Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Pelepasan


__ADS_3

Irwan menepikan kendaraannya di depan area pemakaman. Dia melangkah pelan menuju makam yang dipagari besi bercat putih itu. Di tangan kanannya ada seikat kembang mawar berwarna merah muda, bunga kesukaan Rima.


Pria bertubuh kurus itu membuka pagar dan berjongkok di tepi kanan makam. Matanya menyipit saat menyadari ada karangan bunga berukuran sedang, yang dipenuhi dengan aneka bunga yang dia tahu itu harganya mahal.


Irwan mencoba mengesampingkan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Dia berusaha fokus untuk mencabut beberapa rumput liar yang tampaknya baru saja tumbuh.


"Assalamualaikum, Sayang. Maaf, akang baru bisa ke sini. Beberapa hari kemarin ada audit dari kantor pusat. Alhamdulillah, laporan keuangan akang dinyatakan komplit dan tidak ada kerancuan data," ujar Irwan lembut. Matanya tak lepas menatap batu nisan yang bertuliskan nama istri yang saat dicintainya.


"Coba tebak, Neng. Akang akan berkunjung ke Bandung bentar lagi. Selama satu minggu ke depan akang akan tinggal di sana," lanjutnya.


"Neng, ingat gak? Dulu akang sering curi-curi waktu untuk bisa lebih lama di sana mengunjungimu. Walaupun, akhirnya akang beberapa kali kena tegur dan dipotong gaji karena menambah cuti tanpa izin," lanjutnya seraya tersenyum.


Pria berambut ikal tersebut terdiam. Ingatannya melayang pada kenangan hampir dua tahun yang lalu.


Dia nyaris putus asa untuk terus menggapai Rima yang sedang terpesona dan terpukau pada Eric.


Irwan merasa sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Keluarganya, keluarga Rima, teman-teman kantor dan teman-teman kosan wanita bertubuh mungil tersebut.


Mereka bahu membahu agar Rima bisa lepas dari jeratan pesona Eric. Rama, Dinar dan Afni, adalah tiga sosok yang paling menentang keras kedekatan Rima dengan Eric.


Waktu itu Irwan merasa bahwa nasib baik berpihak padanya. Tiba-tiba saja Eric menghilang tepat tiga bulan sebelum tanggal pernikahan Irwan dan Rima berlangsung.


Sosoknya yang tidak bisa ditemukan membuat Rima galau. Saat itulah setiap akhir pekan Irwan bolak-balik Bogor-Bandung. Rasa letih dan penat tidak dihiraukannya. Dia terus meluapkan dan menghujani Rima dengan cinta. Hingga akhirnya gadis itu kembali jatuh ke dalam pelukannya.


Pria berkulit kecoklatan itu benar-benar belajar banyak pada teman-temannya yang sudah menikah. Tentang bagaimana cara agar bisa tetap dicintai pasangan mereka, serta cara memperlakukan wanita dengan lebih baik.


Rinai hujan yang tiba-tiba saja turun dari langit, membuat Irwan segera bangkit. Menatap pusara sekali lagi, sebelum akhirnya beranjak pergi dan berlari menuju mobilnya.


Tuk, tuk, tuk.


Ketukan di kaca mobil mengejutkan Irwan yang sedang melamun. Senyuman mengembang di wajahnya saat menyadari bahwa Yusranlah yang telah mengetuk kaca.


Kakak kedua Rima itu membuka pintu mobil dan masuk ke bagian penumpang di sebelah kursi pengemudi.

__ADS_1


Irwan menyalami dan menempelkan dahi ke punggung tangan Yusran. Walaupun Rima sudah tidak ada, tapi bagi Irwan, keluarga Rima tetaplah keluarganya juga.


"Baru juga nyampe, ehh keburu hujan," ucap Yusran sambil menepuk-nepuk bajunya yang agak basah.


"Mau pake payung?" usul Irwan.


Yusran menggeleng pelan. Menatap adik iparnya itu dengan pandangan lekat. "Nanti sore aja aku ke sini lagi. Barengan sama ayah," ujarnya.


Irwan mengangguk, kemudian menyalakan mesin dan memutar balik mobil menuju rumah orang tua Rima.


"Kamu mau ke mana bawa koper gitu?" tanya Yusran sambil menunjuk pada koper di bagian tengah mobil.


"Mau ke Bandung, Kang. Tugas satu minggu. Sambil mengenang masa lalu," jawab Irwan pelan.


"Move on, Wan. Udah lebih dari satu tahun kamu menduda. Carilah wanita lain dan segera menikah. Aku dan keluarga akan senang hati ikut mengantarkanmu ke rumah wanita pilihanmu," tukas Yusran yang mendapat balasan senyuman dari Irwan.


"Nantilah, Kang."


Irwan terkekeh pelan sambil melirik Kakak iparnya itu dengan sorot mata jahil. "Akang aja dulu deh. Habis itu baru aku," balasnya.


"Beuh! Omonganmu sama aja dengan ibu dan teh Siska. Mereka udah ribut mau ngejodohin aku," keluh Yusran.


Mereka saling melirik. Sejurus kemudian kami tertawa bersama.


Setelah menurunkan Yusran di depan rumah, tak lupa menitip salam untuk kedua mertuanya. Irwan melanjutkan perjalanan menuju Bandung.


Alih-alih melewati jalan tol, pria berkumis tipis itu memilih untuk melewati jalur puncak yang berkelok.


Dia menyempatkan untuk beristirahat sambil menunaikan salat Zuhur di masjid yang terletak tepat di puncak bukit.


Menikmati bakso sebagai menu makan siang, sembari menikmati pemandangan sekitar yang sangat elok.


Setelah dirasa cukup beristirahat, pria itu memasuki mobil dan kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Sesampainya di Bandung, Irwan langsung check in di hotel yang sudah dipesannya jauh-jauh hari.


Setelah membersihkan diri, dia membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur yang empuk, menutup mata dan segera tertidur.


Saat merasakan sentuhan lembut di rambutnya, Irwan membuka mata. Secarik senyum terukir di wajahnya yang manis ketika melihat sosok istrinya sedang berbaring di sebelahnya.


"Neng," ucapnya dengan penuh kerinduan.


Pria itu memeluk tubuh sang istri dari samping. Menarik wanita itu agar masuk ke dalam pelukannya.


Dia menunduk dan mengecup puncak kepala Rima dengan penuh rasa cinta. Tak dipedulikannya tubuh sang istri yang sangat dingin.


Irwan menyentuh dagu Rima dan menengadahkan wajahnya hingga tatapan mereka saling mengunci. Perlahan dia menyapukan bibirnya ke bibir Rima yang dingin. Menyesap hawa dingin itu tanpa rasa takut sedikit pun.


Pelepasan hasratnya membuat Irwan merasa sedih sekaligus bingung. Dia masih mendekap tubuh Rima yang membalasnya dengan pelukan yang erat.


Pria itu menempelkan wajah pada dahi Rima, mengatur napasnya yang masih memburu.


"Jangan pergi!" pintanya saat tubuh Rima mulai memudar. Hingga akhirnya benar-benar menghilang. Meninggalkannya seorang diri di atas kasur tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.


Napas Irwan tersekat seiring dengan mata yang memanas. Dia menyurukkan wajah ke bantal dan menumpahkan seluruh rasa rindu dan sakitnya perasaan, dengan berurai air mata dan mengeluarkan suara yang memilukan.


Irwan meratapi nasibnya yang harus kehilangan wanita yang sangat dicintai. Padahal mereka baru saja menikah, tapi tidak bisa merasakan madu pernikahan seperti layaknya pasangan pengantin baru lainnya.


Di saat pria lain menikmati percintaan setelah menghalalkan pasangan, Irwan justru harus menelan pahitnya hidup, saat harus menggotong keranda yang berisikan jenazah sang istri.


Di saat pria lain menggendong tubuh istri mereka ke peraduan, Irwan hanya bisa sekuat tenaga menahan tangis, saat harus memangku tubuh istrinya, dan memasukkannya ke liang lahat.


Masih jelas di ingatannya, saat dia membuka ikatan kafan sang istri, dan menempelkannya ke tanah.


Dia menangis pilu saat mendengar azan yang dikumandangkan kang Fahmi untuk mengantar jenazah sang adik, menuju alam kubur.


Kakinya seolah menancap di tanah dan sulit untuk diangkat. Dia baru beranjak dari pusara istrinya setelah ditarik oleh Yusran.

__ADS_1


__ADS_2