Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Pelukan Yulia


__ADS_3

Jaja tetap memilih berada di tengah antara Supri dan Idim. Saat melewati rumah kosan dia sama sekali tidak mau melihat ke kiri. Pandangannya tetap mengarah ke depan.


Sesampainya di saung, akhirnya Jaja bisa bernapas lega. Dia berpindah ke bagian kanan saung, hendak membuang hajat di selokan.


Jaja bergegas menuntaskan hajat saat mendengar suara Idim yang mengatakan hendak pulang dulu ke rumahnya sebentar.


"Aku ikut!" teriaknya sambil mengejar Idim yang tadi melintas di belakangnya.


"Dim! Tungguan atuh!" teriak Jaja sambil terus berjalan lebih cepat.


"Aneh si Idim teh. Naha' cepat pisan jalanna?" gumam Jaja.


(Kenapa cepat banget jalannya?)


Tak lama kemudian akhirnya Jaja bisa menyamai langkah Idim yang melambat. Dia menoleh ke arah Idim yang menatap lurus ke depan.


"Dim, kamu sakit? Itu muka pucat pisan?" tanya Jaja. Dia merasa bingung. Padahal tadi waktu jalan bertiga wajah Idim biasa-biasa saja.


Tiba-tiba Jaja merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia mengusap belakang leher sambil melihat sekeliling, tapi tetap tidak menemukan sosok hantu.


Jaja baru tersadar saat menyadari Idim yang berbelok lagi ke arah taman. Pria bermata bulat besar itu langsung naik ke atas ayunan, dan mulai bernyanyi lagu berbahasa Inggris, yang sebelumnya pernah didengar oleh Jaja.


Dengan tubuh yang mulai gemetaran Jaja pun memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju saung. Keringat dingin yang membasahi tubuhnya membuat dia merasa jalannya menjadi sangat lambat.


Jaja mencoba memanggil beberapa orang yang terlihat berkerumun di dekat saung, tapi tenggorokannya tersekat. Suara yang keluar dari bibirnya pun hanya terdengar lirih.


"Kunaon, Ja? Meni basah kuyup kitu?" tanya Supri.


(Kenapa, Ja? Sampai basah kuyup begitu?)


Sontak semua orang memandangi Jaja yang masih berjalan lambat.


Mata para pria itu membulat sempurna, saat menyadari ada mahluk lain yang mengikuti Jaja.


Mahluk itu dengan santainya menaiki punggung Jaja dan bergelayut di situ.


Seraut wajah yang menyeramkan tampak melongok dari pundak Jaja.


Para pria itu mundur satu per satu, kemudian balik kanan dan berlari sekencang-kencangnya ke arah jalan utama. Kemudian berpencar menuju rumah masing-masing.

__ADS_1


Jaja yang ditinggal sendirian hanya bisa pasrah saat tubuhnya limbung dan ambruk ke tanah. Sekali lagi. Dia pingsan.


***


Keesokan harinya, untuk kesekian kalinya komplek heboh karena peristiwa semalam.


Bi Ai yang datang pagi-pagi langsung menggedor pintu kamar Dinar, hingga mengagetkan penghuni lainnya.


"Kunaon, Bi?" tanya Ayu sambil jalan ke teras.


"Jaja pingsan deui," jawab Bi Ai dengan napas yang tersengal.


"Mang Jaja? Kenapa?" tanya Dinar yang baru saja membuka pintu.


"Ngeliat hantu deui ceunah!" jelas Bi Ai dengan mata membulat.


(Melihat hantu lagi katanya!)


"Hantu? Rima lagi?" tanya Ivan sambil menggaruk rambutnya.


"Enggak tahu. Pokoknya mah cewek ceunah. Serem pisan," jelas Bi Ai.


Suara beberapa orang dari luar rumah mengalihkan perhatian mereka.


"Assalamualaikum. Punten, A'. Saya dari pengurus RT. Mau bicara dengan penghuni kosan sini," ujar seorang pria dewasa dengan kumis tipis melintang di atas bibirnya.


"Waalaikumsalam. Mangga, Pak. Silakan masuk. Sebentar, ya. Saya hamparin dulu karpetnya," sahut Zein sambil menarik karpet yang digulung di pojok ruangan.


Ayu bergegas membantu Zein menghamparkan karpet. Sedangkan Dinar mengetuk pintu kamar Hasni dan Rama.


Setelah para penghuni lain keluar dan ikut duduk bersama di atas karpet, akhirnya bapak-bapak tadi mulai menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke sini.


"Jadi gitu, Akang-akang. Bapak cuma menyampaikan saja permintaan warga. Agar rumah ini dirukiah untuk mengusir hantu yang sering mengganggu ketenangan warga," ucap pria dewasa itu yang memperkenalkan diri sebagai Pak Umar.


Para penghuni kosan berpandangan satu sama lain. Sebelum akhirnya semua memandangi Rama dan Hasni. Sebagai penghuni senior mereka berharap kedua pria itu bisa memberi solusi.


"Sebelumnya mohon maaf dari kami semua kepada bapak-bapak di sini. Mungkin hantu yang disebutkan berasal dari pohon mangga itulah yang menyebabkan keresahan di sini," ujar Hasni membuka pembicaraan.


"Akan tetapi, mohon maaf, Pak. Di sini kami hanya penghuni kosan. Yang berhak untuk mengadakan rukiah itu adalah bu Wahyu selaku pemilik kosan," lanjut Hasni.

__ADS_1


"Permintaan bapak-bapak akan kami sampaikan ke beliau secepatnya. Semoga beliau mau melakukan rukiah kembali. Karena sebetulnya kami sudah pernah melakukan rukiah itu dulu, dan mungkin sekarang memang harus diulangi lagi," sela Rama yang mendapat anggukan persetujuan teman-temannya.


***


Sore itu Zein berlari ke arah mobil, dengan menutupi kepalanya menggunakan tas kerja. Hujan lebat yang mengguyur sejak satu jam yang lalu, membuatnya nekat menembus hujan, karena sudah telanjur berjanji dengan teman-teman kosan. Mereka akan pergi ke rumah bu Wahyu setelah Magrib nanti.


Saat Zein melintas di depan lobby, dia melihat Yulia sedang berdiri sendirian dengan ponsel di tangan.


Zein membuka kaca mobil dan berteriak memanggil Yulia. Wanita itu menengadah dan berteriak pula membalas omongan Zein.


Pria gagah itu memberikan kode dengan tangan agar Yulia masuk ke dalam mobil.


Wanita itu melepas sepatu yang dikenakan dan berlari ke mobil. Saat sampai bagian atas bajunya yang tipis tampak basah terkena air hujan.


"Pakai ini," ujar Zein sambil mengulurkan jasnya.


Yulia meraih jas itu dan mengenakannya dengan tangan yang bergetar. Dia merapikan rambut yang basah dengan jemari.


Zein perlahan mulai menjalankan mobil keluar parkiran. Berusaha untuk fokus melihat jalan di tengah lebatnya hujan. Sesekali dia melirik ke Yulia yang tampak sibuk menggosok-gosokkan tangannya.


Sesampainya di depan kosan, Zein bergegas turun dengan memakai jaket sebagai pelindung kepala. Dalam hati dia merutuki diri, selalu lupa untuk memasukkan payung kembali ke dalam mobil setelah dipakai.


Setelah Yulia turun, mereka berjalan berdampingan ke kamar Yulia.


"Masuk dulu, Bang," ajak wanita cantik itu.


Zein berpikir sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar, dengan membiarkan pintu tetap terbuka.


Yulia bergegas membuka lemari, mengambil baju ganti dan berlari masuk kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan tubuh yang masih gemetaran.


Zein yang tidak tega melihat wanita itu kedinginan, segera meraih selimut di atas kasur, dan menyelimuti Yulia sambil menuntunnya ke arah kasur.


Wanita itu berbaring sambil menutup mata. Mencoba menghangatkan dirinya dengan bergelung di dalam selimut.


Zein hanya terdiam dan bingung hendak melakukan apa. Nalurinya berkata bahwa dia bisa membantu Yulia, dengan memeluknya agar tetap hangat.


Namun, di sisi lain dia merasa tidak enak. Bagaimana pun mereka hanya sebatas teman kerja.


Yulia menarik tangan kiri Zein dan menempelkan wajahnya yang dingin ke punggung tangan pria itu.

__ADS_1


Zein tidak sanggup menolak dan membiarkan wanita itu terus menggenggam tangannya.


Tiba-tiba Yulia menarik tangan Zein dengan kencang, sehingga pria itu kehilangan keseimbangan, dan jatuh menimpa tubuh Yulia yang langsung memeluknya dengan erat.


__ADS_2