
Hawa dingin di lengan kanannya yang terjulur ke bawah tempat tidur membuat Eric terbangun.
Matanya mengerjap beberapa kali untuk membiasakan diri dengan cahaya yang minim.
Hawa dingin itu masih terasa, walaupun dia sudah menarik tangannya masuk ke dalam selimut.
Eric berbalik ke arah kiri dan tertegun sesaat. Dia membuka matanya lebar-lebar, dan mencoba memastikan bahwa memang ada seseorang yang sedang duduk membelakanginya.
Pria berkulit putih itu segera bangkit dan duduk tegak. Sosok di hadapannya ini nyata, dan dia merasa senang, teramat sangat senang.
"Sayang! Akhirnya kamu datang menemuiku lagi," ucapnya sambil memajukan tubuh dan memeluk sosok itu.
Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam hatinya. Yang ada hanyalah rasa rindu yang teramat dalam.
Eric tidak memedulikan rasa dingin dari tubuh perempuan itu. Dia tetap memeluknya dengan erat.
Perempuan itu melepaskan pelukan Eric dan membalikkan tubuh ke arahnya. Wajahnya yang cantik masih tetap memesona buat Eric.
"Sayang! Kenapa tidak pernah menemuiku lagi? Aku kangen banget," ujar Eric sembari menggenggam tangan dingin itu dengan erat.
"Koko, kenapa kembali ke sini?" tanya perempuan itu.
"Aku merindukanmu," jawab Eric.
"Kenapa mengirim orang ke rumahku? Apa rencanamu, Ko?"
"Tempat itu lebih aman dibandingkan hotel atau tempat lainnya. Rumah kosan pengawasannya tidak terlalu ketat. Kami bisa menyusun strategi lebih baik bila berada di tempat aman," jelas Eric.
"Aku tidak percaya! Koko pasti berniat jahat pada teman-temanku!" bentak perempuan itu.
"Tidak, Sayangku. Anak buahku tidak akan mengganggu teman-temanmu. Aku bisa pastikan itu!" tegas Eric.
Perempuan itu memandangi Eric dengan sorot mata menyelidik. Kemudian dia berdiri dan berjalan menjauh.
"Sayang! Tunggu!" teriak Eric. Dia bergegas menyusul perempuan itu yang tiba-tiba menembus dinding kamar.
"Sayang! Tunggu! Sayanggg!" teriak Eric sambil membuka pintu dan keluar dari kamar.
"Sayang! Di mana kamu? Jangan pergi! Please!"
Eric memutari ruangan besar itu dan berusaha mencari sosok perempuan pemilik hatinya tersebut. Namun sosok itu telah menghilang.
"Bos. Ada apa?" tanya Rey yang terkejut bangun. Dia segera berdiri dari sofa yang dia tiduri tadi dan jalan mendekati bos-nya.
"Rima! Mana Rima?" Eric bertanya balik sambil melihat ke sana ke sini.
"Rima? Enggak ada, Bos," jawab Rey.
__ADS_1
"Ada! Tadi dia ada di kamarku. Terus pergi keluar. Ayo! Cari dia, Rey. Cari!" perintah Eric dengan mata membelalak. Tangannya mencengkram lengan Rey yang balik menatapnya dengan tatapan lembut.
Rey paham, bos-nya ini sedang mengalami halusinasi. Lagi!
Eric melepaskan cengkraman tangannya dan berjalan memutari ruangan kembali. Bibirnya tak henti memanggil nama Rima.
Calvin dan Danang yang ikut terbangun, segera mengejar Eric yang hendak ke luar pintu.
"Bos. Tidak boleh keluar!" perintah Calvin.
"Aku mau cari Rima. Jangan halangi aku!" teriak Eric. Tangannya berusaha menggeser tubuh Danang yang menghalangi pintu.
"Maaf, Bos. Aku harus menghentikanmu," ujar Rey dari arah belakang Eric.
Rey menotok dua titik saraf di leher belakang Eric. Pria jangkung itu tiba-tiba terdiam. Eric tidak bisa bergerak lagi. Hanya matanya saja yang bisa bergerak memperhatikan ketiga anak buahnya. Mereka menggotong tubuhnya kembali masuk ke dalam kamar, dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Rey membuka koper kecil berwarna hitam dan mengeluarkan satu botol obat.
Calvin mengambil sebuah gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Kemudian jalan mendekati tempat tidur.
"Maaf," ujar Rey sambil menotok kembali tubuh Eric.
Plllaaakkk!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Rey. Pria berhidung bangir itu hanya mengusap pipinya. Bibirnya menyunggingkan secarik senyum tipis yang miring.
Ketiganya balik memandanginya dengan raut wajah yang menunjukkan ketegasan. Mereka sudah terbiasa dengan sikap Eric yang kadang aneh begini.
"Diminum dulu obatnya," ucap Calvin. Suaranya dibuat sedatar mungkin.
Eric menatapnya dengan tajam selama beberapa saat. Sebelum akhirnya meraih obat dan gelas yang diulurkan Calvin.
Dengan gerakan cepat obat itu sudah berpindah ke dalam mulut Eric. Dia meneguk sedikit air sebelum memberikan gelas kembali pada Calvin.
Rey memberi isyarat pada kedua temannya untuk keluar kamar. Danang segera berjalan keluar dan menutup pintu, sedangkan Calvin hanya berpindah duduk ke sofa di dekat jendela.
"Dia benar-benar datang," ujar Eric. Tangannya bergerak mengusap rambut dan wajah. Kemudian menunduk dan memejamkan mata.
"Sudah lama dia tidak kembali," sela Calvin.
"Iya. Terakhir itu waktu kita di pengasingan. Setelahnya hanya ada bayangan samar," tukas Rey.
Eric mendongak, Tangannya terulur memegang pipi Rey yang memerah.
"Maaf," ucapnya.
"It's oke, Bos," sahut Rey.
__ADS_1
Eric memajukan tubuh dan bergerak memeluk Rey. Bahunya mulai berguncang. Sesaat kemudian isak tangisnya mulai terdengar.
"Rima," rintihnya.
Rey mengusap punggung bos sekaligus sahabatnya itu. Teringat betapa terpukulnya Eric waktu mendapat kabar bahwa Rima meninggal.
Apalagi saat menyadari bahwa dia sendiri adalah pelaku penusukan perut Rima, yang mengakibatkan perempuan tercintanya itu meninggal di rumah sakit.
Walaupun hanya satu tusukan, tapi akibatnya sangat fatal. Karena sebelumnya salah satu orang kepercayaan Eric lainnya, telah melumuri pisau itu dengan racun.
***
Dug!
Bunyi benda yang dibenturkan ke dinding luar rumah, mengejutkan Zein yang baru saja terlelap. Pria berambut cepak itu segera merapal doa dan membuat pagar gaib untuk melindungi dirinya.
Mengikuti firasat, Zein menjejakkan kakinya ke lantai dan jalan menuju jendela depan.
Tangannya menyingkap gorden dan mengintip keluar jendela. Matanya menangkap sosok perempuan berbaju putih, di kepalanya ada hiasan berenda yang terangkat ke atas. Tangan sosok itu menggenggam buket bunga.
Mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Zein berjalan menuju pintu. Membukanya dengan cepat, meraih kunci pintu dan berlari ke luar kamar.
Setelah membuka kunci pintu depan Zein segera melangkah mendekati Rima.
"Ada apa?" tanya Zein setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah.
"Hati-hati!" ujar Rima.
"Kenapa? Apa ada yang akan terjadi?"
"Dia kembali. Mereka kembali."
"Siapa, Rima? Apakah ... Eric?"
Rima mengangguk. Dia bergerak maju dan berhenti tepat dua langkah di depan Zein.
"Jangan maju lagi, nanti kamu bisa hancur!" perintah Zein.
Rima tersenyum sambil menggeleng. Tangan kirinya terulur dan sedikit menyentuh lengan kanan Zein yang tidak tertutup.
Bau hangus seketika menyeruak. Buket bunga yang dipegang Rima di tangan kiri tiba-tiba terjatuh. Menggelinding dan berhenti tepat di kaki Zein.
Sejenak mereka saling bertatapan lagi. Secarik senyum menghiasi wajah Rima yang cantik. Zein membalasnya dengan senyuman juga.
Zein bisa merasakan kelembutan hati Rima dari tatapan mereka yang lekat. Seakan Rima mengalirkan hawa persahabatan padanya.
Rima sedikit mengangguk sebelum akhirnya berbalik, dan menghilang.
__ADS_1