
Trrraaakkk.
Trrraaakkk.
Hasni yang masih bekerja di depan laptop, berusaha menajamkan pendengaran untuk memastikan suara dari luar rumah.
Trrraaakkk.
Trrraaakkk.
Pria dewasa itu membetulkan letak kacamata dengan ujung jarinya. Kemudian bangkit perlahan dari kursi dan melangkah menuju jendela.
Dia menyibakkan gorden yang menutupi jendela ke arah luar rumah. Tampak empat buah mobil masih terparkir rapi.
Sorot beberapa lampu yang dipasang memanjang di beberapa titik teras, serta tiga buah lampu di dekat pagar, masih tidak mampu membantunya untuk bisa melihat dengan jelas.
Beberapa menit menunggu, tapi suara itu tidak terdengar lagi. Akhirnya Hasni kembali lagi duduk di kursi dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Selesai!" ucapnya dengan lega. Dia merentangkan tangan, kemudian memutar leher beberapa kali untuk merelaksasi otot yang sempat kaku.
Hasni bangkit dari kursi dan beranjak masuk kamar mandi. Kemudian dia mematikan lampu kamar, dan hanya membiarkan lampu dari dapur kecil tetap menyala.
Pria berambut tebal itu berguling ke kanan. Menatap dinding sambil membaca doa tidur di dalam hati. Perlahan dia mulai terlena ke alam mimpi. Hingga tidak menyadari sesosok wanita berdiri di depan jendelanya.
Wanita itu beranjak masuk ke dalam mobil milik Ary, yang parkir paling belakang, tepat di samping mobil Rama.
Dia mematut diri di depan cermin sembari bersenandung lagu kegemaran.
Speaks softly love and hold me warm against your heart
I feel your words the tender trembling moments starts
We're in a world our very own
Sharing a love that only few had ever known
***
"Neng ... Neng ....!" panggil Irwan dalam tidurnya yang gelisah.
Pria bertubuh sedang itu tiba-tiba terbangun. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
"Aaarrrggghhh!" pekiknya frustrasi saat melihat bagian tengah celananya basah.
__ADS_1
Dengan bersungut-sungut dia bangkit dari kasur, membuka celana pendek yang dikenakan, dan melemparkannya ke dalam tempat pakaian kotor di sudut kamar.
Tangannya meraih handuk di gantungan dan melilitkannya ke tubuh. Dia berjalan dengan gontai ke luar kamar dan masuk ke kamar mandi di bagian belakang rumah.
Irwan mengguyur seluruh tubuh dengan air dingin, tak lupa untuk mensucikan diri. Setelah selesai dia langsung kembali lagi ke kamar. Berganti pakaian dan mengganti sprei dengan yang bersih.
Pria berkulit kecoklatan itu duduk di pinggir kasur. Tafakur menatap lantai dengan pikiran yang kalut.
Sudah beberapa kali dia mimpi basah seperti ini di tiga bulan terakhir. Benaknya penuh dengan berbagai pertanyaan. Apakah dia harus segera menikah kembali?
Irwan masih melamun hingga tidak menyadari sesosok bayangan duduk di sebelah kanannya. Saat hawa dingin itu menyentuh lengan, barulah Irwan sadar bila dia tidak sedang sendiri.
Pria berkumis tipis itu menoleh dan tersenyum saat mendapati istrinya telah hadir. Wanita cantik itu menggenggam tangan kanan Irwan, dan menyandarkan kepala di pundaknya dengan manja.
"Neng, akang kangen," ucap Irwan lembut. Dia membalas genggaman tangan wanita mungil itu dengan penuh rasa sayang.
Wanita itu hanya membalas dengan elusan di punggung tangan.
"Akang boleh nggak , minta izin untuk ... menikah lagi?" tanya Irwan dengan hati-hati.
Tiba-tiba Rima menjauhkan kepala dan memandangi suaminya dengan mata yang berembun. Bulir bening itu perlahan luruh. Semakin lama semakin deras.
Irwan menyusut air mata istrinya dengan jari dan menarik kepala wanita itu mendekat. Kecupan lembut mendarat di dahi Rima yang masih menangis.
"Akang nggak bisa begini terus, Sayang. Tolong, mengertilah," lanjut pria yang memiliki alis tebal itu dengan pelan.
Tangannya tak henti mengusap lengan sang istri yang masih tersedu. Irwan mendekatkan pipinya hingga menempel pada pipi Rima yang sangat dingin.
Dalam hatinya tidak ada rasa takut sama sekali. Dia justru senang bila Rima sering berkunjung, dan menemani malam-malamnya yang sepi.
"Akang masih cinta sama Neng. Enggak pernah berkurang sedikit pun. Dari dulu," ujar Irwan. Kecupan mendarat di pipi Rima. Lama pria itu menempelkan bibirnya, hingga akhirnya dia pun ikut menangis.
Rima mengubah posisi duduknya hingga wajah mereka sekarang berhadapan. Tangannya mengusap air mata di pipi pria yang dikasihinya itu dengan pelan.
"Akang boleh nikah lagi. Neng izinin, tapi dengan syarat," ucap Rima dengan suara yang berdengung.
"Apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh, ya," sahut Irwan.
Rima menggeleng sambil tersenyum.
"Enggak, Kang. Syaratnya enggak aneh," ujarnya.
Irwan mengangguk pelan. Dia sangat penasaran dengan syarat yang akan diajukan oleh istrinya.
__ADS_1
"Syaratnya, Akang harus menikahi wanita pilihan neng," ucap Rima.
Sejenak hening. Irwan berusaha menimbang-nimbang permintaan wanita terkasihnya tersebut, sebelum akhirnya dia mengangguk menyetujui.
***
Langit membiru dengan awan yang berarak pelan tertiup embusan angin dingin. Musim pancaroba seperti saat ini benar-benar menguji daya tahan tubuh manusia.
Sejak Subuh tadi suara bersin terdengar sambung-menyambung dari beberapa kamar di rumah kosan.
Di kamarnya, Dinar sedang menyusut hidungnya dengan tisu. Sejak kemarin dia sudah merasa tidak enak badan, hingga memutuskan untuk izin dari kantor hari ini dan beristirahat di rumah.
Tuk, tuk, tuk.
Terdengar ketukan dari pintu depan. Dengan langkah pelan Dinar berjalan dan membuka pintu.
"Mbak, enggak kerja?" tanya Ayu.
"Enggak. Masih demam, Yu," jawab Dinar.
Tangan Ayu terangkat menyentuh dahi Dinar yang terasa panas.
"Istirahat aja, Mbak," ujar Ayu sambil menuntun Dinar kembali ke kamar.
Triska yang baru turun dari tempat jemuran di atas, melongok ke dalam kamar saat melihat pintunya terbuka.
"Mbak Dinar, kunaon?" tanya Triska sambil melangkah masuk. Dia duduk di pinggir tempat tidur, tepat di depan Ayu.
"Demam. Dua hari yang lalu aku pulang hujan-hujanan," jawab Dinar sembari memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Aduh. Kasian. Ya udah. Mbak istirahat aja. Nanti kubelikan bubur, ya," sahut Triska sambil berdiri. Dia berjalan keluar kamar dan nyaris bertabrakan dengan Jessica.
"Baru pulang?" tanya Triska basa basi.
"Iya," jawab Jessica pendek. Dia langsung berlalu dan menaiki anak tangga.
Triska memperhatikan sejenak sampai wanita itu menghilang dari pandangan. Kemudian dia melangkah masuk ke kamar, mengambil dompet dan langsung menuju pintu depan. Membuka pintu yang tertutup dan berjalan ke luar dari rumah.
Lapak bubur ayam hari ini cukup ramai pelanggan, hingga Triska harus menunggu lebih dari dua puluh menit untuk dilayani. Setelahnya dia bergegas pulang dan berpapasan dengan Ary yang sedang termenung di depan pintu mobil yang terbuka.
"Kenapa, Ry?" tanya Triska.
"Ehm, ini, Teh. Mobilku kok jadi banyak bunga, ya?" Ary balik bertanya dengan raut wajah yang bingung.
__ADS_1