Triska perlahan bangkit dan turun dari tempat tidur. Berjalan mendekati kucing belang abu kesayangannya yang masih menggeram.


"Ada apa, Mak?" bisik Triska sambil membelai Emak Chubie dengan tangan kanan. Tangan kirinya bergerak menyibak gorden.


"Astagfirullah!" serunya.


Di bawain pohon mangga tampak seorang wanita berdiri. Pandangan mereka bertemu.


Perlahan wanita itu melayang maju dan berhenti beberapa meter di depan jendela.


Triska menarik Emak Chubie dan menggendongnya ke pintu. Membuka pintu kamar dengan tangan gemetaran. Kemudian berlari dan menggedor kamar Zein.


"Abang! Abang! Bangun! Bangggg!" teriak Triska dengan panik.


Zein membuka pintu dan terkejut saat melihat wajah Triska yang pucat pasi.


"Ada apa?" tanyanya.


"Di ... kamar ... ada ... Rima!"


jawab Triska dengan terbata.


"Dia masuk ke kamar?"


"Enggak. Dia di dekat jendela," jawab Triska sambil menggeleng.


"Kamu bangunin Ivan!" perintah Zein. Dia segera meraih kunci pintu yang menggantung di pintu kamarnya. Berjalan cepat dan menggedor kamar Satya dan Ary sekaligus.


Sementara Triska berlari ke kamar Ivan dan menggedor pintunya kuat-kuat hingga pria itu keluar.


"Ada apa?" tanya Ivan sambil menggaruk-garuk pipinya.


Triska tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke seberang kamar Ivan yang penghuninya sudah keluar juga.


"Kalian mau ikut?" tanya Zein pada ketiga pria yang baru bangun tidur itu.


Sementara Ivan yang sudah terbangun berjalan mendekati mereka.


"Ke mana?" tanya Ary, Chandra, Satya dan Ivan serempak.

__ADS_1


"Ke tempat Amanda," jawab Zein.


__ADS_2