
"Ehh, iya. Ini kan bunga dari pohon mangga. Kayaknya dari situ tuh," tunjuk Triska ke pohon mangga.
"Kok bisa ada dalam mobilku? Jaraknya kan jauh dari pohon," sahut Ary.
"Apaan?" tanya Zein yang baru keluar rumah dan berjalan menuju mobil.
"Ini, Bang. Di dalam mobilku banyak bunga dari pohon mangga itu. Kalo tertiup angin rasanya enggak mungkin," jawab Ary sambil menggaruk belakang kepalanya.
Zein memperhatikan pohon, kemudian beralih melongok ke dalam mobil Ary. Seulas senyum terukir di wajah pria tampan itu. Zein menggeleng sambil bergumam,"Isengnya kamu, Rima."
***
Bunyi langkah kaki yang menaiki anak tangga, membuat Dinar tersentak bangun.
Gelak tawa Jessica dan suara pria di kamar atas, entah kenapa membuat Dinar merasa sedikit jengah. Dengan pelan dia beringsut ke pinggir kasur dan duduk. Tangannya terulur meraih gelas berisi air teh manis di meja samping kasur, dan meneguknya beberapa kali.
Setelah selesai Dinar meletakkan kembali gelas ke atas meja, kemudian bangkit dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, dia mengganti pakaian dengan tunik berwarna salem dan celana panjang berwarna hitam. Kemudian dia beranjak ke meja rias dan menyapukan bedak tipis pada wajah, serta lip care pada bibir. Tangannya meraih jilbab instan dari atas kursi dan mengenakannya sambil bercermin.
Dinar mengambil dompet dari atas meja dan berjalan ke pintu, membukanya dengan pelan dan mendadak mematung.
Di depan kamarnya ada seorang pria berkulit putih dan berwajah tampan. Dengan tinggi tubuh yang standar dan bentuk tubuh proporsional. Wajah pria itu mengingatkannya pada seseorang.
"Maaf, kaget, ya?" sapa pria itu seraya tersenyum.
"Ehm ... sedikit," sahut Dinar.
"Oh, iya. Perkenalkan. Aku penghuni baru di kamar atas," ujar pria itu sembari mengulurkan tangan.
Ragu-ragu Dinar menyambut uluran tangannya, tapi demi menjaga kesopanan akhirnya dia menyambut jabatan pria itu dengan pelan. "Dinar," ujarnya memperkenalkan diri.
"Aku, Rey," ucap pria berambut tebal itu.
***
Langit malam yang gelap tidak menyurutkan niat Amanda untuk berjalan-jalan di taman. Sesekali dia berhenti untuk sekedar mengagumi aneka bunga yang bermekaran, di pinggir jalan masuk rumah besar.
Di belakangnya tampak Calvin mengikuti sambil mengawasi keadaan sekitar. Pria bertubuh tinggi itu masih penasaran dengan peristiwa beberapa malam yang lalu.
Dalam benaknya penuh dengan berbagai pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
"Calvin, kapan koko Rey akan pulang?" tanya Amanda.
Calvin bergeming. Dia sama sekali tidak mendengar pertanyaan gadis itu. Pria berambut agak gondrong itu tersentak kaget saat Amanda tiba-tiba sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Calvin, ditanya kok malah bengong?" omel Amanda sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ehh ... ehm ... apa?" Calvin gelagapan.
"Koko Rey, kapan pulang?" ulang Amanda. Dia merasa gemas dengan respon lambannya Calvin.
"Enggak tahu. Kenapa?"
Amanda mendengkus dan membuang pandangan ke arah lain. Kedua orang pengawal yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, sekarang sudah pergi entah ke mana.
"Ada aku di sini. Untukmu!" tegas Calvin.
Perlahan tangan kanan pria itu bergerak meraih tangan Amanda. Mengusap jemari halus milik gadis itu dengan segenap perasaan.
"Lupakan dia, Nda. Belajarlah untuk mencintaiku," ucap Calvin pelan.
Amanda memandangi pria itu dengan lekat. Mencoba menembus tajamnya manik mata berwarna hitam milik Calvin, dan mencari kebenaran akan cinta yang diucapkan pria itu.
Sudah sejak lama Amanda tahu bila Calvin menyukainya. Namun sayang, hatinya telah lebih dulu diisi oleh Rey.
"Aku ... masih mencintainya," lirih Amanda. Menunduk untuk menyembunyikan mata yang mulai berembun. Menutupi rasa cinta yang masih membekas dalam hati.
Calvin melepaskan tangan gadis itu dan menariknya masuk ke dalam pelukan. Dia menghirup aroma tubuh gadis yang dicintainya itu dan menyimpannya dalam rongga dada.
Tangan kanan Calvin membelai rambut panjang Amanda, sementara tangan kirinya menahan pinggang gadis itu, agar tetap berada dalam pelukannya.
Dia melepaskan pelukan dan menyentuh dagu Amanda. Mendongakkan wajah gadis itu hingga mereka bertatapan lagi dengan lekat.
Embun di mata gadis itu membuat Calvin tercekat. Dia tidak suka melihat Amanda menangis. Terutama bila gadis itu ternyata menangisi orang lain.
Calvin memajukan wajah dan mengecup dahi Amanda dengan lembut. Membiarkan bibirnya menempel lebih lama di situ.
Isakan Amanda mulai terdengar pilu. Membuat Calvin merasa tidak berdaya. Hati tunangannya ini telah terpaut pada pria lain, dan dia tidak bisa membenci pria itu.
Dia hanya bisa menunggu hati Amanda bisa berpaling padanya. Sampai kapan pun dia akan menunggu.
***
Zein menatap laptop di hadapannya dengan dahi berkerut. Dia memijat pelipis saat tiba-tiba wajah Rima terpampang di layar laptop.
"Ada apa?" tanya Zein sambil bersedekap.
"Keluar," jawab Rima.
"Aku capek. Besok aja deh!"
__ADS_1
"Enggak mau tahu. Pokoknya kutunggu!" tegas Rima yang tiba-tiba menghilang dari layar.
Zein menghela napas panjang dan mengembuskan perlahan. Tangannya mengusap rambut cepak miliknya yang mulai sedikit panjang.
Dengan enggan pria bertubuh tinggi itu bangkit dari kursi dan beranjak menuju pintu. Tak lupa dia mengambil kunci dari belakang pintu, dan berjalan ke pintu depan.
Zein mengintip dari balik jendela, mencoba mencari keberadaan Rima di bawah pohon mangga. Namun, gadis itu tidak berada di sana.
Pria berkulit putih itu membuka kunci pintu dan menarik pintu depan dengan cepat. Matanya berpindah ke arah empat mobil yang terparkir rapi di halaman rumah.
Dia mengayunkan langkah kaki menuju mobil paling depan. Mengintip melalui kaca mobil milik Hasni yang gelap. Namun, tidak juga menemukan Rima.
"Wuah!" pekik Zein sambil menutup mulut dengan tangan kanan.
Wajah Rima tampak menyeringai dari kaca depan mobil milik Ary, yang terparkir tepat di belakang mobil ini.
Zein memberikan kode dengan tangan agar Rima keluar. Kemudian dia duduk di atas undakan tangga teras. Tangannya bergerak membuka pagar gaib yang selalu terpasang di tubuhnya.
Walaupun kata kakek dan gurunya, makhluk halus itu tidak boleh terlalu dipercayai, tapi Zein merasa Rima berbeda. Gadis itu tidak seperti hantu-hantu lain yang pernah dia temui.
Rima tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Zein. Jarak mereka yang hanya satu meter membuat Zein sedikit canggung.
"Jauhan dikit," ujar Zein sambil mengibaskan tangannya.
"Enggak mau. Udah enak di sini," jawab Rima dengan santai.
Hantu bergaun pengantin itu tampak duduk selonjoran di atas rumput di taman depan rumah. Dia memandangi Zein dengan serius.
"Ngapain manggil aku?" tanya Zein.
"Hati-hati dengan penghuni baru," jawab Rima.
"Jessica?" tanya Zein lagi sembari menguap.
"Dia dan temannya. Mereka juga punya kekuatan kayak kamu," sahut Rima sambil pura-pura menguap.
"Ngeledek!" Zein menimpuk Rima dengan kerikil.
Gadis itu mengelak lemparan kerikil sambil tertawa dengan suara yang aneh.
"Aku sudah bertemu dengan Jessica, tapi dengan temannya belum. Laki-laki kan? Tadi Dinar cerita begitu," jelas Zein.
"Iya. Aku merasa pernah melihatnya, tapi lupa di mana," ujar Rima sambil bertopang dagu.
Gayanya yang lucu membuat Zein tersenyum. Sekarang dia paham kenapa Rima sangat disayangi teman-temannya.
__ADS_1
Gadis ini benar-benar polos. Dia tidak menyadari gaya imutnya itu bisa membuat pria terpikat. Terutama, bagi pria seperti Eric.