
Tangan Zein bergerak hendak membuka gagang pintu. Namun Rima menepisnya dan menarik tubuh Zein hingga menempel pada dinding.
Pintu itu terbuka dari dalam. Sebuah kaki terjulur keluar dari celah pintu.
"Pikirkan lagi, Amanda. Jangan gegabah. Kokomu pasti marah lagi, bila dia tahu kamu mencoba kabur!" tegas suara seorang pria terdengar jelas dari tempat Zein berdiri.
Zein mulai panik. Otaknya bekerja keras mencari cara agar bisa kabur dari sini.
Tiba-tiba ada hawa dingin yang menutupi tubuhnya. Rima berdiri membelakangi, sambil bertumpu pada kedua tangan yang menempel di dinding.
Tubuh mereka sangat rapat. Zein bahkan bisa merasakan embusan napasnya keluar dari tubuh Rima yang transparan.
Pria itu keluar dari kamar, berbalik dan menutup pintu dengan pelan. Tangannya bergerak mengunci pintu dan mengantongi anak kunci di saku celana sebelah kanan.
Sejenak pria itu bergeming sambil menutup mata. Kemudian tangan kanannya bergerak mengusap wajah, rambut dan leher dalam beberapa kali gerakan.
Seperti merasakan ada sesuatu di dekatnya, pria itu menoleh ke tempat Zein berdiri.
Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa langkah membuat Zein semakin cemas.
Pria itu maju selangkah, kemudian memiringkan kepala untuk memastikan ia melihat sesuatu.
Zein menahan napas saat pria itu maju selangkah lebih dekat. Pria itu seolah menatap tajam ke arah matanya.
Ttrrriiinnnggg.
Bbbrrraaakkk!
Bunyi benda jatuh dari lantai bawah membuat pria itu menoleh ke kanan. Zein melihat ada tanda lahir di bawah dagu sebelah kiri pria itu.
"Bos!" panggil seseorang dari bawah.
Pria bertubuh proporsional dengan tinggi badan yang sama dengan Zein itu kembali memandangi tempat Zein berdiri. Setelah memastikan tidak ada apa pun, akhirnya dia melangkahkan kaki menjauh, dan menuruni anak tangga sambil berlari kecil.
Zein mengembuskan napas lega. Rima maju selangkah hingga tubuh mereka kembali berjarak.
"Makasih," bisik Zein.
Rima tersenyum. Kemudian menganggukkan dagu menunjuk ke kamar tempat Amanda dikurung.
Mata Zein berkeliling mencari sesuatu untuk mencongkel pintu itu. Namun ternyata Rima bergerak lebih dulu.
Cekreek
Anak kunci terbuka. Zein memegang gagang pintu sambil berdoa dalam hati.
Perlahan ia membuka dan mendorong pintu ke arah dalam. Sejenak ia membiasakan mata dengan kegelapan di dalam ruangan itu.
Zein maju selangkah dan berhenti tepat di ambang pintu. Pandangannya bersirobok dengan sepasang mata seorang wanita yang melotot ke arahnya.
***
__ADS_1
Sementara itu di rumah kosan, Tia berusaha menenangkan Triska yang panik.
Rama dan Hasni yang mendengar ribut-ribut di luar akhirnya terbangun.
"Zein kenapa?" tanya Rama sambil memegang telapak kaki Zein yang terasa dingin.
"Abang lagi melakukan lepas raga," jawab Satya.
"Apa itu lepas raga?" tanya Hasni sembari berjongkok di sebelah Rama.
"Abang melakukan perjalanan menembus dimensi waktu. Aku tidak tahu dia pergi ke mana, tapi bisa dipastikan Abang sedang tegang dan was-was," jelas Satya.
"Bahaya nggak? Apa bisa balik lagi?" tanya Rama.
"Bisa balik lagi. Masalah bahaya itu tergantung situasi dan kondisi di sana. Yang melakukan lepas raga harus didampingi. Itu sebabnya Abang tadi melarangku untuk ikut," jawab Satya sambil mengusap peluh di dahinya.
Dia sedang berusaha keras melakukan kontak batin dengan Zein.
"Karena cuma kamu yang bisa membantunya kembali," tukas Hasni.
Satya mengangguk.
"Bisa nggak kami menyusul ke tempat Zein?" tanya Ivan. Dia benar-benar cemas terjadi sesuatu hal dengan sahabatnya itu.
Walaupun kadang dia dan Zein sering saling ledek dan adu argumen, tapi Ivan merasa Zein lah orang yang paling paham tentang dirinya dibanding teman-teman lainnya.
"Kalau aku tahu tempatnya mungkin bisa. Masalahnya kan aku nggak tahu Rima bawa Abang ke mana," jelas Satya sembari menunduk dan meremas rambut ikalnya dengan gemas.
Ivan yang melihat Satya sedang fokus melakukan kontak batin dengan Zein, akhirnya mengambil alih menjelaskan awal mula kejadian ini pada Rama.
***
"Amanda?" panggil Zein lirih.
Wanita itu bergeming. Dia memperhatikan Zein dari atas kepala hingga kaki.
Zein menutup pintu kembali dengan pelan dan maju selangkah.
"Amanda, namaku Zein. Aku teman ... Rima," jelas Zein.
Mata wanita itu melotot lagi. Menggeleng pelan seolah tidak percaya dengan perkataan Zein.
"Aku tinggal di kosan yang sama dengan tempat tinggal kalian di Bandung. Nama pemiliknya Bu Wahyu. Bang Hasni, Rama dan Mbak Dinar masih tinggal di sana," lanjut Zein sembari maju satu langkah lagi.
"Aku dibawa Rima ke sini. Menembus lorong waktu, untuk membebaskanmu," sambung Zein lagi.
Wanita itu menggeleng. Dia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Perlahan Zein mendekat. Berusaha mendapatkan kepercayaan Amanda.
"Kita tidak punya banyak waktu, Amanda. Ayo, ikut aku!" ajak Zein.
__ADS_1
"Aku ... tidak bisa ikut denganmu," lirih wanita itu.
"Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?" ucap Zein. Dia berusaha menajamkan pendengaran untuk memastikan tidak ada suara mencurigakan dari lantai bawah.
"Koko, pasti marah bila aku berusaha kabur lagi," suaranya terdengar getir.
"Dia tidak akan menemukanmu bila kamu ikut denganku," jelas Zein. Dia sengaja melembutkan nada suaranya agar Amanda bisa percaya.
Amanda menggeleng lagi,"Dia pasti menemukan kita. Kaki tangannya ada di mana-mana."
Dari ujung matanya Zein melihat berkas sinar lampu yang mendekat.
Bunyi ban mobil yang beradu dengan batu kerikil membuatnya yakin akan kedatangan seseorang di tempat ini.
Zein bergerak ke jendela besar di ujung kamar. Mengintip dari balik gorden ke halaman luas di bawah sana.
Sebuah mobil mini bus mendekati rumah. Kemudian berhenti tepat di bawah atap teras dan mesinnya dimatikan.
Terdengar bunyi pintu mobil yang terbuka dan menutup lagi dua kali.
Dari tempat Zein berdiri tidak kelihatan sosok orang yang turun dari mobil. Hanya terdengar suara beberapa orang sedang mengobrol dengan topik yang tidak jelas.
"Pergilah," ucap wanita yang duduk di atas tempat tidur kecil di tengah ruangan itu.
"Kamu harus ikut denganku!" tegas Zein.
"Aku tidak bisa. Koko akan memarahiku nanti!" suara wanita itu mulai meninggi.
"Dia tidak akan menemukanmu. Aku janji akan menjagamu!" Zein tetap bersikeras.
Suara tawa dari lantai bawah membuat mereka sontak menoleh.
Zein berjalan ke pintu. Menempelkan telinga untuk memastikan tidak ada yang naik ke lantai dua ini.
Kemudian dia kembali mendekati Amanda yang masih duduk dengan posisi kedua kaki dirapatkan ke tubuh.
Zein mengulurkan tangan kanan ke Amanda yang hanya menatapnya dengan bingung.
"Ayo!" ajak Zein.
Kletakkkk.
Kletakkkk.
Kletakkkk.
Bunyi hak sepatu menaiki anak tangga membuat denyut nadi Zein semakin tidak beraturan.
"Pergi!" tegas Amanda.
Zein berusaha menggapai tangan Amanda, namun tiba-tiba dia merasa tubuhnya terangkat dan tersedot ke dalam pusaran lorong waktu.
__ADS_1
Amanda terus memandangi hingga tubuh Zein menghilang dalam pusaran gelap di sudut kamar.