
Detak jantung Zein mulai tidak beraturan saat mobil yang dikendarainya memasuki gerbang rumah milik orang tua Triska.
Sepasang suami istri paruh baya itu, sudah berdiri menunggu di teras rumah besar itu. Seorang wanita muda juga ikut berdiri di samping sang Ibu.
Setelah mobil parkir dengan rapi, Triska turun dan berjalan cepat ke arah keluarganya. Sang Ibu menyambut kedatangan buah hatinya dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi kanan dan kiri putri cantiknya tersebut.
Kemudian Triska berpindah menyalami sang Ayah yang memeluk tubuh putrinya dengan penuh kerinduan. Mata pria paruh baya itu beralih memandangi Zein yang berdiri di belakang Triska.
Tangan Pak Rusman terulur dan menjabat tangan Zein dengan genggaman tegas. Senyuman simpul terukir di wajah pria yang ada kemiripan dengan Triska.
"Ini, orangnya, Dek?" tanya Pak Rusman pada Triska yang sedang bergelayut manja di lengan sang Kakak dan ibunya.
"Iya, Yah," jawab Triska sambil memberi kode pada Zein untuk maju lebih dekat ke ayahnya.
Zein mencium punggung tangan Pak Rusman dengan hormat, kemudian berpindah menyalami ibunya Triska.
Bu Hana mengusap bahu Zein saat pria muda itu menciumi punggung tangannya. Saat Zein menegakkan tubuhnya kembali, Bu Hana tersenyum manis kepadanya. Wajah wanita paruh baya itu semakin mirip dengan Triska.
"Meni kasep," pujinya sambil melirik kedua putrinya yang tersenyum lebar.
"Ntar Abang terbang dipuji begitu, Bu," protes Triska pada ibunya yang masih tersenyum lebar..
"Obrolannya dilanjut di dalam aja, yuk!" ajak Vina pada semua orang.
Dengan santainya wanita yang sedang hamil itu menggamit lengan kanan Zein. Kemudian menggusur tubuh pria tinggi besar itu agar mengikutinya ke dalam.
Triska memutar bola mata sambil menggeleng pelan. Dia sudah sangat hafal dengan watak kakaknya yang ramah dan humoris.
Sesampainya di dalam rumah, seorang pria dewasa menyambut kedatangan Triska dengan pelukan hangat. Ciuman pun mendarat di kedua belah pipi wanita muda itu.
"Jangan cium - cium atuh, A'. Ntar pacarnya cemburu, " ujar Vina pada pria dewasa itu, yang berpindah menyalami dan menepuk pundak Zein beberapa kali.
__ADS_1
"Masa sama kakak iparnya dicemburuin juga?" goda pria itu. Tangannya menarik lengan sang istri dan merangkul pundaknya hingga tubuh mereka saling menempel.
"Ehm ... Zein, kenalin ini Doni, suamiku. Tadinya dia naksir Triska, tapi ditolak. Karena kasihan, jadi aku putuskan untuk menerima lamarannya," seloroh Vina yang langsung mendapatkan balasan pelototan dari Triska.
"Teteh!" hardik sang adik. Sementara yang lainnya hanya tersenyum lebar.
Siang itu suasana ruang makan tampak ramai. Canda tawa serta berbagai cerita seru mengalir deras tanpa henti.
Dalam hati Zein merasa bersyukur karena kekhawatirannya ternyata tidak terbukti. Keluarga Triska menyambutnya dengan hangat. Zein merasa nyaman selama berada di sana.
Selanjutnya Triska mengantarkan kekasihnya itu ke kamar tamu yang terletak di lantai dua rumah. Mereka berjalan sepanjang lorong yang sepi dengan tangan saling menggenggam.
"Ini kamar Abang. Kamar mandinya ada di situ," tunjuk Triska ke sebelah kanan kamar.
Zein meletakkan tas travel ke lantai dan langsung meraih tubuh kekasihnya itu, dan mendekapnya dengan erat. Bibir Zein menyentuh lembut bibir Triska yang lembut dan kenyal
Perlahan namun pasti keduanya saling merapatkan tubuh. Zein mendorong Triska ke dinding pembatas kamar mandi. Memuaskan diri menikmati belaian lembut wanita itu di rambut dan punggungnya.
Helaan napas keduanya semakin tidak terkendali. Hingga akhirnya Zein menarik diri dan memutuskan sentuhan jarinya pada tubuh wanita cantik itu.
"Ehm ... aku ... mau ke kamar dulu." Triska menggeser tubuhnya menjauh dan jalan ke pintu. Berbalik untuk melihat Zein sekali lagi, sebelum mundur dan menarik pintu hingga tertutup.
Zein tersenyum sambil menggaruk belakang kepala. Dia menghempaskan bokong ke atas kasur. Meraih ponsel dari saku celana dan mulai mengecek pesan yang masuk.
***
Malam itu Arya datang bersama istri dan kedua anaknya. Rumah orang tua Triska pun semakin gaduh dengan jeritan khas bocah.
Doni dan Arya meninggalkan Zein sendirian di ruang tamu saat Pak Rusman mendekat dan duduk di sofa seberang Zein.
"Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan anak bapak?" tanya Pak Rusman dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Zein menegakkan punggung dan membalas tatapan pria paruh baya itu dengan tenang. "Sekitar dua bulanan, Pak," jawab Zein.
"Apa sebelumnya kamu sudah pernah menikah atau gimana?"
"Belum pernah, Pak."
"Ceritakan sedikit tentang keluargamu. Bapak pengen tahu," ucap pria paruh baya itu sembari menyandarkan punggung ke sofa dan menumpangkan kaki kiri ke lutut kanannya.
Zein mengangguk. Dia mengatur napas sebelum mulai bercerita.
"Ayah saya bernama Hamid. Beliau seorang wiraswasta di Pekanbaru, Riau. Ibu saya bernama Aminah, seorang Ibu rumah tangga. Saya punya dua orang adik bernama Fauziah dan Zaidan. Mereka masih tinggal bersama orang tua. Sudah bekerja dan belum menikah," jelas Zein dengan lugas.
Pak Rusman manggut-manggut. "Kamu sendiri kerja apa?" lanjutnya.
"Saya bekerja di perusahaan jasa keamanan nasional, sebagai manajer marketing," jawab Zein.
"Sudah punya rumah atau tanah? Maaf, bapak cuma mau memastikan anak bapak punya tempat bernaung bila kalian berjodoh. Wajar kan kalo bapak tanya begitu?"
"Iya, Pak. Enggak apa-apa. Wajar kalo seorang bapak ingin memastikan kehidupan anaknya di masa depan. Dan menjawab pertanyaan Bapak, mohon maaf, saat ini saya belum memiliki rumah pribadi."
"Sekarang saya sedang menabung untuk membeli rumah. Tapi belum tahu akan beli di mana. Karena saya masih akan berpindah-pindah tempat kerja. Syukur-syukur kalo bisa terus ditempatkan di Bandung," jelas Zein seraya tersenyum.
"Bagus! Bapak suka dengan pria yang sudah punya rencana ke depannya seperti apa. Tapi ingat, bapak minta agar kamu bisa menjaga Triska baik-baik. Bila memang tidak berjodoh, berpisahlah dengan baik-baik pula," ujar Pak Rusman dengan suara berat.
Zein menarik napas dan mengembuskan dengan perlahan. Akhirnya dia lega, setelah mendapat izin dan restu ayahnya Triska. Beban di pundaknya seakan berkurang. Membuatnya merasa sangat tenang.
Malam pun semakin larut. Di ruang tamu tiga pasang pria dan wanita sedang duduk mengobrol dengan seru. Kedua anak Arya sudah terlelap di kamar kakek dan nenek mereka.
"Selamat datang di keluarga kami, Zein," ujar Arya sambil menepuk pundak kiri pria muda di sebelahnya itu.
"Semoga betah. Kalo nggak betah, ya, dibetah-betahin aja, ya," tukas Doni yang langsung mendapat cubitan di lengannya oleh Vina.
__ADS_1
"Pasti betahlah. Mana ada yang berani macam-macam apa keluarga ini," sela Feby, istrinya Arya.
"Yoih. Karena pria dan wanita di keluarga ini galak semua!" seru Doni sembari lari menghindar dari lemparan bantal sofa oleh Vina dan Triska.