
Keenam penghuni kosan duduk melingkari wanita yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
Dia masih menunduk, seolah takut untuk memandangi wajah orang-orang di sekitarnya.
"Sejak kapan kamu pindah ke Bandung?" tanya Ivan yang duduk bersila di sebelah kiri wanita itu.
"Se-sebulan. Udah sebulan pindahnya," jawab wanita itu terbata. Dia sama sekali tidak berani menatap wajah Ivan.
"Terus maksudnya apa naro' bunga di situ?" Ivan melanjutkan pertanyaan.
"Itu bunga buat ... Abang," jawab wanita itu.
"Buatku? Aku nggak suka bunga!" tegas Ivan.
Wanita itu terdiam, menunduk tafakur memandangi keramik lantai.
"Namamu siapa, Dek?" tanya Triska lembut.
Wanita itu mengangkat wajahnya sedikit, beradu pandang dengan Triska yang menatapnya seraya tersenyum.
"Namaku Natalia," jawab wanita itu pelan.
Zein memandangi Natalia dan Ivan bergantian. Secarik senyum terukir di wajahnya. "Jadi, kamu naro bunga itu buat Ivan, dalam rangka ngungkapin perasaan kamu, begitu, ya?" tanyanya.
Natalia mengangguk, semburat merah mewarnai pipinya yang putih mulus.
Wanita berparas oriental ini sangat manis. Rambut panjang lurusnya tergerai indah di belakang punggung.
Chandra yang duduk tepat di sebelah kiri Zein, sejak tadi tak henti melongo. Sepertinya dia terpesona dengan kecantikan Natalia.
"Kalian ngobrol berdua saja, kami mau makan dulu. Laper!" sela Tia sembari bangkit berdiri. Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya.
"Kamu, di sini aja," ujar Ivan sambil menarik tangan Tia, mengajaknya untuk duduk kembali.
"Selesaikan urusanmu! Aku mau makan!" tegas Tia sambil menepis tangan Ivan dan berlalu pergi masuk ke kamar Triska.
Tinggallah Ivan dan Natalia, duduk berdua dalam suasana yang canggung.
"Hubungan kita tidak akan pernah direstui keluargamu, Lia. Makanya aku memilih pergi dan pindah ke sini," ucap Ivan pelan.
Matanya menerawang memandangi pekarangan dari pintu yang terbuka lebar.
"Tapi aku masih cinta sama Abang," lirih Natalia. Bulir bening dengan deras mengalir di pipinya.
"Lupain aku! Move on!" tegas Ivan.
"Sulit, Bang. Udah kadung cinta." Isak tangis wanita itu semakin keras terdengar.
Ivan menggeser bokong hingga duduk dekat dengan Natalia. Tangan kirinya terulur mengangkat wajah gadis imut itu, hingga mereka saling menatap.
"Lupain abang! Kita gak akan bisa bersama. Lagi pula abang sudah mencintai orang lain," ujar Ivan.
__ADS_1
Natalia menatap Ivan tanpa berkedip. Mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Dalam waktu enam bulan Abang udah bisa mencintai orang lain? Tega kamu, Bang!" desis Natalia.
Pandangannya berubah sinis. Tangannya bergerak mengusap air mata dengan kasar.
Hatinya terasa pedih. Orang yang dicintainya, dibela mati-matian, hingga dia ngotot meneruskan kuliah di Bandung dan bertengkar dengan papinya. Ternyata begitu mudahnya melupakannya.
Pllaaakkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Ivan. Natalia bergegas berdiri dan berlari keluar rumah. Menaiki motor, mengenakan helm. Menyalakan mesin dan langsung melaju ke luar pekarangan.
Laju motornya hampir tidak terkendali. Ia nekat ngebut hingga nyaris menabrak sepeda motor di depannya.
Natalia menghentikan motor di sebuah rumah dua lantai, yang berjarak hanya beberapa blok dari rumah kosan milik bu Wahyu.
Dia memasuki rumah dan berlari menaiki lantai dua. Membuka pintu kamar yang terletak di ujung kanan. Membanting pintu keras-keras. Menghempaskan tubuh ke atas kasur.
Air matanya kembali mengalir deras. Ia menangis sesegukan sambil menutup wajahnya dengan bantal.
***
Malam itu Ivan tidak bisa tidur. Yang terbayang hanya wajah Natalia.
Teringat kisah cinta mereka dulu, dua tahun yang penuh perjuangan. Namun, akhirnya Ivan harus menyerah. Perbedaan di antara mereka begitu kompleks.
Kletaaak.
Kletaaak.
Kletaaak.
Ivan berpindah posisi dan berbaring miring ke kiri. Menutup telinga dengan tangan, mencoba mengabaikan suara-suara dari atas.
Malam pun semakin larut. Ivan yang sudah lelah akhirnya tertidur juga.
Dia bermimpi datang lagi ke rumah itu. Rumah di mana seorang wanita tinggal. Wanita bergaun putih panjang yang seolah ingin mencekiknya.
Seperti pada mimpi-mimpi sebelumnya. Wanita itu bergerak cepat menghampirinya dengan tangan terulur.
Namun kali ini berbeda. Uluran tangan itu ternyata bukan hendak mencekik, melainkan melingkari lehernya.
Wanita itu memeluknya dengan erat. Tubuh mereka seolah tertempel rapat. Ada hasrat yang menggelora dalam diri Ivan, dan menuntut untuk disalurkan.
Saat bibir mereka menyatu Ivan seolah tersedot ke dalam jiwa wanita itu, dan tidak mampu melawan saat wanita itu menguasainya.
Tiba-tiba wajah Tia terbayang di pelupuk mata. Ivan memundurkan tubuh menjauh dari wanita pemilik mata hitam mengilat yang masih memeluknya dengan erat.
Ivan melepaskan pelukan dan mundur selangkah. Wanita itu bergerak hendak menggapainya lagi.
Ivan berbalik dan berlari menjauh. Dinding rumah itu seakan mengerut dan menghimpitnya. Dengan susah payah Ivan akhirnya berhasil keluar dari rumah itu.
__ADS_1
Saat ia membalikkan tubuh, rumah itu seolah lenyap. Hilang ditelan bumi.
Yang ada di hadapannya adalah sebuah kuburan. Batu nisannya bertuliskan nama seorang wanita, yang nyaris dinikahinya tiga tahun yang lalu.
Malika.
***
Keesokan harinya.
Pagi itu Bu Wahyu datang bersama beberapa orang pria yang membawa peralatan pertukangan.
Dengan sigap keenam tukang segera naik ke lantai dua rumah, mulai bekerja memasang tiang dan atap, tepat di atas kamar Ivan dan Dinar.
"Mohon maaf, ya. Dua minggu ke depan mungkin kenyamanan kalian akan terganggu. Ibu rencananya mau menambah dua atau tiga kamar di atas. Tempat menjemur pakaian pindah ke sebelah sana," tunjuk Bu Wahyu ke atas kamar Ary.
"Gak apa-apa, Bu. Kalau siang juga kami kerja. Kosan kosong. Jadi nggak akan ada yang terganggu," jawab Dinar yang mendapat anggukan dari Ayu dan Ivan.
"Nanti kalo udah jadi dan ada yang ngisi, di sini juga jadi tambah ramai. Semoga kalian bisa terus kompak kayak sekarang," lanjut Bu Wahyu.
Wanita paruh baya itu sangat senang melihat anak-anak kosannya begitu kompak.
Beliau sering mendengar cerita Bi Ai, tentang kekompakan dan keseruan para penghuni.
Setelah para penghuni pergi bekerja, para tukang melanjutkan pekerjaan mereka dengan semangat.
Siang harinya Bi Ai mengantarkan nasi bungkus buat para tukang.
Mereka turun ke lantai satu, berkumpul di garasi untuk menikmati makan siang.
Sedangkan Bi Ai melanjutkan menyetrika pakaian di dalam kamar Dinar.
Brrraaakkk!
Bunyi barang jatuh mengagetkan Bi Ai.
Beliau berdiri dan melangkah pelan ke luar kamar Dinar. Berusaha mengintip dari jendela kamar Ivan yang terbuka.
"Kenapa, Bi?" tanya seorang tukang yang sedang mencuci tangan di wastafel dapur.
"Ada bunyi brraakk tadi," jawab Bi Ai sambil menoleh ke tukang itu.
Tukang itu mendekat dan ikut mengintip dari jendela. Matanya membulat saat melihat sosok wanita sedang memunggungi mereka.
"Astaghfirullah!" ucap Bi Ai sambil menutup mulut dengan tangan.
Keduanya gemetaran dan berusaha untuk pergi dari situ, tapi kaki mereka seolah tertancap pada lantai dan tidak bisa bergerak.
Sosok wanita itu berbalik. Wajahnya pucat dengan sorot mata yang dingin. Rambut panjang tergerai di belakangnya.
Bi Ai merasa lemas jatuh terduduk ke lantai.
__ADS_1
Sedangkan tukang masih berdiri mematung di tempatnya.