Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Tangisan Ivan


__ADS_3

Jeritan dan pekikan sambung menyambung dari tempat tidur Ivan, membuat kelima pria tersebut hanya terdiam. Mereka bingung hendak berbuat apa.


Postur tubuh Rima yang kecil dan gerakannya yang lincah, membuat Malika kewalahan dan terpojok.


"Pergi! Jangan ganggu teman-temanku!" teriakan Rima terdengar nyaring hingga terdengar ke kamar Dinar.


Keempat wanita itu saling berpandangan. Tanpa sadar mereka saling mendekat sambil bergidik ngeri.


Chandra tetap berusaha membuat Hasni sadar kembali. Dia takut, bila Hasni tetap pingsan maka bisa kerasukan jin lagi.


Sementara itu di kamar Ivan, Zein bergerak maju dan menarik Rima menjauh. Tenaga Rima yang sangat kuat sedikit membuatnya kerepotan.


Satya segera maju dan membantu Zein untuk menarik Rima. Malika yang merasa ada kesempatan, segera bergerak untuk menghajar Rima. Namun, gerakannya terhenti karena tendangan Zein lebih dulu mengenai tubuh dan membuatnya tersungkur.


"Apa-apaan kamu, Zein!" hardik Ivan. Dia tidak terima Malika diperlakukan seperti itu.


"Rama! Ary! Bawa Ivan pergi dari sini!" perintah Zein.


Kedua pria itu bergerak menyeret Ivan menjauh hingga sampai ke teras.


Tangan Zein melakukan beberapa gerakan, seolah sedang menarik, mengangkat dan menghempaskan sesuatu.


"Aaarrrggghhh!" teriakan Malika bergema di udara. Dia mengaduh sakit dan panas saat tangan Zein memegang kepalanya.


Ivan memberontak dan hendak maju ke arah Zein. Rama dan Ary bergegas menariknya mundur kembali.


"Ampun! Ampun! Panassss!" jeritan Malika terdengar lagi. Matanya membelalak saat Zein melakukan gerakan mendorong sesuatu, dan menembakkan tenaga dalam penuh ke arah kepalanya.


Tubuh Malika bergetar seiring dengan bau hangus seperti ada yang terbakar. Perlahan tubuhnya menghilang. Yang tersisa hanya asap pekat yang berwarna hitam.


Zein melakukan gerakan seolah sedang menebarkan asap ke atas kamar. Kemudian dia berhenti dan berbalik ke arah Satya.


"Dia sudah pergi?" tanya Zein.


Satya menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu. "Sepertinya begitu," jawab Satya sambil berjalan mendekati Zein.


"Kenapa kamu menghancurkan Malika?" tanya Ivan dengan nada suara tinggi.


"Kalau tidak dihancurkan sekarang, saat kembali nanti dia bisa membawamu pergi!" tegas Zein.


Ivan mendengkus. Membalikkan tubuh dan berjalan keluar kamar sambil menghentakkan kaki berulang kali.


"Ikuti dia. Aku takut masih ada mahluk lain di sekitar sini!" pinta Zein ke Ary yang bergegas berlari mengejar Ivan.

__ADS_1


Zein mengusap wajahnya yang berkeringat dengan lengan baju kaos yang dikenakannya. Kemudian dia duduk di atas lantai. Menekuk kaki dan bersandar ke dinding kamar.


Satya dan Rama juga melakukan hal yang sama dengan Zein.


"Kenapa Rima menyerang Malika?" tanya Rama.


"Karena Rima tidak mau teman-temannya celaka," jawab Zein.


"Tapi dia sendiri juga menakut-nakuti kita," sela Satya.


"Rima cuma ingin menyampaikan pesan. Bila dia mau menyelakai, pasti sejak dulu sudah dilakukannya," sahut Zein.


Rama dan Satya manggut-manggut. Dalam hati mereka mengakui bila pendapat Zein benar.


Ivan mengumpat berulang kali. Tinjunya menghantam dinding teras depan rumah, hingga darah mengucur dari tangannya.


"Jangan gitu, Van!" tegas Ary. Tangan kanannya menangkap tangan kanan Ivan dan mengunci pergelangan tangan dengan kuat.


"Biarin! Ini caraku buat meluapkan emosi!" teriak Ivan.


"Meluapkan emosi boleh, tapi jangan menyakiti diri sendiri kayak gini!" hardik Ary.


Kedua pasang mata itu saling menatap tajam. Rahang keduanya juga mengeras.


Triska memandangi kedua temannya sambil menggeleng pelan. Tangannya terulur dan mengambil alih tangan Ivan, membawa pria berkulit kuning langsat itu masuk ke dalam kamarnya.


Ary berdiri mematung di tempat semula, memandangi dinding yang terciprat darah dari tangan Ivan.


"Biar aku aja yang bersihin," ujar Tia dari arah belakang Ary. Di tangannya sudah ada tisu.


Sementara itu di dalam kamar, Triska sedang membersihkan luka Ivan dengan caiiran antiseptic. Dengan pelan dan hati-hati, Triska mengoleskan obat ke atas luka, yang membuat Ivan meringis.


Kemudian Triska membalut tangan Ivan dengan kain kasa yang selalu tersedia di dalam kotak obatnya. Bekerja di klinik hewan membuat Triska cukup terlatih dalam membersihkan luka.


"Nuhun," ucap Ivan pelan. Dia menunduk memandangi lantai kamar. Pandangannya menerawang.


Kelebatan kenangan bersama Malika, lima tahun yang lalu membuatnya sedih.


Ivan meremas rambut dan mengusap wajah dengan kasar. Matanya berembun dan terasa panas.


Ivan bukan pria cengeng. Namun, kali ini dia tak mampu menahan jatuhnya bulir bening dari sudut mata.


Triska meraih pundak Ivan dan memeluk pria muda itu dengan rasa sayang. Sebagai sahabat, Ivan sangat baik dan perhatian.

__ADS_1


Ivan tergugu di pundak Triska. Air matanya mengalir deras bak air terjun. Sesekali dia menyebut nama Malika serta menggumamkan kata maaf. Membuat Triska bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan yang terjadi dengan Malika?


🦉


"Bang," panggil Dinar saat melihat Hasni telah sadar.


Pria itu menatap wajah ketiga temannya dengan bingung. Susah payah dia bangun dan duduk di atas karpet. Mengusap wajah beberapa kali.


"Abang, kok bisa kerasukan Rima?" tanya Chandra.


Mata Hasni membola. Dalam hati dia juga bingung kenapa hal itu bisa terjadi.


Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Hasni pun bercerita kepada ketiganya.


"Kenapa Rima harus merasuki Abang supaya bisa masuk ke dalam rumah? Kenapa dia nggak langsung masuk aja seperti sebelumnya?" tanya Ayu.


"Karena, Rima telah berjanji tidak akan memasuki rumah ini lagi, saat dia merasa diusir dengan doa-doa, serta bubuk bidara yang pernah kusebar itu," jawab Zein dari ambang pintu kamar Dinar yang terbuka.


"Hmm ... lalu kenapa Malika bisa masuk ke dalam?" tanya Dinar.


"Karena pengaruh bidara sudah menghilang. Rumah juga sering kosong. Dan ... dia ingin bertemu Ivan. Serta membawanya pergi," jelas Zein.


"Apa dia masih ada di sini?" tanya Chandra sembari celingukan.


"Udah nggak ada. Malika sudah hancur," jawab Satya yang berdiri di sebelah kanan Zein.


"Kalau Rima? Di mana dia sekarang?" tanya Dinar.


"Entahlah. Mungkin kembali ke pohon mangga. Atau gentayangan ke tempat lain," jelas Zein sambil berjalan meninggalkan kamar Dinar.


Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar Triska. Tampak Ivan merebahkan kepalanya di pangkuan Triska.


Sejenak Zein dan Triska saling menatap. Secarik senyum tercetak di wajah Triska. Tangan kanannya berhenti membelai rambut Ivan.


Zein berjalan mendekat. Berjongkok dan meletakkan lututnya ke lantai. Pandangannya bertemu dengan kedua mata Ivan yang masih mengalirkan air mata.


"Maaf, aku terpaksa melakukannya," ucap Zein sambil menyentuh pundak Ivan dengan pelan.


Ivan perlahan menegakkan kepala dan menatap Zein dengan tajam. Dia menyusut air mata yang masih tersisa. Kemudian menoleh ke arah jendela kamar Triska yang mengarah ke halaman.


"Jadi, aku sudah tidak bisa bertemu dengan Malika lagi?" tanya Ivan pelan.


Zein perlahan berdiri. Tangannya memegang pundak kiri Ivan. "Mungkin masih bisa bertemu. Dalam mimpi," sahutnya.

__ADS_1


__ADS_2