
"Yul, lepasin. Jangan begini," ujar Zein sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Yulia.
Yulia semakin mengeratkan pelukannya, hingga membuat Zein merasa jengah.
"Yulia!" bentak Zein sambil menarik tangan wanita itu dari bahunya.
Zein bangkit berdiri dan melangkah menjauh. Mengambil jaket yang tadi dia letakkan di atas kursi teras. Menutup pintu kamar Yulia dan berlari menjauh.
Sesampainya di mobil Zein mengusap wajah dan rambut yang basah dengan tisu. Kemudian meletakkan kepala di atas setir.
Pria berambut cepak itu memejamkan mata dan mengatur napasnya agar lebih tenang.
Tangan kanannya memutar kunci dan menyalakan mobil, kemudian memasang sabuk pengaman. Zein mulai mengemudi dengan hati yang berkecamuk.
Sementara itu di dalam kamarnya, Yulia menangis di dalam selimut. Dia merutuki diri yang bertindak nekat seperti tadi.
"Aku cinta kamu, Bang. Sadar nggak sih!" jeritnya frustrasi.
***
Triska memandangi Zein yang sejak tadi bersikap aneh. Sepulangnya dari rumah Bu Wahyu, pria ini seolah tidak mau menjauh darinya.
Zein memejamkan mata dan menikmati belaian lembut di rambutnya. Dia sedang ingin bermanja-manja dengan wanita pujaan hatinya. Berbaring di atas pangkuan Triska.
"Abang, ada apa sih? Rada aneh hari ini," ujar Triska.
"Enggak kenapa-kenapa. Cuma pengen diginiin aja," sahut Zein.
"Hmm ... aku jadi curiga. Pasti ada sesuatu."
Zein bergeming. Dalam hati dia memuji kepekaan perasaan Triska. Wanita cantik ini seolah bisa membaca hatinya. Terkadang tanpa harus mengatakan apa pun, Triska seolah tahu tentang apa yang dipikirkan Zein.
"Kalo mau cerita, aku siap dengerin. Tapi kalo nggak mau cerita, aku mau ke kamar aja. Udah ngantuk nih," kata Triska sambil menguap.
Zein membalikkan tubuh ke kiri, membuka mata dan menatap Triska yang menunduk memandanginya.
Sejenak mereka saling bertatapan dalam diam, sebelum akhirnya Zein menceritakan peristiwa tadi sore di tempat kos Yulia.
Wajah Triska berubah memerah. Zein yang sudah paham dengan sikap kekasihnya ini, segera bangun dan duduk berhadapan dengan wanita berambut panjang itu.
"Kamu nggak marah?" tanya Zein. Dia sedikit bingung melihat Triska yang masih tetap diam.
"Marah? Jelas marah, dong! Pengen kuhajar aja itu cewek. Ganjen pisan!" sungutnya.
Secarik senyum terukir di wajah tampan Zein. Pria itu mengulurkan tangan kanan dan mengusap lengan Triska yang tampak masih emosi.
Wanita itu memasang tampang kecut dan melipat tangan di depan dada. Dia mendelik saat Zein mendekatkan wajah dan mengecup pipi kirinya dengan lembut.
__ADS_1
"Abang cintanya cuma sama kamu," ucap Zein mesra. Dia menempelkan hidung di pipi kekasihnya yang masih diam.
"Jangan deketin dia lagi! Kalo nggak bisa-bisa kulabrak dia nanti!"
Ancaman Triska tak ayal membuat Zein tersenyum. "Iya," lirihnya
Dia menggeser wajah dan mulai menyapukan bibir di sudut bibir Triska. Wanita itu tetap diam. Namun dari deru napasnya Zein tahu bila Triska sedikit tegang.
"Ehem ... ehem ...." Terdengar suara deheman dari pintu yang terbuka. Tak lama kemudian terdengar siulan Ivan yang berjalan menjauh.
Zein menjauh sedikit dari Triska. Mereka saling melirik sambil tersenyum simpul.
"Aku mau ke kamar aja. Daripada digodain mulu," ujar Triska sembari berdiri.
Zein ikut berdiri dan mengantar Triska hingga ke dalam kamar wanita itu.
"Abang sayang kamu, Ris. Cuma kamu," bisiknya di telinga kanan Triska yang tersenyum malu-malu.
Wanita itu menutup pintu dengan pelan. Berbalik dan menyandarkan tubuh pada pintu. Diam sejenak untuk menenangkan diri, sebelum dia beranjak masuk kamar mandi.
Zein memandangi pintu yang tertutup di depannya. Memasukkan tangan ke saku celana sembari tersenyum simpul.
Langkah kaki seseorang yang menuruni tangga mengalihkan perhatian Zein.
Seorang pria berperawakan sedang dengan rambut berponi yang disisir menyamping ke kanan, membalas tatapan Zein sambil menuruni anak tangga.
"Hai. Aku, Rey. Penghuni di atas," ujar pria bermata sipit dan berwajah halus terawat itu.
"Aku, Zein," sahut Zein.
Mereka berjabatan tangan sambil menilai lawan bicara.
Dari aura yang terpancar Zein bisa tahu bahwa Rey ini juga punya kemampuan yang sama dengannya. Hanya berbeda kekuatan. Rey mungkin sama tingkatannya dengan Satya.
Sementara itu Rey memandangi Zein dengan saksama. Dia terkesima saat menyadari Zein juga mempunyai indera keenam yang tajam.
"Mau berangkat kerja?" tanya Zein basa basi.
"Iya. Mari, aku udah telat," pamit Rey sambil melangkah menjauh.
Zein memperhatikan pria itu hingga menghilang dari pandangan. Kemudian dia beranjak masuk ke dalam kamarnya.
***
Eric duduk sendiri di teras belakang. Pandangannya menerawang. Dia sama sekali tidak menyadari bila seseorang sedang berjalan mendekat.
Rangkulan tangan halus di pundak, serta harum parfum yang sangat dikenalnya, membuat Eric tersenyum dan membiarkan Jessica menyiumi pipi kanannya.
__ADS_1
"Enggak kangen, ya, sama aku?" bisik wanita itu di telinga kanan Eric.
"Hmm. Enggak," jawab Eric. Dia langsung meringis saat mendapatkan cubitan di lengan kanan.
Jessica berpindah ke depan dan duduk di pangkuan Eric dengan santainya. Dia mengalungkan lengan kanan di leher pria itu. Kemudian menyandarkan kepala dan bergelung manja di pundak Eric.
Sejenak hening. Yang terdengar hanya helaan napas keduanya. Jessica menengadah dan memandangi wajah Eric dengan lekat.
"Ko," panggilnya.
"Hmm?"
"Sebenarnya, gimana sih perasaan Koko ke aku?"
Eric bergeming. Dia hanya menatap Jessica sambil mengernyitkan dahi.
"Kenapa nanya begitu?" tanyanya.
"Aku cuma ingin kepastian," jawab Jessica.
Eric mengalihkan pandangannya ke arah kolam di hadapan. Benaknya berusaha merangkai kata agar Jessica tidak tersinggung.
"Kita cuma teman, Jess. Jangan berharap lebih dari itu," jawab Eric setelah cukup lama berpikir.
Jessica menghela napas dan mengembuskannya dengan cepat. Walaupun dia sudah tahu akan jawaban Eric, namun tetap saja ada rasa kecewa di sudut hatinya.
Jessica melepaskan rangkulan dan turun dari pangkuan Eric. Dia mengusap pipi pria itu sebelum beranjak menjauh.
Wanita bertubuh langsing itu memasuki ruang tengah rumah. Meraih remote televisi dan menyalakan benda itu. Kemudian menghempaskan bokong ke sofa. Menyandarkan tubuh ke sandaran sofa dan memejamkan mata.
Dia paham, tidak seharusnya menitipkan perasaan. Namun sebagai manusia biasa, dia juga ingin merasa disayangi.
Tanpa disadari bulir bening mulai luruh dari sudut matanya. Jessica menyusut kasar air mata itu dengan punggung tangan.
Matanya mengerjap saat menyadari seseorang sedang memperhatikannya dari ambang pintu.
"Sudah cici bilang, Jess. Jangan libatkan perasaan," ujar Tasya sambil melangkah mendekat. Dengan hati-hati dia duduk di sofa, tepat di ujung kaki Jessica.
"Aku nggak cinta sama dia, Ci. Cuma ... sayang," lirih Jessica. Dia bangun dan duduk di sebelah Tasya. Menyandarkan kepala dengan manja di pundak wanita cantik itu.
"Sayang itu lambat laun akan berubah menjadi cinta. Dari sekarang lupakan rasa sayangmu. Anggap aja teman," ucap Tasya dengan pelan.
"Aku juga pengen nikah dan dicintai kayak Cici," lirih Jessica.
"Kalau begitu, cari pria lain. Jangan pernah berharap untuk bisa mendapatkan cintanya."
"Apa dia masih mencintai wanita itu?"
__ADS_1
"Iya, dan selamanya akan begitu. Siapa pun yang nantinya akan menikah dengan Eric, maka wanita itu hanya akan memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya," jelas Tasya.