Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Beradu Kekuatan


__ADS_3

Rima mendorong Zein hingga menempel ke batang pohon. Kemudian maju dan menutupi Zein dengan tubuhnya.


Zein menahan napas saat Calvin berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah di depan mereka.


Rima tiba-tiba maju selangkah, memperlihatkan sosok aslinya yang menyeramkan.


Calvin terkesiap, matanya membelalak saat mengenali mahluk di depannya itu.


Tangannya bergerak membentuk pagar di sekeliling tubuhnya sambil mundur beberapa langkah.


"Jangan ke sana," bisik Zein. Tangannya bergerak menarik bagian belakang gaun Rima yang menjuntai hingga ke tanah.


Rima hanya diam dan terus memandangi gerak gerik Calvin.


Zein pun memasang pagar gaibnya lagi. Dia bersiap untuk kejadian apa pun yang mungkin akan berlangsung. Dalam hati dia berusaha memanggil Satya dan sebuah nama lain. Gurunya.


***


Satya tiba-tiba terbangun. Dia merasa ada yang memanggil namanya berulang kali.


Matanya melirik Chandra, sepupunya itu masih tertidur pulas.


Satya bergegas bangkit dari tempat tidur saat mendengar panggilan itu kembali. Dia segera berjalan dan membuka pintu kamar. Mengayunkan langkah kaki menuju kamar Zein.


"Bang?" panggilnya sambil mengetuk pintu. Namun, Zein tidak menyahut sama sekali.


Satya sangat hapal, Zein itu orangnya paling cepat terjaga. Telinga sensitifnya masih bisa mendengar suara saat belum tertidur lelap. Jadi ketukan pintu pelan pun biasanya akan terdengar dan Zein akan langsung membuka pintu.


Beberapa menit menunggu akhirnya Satya berpindah mengetuk kamar Triska. Wanita cantik itu langsung membuka pintu setelah mengintip melalui jendela.


"Teh, bang Zein manggil aku," jelas Satya saat melihat Triska hendak bertanya.


"Manggil?" tanya Triska dengan bingung.


"Lewat batin, Teh," sahut Satya.


"Ha? Kok bisa? Kan abang lagi tidur?"


"Kita pastiin aja, Teh. Feeling aku, sukma abang ada di suatu tempat. Bukan di kamarnya."

__ADS_1


Triska mengangguk dan meraih kunci yang tergantung di pintu. Zein hanya meminta kunci kamar satu buah, sedangkan Triska masih menyimpan cadangannya.


"Abang pernah bilang, suatu saat aku akan butuh kunci ini. Ternyata ini maksudnya," ucap Triska sambil membuka pintu kamar Zein.


Mereka bergegas masuk dan melihat Zein tengah tertidur dengan posisi yang aneh. Tampak keringat dari sekujur tubuhnya. Kelopak mata bergerak dengan cepat. Demikian juga dengan kepala dan tangan.


Satya langsung paham apa yang sedang terjadi. Dia duduk di sebelah kanan Zein dan meletakkan tangan kanan di dada pria berkulit putih tersebut. Mencoba menyambung mata batin untuk menemukan lokasi Zein.


"Gimana?" tanya Triska dengan wajah yang sangat pucat. Dia takut terjadi apa-apa dengan pria yang dicintainya itu.


"Masih belum ketemu, Teh. Bisa tolong bangunin Chandra dan Ary? Atau semuanya aja bangunin," pinta Satya.


Triska mengangguk dan beranjak menuruni tempat tidur. Dia berlari keluar kamar dan menggedor pintu semua kamar dengan panik.


***


Tasya yang sedang terlelap tiba-tiba seolah ditarik sukmanya oleh seseorang. Susah payah dia bertahan namun akhirnya dia mengalah dan mengikuti perintah orang itu.


Saat mereka tiba di halaman belakang, tampaklah Calvin sedang berhadapan dengan sosok hantu yang sangat dikenalnya.


Rima mengeluarkan semua kemampuannya untuk menghalau Calvin dan melindungi seorang pria di belakangnya.


"Apakah kemampuannya bisa melukai Calvin?"


"Bisa. Karena Calvin tenaga dalamnya masih jauh dibanding wanita itu. Serta, pria yang di belakang wanita itu, kekuatannya juga besar. Kekuatan mereka berdua bila digabungkan, bisa membuat pagar gaib buatanmu hancur," jelas sang Nenek.


"Kalau begitu, aku harus ke sana," ujar Tasya.


"Jangan! Berbahaya untuk anakmu."


"Terus gimana? Aku tidak bisa membiarkan Calvin sendirian menghadapi mereka."


"Tunggu di sini!" perintah sang Nenek.


Wanita tua itu maju hingga berdiri di sebelah kiri Calvin yang terperangah saat melihatnya.


Melihat seorang mahluk ikut membantu pria bertanda lahir itu, Zein bergerak maju. Namun gerakannya terhenti saat sesosok pria tiba-tiba menyeruak maju melewati sukmanya.


"Diam di situ!" perintah pria itu yang tak lain adalah gurunya.

__ADS_1


Guru Zein yang bernama Mahmud, berdiri di sebelah kanan Rima. Dia beradu pandang dengan wanita tua di seberang sana. Kemudian menoleh pada Rima yang juga memandanginya.


"Pergilah, Nak. Kembalikan Zein ke raganya. Biar bapak yang menghadapi mereka," ujar pria tua itu pada Rima.


Sosok Rima yang menyeramkan perlahan berubah kembali. "Tapi mereka berdua, Pak. Sedangkan Bapak cuma sendiri," bantah Rima.


"Tenang. Bapak bisa menghadapi mereka. Sebentar lagi juga akan ada yang menyusul ke sini. Pergilah!" perintah Pak Mahmud.


Rima berdiri diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya berbalik ke arah Zein. Dia tertegun saat melihat sesosok pria tua sudah berada di sebelah Zein.


Pria tua itu mengangguk pada Rima. Dia menepuk pundak Zein yang langsung menundukkan tubuh dan menyalaminya dengan hormat.


"Kalian kembalilah, Zein. Biar kami yang mengurus mereka," ujar pria tua itu yang tak lain adalah kakeknya Zein. Orang pertama di keluarganya yang memperdalam ilmu kebatinan, dan menurunkan pada seluruh keturunan laki-laki langsung darinya.


"Tapi, Kek. Ini urusanku. Biar aku yang menyelesaikannya," bantah Zein.


"Kamu harus tetap terlindung. Jangan sampai identitasmu mereka ketahui, Zein. Karena nantinya kamu dan temanmu yang akan menyelesaikan ini di dunia manusia," jelas sang Kakek.


Zein dan Rima saling berpandangan. Mereka hanya diam dan memperhatikan saat pria itu berdiri bersisian dengan gurunya Zein.


***


"Kumaha?" tanya Ivan pada Satya dan Ary yang sedang memegang dada Zein.


"Aku masih mencari," jawab Satya. Dia beralih memandangi Ary sambil berujar,"Aku akan ke sana. Ingat, baca terus doanya. Jangan berhenti."


"Chan, ke sini!" panggil Satya. Dia pun merebahkan diri di sebelah Zein. Tangannya bersedekap di dada.


"Baca terus doa yang kuajarkan waktu itu, Chan. Jangan terputus. Kalo aku menarik tanganmu, kamu tarik juga, ya!" perintah Satya yang mendapat anggukan Chandra.


Satya menarik tangan kanan Chandra dan memegangnya dengan erat. Dia menutup mata dan membaca doa di dalam hati.


Perlahan sukmanya melayang dan pergi mencari Zein. Sementara teman-teman kos lain duduk menunggu dengan wajah cemas.


"Kalian bantu dengan wirid," ujar Ary sambil memandangi teman-temannya.


Ary kembali fokus membaca doa dengan tangan kanan masih menempel di dada Zein. Demikian pula dengan Chandra. Dia terus memperhatikan wajah sepupunya yang mulai berkeringat sambil terus berdoa dalam hati.


Triska mendekat dan duduk di sebelah kanan Ary. Sedangkan Tia duduk di sebelah kiri Chandra.

__ADS_1


Para wanita itu mulai menyeka keringat dari tubuh kedua pria yang sedang pergi mengembara. Sesekali mereka beradu pandang sambil meneruskan membaca doa tanpa jeda.


__ADS_2