
Pagi-pagi sekali Rey dan kedua temannya pergi dari kosan. Jessica tetap tinggal sampai keberangkatannya ke Taiwan dipastikan.
Wanita berambut panjang itu berbaring telentang di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
Deringan ponsel membuatnya terkejut. Matanya membulat saat melihat nama Eric yang terpampang di layar ponselnya.
"Ya, Ko?" sapa Jessica.
"Di mana?" tanya Eric.
"Di kosan."
"Aku di depan pagar kosan."
Jessica lari dan membuka pintu kamar dengan cepat. Menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Lari menuju pintu depan yang terbuka dan menahan napas saat melihat mobil hitam yang sangat dikenalnya, benar-benar ada di depan pagar.
Rama yang baru keluar dari kamar, sedikit kaget saat melihat Jessica turun dengan hanya mengenakan tank top dan celana pendek. Mempertontonkan bagian atas dan bawah tubuhnya dengan santai.
Saat Jessica ke luar rumah tatapan Rama tetap mengikuti hingga wanita keluar dari pagar dan masuk ke dalam mobil yang diparkir di dekat pagar.
Rama ke luar dan jalan ke mobilnya, tidak menyadari keempat pasang mata di dalam mobil memperhatikan gerak geriknya.
Mata Calvin terbelalak saat melihat Zein keluar dari pintu dan jalan ke mobil yang parkir di belakang mobil Rama. Kedua pria itu tampak sedang bersenda gurau.
"Kenapa, Vin?" tanya Eric dari kursi tengah.
"Pria itu. Yang tinggi. Wajahnya mirip dengan orang yang datang bersama Rima malam itu," jawab Calvin.
"Zein?" Kali ini Jessica yang bersuara.
"Itu namanya? Aku cuma melihat sosoknya sekilas. Sebelum dua pria tua datang dan menantang kami berduel," jelas Calvin.
"Kamu yakin?" tanya Jessica.
Calvin mengangguk. Pandangannya tidak lepas dari Zein. Rasa penasaran yang amat sangat membuatnya membuka pintu mobil. Namun segera dicegah oleh Eric.
"Jangan ke sana! Nanti identitas kita ketahuan!" Perintah Eric yang sontak membuat Calvin mengurungkan niatnya.
Tak lama kemudian Triska keluar dari pintu dan ikut mengobrol bersama Rama dan Zein yang sedang memanaskan mesin mobil.
"Itu siapa?" tanya Eric.
"Yang cewek? Entahlah. Aku nggak kenalan. Males," sahut Jessica yang tak ayal membuat Eric tersenyum.
__ADS_1
"Cantik," puj pria bermata sipit itu sambil tetap memandangi Triska dari balik kaca.
Jessica mendengkus dan melipat tangan di depan dada.
Triska yang merasa dipandangi, menoleh sekilas ke mobil kemudian masuk kembali ke dalam rumah
"Itu mobil siapa?" tanya Ivan yang sedang mengelap motornya.
"Kata mas Rama sih, itu mobil tamunya Jessica," jawab Triska sembari masuk ke kamar. Keluar lagi sambil menggendong Emak Chubie di lengan kiri dan mencangklongkan tas di lengan kanan. Mengunci pintu dan menurunkan Emak Chubie ke lantai, yang langsung merebahkan dirinya di atas keset di depan kamar Triska.
"Neng, makanan Chubie yang di dapur sudah habis," jelas Bi Ai sambil menuruni anak tangga.
"Ooo, iya. Bentar." Triska membuka lagi pintu kamar, masuk beberapa saat. Keluar lagi sambil membawa satu toples ukuran sedang dan memberikannya pada Bi Ai.
Kemudian dia berjongkok dan mengelus kucing belang abu itu sebelum berdiri dan jalan ke luar rumah.
***
Sore harinya.
Dinar masuk ke rumah kosan yang masih sepi. Yang terdengar hanya suara orang mengobrol dari lantai atas.
Wanita berjilbab putih itu masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Kemudian menunaikan salat empat rakaat.
Suara tawa yang semakin kencang mengusik ketenangan Dinar. Dia menghela napas panjang dan mengembuskan dengan perlahan. Berusaha menahan sabar atas kelakuan penghuni di atas. Namun, bila sudah keterlaluan dia tidak akan segan untuk menegur nanti.
Wanita berkulit kuning langsat itu jalan ke luar kamar. Masuk ke dapur dan meraih teko ukuran sedang di rak piring. Menuangkan air dari galon di dapur sambil memandangi taman.
Langkah kaki menuruni anak tangga terdengar jelas oleh Dinar. Tampak dua orang pria berjalan di lorong teras depan kamarnya. Disusul dengan seorang pria dan seorang wanita.
Deg!
Jantung Dinar seakan berhenti berdetak saat melihat wajah pria yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan wanita yang tak lain adalah Jessica.
Pria itu menoleh ke kanan dan sepertinya memandangi pintu kamar Satya dan Chandra yang tertutup.
"Ayo, Ko. Ngapain juga diam di sini!" ajak Jessica. Dia tampak menarik tangan pria itu untuk segera melangkah. Namun, pria itu tetap diam.
Dinar menatap wajah pria itu nyaris tanpa berkedip. Walaupun wajahnya sedikit tertutupi dengan cambang dan kumis tipis, tapi kulit putih bersih dan bentuk wajah serta rahang yang kokoh, membuat Dinar yakin bahwa pria itu adalah Eric.
Napas Dinar mulai tidak beraturan. Emosi yang kian menanjak membuatnya menghentikan gerakan mengisi teko, dan jalan dengan cepat ke arah pria itu.
Byuuurrr!
__ADS_1
Plaaakkk!
Plaaakkk!
Telapak tangan Dinar tercetak di pipi kiri dan kanan pria itu yang bergerak mundur selangkah.
Jessica menangkap pergelangan tangan Dinar dan mencengkramnya dengan kuat, hingga wanita berjilbab putih itu meringis kesakitan.
"Lepasin!" teriak Dinar. Namun, Jessica tetap mencengkram tangannya sembari melotot.
"Lepaskan tangannya, Jess!" perintah pria itu sambil mengusap wajahnya yang basah dengan tisu.
Calvin bergegas mendekat dan mengulurkan saputangan miliknya. Namun ditolak pria itu.
Jessica melepaskan cengkramannya sambil terus memandangi Dinar yang sedang mengusap pergelangan tangan kanan.
"Kamu itu kenapa, Mbak? Main tampar orang seenaknya aja!" omel Jessica.
"Dia Eric, kan?! Dasar pembunuh!" jerit Dinar. Dia hendak maju kembali, tapi Calvin langsung menghadangnya sembari menatap dengan sorot mata dingin.
"Dia bukan Eric. Kamu salah orang!" desis Calvin.
"Aku tidak mungkin salah orang. Anting itu! Itu hadiah dari Rima! Aku kenal banget karena kami membelinya bersama-sama!" Dinar masih tetap ngotot sambil menunjuk anting di telinga kiri Eric.
Pria itu meraba telinganya, tersenyum miring sambil menggeleng pelan. "Anting seperti ini banyak dijual, Mbak," sahutnya dengan suara yang sengaja dibuat sedikit berat.
Dinar memicingkan mata, menatap ketiga orang di depannya itu dengan sorot mata penuh kecurigaan.
"Ayo, kita pergi. Biarkan dia dengan jalan pikirannya yang aneh itu," ujar Eric sembari membalikkan tubuh dan mulai jalan.
Langkah kakinya terhenti saat Satya dan Chandra masuk dari pintu depan.
Satya bisa merasakan ada aura permusuhan yang mengambang di udara. Dia menatap keempat orang itu secara bergantian.
Sorot matanya berubah saat melihat Calvin yang masih berdiri di depan Dinar. Dengan degup jantung yang mulai tidak terkontrol, Satya jalan mendekati Dinar. Chandra mengikuti di belakangnya.
"Ada apa ini?" tanya Satya sambil mengawasi ketiga orang itu dengan saksama.
"Orang itu adalah Eric!" Tunjuk Dinar pada pria bercambang dan berkumis, yang menanggapinya dengan santai.
"Apa betul begitu?" Satya bertanya pada Eric yang menggendikkan bahu sembari mengibaskan tangan.
"Ayo, kita pergi. Tinggalkan saja Dinar dan teman-temannya itu," ujar Eric sambil melanjutkan jalan ke luar.
__ADS_1
Calvin dan Jessica segera menyusul ke mobil yang sudah menyala mesinnya.
"Tunggu! Bagaimana kamu tahu kalo aku adalah Dinar?" teriak Dinar yang lari mengejar Eric yang hendak masuk ke mobil.