Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Dua musuh


__ADS_3

Sorot sinar lampu sebuah mobil memasuki pekarangan rumah besar di atas bukit itu. Gesekan kerikil dengan ban mobil terdengar semakin dekat, dan akhirnya berhenti tepat di bawah kanopi teras rumah.


Beni membukakan pintu tengah mobil. Brian dan Tasya segera turun. Setelah berbasa basi sejenak mereka segera memasuki rumah.


Beberapa langkah kaki terdengar menaiki tangga menuju lantai dua. Kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar Amanda.


Kunci pintu dibuka dari luar. Kemudian suara langkah kaki seseorang terdengar menjauh.


"Amanda?" panggil seseorang dari pintu yang terbuka.


Hening. Amanda tidak menjawab panggilan itu.


"Ini Brian," ucap pria bertubuh tinggi besar sembari jalan memasuki kamar.


"Koko!" teriak Amanda yang langsung melompat dari tempat tidur dan menghambur ke dalam pelukan pria itu.


"Hai, Sayang," ucap Brian sambil menciumi pipi Amanda. Sejenak mereka saling tatap sebelum akhirnya berpelukan kembali.


"Kamu kurusan," ucap Brian. Tangannya tak henti mengelus punggung Amanda.


"Kurus karena kangen Koko," jawab Amanda.


"Hmm ... apa bukan karena gak dikasih makan Calvin?" canda Brian.


Terdengar tawa Amanda yang khas. Dia benar-benar senang bisa bertemu lagi dengan Kakak sepupunya ini.


"Yang kangen-kangenan nggak ngajak aku," celetuk Tasya dari arah pintu.


Amanda sontak melepaskan diri dari pelukan Brian, dan berlari ke arah wanita cantik itu. Memeluk Tasya dengan erat.


"Tuhan ini nggak adil, ya," tukas Amanda sembari melepaskan pelukan dan sedikit memundurkan tubuhnya.


"Nggak adil kenapa?" tanya Tasya.


"Cici ini udah tua, tapi masih tetap cantik."


"Bagian tuanya jangan diperjelas," sahut Tasya. Bibirnya melengkungkan senyum memandangi Amanda yang balas tersenyum juga.


"Udahan kan kangen-kangenannya? Sekarang, ayo, kita ke bawah. Aku lapar!" ajak Brian.


***


Suara obrolan beberapa orang di luar kamar membangunkan Ayu dari tidurnya.


Perempuan berkulit kuning langsat itu beringsut ke pinggir tempat tidur. Menjejakkan kakinya ke lantai dan berjalan masuk ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia sudah rapi dan bergegas keluar kamar.


"Ada apaan?" tanya Ayu ke teman-temannya.


"Mang Jaja, dikerjain lagi sama Rima," ujar Dinar yang berdiri menyandar ke dinding depan kamar.


"Terus gimana?" tanya Ayu lagi.


"Sawan tuh orangnya. Demam tinggi kata Bi Ai," jelas Tia yang duduk di dekat tiang penyangga.


"Kasihan," ucap Ayu.

__ADS_1


Sejenak hening. Kelima orang yang berada di situ sibuk dengan pikiran masing-masing.


Bunyi pintu depan yang terbuka sontak membuat kelimanya menoleh. Ary langsung tersenyum lebar dan menggosok-gosokkan tangan dengan semangat.


"Nih, sarapannya," ujar Chandra. Sebagai yang termuda di situ dia sering jadi andalan yang lain buat membelikan sarapan. Chandra juga tidak keberatan, karena dia bisa dapat jatah makan gratis.


"Triskanya mana? Tadi kan kalian berangkatnya sama-sama?" tanya Dinar.


"Teh Triska tadi nyangkut di tukang sayur," jawab Chandra dengan tampang polosnya.


"Dikata layangan?" goda Tia yang disambut tawa yang lainnya.


Chandra pun ikut-ikutan tertawa.


"Rame euy," ujar Zein yang baru keluar dari kamar. Dia menjemur handuk di jemuran kecil depan kamar. Kemudian berjalan mendekati teman-temannya.


Dinar mengulurkan gabus sintetis berisi bubur ayam dan sendok kepada Zein. Pria berambut cepak itu duduk bersila di sebelah Ary.


"Yang lain pada ke mana?" tanya Zein.


"Bang Hasni, Subuh tadi udah berangkat ke Purwakarta. Rama lagi ke tempat Winda. Ivan belum bangun. Triska nyangkut di tukang sayur," jawab Dinar dengan tersenyum lebar.


"Ha?" Zein melongo. Namun akhirnya dia tertawa setelah paham maksud perkataan Dinar.


Setelah mereka selesai makan barulah Triska datang. Di tangannya ada kantong plastik besar berisi aneka daging dan sayur mayur untuk tiga hari ke depan.


"Titip, Yu," ujar Triska sambil memberikan kantong itu ke tangan Ayu, yang segera membawanya ke kamar dan memasukkan kantong ke dalam kulkas.


Siang harinya, keempat koki perempuan dan asisten cuci piring Chandra bertugas dengan cepat di dapur.


Suara kendaraan memasuki halaman rumah mengusik rasa ingin tahu Satya. Dia yang kebetulan duduk paling dekat dengan pintu, melongokkan kepala keluar rumah.


"Ada Bu Wahyu datang," ujarnya.


Tak lama kemudian perempuan paruh baya itu masuk ke dalam rumah, dan tersenyum ke arah semua penghuni.


"Asiknya," ujar Bu Wahyu melihat aneka lauk yang terhidang.


"Ayo, Bu. Kita makan bareng," ajak Dinar.


"Nggak usah. Kalian aja. Ibu sudah makan," tolak Bu Wahyu dengan halus.


"Permisi," sapa seorang wanita yang memasuki ruangan.


"Hai. Sini, Jes. Teman-teman, perkenalkan. Ini Jessica. Calon penghuni baru kosan kita," jelas Dinar.


Ary yang paling pertama berdiri dan menyalami Jessica. Disusul Satya dan Chandra. Ivan dan Zein hanya melambaikan tangan, tak berani bersalaman langsung karena delikan mata kedua perempuan yang duduk di sebelah mereka.


"Halo. Salam kenal semua," Jessica tersenyum lebar sembari memandangi wajah penghuni kosan satu per satu.


Tatapannya berhenti sedikit lebih lama pada Zein yang balas memandanginya. Keduanya sama-sama memperlihatkan aura kekuatan masing-masing, sebelum akhirnya Jessica mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Selanjutnya Bu Wahyu mengantar Jessica ke lantai dua rumah. Memperlihatkan kondisi ketiga kamar yang sudah sembilan puluh persen selesai.


Kemudian mereka turun kembali dan langsung berpamitan pada penghuni lainnya.

__ADS_1


Jessica mengantar Bu Wahyu terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanannya kembali ke kantor.


Senyumnya mengembang mengingat sosok pria yang tadi sempat mengadu kekuatan dengannya.


"Sepertinya kali ini akan lebih seru," gumamnya sembari menggigit bibir bawah dan tersenyum. Gemas sendiri dengan jalan pikirannya yang sedikit kotor.


***


"Pokoknya jangan dekat-dekat!" tegas Triska. Dia duduk di kursi penumpang sambil melipat tangan di depan wajahnya.


"Iya, Sayang," jawab Zein seraya tersenyum kecil. Dia merasa geli melihat perempuan di sebelahnya ini tampak cemberut.


Zein tetap fokus menyetir. Jalanan kota Bandung di penghujung minggu seperti ini masih tetap ramai.


Sesampainya di hotel tujuan, Zein segera turun dan membukakan pintu untuk kekasihnya itu.


Triska menyambut uluran tangan Zein dan menggamit erat lengan pria kesayangan itu. Mereka melangkah bersama memasuki gedung hotel. Berbelok ke kiri dan masuk ke ruang tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan salah seorang teman kerja Zein.


Beberapa perempuan tampak berbisik-bisik saat melihat Triska. Seorang dari mereka lantas mendatangi Zein dan Triska yang sedang mengantri di sebuah stand makanan.


"Bang Zein," sapa perempuan berkulit putih itu.


"Hai, Yul."


"Baru datang?" tanya Yulia basa basi.


"Iya. Kamu?"


"Udah dari jam dua tadi. Bentar lagi mau pulang."


"Ooo iya. Perkenalkan, Ini Triska. Sayang, ini Yulia," Zein memperkenalkan kedua perempuan yang sama-sama berparas cantik tersebut.


Keduanya bersalaman sambil mengukur kemampuan lawan masing-masing. Zein yang merasakan aroma permusuhan di antara keduanya, segera menggamit lengan Triska, dan mengajaknya pergi dari situ setelah berpamitan pada Yulia.


"Cantik juga," ucap Triska setelah mereka menjauh.


Zein bergeming, pura-pura sibuk mengelap debu tak kasat mata di piring kecil yang dipegangnya


"Abang," panggil Triska.


"Hmm,"


"Yulia cantik, ya."


"Hmm."


"Kok cuma hmm hmm doang?" ketus Triska.


"Terus kamu maunya dijawab apa? Dijawab iya, ntar ngambek. Dijawab nggak, pasti ngambek juga kan," jelas Zein. Dia berusaha menahan senyum saat melihat Triska mendelik tajam.


"Kamu kenapa sih, Yang? Dari tadi marah mulu," tanya Zein sambil menggenggam tangan kekasihnya.


"Sial banget aku hari ini. Ketemu dua musuh," sahut Triska.


Zein mengangkat kedua alisnya dan memutar bola mata. Membuat Triska akhirnya tersenyum juga.

__ADS_1


__ADS_2