
Gemericik air mancur kecil dari kolam ikan di halaman, membuat Eric seolah terhipnotis dan terus memandangi kolam tersebut.
Pikirannya mengembara ke masa lalu. Di mana dia baru datang lagi ke Bandung, setelah sekian lama melanglang buana, berpindah dari satu negara ke negara lain, untuk melaksanakan tugas dari bos-nya.
Eric sangat senang akhirnya dia bisa mengunjungi Amanda. Setelah sekian lama hanya sesekali bertemu di Jakarta.
"Ko, nggak bisakah berhenti kerja kayak gini?" tanya Amanda. Waktu itu mereka sedang mengobrol di kamar kosnya.
"Aku nyaman kok kerja begini," jawab Eric sambil menyeruput kopi buatan adiknya yang cantik itu.
"Aku yang nggak nyaman. Terus menerus dikuntit anak buah Koko," keluh Amanda.
Eric meletakkan gelas kopi di lantai, dan beringsut mendekati Amanda. Tangannya terulur meraih pundak wanita muda itu, dan merangkulnya hingga pundak mereka menempel.
"Semua itu demi keselamatan kamu. Koko nggak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa," jelas Eric.
"Aku tidak bekerja di situ juga, kita sudah terlanjur jadi target sindikat lainnya, Nda. Keluarga kita sudah terkenal di dunia sindikat. Turun temurun yang tidak pernah putus," lanjut Eric.
Dia paham kegundahan hati adiknya itu. Karena dulu dia juga merasakan hal yang sama.
Waktu pertama kali tahu papa serta keluarganya terlibat dalam dunia sindikat besar, Eric pernah sangat kesal. Dia mendiamkan sang papa selama beberapa bulan.
Eric berusaha untuk tidak mau ikut dalam lingkaran dunia hitam itu. Dia hanya ingin hidup normal seperti orang-orang kebanyakan.
Namun, peristiwa yang nyaris saja merengut nyawa mamanya, membuat Eric murka. Dia memutuskan untuk bergabung, agar bisa membalaskan dendam kepada orang yang menyakiti mamanya.
Eric ingat betul, bagaimana tatapan mata pria tua itu, saat Eric menghajar anak laki-laki pria itu di depan matanya. Pria muda itu nyaris mati, kalau papanya Eric tidak menarik sang anak menjauh.
Pria muda itu mengalami kelumpuhan permanen. Ayahnya hilang ditelan bumi.
Keluarga Eric yang merawat pria muda itu hingga kini, di sebuah rumah sakit ekslusif di luar negeri.
"Di sini, tinggal di mana, Ko?" tanya Amanda.
"Sementara di kantor dulu. Lagi cari rumah kosan," jawab Eric.
"Kenapa nge-kos? Enggak tinggal di apartemen aja?"
"Nge-kos itu lebih aman. Terlihat membaur. Kamu tahu sendiri dari dulu aku nggak suka tinggal di tempat kayak apartemen gitu."
Amanda terdiam. Dia ingat betul petuah sang papa. Tempat paling berbahaya itu jelas paling aman. Karena pengawasan musuh jadi sedikit kendor.
"Terserah koko lah. Yang penting jangan di sini. Aku nggak mau teman-temanku kena imbas. Mereka orang-orang baik," ujar Amanda.
__ADS_1
Pintu kamar seberang terbuka. Rima muncul sambil mengintip ke kamar Amanda.
"Nda?" panggilnya. Usia mereka yang hanya terpaut beberapa bulan, membuat Amanda dan Rima sangat dekat.
Tanpa malu-malu gadis mungil itu masuk ke dalam kamar, dan menyalami Eric dengan santai.
Eric tertegun saat menyadari ada debar aneh dalam dada saat tangan mereka bersentuhan. Pria tampan itu menggeleng pelan untuk mengusir debar yang kian mengencang.
Rasa yang sudah lama tidak dirasakannya, dan dipikirnya sudah mati, sekarang muncul kembali.
Saat Rima dan Amanda mengobrol, Eric pura-pura tidur. Padahal dia merekam semua gerak gerik Rima dalam benaknya.
Hingga kini.
"Ko," panggil Tasya dari arah pintu.
"Masuk," sahut Eric.
Pintu terbuka dan Tasya melangkah masuk. Dia berhenti di dekat tempat tidur. Wajahnya tampak serius.
"Ada apa?" tanya Eric.
"Ada yang datang. Menerobos masuk pagar gaibku," jawab Tasya.
"Kok bisa?" Eric memandangi Tasya dengan sorot mata bingung.
"Mungkin kemampuannya lebih tinggi dariku. Atau aku, yang mulai melemah," sahut Tasya sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
"Menurutmu, yang menerobos ini membahayakan atau tidak?"
"Dari aura yang kutangkap, mereka tidak berbahaya. Hanya mengintip. Namun, aku tidak tahu mereka berada di pihak mana," jelas Tasya.
Eric berjalan mendekat dan merangkul pinggang istri sepupunya itu dengan tangan kanan. Tangan kirinya mengelus perut Tasya dengan rasa sayang.
"Kalau begitu biarkan saja. Nanti biar Calvin dan Rey yang mengurus si pengintip. Kamu istirahat aja, ya," ujar Eric dengan lembut.
Dia menuntun Tasya ke lantai atas. Berbelok ke kiri dan membuka pintu kamar besar itu. Mereka melangkah masuk bersamaan.
"Ayo, tiduran. Nanti kupanggilkan Brian," ujar Eric.
Tasya menurut dan merebahkan diri ke atas tempat tidur. Eric menyelimuti Tasya dengan selimut tebal yang terlipat rapi di ujung tempat tidur.
Dia menyempatkan diri mengusap perut Tasya sekali lagi. Secarik senyum terukir di wajahnya.
__ADS_1
"Baik-baik, ya, jagoan. Enggak sabar pengen lihat wajah kamu. Semoga gantengnya sama dengan om," ujar Eric.
Tasya terkekeh pelan mendengar ucapan pria itu. Dari sekian banyak saudara Brian, hanya Eric dan Amanda lah yang paling dekat dengan dirinya dan suami. Mungkin karena Brian dan Eric tumbuh bersama. Jadi rasa kedekatan mereka sangat kuat.
"Aku panggilin Brian dulu," ucap Eric sambil berdiri dan menjauh. Dia sempat berhenti di pintu kamar dan menoleh ke arah Tasya.
"Pengintip sekarang ada di mana?" tanyanya.
"Di dekat pohon yang nomor tiga dari kiri kolam. Aku nggak tahu nama pohonnya," jawab Tasya.
Eric mengangguk dan menutup pintu. Kakinya melangkah menuju tangga.
"Danang!" panggil Eric.
Tak lama kemudian Danang muncul dari anak tangga paling bawah. Mendongak ke arah Eric.
"Panggilin Brian. Suruh dia nemenin Tasya," ujar Eric.
Danang segera mengerjakan perintah Eric.
Sedangkan Eric meneruskan langkah kakinya menuju kamar Amanda. Berhenti sejenak di depan pintu. Kemudian membuka gagang pintu dengan pelan.
***
"Kita ketahuan," bisik Rima.
"Kok bisa?" balas Zein dengan berbisik pula.
"Ingat nggak? Waktu aku bilang ada pagar gaib di sini? Nah, penjaga pagar gaib itu ada di sini," jelas Rima.
Mereka berhenti berbisik saat dua orang pria terlihat keluar dari teras belakang. Kedua pria itu berjalan mendekati tempat mereka berdiri.
Dari cahaya lampu sorot di teras yang mengarah ke halaman, Zein bisa melihat jelas kedua pria tersebut.
Seorang pria bertubuh tinggi besar, dan seorang pria bertubuh tinggi yang memiliki tanda lahir di bawah dagu.
Rima menarik tangan Zein dan bergerak menjauh ke pohon lain.
Kedua pria itu berhenti di tempat mereka berdiri tadi. Pria yang memiliki tanda lahir memegang pohon tempat Zein tadi menyandar.
"Mereka sudah pergi," ucapnya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman. Mencoba menemukan tempat persembunyian si pengintip.
Pandangannya terhenti di pohon kedua dari kanan tempatnya berdiri. Calvin mencoba menembus pagar gaib yang melindungi di sekitar pohon itu.
__ADS_1