Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Klub Malam


__ADS_3

Mobil SUV berwarna hitam itu parkir di depan sebuah ruko tiga lantai di daerah pusat bisnis di kota kembang.


Calvin turun dari pintu pengemudi. Danang turun dari pintu sebelahnya dan membukakan pintu tengah.


Eric dan Rey turun bersamaan, demikian pula dengan Andi dan Lian yang duduk di kursi belakang.


Kelima pria itu membentuk lingkaran untuk melindungi Eric. Mereka berjalan cepat memasuki ruko tersebut.


"Selamat datang. Silakan, Bos. Sudah ditunggu di dalam," sambut seorang pria bertubuh kekar yang berdiri di pintu masuk ruko.


Seorang perempuan dari meja resepsionis segera mengantarkan rombongan tersebut ke lantai dua ruko.


Lian berhenti di dekat anak tangga pertama dan berdiri menunggu di situ bersama pria kekar tadi. Sementara pengawal lain ikut naik bersama bos.


Danang yang lebih dulu sampai ke lantai dua kemudian menunggu di dekat tangga teratas. Sedangkan yang lainnya terus berjalan menuju ruangan paling ujung.


Seorang wanita bertubuh tinggi menyambut kedatangan Eric dengan peluk dan cium hangat. Dia memberi kode agar Rey menutup pintu dan menunggu di luar.


Eric berjalan masuk ke ruangan kerja yang ditata apik. Dia duduk di atas sofa berwarna hitam di bagian kiri ruangan. Merentangkan tangan di atas sandaran kursi sambil tersenyum ke arah wanita cantik tersebut.


"Semua aman?" tanya Eric pada wanita yang sedang menuangkan minuman untuknya.


"Aman," jawab wanita itu seraya berbalik dan melangkah mendekati sofa yang diduduki Eric.


"Tempat untuk kalian sudah siap?" tanya Eric.


"Siap, Bos. Aku datang di waktu yang tepat. Pemilik kosan sedang membangun kamar tambahan di atas," jawab Jessica sambil mengulurkan gelas sloki berisi minuman kegemaran Eric. Kemudian dia duduk di sebelah pria tinggi itu, dan memandanginya dengan tatapan penuh kerinduan.


"Penghuni lama masih ada?"


"Yang bertemu denganku hanya wanita yang ini," tunjuk Jessica ke foto Dinar yang sudah ada di meja.


"Yang lain?"


"Kata bu Wahyu, penghuni lama cuma tinggal wanita ini, sama Hasni dan Rama. Tapi aku belum bertemu dengan yang lainnya."


"Hmm ... Rama. Dia salah satu yang menentang hubunganku dengan Rima," ujar Eric dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal.


***


Brrruuukkk.


Brrraaakkk.


"Hati-hati atuh ngangkatnya! Ntar patah meja riasku!" teriak Triska pada Ivan dan Ary yang membalas omelannya dengan tersenyum miring.

__ADS_1


Kedua pria itu memang sengaja mengerjai Triska yang sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.


"Ini, mau ditaruh di mana, Teh?" tanya Satya yang membawa keranjang penuh hiasan.


"Di situ aja, Sat. Nanti biar aku yang beresin," jawab Triska.


Sementara itu di kamar depan tampak Tia sedang membantu Zein melipat pakaian dan menyusunnya di dalam lemari.


"Sudah baikan sama Ivan?" tanya Zein pelan.


Tia berhenti menyusun pakaian dan menoleh ke arah Zein yang berdiri di dekat meja kerja.


"Baikan sih udah. Tapi ... nggak taulah, Bang. Aku ... masih ragu. Dia beneran serius atau gak," jawab Tia sambil menghela napas dan mengembuskan dengan cepat.


Zein berjalan menuju tempat tidur dan mulai merapikan bantal. "Kalo aku boleh saran, kamu harus bisa bersikap tegas sama Ivan. Dia masih labil," ujar Zein.


"Iya, mbak Dinar juga bilang gitu. Aku yang harus tegas," sahut Tia dengan tatapan menerawang.


Suara mobil memasuki halaman rumah membuat Zein berdiri dan mengintip lewat jendela. Senyuman mengembang di wajahnya saat melihat Rama dan Winda turun. Di tangan mereka ada kantong plastik besar.


"Makanan datang!" teriak Rama dari garasi.


Sontak saja semua penghuni langsung berhamburan keluar kamar. Berebutan mengerubungi Winda yang sedang membagikan nasi padang.


"Makasih," sahut Ayu pelan.


Mereka berdiri dengan canggung selama beberapa detik sebelum akhirnya Winda berbalik ke garasi, mengambil satu bungkus nasi padang dan duduk di lantai, bersebelahan dengan Rama dan Zein.


Ayu beranjak masuk ke kamar Triska. Duduk di lantai bersama Dinar. Mereka makan sambil mengobrol ringan.


***


Suara musik yang kencang sedikit mengganggu kenyamanan Calvin. Pria muda itu memang tidak terlalu menyukai suasana di tempat ramai.


Matanya bergerak mengawasi setiap pengunjung klub yang datang dari berbagai penjuru kota. Sebagian kecil dari mereka dikenalnya sebagai anggota dari sindikat yang sama. Berbeda bos saja.


Di sofa paling sudut tampak Eric sedang duduk mengobrol dengan seorang pria berkepala plontos. Di sekitar mereka tampak pengawal masing-masing sedang berjaga.


"Ayo, kita sudah selesai di sini," ujar Rey dengan sedikit berteriak di telinga kiri Calvin.


Calvin mengangguk dan mulai bersiap untuk membuka barisan menuju pintu keluar klub.


Mereka berjalan sambil melingkari Eric sampai pria itu memasuki mobil.


Danang menyetir dengan kecepatan sedang. Dia tetap waspada mengawasi kaca spion.

__ADS_1


Sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Eric langsung memasuki kamar yang terletak di lantai tiga hotel mewah tersebut.


"Dia sudah siap?" tanya Eric sambil membuka jaket yang dikenakannya dan melemparkan jaket itu ke atas sofa.


"Sudah," jawab Rey sambil membuka pintu penghubung kamar dengan ruang tamu. Kemudian langsung menutup pintu kembali setelah Eric masuk.


Terdengar kunci pintu diputar dari dalam. Tidak lama kemudian suara musik mengalun dari dalam kamar. Menandakan Jessica sedang memadu kasih dengan Eric.


***


"Kamu aja yang keliling, Ja," ujar Rahman pada Jaja.


"Teu hayang!" teriak Jaja. Dia masih trauma dikerjai hantu tempo hari.


(Gak mau!)


"Pada cemen semua!" hardik Iman. Pria dewasa tersebut segera beranjak dari saung, dan mulai berjalan mengelilingi komplek seorang diri.


"Urang arek sare'!" cetus Jaja.


(Aku mau tidur!)


"Masa bodo!" sahut Rahman. Dia segera beranjak menyusul Iman.


Jarak yang hanya sekitar puluhan meter terasa sangat jauh bagi Rahman.


"Iman! Tungguin!" teriaknya pada sosok yang berdiri di dekat taman.


"Si Jaja nggak ikut?" tanya Iman sembari berbalik.


"Enggak. Mau tidur katanya," sahut Rahman.


Mereka melanjutkan perjalanan sambil mengawasi sekeliling. Sorot lampu senter mereka cukup mampu menerangi malam yang sedikit berkabut.


Sementara itu di saung, Jaja tidak bisa memejamkan mata karena banyaknya nyamuk yang berterbangan di sekitar tubuhnya.


Tangannya yang sedang mengipasi bagian telinga kanan mendadak berhenti. Denyut jantungnya seolah berpacu sepuluh kali lipat, saat mendengar nyanyian lirih seorang wanita yang sedang duduk di bagian ujung kiri saung.


Tubuhnya mulai gemetaran. Keringat dingin keluar dari setiap pori-pori tubuh. Membanjiri baju kaus dan celana training yang dikenakannya. Dia berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa. Mulutnya mendadak kering. Tenggorokan tercekat.


Jaja hanya mampu bergumam dengan suara bergetar. Memanggil nama kedua temannya.


"Iman ... Rahman ... bantuin urang."


(Urang \= aku)

__ADS_1


__ADS_2