
Zein merebahkan diri di atas kasur. Meluruskan punggung setelah menyetir dari Bandung ke Jakarta dengan sedikit mengebut.
Om Hermawan, sahabat ayahnya yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja, tiba-tiba memanggilnya dan meminta pria muda itu bergegas menuju Jakarta.
Zein melipat tangan di belakang kepala. Matanya menerawang memandangi plafon kamar hotel yang ditempati ini. Masih terbayang wajah merengut Triska, saat dia berpamitan tadi pagi di depan kosan.
Setelah sehari sebelumnya mereka baru sampai ke kosan, sekarang Zein harus pergi lagi secara mendadak.
"Abang nggak lama, Sayang. Paling cuma tiga hari. Sabar, ya," pujuk Zein sambil mengusap punggung lengan Triska yang sedang bersedekap.
"Beneran cuma tiga hari, ya," rajuk wanita berkulit putih itu sembari terus memandangi wajah kekasihnya. Dalam hati Triska merasa akan berpisah lama dengan pria pemilik hatinya ini.
"Iya," sahut Zein. Dia memajukan wajah dan mengecup dahi Triska dan mengusap rambutnya dengan lembut.
Sejenak mereka larut dalam pikiran masing-masing. Zein mencoba untuk memahami isi hati Triska. Sedangkan wanita itu mencoba untuk ikhlas melepas kepergian pria tampannya walau dengan hati yang pedih.
Zein memiringkan tubuh ke kiri. Memejamkan mata sambil mengingat isi obrolannya tadi dengan Om Hermawan.
"Om sudah ingin beristirahat. Pengen pulang ke Yogyakarta. Main sama cucu. Udah capek juga kerja terus sejak dulu. Berjuang membesarkan perusahaan ini dengan keringat dan darah. Om nggak punya anak cowok. Menantu pun nggak ada yang mau meneruskan perusahaan ini. Ke orang lain om masih belum bisa percaya, Zein," jelas pria paruh baya yang memang sudah dianggap Ayah oleh Zein.
Pak Hermawan menatap wajah pria muda di depannya dengan tersenyum simpul. Dia tahu Zein tidak akan menolak permintaannya.
"Saya minta waktu untuk berpikir dulu, ya, Om. Harus membicarakan hal ini juga dengan ayah," pinta Zein sebelum pamit tadi siang.
Perasaan pria muda itu begitu bimbang. Antara menuruti permintaan pria paruh baya tersebut atau tetap di Bandung.
Alarm di ponselnya berbunyi. Penanda masuknya waktu Asar. Zein bangkit perlahan dan jalan ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengambil wudu.
Kembali lagi ke ruangan, meraih sajadah dari dalam tas. Menghamparkannya sesuai tanda arah kiblat dari kompas di ponsel.
Zein memohon diberikan ketetapan hati pada yang Maha Kuasa. Memasrahkan nasib akan membawanya menuju ke mana. Hanya bisa pasrah menunggu kepastian hati. Berusaha ikhlas untuk menerima apa pun yang digariskan penciptanya.
***
Malam pun semakin larut. Sejak tadi Triska tak sanggup memejamkan mata. Dia hanya berpindah-pindah posisi ke kanan dan kiri sambil memeluk guling.
__ADS_1
Suasana hatinya yang tak menentu membuatnya gelisah. Pikirannya tidak lepas dari Zein.
Ini untuk yang kesekian kalinya Zein tugas ke luar kota. Biasanya Triska santai-santai saja. Namun, entah kenapa kali ini rasanya sangat berbeda.
Emak Chubie menggeram sambil memandang ke pintu. Triska tertegun dan memeluk tubuh kucing itu yang masih menggeram.
Suara langkah kaki di teras depan kamar bersamaan dengan suara orang mengobrol, membuat Triska sedikit tenang. Setidaknya di depan itu manusia. Bukan hantu.
Suara obrolan itu menghilang, tapi Emak Chubie masih tetap menggeram.
Triska mengerutkan dahi. Dia bingung hendak melakukan apa.
Tiba-tiba kucing abu belang hitam itu melompat turun dari gendongan. Berlari dengan cepat menuju pintu dan menggaruk-garuk pintu seolah minta dibukakan.
"Udah malam atuh, Mak. Mau ke mana emangnya malam-malam?" tanya Triska sambil beringsut ke pinggir kasur.
Dia jalan mendekat, memutar kunci dan membuka pintu. Emak Chubie langsung lari dan menggaruk-garuk pintu kamar Zein.
"Abang nggak ada, Mak. Mau ngapain juga ke dalam?" tanya Triska lagi. Namun, kucing itu malah semakin semangat menggaruk pintu.
Wanita itu menoleh dan terkesiap saat melihat pria itu jalan mendekat dari dapur. Di tangannya ada satu gelas berukuran jumbo yang masih mengepulkan asap.
"Ehm ... bggak tau ini kenapa. Tiba-tiba aja dia pengen masuk ke kamar ini," jawab Triska.
Pria yang sudah berdiri di dekatnya itu berjongkok dan mengelus Emak Chubie yang masih menggeram.
"Sepertinya kucing ini punya mata batin yang tajam. Mungkin ada mahluk tak kasat mata yang bertamu ke kamar itu," ujar pria itu sembari bangkit dan berdiri menyandar ke dinding.
Dia meniup uap di gelas dan menyesap isinya. Sementara Triska yang masih bingung, semakin salah tingkah. Ada rasa aneh berdekatan dengan pria ini. Seakan ada sesuatu yang misterius di balik manik mata hitamnya itu.
Sesaat pandangan mereka bertemu. Pria itu tersenyum sembari mengulurkan tangan. "Kita belum sempat kenalan, ya. Padahal aku sering lewat sini," ujarnya.
"Iya. Aku, Triska," jawab wanita cantik itu sambil menjabat tangan pria itu dengan tegas.
"Nama yang cantik. Pas banget dengan orangnya," puji pria itu seraya memamerkan senyuman terbaik.
__ADS_1
Triska cuma mengangguk pelan. Merasa sangat rikuh berlama-lama di sini.
"Aku, Rey. Sapa aja kalau kebetulan ketemu, ya," sahut pria klimis itu. Kemudian dia berbalik dan jalan lurus. Menaiki anak tangga sambil bersiul.
Triska mengelus dada dan menghela napas lega. Berada dekat dengan pria itu membuatnya ... takut.
***.
Ayunan di taman bergoyang sendiri. Suara nyanyian semakin lama semakin kencang terdengar ke sekeliling tempat itu.
Pak Dani, pemilik rumah yang berada tepat di sebelah kiri taman, mendadak merinding. Saat tanpa sengaja melihat ayunan yang bergoyang kencang.
Pria bertubuh tambun itu bergegas menggembok pagar dan lari masuk ke dalam rumah.
Terdorong rasa penasaran akhirnya dia mengintip dari balik gorden.
Sesosok wanita mengenakan gaun panjang melayang terbang melewati depan rumahnya. Membuat pria itu membelalakkan mata dan sontak mundur selangkah.
Sosok wanita itu tiba-tiba sudah berada di depan jendela kamar Zein. Berbagai cara dilakukannya, tapi pria itu sama sekali tidak merespon.
Rima berdiri dengan bingung. Dia tidak berani memasuki rumah. Takut kenapa-kenapa seperti ancaman Zein dulu.
Wanita itu akhirnya jalan dan masuk ke mobil yang paling ujung. Dia memperhatikan seisi mobil dengan tingkat penasaran yang tinggi.
Pandangannya terhenti pada sebuah benda di belakang jok pengemudi. Dia tidak bisa mengambil benda itu karena seolah ada yang memagarinya.
Rima mencoba mengingat di mana dia pernah melihat benda itu. Susah payah dia memutar otak, tapi tidak juga dapat mengingat dengan jelas.
Pintu depan kosan terbuka. Seorang pria bertubuh sedang jalan keluar dan menuju mobil yang Rima masuki.
Setelah kunci diputar dan pintu terbuka. Pria itu masuk dan mengambil sesuatu di bawah kursi bagian penumpang depan.
Menyadari ada mahluk lain, Rey menoleh dan bertemu pandang dengan Rima.
Mata bulat wanita itu melotot sambil mengacungkan jarinya ke arah Rey yang langsung keluar dari mobil.
__ADS_1