Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Siapa Dia?


__ADS_3

"Jadi, harus menunggu ada yang membuka lorong waktu, baru kita bisa masuk?" tanya Rama. Dia benar-benar penasaran.


"Setahuku begitu, Mas. Tapi ada juga orang yang bisa buka. Tentu saja dengan kekuatan ilmu kebatinan yang tinggi. Kalo aku, jelas belum bisa," jelas Satya.


Embusan angin malam yang dingin menusuk membuat mereka bergidik. Setelah berembuk akhirnya mereka memindahkan tubuh Zein ke dalam kamar Triska.


Ivan mengambil kasur lipat dari kamarnya dan menggelar kasur di ruang tamu Triska.


Ia merebahkan diri, tangan terlipat di belakang kepala. Matanya menerawang memandangi langit-langit kamar.


"Geser dikit," ujar Rama sambil menghempaskan bokong di atas kasur lipat. Ia duduk menekuk kaki, bertopang dagu di lutut sembari memandangi lantai.


Ary duduk menyandar ke dinding kamar. Hasni dan Chandra merebahkan diri di atas karpet.


Mereka tidak tega meninggalkan Zein, dengan sabar mereka menunggu pria berambut cepak itu kembali dari perjalanan ajaibnya.


Triska membelai rambut kekasihnya sambil terus menggumamkan ayat kursi dan salawat di telinga kiri Zein. Sementara Tia duduk di lantai, menyandar ke tepi tempat tidur.


Satya duduk di sebelah kanan Zein. Dia terus memandangi tubuh Zein, mengamati bila ada pergerakan.


"Abang," panggil Triska saat melihat kelopak mata Zein sedikit bergerak.


Satya maju mendekat, meletakkan tangannya di atas dada Zein. "Bang," bisiknya.


Perlahan tangan dan kaki Zein bergerak. Triska memegangi lengan kekasihnya itu dengan erat. Tia bangkit dan berpindah ke sebelah kiri Triska. Tangan kirinya memegang betis kiri Zein yang bergetar.


"Ugh ... ugh ...." lenguh Zein, sesaat kemudian matanya membuka sedikit.


"Abang," panggil Triska dan Satya bersamaan.


Mata Zein membuka sempurna. Ia menatap Triska yang memandanginya dengan raut wajah khawatir.


"Alhamdulillah. Akhirnya kembali juga, Bang," ucap Satya seraya tersenyum.


Ivan dan yang lainnya bergegas bangkit dan berjalan memasuki kamar. Memandangi Zein yang balik menatap mereka dengan sorot mata bingung.


"Diminum dulu, Bang," ujar Tia sambil mengulurkan segelas air.


Triska dan Satya membantu Zein untuk duduk. Kemudian Zein meminum air yang diulurkan Tia.


"Nuhun," lirih Zein. Kemudian ia menutup mata sembari mengusap wajah dengan tangan.


"Tenangin diri dulu, Zein. Baru nanti cerita," ujar Hasni.


Zein mengangguk dan menoleh ke Satya.


"Nuhun, ya. Udah bantu jagain aku," ucapnya seraya tersenyum.


"Sama-sama, Bang. Lain kali aku ngikut, ya. Jangan disuruh jaga mulu," sahut Satya sembari tersenyum lebar.


Zein mengangguk, tangannya bergerak menepuk lengan Satya beberapa kali.


***


Rintik hujan yang turun dari langit sejak Subuh hari, membuat banyak orang enggan untuk melakukan aktifitas.


Triska masih berbaring di sebelah kanan Zein. Tangannya diletakkan di perut pria yang telah mencuri hatinya tersebut.

__ADS_1


Zein masih tertidur pulas. Dengkuran terdengar dari mulutnya.


"Mau kerja, nggak?" tanya Tia yang masih rebahan di belakang Triska.


"Kayaknya nggak. Ngantuk aku," jawab Triska.


"Aku juga mau izin ahh. Puyeng nih," sahut Tia.


Triska berbalik ke arah Tia dan memeluk sahabatnya itu dengan rasa sayang. "Makasih, ya. Udah ikut nemenin semalaman," ujarnya.


"Sama-sama. Mana aku tega ninggalin kalian begitu," sahut Tia sembari mengusap punggung lengan Triska yang memeluk perutnya.


Satya dan Ivan yang tidur di kasur lipat masih bersaing mendengkur saat Dinar membuka pintu kamar Triska.


"Ada apaan sih? Kok pada ngumpul di sini?" tanya Dinar sambil mendekat dan duduk di ujung kasur.


Triska dan Tia bangkit dan duduk bersila. Mereka menceritakan semuanya kepada Dinar yang melongo.


"Zein ketemu Amanda?" tanya Dinar.


"Iya. Tapi Amanda nggak mau ikut," jawab Tia.


"Zein masih ingat di mana lokasinya?" Dinar bertanya lagi.


"Nanti malam dia dan Satya akan mencoba membuka portal gaib. Yang pasti sih, dari bahasa orang-orang di situ, Amanda ada di Indonesia," jawab Triska.


"Ris," panggil Ivan dari ambang pembatas kamar dengan ruang tamu.


"Ya?" jawab Triska.


"Ada. Tapi air galonku habis. Lupa mau beli," jelas Triska sembari beringsut ke pinggir kasur.


"Kumasakin air aja di dapur," sela Tia yang beranjak keluar kamar.


"Mbak, punya kue nggak? Aku laper," ucap Ivan sembari merebahkan diri di sebelah Zein.


"Kubeliin gorengan aja, ya," jawab Dinar, ia bangkit berdiri dan jalan keluar kamar.


Beberapa menit kemudian Tia kembali ke kamar membawa termos. Triska segera membuat beberapa cangkir kopi.


Ivan duduk di atas kasur, menyeruput kopi panas sambil mengecek pesan masuk di ponselnya.


Triska masuk ke kamar mandi, sedangkan Tia kembali ke kamarnya.


"Zein masih tidur?" tanya Rama yang memasuki kamar Triska sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


"Masih," jawab Ivan.


Rama bergerak duduk di ujung kasur. Tangannya terulur meraih gelas di atas meja samping tempat tidur.


Aroma kopi yang harum langsung menyergap penciumannya. Ia menyesap kopi dengan perlahan. Menikmati setiap tetes dan mengecapnya dalam mulut.


"Wangi kopi nih," sela Satya yang baru bangun dari tidurnya. Ia melangkah pelan menuju tempat tidur. Tangannya meraih cangkir yang diulurkan Rama.


"Ini, gorengannya. Aku langsung berangkat kerja, ya," ujar Dinar dari pintu yang terbuka.


Satya berjalan ke pintu kamar dan mengambil bungkusan berisi gorengan dari tangan Dinar. "Makasih, Mbak," ucapnya tulus.

__ADS_1


Dinar mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke luar rumah.


"Kalian nggak kerja?" tanya Rama. Ia menatap Ivan dan Satya yang masih kucel karena belum mandi.


"Enggak. Aku mau tidur lagi habis sarapan," jawab Ivan. Mulutnya tak henti mengunyah bakwan.


"Aku juga, tadi udah izin ke bos," jawab Satya sembari menguap.


"Ary sama Chandra juga kayaknya nggak kerja. Apa aku bolos juga ya?" ucap Rama yang mendapat anggukan dari Ivan. Rama terkekeh pelan.


"Eits, ngobrolnya pindah ke depan, ya. Aku mau ganti baju," ujar Triska yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ganti aja di sini," goda Ivan. Triska melemparkan handuk basah yang langsung ditangkap Ivan sembari cengengesan.


"Ayo, kita ke luar," ajak Rama.


Satya mengikuti sambil membawa bungkusan berisi gorengan.


Sementara Ivan menyusul di belakang. Tangannya menowel lengan Triska yang mendelik tajam. "Zein nggak diusir juga?" godanya.


"Masih tidur dia," jawab Triska sambil mencubit lengan Ivan.


"Bohong, tuh. Pura-pura doang dia!" seloroh Ivan sembari berjalan keluar kamar. Tak peduli Triska yang semakin merengut.


***


Suasana rumah kosan di pagi menjelang siang ini sangat sepi.


Tia dan Triska sedang sibuk memasak di dapur. Chandra membantu mencuci piring dan peralatan masak. Satya masih tertidur di kamarnya. Ivan duduk menyandar di dinding teras depan kamar Ary. Sementara Zein berbaring di sebelahnya.


Kkkrrreeettt.


Bunyi pagar dibuka. Zein sontak bangun dan beranjak ke depan rumah. Ivan dan


Chandra menyusul.


"Hei! Tunggu!" teriak Zein pada seseorang yang berdiri di dekat pohon mangga.


Orang itu menoleh, kemudian segera berlari menuju motor yang terparkir di depan pagar.


Zein dan Chandra berlari cepat mengejar orang itu. Namun mereka terlambat. Orang itu langsung tancap gas.


Tiba-tiba motor Ivan berhenti di tempat Zein berdiri.


"Naik!" perintah Ivan.


Zein segera melompat ke atas motor. Ivan langsung tancap gas mengejar motor orang tadi yang mengarah ke jalur utama komplek.


"Itu motornya!" tunjuk Zein pada motor yang berhenti di lampu lalu lintas.


Ivan bergegas mengejar dan berhenti tepat di sebelah motor itu. Zein melompat turun dan segera mencabut kunci motor yang tergantung di motor orang itu.


Sementara Ivan menarik kerah jaket kulit yang dikenakan orang itu. Tangan kirinya bergerak membuka helm yang dipakai orang tersebut.


"Kamu!" teriak Ivan sambil melotot.


Sementara Zein memandangi Ivan dan orang itu bergantian dengan tatapan bertanya.

__ADS_1


__ADS_2