Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Penumpang di dalam mobili


__ADS_3

Suasana kantor pagi itu masih sepi. Hanya ada beberapa rekan kerja yang sudah lebih dahulu hadir. Mereka melambaikan tangan saat Zein melintas menuju meja kerjanya, yang terletak paling ujung di bagian kanan lantai dua ini.


Sesampainya di ruangan, Zein segera meletakkan tas kerja di atas meja, meraih remote pendingin ruangan dan langsung menyalakannya.


Sambil menunggu ruangannya cukup dingin, Zein berdiri di depan jendela yang menghadap ke bagian depan gedung.


Pria bertubuh tinggi itu sedang merenungi perkataan Rima, saat pertemuan mereka tadi malam.


Otaknya berputar mencari petunjuk dari peringatan wanita itu. Mencoba merangkai potongan-potongan teka teki.


"Bang," panggil seorang wanita.


Zein menoleh dan terkejut saat melihat ternyata Yulia yang memanggilnya.


Wanita berambut sebahu itu berjalan masuk dan berhenti di depan meja kerja. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang terpoles apik dengan produk kecantikan yang mahal. Zein tahu itu karena pernah menemani Yulia berbelanja. Dulu, saat mereka masih dekat.


"Bang, ehm ... aku mau ngundang Abang ke acara makan-makan. Nanti sepulang jam kerja. Bisa gak?" tanya Yulia sambil memandangi Zein yang masih diam tak bergerak.


"Dalam rangka apa nih?" Zein balik bertanya.


"Anu ... ngerayain ulang tahunku," jawab Yulia dengan pipi yang merona.


"Kamu ulang tahun? Wah, selamat, ya," ucap Zein sembari mendekat dan mengulurkan tangan kanannya.


"Makasih, Bang," ujar Yulia. Dia menerima uluran tangan pria tampan itu dan menjabatnya dengan erat.


Yulia tertegun saat merasakan jantungnya berdebar kian cepat. Dia melepaskan jabatan tangan Zein dan mengusap rambutnya dengan salah tingkah.


"InsyaAllah, aku ikutan. Udah lama juga nggak ikutan ngumpul bareng teman-teman," ujar Zein. Senyuman mengembang di wajahnya, membuat pesonanya bertambah dua kali lipat bagi Yulia.


"Oke, Bang. Makasih. Nanti kusamperin lagi. Pamit dulu, ya," ucap Yulia sembari berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan.


Zein menarik kursi dan membuka tas kerja. Mengeluarkan laptop dan menyalakannya.


Saat mencari pulpen dari dalam tas, tangannya menyentuh sesuatu yang aneh.


Zein menarik benda itu dengan pelan dan tertegun saat melihat potongan kain di tangannya.


Dia berpikir keras dan merasa pernah melihat benda itu sebelumnya.


"Ha? Kok bisa ada di sini?" gumamnya sambil meletakkan kain itu di atas meja.


Zein mengusap rambut dengan tangan kiri sambil menghela napas. Secarik senyuman miring tercetak di wajahnya.


"Rima ... Rima. Iseng banget kamu," lirihnya sambil terkekeh pelan.


Potongan kain itu merupakan bagian dari pita di bagian lengan Rima. Zein tahu karena benda itulah yang ikut terjatuh bersama buket bunga yang dipegang Rima saat mereka bertemu kemarin.

__ADS_1


Sambil menggeleng pelan Zein mulai mengerjakan pekerjaan kantor, dan sejenak melupakan potongan kain itu.


***


Zein bukannya tidak menyadari bila Yulia yang duduk tepat di seberang meja saat ini, sering mencuri kesempatan untuk memandanginya. Namun, dia berusaha untuk tetap santai dan mengobrol dengan teman-teman yang lain.


Sesekali Zein membalas tatapan wanita berkulit putih itu dengan menaik turunkan alisnya seraya tersenyum. Hal itu selalu dibalas gelengan kepala oleh Yulia.


Namun dari semburat merah di wajahnya, membuat Zein merasa yakin, bahwa wanita ini masih ada rasa terhadapnya.


Tring.


Bunyi pesan masuk di ponsel menarik perhatian Zein. Dahinya berkerut saat melihat pesan masuk itu ternyata dari Yulia.


Zein menengadah dan terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk pada Yulia, yang membalas anggukannya dengan senyuman lebar.


"Makasih, Bang. Udah mau nganterin," ucap Yulia sambil menoleh pada Zein.


"Sama-sama. Makasih juga sudah ditraktir tadi. Makanannya enak. Tempatnya juga nyaman," sahut Zein sembari fokus menyetir.


"Iya. Makanya aku ajak kalian ke sana. Kebetulan yang punya restoran itu temannya kakakku. Yang tadi nyamperin kita."


"Yang pakai jas tadi? Kukira manajernya."


"Mas Wahyu memang begitu. Selalu mengaku manajer. Padahal dia pemilik restoran."


Sesampainya di rumah kosan Yulia, ternyata ada mobil Rama terparkir di situ.


"Mau mampir, Bang?" ajak Yulia sambil melepaskan sabuk pengaman.


Zein menoleh sebentar ke belakang, kemudian mengangguk mengiyakan ajakan Yulia.


Mereka berjalan bersama melewati lorong pemisah bangunan kosan ini. Kamar milik Yulia berada tepat di seberang kamar Winda.


"Mau minum apa?" tanya Yulia saat Zein duduk di kursi teras depan kamarnya.


"Enggak usah. Aku enggak lama kok. Bentar lagi juga mau pulang," jawab Zein.


Dia meraih ponsel dari saku celana dan menekan tombol on. Jarinya menggeser layar dan menekan sebuah nama di kontak ponselnya.


"Di mana?" tanya Zein pada orang yang dihubunginya.


"Di rumah Winda," jawab Rama dari seberang sana.


"Hmm. Bagus, ya. Pintunya ditutup rapat gitu," goda Zein.


"Ha?"

__ADS_1


Tak lama kemudian gorden di kamar Winda tersibak. Rama mengintip dari sana, dan Zein melambaikan tangan untuk menyapanya.


"Kok bisa di sini?" tanya Rama yang berjalan keluar dari kamar Winda.


Rama menyalami Yulia, kemudian dia ikut duduk di kursi sebelah Zein.


"Habis nganter Yulia pulang. Lihat mobilmu di sini, aku jadi mampir buat gangguin," jawab Zein.


Saling melirik, sejurus kemudian mereka tertawa.


Selanjutnya Winda menyusul ke luar dan ikut mengobrol. Tanpa terasa waktu pun beranjak semakin malam.


Tepat pukul 10 kedua pria itu pamit pulang. Rama ikut di mobil Zein dan besok akan dijemput oleh Winda.


"Kerasa nggak?" tanya Zein saat mereka sudah cukup jauh dari rumah kosan.


"Kerasa apaan?" Rama bertanya balik.


"Ada yang ngikut kita di belakang."


"Jangan nakutin!" sergah Rama.


"Enggak nakutin. Itu, mahluknya pindah ke kursi tengah," sahut Zein.


Rama menoleh ke arah Zein dengan wajah yang mulai memucat. Zein balas menoleh sambil menggendikkan bahu.


Di kursi tengah, Rima memandangi keduanya seraya tersenyum.


***


Malam ini rembulan seolah enggan untuk keluar. Membuat suasana malam semakin gelap.


Zein menghela napas berat dan mengembuskan perlahan. Tangannya terlipat di belakang kepala. Matanya memandangi langit-langit kamar dengan pikiran mengembara ke mana-mana.


Zein memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Di saat mulai terlena, dia merasakan sukmanya seolah ditarik oleh seseorang ke dalam lorong waktu yang berputar cepat.


Tiba-tiba saja mereka sudah berada di sebuah tempat yang dia pernah datangi beberapa waktu lalu.


Kali ini Rima membawanya ke bagian belakang rumah besar tersebut. Di sana ada beberapa pohon yang tinggi dan rimbun. Ada sebuah kolam ikan kecil di bagian tengah halaman.


Rima menunjuk ke sebuah jendela yang terbuka lebar. Dari tempat mereka berdiri Zein bisa melihat ada seorang pria sedang memandangi kolam dari pinggir jendela.


Kedua tangan pria itu terjulur keluar dengan posisi terkepal.


"Itu dia," bisik Rima.


"Siapa dia?" tanya Zein dengan berbisik pula.

__ADS_1


"Koko," jawab Rima.


__ADS_2