Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Lupa memakai jilbab


__ADS_3

Irwan menatap Zein dengan sorot mata menyiratkan kebimbangan hati. Batinnya bergejolak antara ingin melabrak Rey dan komplotannya, atau tetap menuruti saran Zein untuk tenang dan waspada.


"Aku usahakan sebelum pindah ke Jakarta, mereka sudah ditangkap," ujar Zein dengan wajah menunjukkan kesungguhan.


"Bagaimana caranya?" tanya Irwan.


"Pamanku sedang mengatur strategi dengan pihak kepolisian Bandung. Pokoknya kita diminta pura-pura tidak tahu tentang komplotan itu."


"Jangan melakukan tindakan berbahaya. Apalagi di sana banyak teman-teman kita yang tidak tahu, tentang siapa Rey dan kawan-kawannya," lanjut Zein.


Irwan manggut-manggut.


Obrolan mereka terhenti saat Rama, Dinar dan Triska datang ke kafe, tempat Zein dan Irwan mengadakan pertemuan.


"Makanan udah dipesan, Zein?" tanya Dinar sambil menarik kursi di sebelah kiri Irwan.


"Udah, Mbak. Sesuai pesanan lewat chat tadi," jawab Zein. Tangan kanannya bergerak mengelus punggung tangan Triska yang duduk di sebelah kanannya.


Wanita cantik itu menoleh dan balas menggenggam jemarinya. Mata sipitnya tampak sedih. Ada garis hitam di kantung mata.


"Habis dari sini, bantuin abang nyari pakaian buat kerja, ya. Seleramu kan bagus," bisik Zein di telinga kiri Triska yang membalasnya dengan anggukan.


Rama memperhatikan gerak gerik kedua temannya itu dengan perasaan empati. Dia tahu bagaimana sulitnya untuk berpisah di saat hati sedang berbunga-bunga.


Dulu, dia pernah merasakan hal yang sama. Dua tahun menjalin hubungan dengan teman kuliahnya. Setelah bekerja mereka harus berpisah jarak. Rama di Jakarta, sedangkan wanita itu tetap di Semarang.


Awal hubungan jarak jauh komunikasi mereka masih lancar dan terjalin dengan baik. Namun, seiring dengan kuantitas pertemuan yang menurun, serta kesibukan mereka masing-masing, akhirnya hubungan mereka kandas.


Di saat kegalauan itu Rama dipindah tugaskan ke Bandung. Bertemu Winda, tapi harus menahan hati untuk tidak menikung Davin, temannya sendiri.


Pesanan mereka tiba, mereka pun menyantap makanan sembari melanjutkan obrolan.


Triska yang lebih banyak berdiam diri rupanya tidak luput dari perhatian Irwan. Dalam hati dia berjanji untuk menyemangati Triska, agar tidak patah semangat bila nanti Zein pindah.


***


Langkah kaki seseorang memasuki ruangan tempat Bu Dewi dirawat. Wanita muda yang sedang menunggui mamanya itu sontak berdiri saat melihat Rey datang dengan membawa kotak pizza.


"Lu, belinya banyak amat? Aira kan makannya juga masih dikit. Mama juga. Ntar yang ngabisinnya siapa? Gue? Hadeuh!" keluh Hana, wanita muda yang cantik dan agak beringas.

__ADS_1


"Kasih ke perawat aja. Biar cepat habis," jawab Rey sambil menghempaskan bokong ke sofa.


Aira, bocah berusia dua tahun itu berdiri dari lantai dan jalan mendekat. Tangannya diulurkan, meminta digendong.


Rey membungkuk sedikit dan mengangkat tubuh gadis kecil itu, dan meletakkannya di pangkuan.


Aira memandangi dengan mata bulatnya yang sangat bening. Menyentuh kumis tipis Rey yang tumbuh beberapa centi.


Gadis itu tertawa geli saat Rey menggosok-gosokkan kumis ke lengannya. Tawa riang yang menyelusup masuk ke dalam hati Rey.


"Ehm, lu nggak kerja?" tanya Hana.


"Aku kerjanya malam. Santai," jawab Rey sambil menurunkan Aira yang ingin bermain lagi di lantai.


Hana sejenak menatap Rey sebelum akhirnya mengalahkan perhatian pada mamanya, yang sedikit bergerak di atas kasur pasien.


Sementara itu di lorong rumah sakit, Andi dan Kris duduk menunggu sambil terkantuk-kantuk.


Hilir mudik orang-orang di lorong tidak mengganggu mereka sama sekali. Akan tetapi, radar mereka tetap terjaga walaupun terlihat sedang tertidur.


Andi memicingkan mata saat menyadari ada dua orang yang sejak tadi memperhatikan mereka. Dia pura-pura menguap sambil merentangkan tangan, menyentuh telinga kiri Kris yang segera terbangun.


"Arah jam dua," bisik Andi.


Dia jalan terus kemudian belok ke kiri. Meneruskan langkah kaki sampai ke parkiran. Membuka pintu mobil dengan kunci yang dibawanya. Menyalakan mesin dan jalan pelan ke pintu keluar terdekat dari ruangan tadi.


Tidak berapa lama kemudian Rey dan Andi muncul dan bergegas masuk. Kris menjalankan mobil keluar dari area rumah sakit sambil mengawasi lewat spion.


Sebuah motor tampak mengejar. Kris dengan cepat menambah laju mobil dan tetap fokus menyetir.


Kedua kendaraan itu tampak kejar-kejaran hingga Kris menghentikan mobil di sebuah jalan yang sepi.


Motor itu berhenti tepat di depan mobil. Andi dan Kris keluar, sementara Rey mengambil alih kemudi dan bersiap untuk pergi bila keadaan mendesak.


Keempat orang itu tampak berbicara serius. Kemudian Kris kembali dan mengetuk kaca mobil.


"Bos, ditunggu di kafe, nanti malam. Pesan dari Joe," ujar Kris.


Rey mengangguk. Kris memberi kode pada Andi agar memasuki mobil.

__ADS_1


Kedua pengendara motor itu pergi lebih dulu. Sedangkan Rey berbalik arah menuju rumah kosan.


Beberapa penghuni tampak berkumpul di ruang depan. Rey hanya menundukkan kepala dan langsung naik ke lantai atas.


Dia menarik koper dari atas lemari dan mengisinya dengan pakaian dan beberapa perlengkapan miliknya.


Andi dan Kris pun melakukan hal yang sama di kamar mereka.


Malam pun semakin larut. Para penghuni beranjak masuk ke kamar masing-masing.


Tia menatap pantulan wajahnya di cermin. Merasa sedikit aneh saat melihat ada kain yang keluar dari pintu lemari.


Dia ingat sekali, selalu menutup rapi lemarinya setelah mengambil pakaian.


Tia melangkah dan membuka pintu lemari. Matanya membelalak saat melihat kondisi lemari yang acak-acakan.


Perasaan takut yang mulai merayap dalam hati membuatnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Triska.


"Ris," lirihnya dengan suara bergetar.


"Kunaon?" tanya Triska yang sedang mengusap wajahnya dengan handuk.


Tanpa banyak kata Tia segera menarik tangan Triska dan mengajaknya masuk ke kamar miliknya.


Mata Triska melotot saat melihat lemari Tia yang berantakan. Samar-samar tercium wangi bunga melati. Membuat keduanya segera berlari ke luar dan masuk ke kamar Triska.


Zein terkejut saat melihat ponselnya bergetar dan ada notifikasi panggilan masuk dari Triska.


"Abang, buruan ke kamarku! Penting!" ucap gadis itu sebelum memutus sambungan telepon.


Zein segera beranjak dari kasur dan berlari keluar. Triska segera membuka pintu dan menariknya masuk.


Tia bercerita dengan menahan tangis takut. Dia terus berpegangan pada lengan Triska.


"Aku periksa, ya. Sekalian ngambilin jilbabmu," ujar Zein sambil berbalik dan menyeberang ke kamar Tia.


"Ketakutan sampai lupa pakai jilbab," keluh Tia sambil menepuk dahi. Dia dan Triska mengintip dari balik gorden yang tersibak.


Zein memanggil Satya dan Chandra sebelum memasuki kamar Tia. Keduanya mengikuti Zein dari belakang.

__ADS_1


Pria berambut cepak itu memijat pelipis saat melihat Rima sedang duduk santai di kursi depan meja rias.


Satya sempat terperangah sebelum akhirnya bisa menenangkan diri. Sementara Chandra tampak kebingungan saat melihat Zein sedang mengomel di depan cermin.


__ADS_2