
Zein yang saat itu sedang mengobrol bersama yang lain tiba-tiba saja merasakan kontak batin dengan Satya.
Zein bangkit berdiri dan melangkah ke luar menuju teras paviliun. Ia menutup mata sambil membayangkan suasana kosan. Namun, tidak juga berhasil menemukan Satya.
Tangannya bergerak mengambil ponsel dari kantong celana, mengetuk layar dua kali untuk menyalakan ponsel. Menggeser jari mencari nomor kontak Satya.
"Ya, Bang?" tanya Satya dari seberang sana.
"Tadi manggil?" Zein bertanya balik.
"Iya. Ada masalah baru." Kemudian Satya mulai menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Zein mendengarkan sembari memijat pelipis yang mendadak pusing. Masalah Rima belum tuntas tapi sekarang muncul masalah baru.
Triska dan Ivan yang sejak tadi menguping obrolan Zein dan Satya, tampak saling berpandangan.
Setelah Zein menutup telepon, mereka bergegas mendekat dan ikut duduk di sebelah kanan dan kiri Zein di undakan tangga teras.
"Jadi hantunya ada dua?" tanya Ivan.
"Menurut Satya sih begitu," jawab Zein.
"Hmm. Berarti yang nongol di mimpiku tiga kali itu adalah hantu yang baru," gumam Ivan sambil mengelus janggutnya yang baru tumbuh.
"Mimpi? Kok kamu nggak pernah cerita?" selidik Triska.
"Kukira juga cuma mimpi kan. Bukan karena muncul hantu baru," sahut Ivan.
"Ehh, tapi yang waktu malam itu ganggu di atas tempat jemur itu Rima. Kata Satya sih gitu," lanjutnya.
"Namanya juga hantu, Van. Bisa menyerupai siapa pun," tukas Zein.
Yusran yang malam itu tidur di kamar bekas Rima, masih berdiri di pinggir jendela. Matanya memandangi paviliun yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Tadinya ia berniat untuk ikut bergabung dengan teman-teman Rima. Namun, karena rasa lelah di tubuh akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Pandangannya menerawang mengingat sosok sang adik yang ceria dan manja. Ia yang sering keluar kota akhirnya menjadi jarang bertemu dengan Rima.
Hal itulah yang pernah menjadi bahan perdebatannya dengan Rima, beberapa hari sebelum acara pernikahan.
__ADS_1
"Aa' mah gitu! Ingkar janji mulu!" rajuk Rima dari seberang telepon.
"Maaf atuh. Aa' kan cuma pegawai. Harus nurut sama bos," sahut Yusran seraya tersenyum. Walaupun ia tahu Rima tidak bisa melihat senyumnya tapi ia tidak peduli.
Mengobrol dengan adiknya itu selalu membuatnya rindu ingin bertemu. Ikatan batin antara mereka bertiga memang sangat kuat. Terkadang ia turut merasakan saat Fahmi sedang ada masalah.
"Enggak mau tahu. Pokoknya sehari sebelum acara nikah Aa' udah harus stand by di rumah!" perintah Rima.
"Siap, Ndoro Putri," ledek Yusran.
Sejenak hening. Tak lama kemudian terdengar suara tawa Rima.
Tawa yang ternyata menjadi tawa terakhir dari adik kesayangannya itu.
Yusran sekali lagi merutuki diri. Bahkan saat permintaan Rima untuk hadir lebih awal pun tidak bisa dia penuhi.
Kesibukannya yang luar biasa membuatnya baru tiba beberapa menit sebelum akad nikah dimulai.
Delikan mata Rima yang sudah duduk di sebelah Irwan, membuat Yusran hanya bisa tersenyum lebar.
Cubitan Siska di lengan kiri pun terpaksa dia terima karena datang terlambat. Kemudian semua mata fokus melihat kedua mempelai yang sedang mendengarkan khotbah nikah dengan serius.
Sontak suasana menjadi ricuh karena teriakan para tamu yang terkejut melihat beberapa orang dari kelompok itu membawa berbagai senjata tajam.
Tiba-tiba saja seorang pria berkulit putih mendorong tubuh Irwan, sambil mengeluarkan kata-kata dengan nada kasar dalam bahasa yang tidak dimengerti.
Yusran terlambat menyadari saat pria itu bergerak menarik pisau dari dalam jaket kulit yang ia kenakan. Dalam hitungan detik tiba-tiba saja Rima sudah bergerak maju dan menjadi tameng pria tersebut.
Tusukan pisau langsung menghunjam ke perut Rima seiring dengan jeritan adiknya yang memegangi perut.
Darah segar langsung mengucur dari baju Rima yang langsung berubah warna dari cempaka menjadi merah darah.
Pria bermata sipit itu menjerit dan menarik tubuh Rima ke dalam pelukannya. Namun, gerakannya terhenti karena lengannya ditarik beberapa orang pria yang mengikutinya.
Mereka bergegas menuju mobil dan langsung tancap gas menjauh dari tempat itu.
Irwan bergerak cepat mengangkat tubuh Rima dan membawanya ke mobil. Kang Fahmi langsung melajukan mobil ke rumah sakit terdekat.
Yusran berlari ke mobil miliknya diikuti ayah dan ibunya. Sedangkan Siska langsung tak sadarkan diri. Kakak iparnya yang saat itu sedang hamil muda langsung digotong para sepupu ke dalam rumah.
__ADS_1
Tidak ada yang berniat mengejar pelaku karena mereka sedang syok akibat peristiwa tadi.
Sesampainya di rumah sakit, Rima langsung ditangani dengan cepat. Kondisi tubuhnya yang sangat drop membuat dokter yang menangani tidak terlalu optimis.
Tusukan di perut menimbulkan kerusakan parah di organ dalam tubuh Rima.
Setelah dianggap kondisinya cukup stabil akhirnya Rima dipindahkan ke ruang perawatan vvip.
Akad nikah tetap dilaksanakan dalam suasana penuh haru di pagi hari itu. Wajah Rima yang pucat pasi tampak bahagia saat Irwan memasangkan cincin ke jari manisnya.
Kecupan lembut di dahi dan kedua pipinya membuat Rima menangis haru. Pelukan hangat kedua pasangan pengantin itu membuat semua yang hadir tidak mampu menahan tangis mereka.
Setelah tamu yang merupakan Uwa dan Paman serta Bibi di keluarga besar mereka pulang, Irwan meminta waktu untuk berbincang berdua dengan Rima.
Satu jam kemudian Irwan keluar ruang perawatan dan duduk dengan lesu di kursi sebelah Yusran di teras.
"Sepertinya Rima tidak akan bertahan, A'," lirih Irwan.
"Kenapa begitu?" tanya Yusran.
"Tadi dia berpamitan padaku," jawab Irwan. Bulir bening mengalir keluar dari kedua matanya yang tampak lelah.
Yusran merangkul pundak adik iparnya itu dengan perasaan yang campur aduk.
Jeritan panggilan Ibu dari dalam ruangan beberapa jam kemudian membuat semua orang di teras sontak berlari masuk.
Suasana berubah hening dan mencekam saat tim dokter bergegas melakukan berbagai tindakan untuk menyelamatkan nyawa Rima. Namun, semuanya gagal.
Isak tangis dan jeritan semua orang saling bersahutan dalam ruangan.
Irwan memeluk tubuh istrinya yang telah tak bernyawa dan meraung histeris. Yusran dan Fahmi berusaha menenangkan suami Rima tersebut. Walaupun mereka juga sama terpukulnya.
Air mata Yusran membanjiri pipi. Ia mengusapnya dengan cepat saat beradu pandang dengan Ayu yang saat itu berdiri di ujung teras paviliun.
Yusran membuka jendela besar yang menghubungkan kamar Rima dan paviliun saat melihat Ayu berjalan mendekatinya.
Pria bertubuh tinggi itu melangkahkan kaki ke luar kamar dan bertemu dengan Ayu, tepat di bawah pohon jambu merah yang menaungi kamar Rima.
"Aa', kenapa?" tanya Ayu. Dia merasa kasihan melihat pria yang wajahnya mirip dengan Rima itu berurai air mata.
__ADS_1
"Ehm ... tadi tiba-tiba keingat sama Rima," jawab Yusran sambil tersenyum, malu sudah tertangkap basah sedang menangis.