Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Penguntit


__ADS_3

Pagi itu suasana kosan masih sepi. Karena ini hari Sabtu, membuat semua penghuni memilih bersantai di kasur lebih lama.


Ary keluar dari kamar sambil menguap. Dia duduk di teras, memakai sepatu olahraga sambil menggigit biskuit yang tadi dipegangnya.


"Sat, Chan. Jadi jogging nggak?" teriak Ary di depan pintu kamar kedua pria itu.


"Mas Satyanya masih tidur, Mas," jawab Chandra dari pintu yang terbuka sedikit.


"Kamu aja atuh. Ntar kutraktir sarapan," ajak Ary.


"Ntar, ya. Aku ganti baju dulu," sahut Chandra.


Ary melangkahkan kaki menuju depan rumah. Dia menatap bingung pada Zein yang keluar dari kamar sambil membawa tas travel.


"Mau ke mana, Bang?" tanyanya.


"Mau ngantar yayank. Sekalian ketemu calon mertua," jawab Zein sambil menutup dan mengunci pintu.


"Hmm. Berarti bentar lagi aku kudu siap-siap jadi pagar bagus, ya," seloroh Ary yang membuat senyuman Zein mengembang.


"Masih lama, Ry. Aku kudu nyingkirin fans Abang dulu. Banyak bener!" tukas Triska dari belakang Ary.


Pria muda itu sontak tertawa mendengar ucapan Triska. Sementara Zein hanya tersenyum lebar sambil menggaruk kepala.


"Ayuk, Bang," ajak Triska sambil menutup pintu kamar dan menguncinya. Kemudian dia jalan ke kamar Ayu. Mengetuk pintu dan menyerahkan kunci kamarnya.


"Emak Chubie masih tidur di dalam. Titip, ya," ujar Triska pada Ayu yang membalasnya dengan anggukan.


"Tempat makanannya udah diisi?" tanya Ayu.


"Udah. Kalo habis, makanannya ada di dalam lemari dapur," jawab Triska.


Ayu mengangguk dan menyambut pelukan Triska sambil mengusap pundak temannya itu.


Kemudian mereka berjalan bersama keluar rumah. Zein sedang memanaskan mesin mobil sambil mengobrol dengan Ary dan Chandra yang baru keluar.


Ayu melambaikan tangan saat hingga mobil Zein menghilang dari pandangan. Kemudian dia membalikkan tubuh dan jalan masuk ke rumah. Sedangkan Ary dan Chandra sudah pergi sejak tadi.


Langkah kaki Ayu terhenti saat melihat Rama keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Sejenak mereka saling tatap sebelum akhirnya Ayu mengalihkan pandangannya dan jalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Rama menatap punggung Ayu hingga wanita itu menutup pintu kamarnya. Ada rasa tidak nyaman dalam hatinya karena Ayu benar-benar menjauh. Mereka sudah tidak pernah mengobrol lama lagi seperti dulu.


Rama jalan keluar menuju mobilnya. Memanaskan mesin sambil mengelap bagian depan mobil dengan seksama.


Gerakan tangannya berhenti saat sebuah mobil SUV berwarna hitam berhenti di depan pagar. Tiga orang pria turun dari mobil dan jalan memasuki pekarangan rumah.


"Baru pulang?" tanya Rama basa basi pada pria bermata sipit yang berjalan paling depan.


"Iya. Lagi bersih-bersih?" balas Rey dengan bertanya pula.


Rama mengangguk dan memandangi punggung Rey yang meneruskan langkahnya memasuki rumah.


Rama mencoba mengingat, dia merasa pernah melihat Rey, tapi dia lupa di mana.


Sementara itu Rey sudah naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya yang tampak sedikit berantakan.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Rey membersihkan kamarnya dengan peralatan yang telah diletakkan Jessica di sudut teras kamarnya.


Kemudian Rey merebahkan tubuh ke atas kasur. Embusan angin dingin dari penyejuk ruangan membuatnya segera terlelap.


***


Malam itu Eric memilih untuk berjalan menggunakan mobil dengan ditemani Calvin dan Danang.


Mobil melaju pelan menembus pekatnya malam. Suasana sunyi semakin terasa saat mereka tiba di tempat tujuan.


"Yakin mau turun, Bos?" tanya Calvin.


"Iya. Kenapa? Apa kamu takut?" Eric bertanya balik.


"Enggak takut. Aku cuma khawatir ada musuh di sini," jelas Calvin sambil memperhatikan sekitar.


Eric turun dari mobil dan berjalan cepat menuju tempat yang ditujunya. Calvin bergegas turun dan mengejar Eric, sedangkan Danang tetap menunggu di dalam mobil.


Eric berhenti di depan pagar makam Rima. Dengan cepat dia membuka pintu makam dan masuk. Pria berparas tampan itu berjongkok di dekat makam dan mulai berbicara sendiri.


Calvin memandangi pria bertubuh tinggi itu dengan tatapan mengasihani. Benaknya sibuk bertanya, kenapa pria yang tegas dan kadang kejam pada musuh, bisa menjadi budak cinta seperti ini.


"Bos, mari kita pulang. Hujan mulai turun," ajak Calvin sambil menadahkan tangan.

__ADS_1


Eric mengusap batu nisan itu dengan penuh kerinduan. Kemudian dia berdiri dan menatap makam itu beberapa saat, sebelum membalikkan tubuh dan melangkahkan kaki menuju mobil.


Setelah dia duduk mapan di dalam mobil, Danang langsung menjalankan mobil menjauh dari area makam.


Perjalanan mereka kali ini cukup tersendat karena hujan yang semakin lebat disertai badai angin.


"Kita berhenti dulu, Nang. Sampai badainya hilang," ujar Eric. Dia memandang keluar jendela, menatap hampa pada bangunan di pinggir jalan itu.


Calvin mengawasi sekitar dengan mata elangnya. Ada perasaan tidak enak yang mulai merayap dalam hati.


"Bos," bisik Danang. Tangannya menunjuk ke luar mobil.


"Jalan!" perintah Calvin.


Danang dengan cepat menekan pedal gas. Melaju kencang menembus badai sambil terus fokus melihat jalan. Sesekali dia melirik ke spion, mencoba mengukur jarak dengan kendaraan yang sejak tadi mengikuti mereka dari area makam.


Calvin melompat ke kursi tengah, tangannya terulur ke tas travel di bagian bawah kursi. Membuka tas dan mengambil tiga buah pistol dan menyerahkan pistol ke Danang dan Eric yang segera berpindah ke bagian depan mobil.


Tangan kiri Eric meraih ponsel dari saku jaket yang dikenakan. Menekan layar ponsel dan menelepon Brian. Dia berbicara dengan cepat, kemudian menutup telepon dan memasukkannya kembali ke saku jaket.


"Pakai ini," ujar Calvin sambil mengulurkan sebuah rompi anti peluru pada Eric.


"Kamu aja yang pakai!" tolak Eric dengan tegas.


"Koko harus tetap hidup!" tegas Calvin. Dia sangat membenci sifat keras kepala Eric.


"Mereka hanya mengincarku. Kamu yang harus selamat. Karena tanggung jawabmu sangat besar!" Eric membalas perkataan Calvin dengan suara berat.


"Tapi, Ko ...." Calvin tidak meneruskan kalimatnya karena Eric sudah menodongkan senjata di kepala Calvin.


"Turuti perintahku! Jangan membantah!" tegas pria itu.


Calvin bergeming hingga Eric menarik pistol menjauh dari kepalanya.


Danang mengusap keringat di dahi kala menyadari mobil yang dikemudikannya ini telah jauh meninggalkan mobil yang tadi mengikuti.


Calvin menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa mobil itu sudah menghilang. Dia tetap mewaspadai sekitar sampai mobil memasuki area rumah.


Beberapa orang tampak berdiri di dekat pagar. Mereka bergegas membuka pintu pagar saat Danang membunyikan klakson.

__ADS_1


Amanda dan Jessica berlari mendekati mobil yang parkir di depan teras. Mereka menghambur memeluk Eric sambil menangis.


Setelahnya Amanda melepaskan pelukan dan beralih memeluk Calvin. Pria bertubuh tinggi itu terkejut sekaligus senang dengan pelukan spontan gadis yang dicintainya itu.


__ADS_2