
Suara kicauan burung yang merdu membangunkan Zein dari tidurnya. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian dia mengamati sekeliling.
Menyadari bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya, Zein bangun dengan bertumpu pada kedua tangan.
Di sebelah kanannya Rama masih tertidur pulas. Di sebelah kiri Ivan sedang meringkuk. Di ujung kaki tampak Hasni sedang memainkan ponselnya.
"Bang, jam berapa sekarang?" tanya Zein.
"Jam tujuh," jawab Hasni. Pria berambut tebal itu bangun dan duduk menyandar ke dinding.
"Abang udah mandi?"
"Belum. Lagi ngumpulin ampas."
Zein tersenyum mendengar jawaban Hasni.
"Kalo gitu aku duluan, ya."
Hasni mengangguk, pandangannya tidak lepas dari ponsel.
Zein bangkit berdiri, memutar tubuh ke kanan dan kiri beberapa kali. Kemudian, dia berjalan menuju tas miliknya di pojok ruangan. Mengambil baju ganti dan meraih handuk di gantungan, bergegas masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Zein sudah tampil rapi dan duduk di kursi teras paviliun.
"Zein," panggil Yusran dari jendela kamar.
"Ya?"
"Sarapan, yuk! Panggil yang lainnya juga."
Zein mengangguk dan melangkah masuk kembali ke dalam.
"Ram, Ivan, bangun. Udah siang," ujar Zein sambil mengguncangkan tubuh kedua temannya yang masih pulas.
"Hoammmm. Emangnya udah jam berapa?" tanya Rama sambil mengucek mata.
"Jam tujuh lewat. Hampir setengah delapan. Ayo, itu kang Yusran udah ngajak sarapan," jelas Zein.
"Kamu duluan aja. Aku mau mandi dulu," sahut Rama.
"Di kamar mandi dalam kamar aja. Yang di sini ada bang Hasni lagi mandi."
"Ho oh."
Zein menowel telapak kaki Ivan. Tak peduli Ivan menggerutu, Zein tetap menowel.
"Iya ... iya. Aku udah bangun nih!" sungut Ivan sambil membalikkan badan.
"Aku tunggu di ruang tengah rumah," ujar Zein sembari berdiri. Kemudian dia melangkahkan kaki ke luar paviliun. Berbelok ke kiri dan memasuki ruang tengah rumah orang tua Rima dari pintu samping.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam," jawab orang-orang dari dalam rumah.
"Sini, Zein. Kita sarapan bareng," ajak Fahmi, Kakak tertua Rima.
Zein beranjak mendekat sambil menyisir ruangan mencari Triska.
"Pasti nyariin yayangnya," ledek Karin yang disambut tawa Siska dan ibunya Rima.
"Triska dan yang lainnya lagi ke pasar diantar bi Sum sama mang Encep," jelas Irwan dari kursi depan meja makan.
__ADS_1
"Ngapain ke pasar?" tanya Zein. Tangannya bergerak menarik kursi di sebelah Farid. Menerima uluran piring dari tangan Siska, kemudian menyendokkan nasi uduk dan lauk pauk secukupnya ke dalam piring.
"Enggak tau. Mungkin cuma pengen jalan-jalan," jelas Irwan.
Tak berapa lama kemudian Hasni dan Rama menyusul. Ivan hadir paling belakangan sambil menggerutu ditinggalkan teman-temannya.
***
Brrraaakkk!
Suara benda jatuh membangunkan Satya dari tidurnya. Suara omelan Bi Ai pada Emak Chubie seketika membuatnya tersenyum.
Satya bangkit dan duduk di atas kasur. Di sebelahnya Chandra masih tertidur.
Perlahan Satya berdiri dan mulai berjalan menuju pintu. Membuka kunci dan gagang pintu. Kepalanya menyembul mencari sosok Bi Ai.
"Bi," panggilnya.
"Naon?" jawab Bibi yang ternyata sedang menyapu garasi.
"Bisa minta tolong beliin sarapan, nggak?" pinta Satya.
"Boleh. Mau beli apa?" tanya Bi Ai sembari mendekat.
Satya meraih dompet dari kantong celana yang digantung di belakang pintu.
"Beli gorengan aja. Bakwan, gehu sama tempe," ujarnya sembari mengulurkan selembar uang berwarna hijau ke tangan Bi Ai.
"Semua?"
"Gak. Sepuluh ribu aja. Nasi udah matang kan?" Satya bertanya balik.
Sementara Satya melangkah menuju dapur. Mengecek isi termos. Mengambil cangkir dan menyiapkan kopi instan. Sambil menunggu Bi Ai, Satya memutuskan untuk mandi.
Harum aroma gorengan seakan menggoda hidung Chandra. Dengan cepat dia bangun dan langsung duduk. Tersenyum melihat Satya yang tengah sarapan sambil memainkan ponsel.
"Ada gorengan, ya, Mas?" tanya Chandra pura-pura lugu.
"Tau aja kamu! Ayo, buruan mandi sana!" perintah Satya.
Chandra cengengesan dan bergegas bangun, berjalan cepat ke kamar mandi untuk memulai pertapaan.
"Sat, yang lain pulang kapan sih?" tanya Ary dari pintu kamar yang terbuka. Pria jangkung itu sudah tampil rapi.
"Katanya sih hari ini, tapi nggak tahu jam berapa. Ehh, kamu mau ke mana udah rapi gitu?"
"Mau ngambil mobil."
Sejenak mereka saling pandang sebelum akhirnya tertawa.
Karena ketakutan, tadi malam mereka pulang ke kosan memakai ojek. Mobil ditinggal di parkiran mini market depan komplek.
***
Langit senja yang cerah menyambut kedatangan rombongan anak-anak kosan saat tiba di rumah.
Mereka berkumpul di garasi, mengobrol sambil duduk-duduk melepas penat.
Gelak tawa bergemuruh saat Satya bercerita tentang mobil yang ditinggal di mini market tadi malam.
"Ntar habis salat Magrib kita cek ke atas yuk, Sat!" ajak Zein.
__ADS_1
Satya mengangguk.
"Aku ikut. Penasaran ama bentuknya. Apa sama dengan cewek di mimpiku atau beda," tukas Ivan.
"Emang bisa lihat?" tanya Ary.
"Nggak. Ini mau minta dibukain mata batin ama Zein," jawab Ivan sambil senyum-senyum.
"Ntar aja. Aku mau mandi dulu," sahut Zein sambil berdiri dan melangkah memasuki kamarnya.
Yang lain pun bubar masuk ke dalam kamar masing-masing saat azan Magrib telah berkumandang.
***
Rintik hujan yang membasahi bumi sejak pukul 7 malam tadi membuat para penghuni kosan memilih untuk beristirahat.
Di kamarnya Triska berbaring di atas tempat tidur sambil mengelus Emak Chubie yang mendengkur di atas bantal di sebelah kiri.
Perlahan mata Triska mulai menutup. Bibirnya menyunggingkan secarik senyum saat mengingat obrolannya kemarin malam bersama Zein.
Ssrrreeekkk.
Ssrrreeekkk.
Duggg!
Brrraaakkk!
Triska sontak terbangun saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Speak softly love and hold me warm against your heart
I feel your words, the tender trembling moment starts
We're in a world, our very own
Sharing a love that only few have ever known
Suara nyanyian itu terdengar dari luar kamarnya.
Triska memejamkan mata. Menghela napas dan mengembuskan cepat sebelum membuka matanya kembali.
Tangannya bergerak meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur. Menggeser layar ponsel dengan jari bergetar.
"Ya?"
"Bang, Rima muncul. Aku takut," bisik Triska.
Zein menutup telepon dan bergegas ke luar kamar. Mengetuk pintu kamar Triska beberapa kali sebelum wanita itu membukakan pintu dengan wajah yang memucat.
Triska langsung menghambur masuk ke dalam pelukan Zein. Tubuhnya gemetaran.
Dari tempat mereka berdiri Zein bisa mendengar suara nyanyian Rima.
"Dia ada di mana?" tanya Zein sambil mengusap punggung Triska untuk menenangkan kekasihnya itu.
"Enggak berani ngintip," jawab Triska pelan.
"Aku mau lihat dulu," ujar Zein sambil melepaskan pelukan.
Mereka berjalan masuk ke kamar sambil bergandengan tangan. Kemudian Zein mengintip keluar dari balik jendela kamar Triska yang mengarah ke halaman depan rumah.
__ADS_1