
"Bang Hasni," ucap Tia yang melihat Hasni berjalan masuk ke dalam rumah.
"Abang sakit?" tanya Dinar sembari mendekat.
Hasni menggeleng, tapi dari wajahnya yang pucat pasi membuat Dinar dan Tia saling beradu pandang.
Pria berkacamata itu melangkah pelan ke kamar Ivan. Menyeruak masuk ke dalam kamar Ivan setelah melewati Chandra, Triska dan Ayu yang memandanginya dengan bingung.
Satya yang melihat Hasni masuk, merasakan ada aura aneh memancar dari tubuh Hasni.
"Bang ...." ucapan Satya terputus saat tiba-tiba bayangan berwarna putih melesat keluar dari tubuh Hasni, dan langsung mengarah ke hantu Malika.
Bbbrrruuukkk!
Tubuh Hasni ambruk ke lantai. Chandra dan keempat wanita segera menarik dan mengangkat tubuh Hasni menjauh, masuk ke dalam kamar Dinar.
"Awas!" teriak Zein sambil menarik lengan Ivan untuk menjauh dari tempat tidur.
Mata Zein membelalak memandangi tempat tidur Ivan. Demikian pula dengan Satya yang tidak menyadari bila mulutnya membuka.
Adegan perkelahian antara dua makhluk tak kasat mata membuat Ivan, Rama dan Ary sangat penasaran.
Mereka hanya mendengar suara jeritan wanita, namun tidak melihat kejadiannya.
"Ada apa? Siapa yang berantem?" tanya Ivan. Dia benar-benar sangat penasaran.
"Malika dan ... Rima," jawab Zein. Pandangannya tidak lepas dari tempat tidur Ivan.
"Aku mau lihat!" pinta Ivan.
"Yakin?" tanya Zein.
"Iya," jawab Ivan.
"Aku juga," pinta Ary dan Rama berbarengan.
Zein mengangguk. Kemudian mulutnya menggumamkan bacaan doa khusus. Menempelkan jari jempol sebelah kanan tepat di antara kedua alis Ivan. Hal yang sama juga dilakukannya pada Rama dan Ary.
🦉
Sebuah pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Dua orang pria terlihat berjalan santai menuju bagian imigrasi.
"Welcome to Indonesia, Sir," ucap petugas bertubuh tinggi tersebut pada kedua pria yang mengangguk sopan.
Kedua pria yang mengenakan jas panjang berwarna hitam itu meneruskan langkah kaki mereka menuju pintu keluar terminal tiga bandara.
Seorang pria bertubuh sedang, menyambut kedatangan mereka di pintu keluar.
__ADS_1
"Selamat datang kembali, Bos," ucap pria penyambut sembari bersalaman dengan membungkukkan badan ke arah pria yang dipanggil bos.
"Calvin di mana?" tanya si bos. Tangannya bergerak membuka jas, melepaskan jas tersebut dan memberikannya pada pria yang berada di belakangnya.
"Pak Calvin menunggu di dalam mobil," jawab pria pendek.
"Ayo, kita segera pergi dari sini," ucap si bos sembari melangkahkan kaki menjauh dari pintu keluar.
Pria pendek meraih ponsel dari saku jaket dan menelepon seseorang. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat pintu keluar.
Ketiga pria itu langsung memasuki mobil, selanjutnya mobil pun melaju meninggalkan bandara. Membelah langit ibukota yang seolah tidak pernah terlelap.
"Apa kabar, Bos?" tanya sang supir yang tak lain adalah Calvin.
"Cukup baik. Kabar kalian gimana?" si bos bertanya balik.
"Kabar baik juga, Bos," jawab Calvin.
"Amanda, apa dia pernah berusaha untuk kabur lagi?" tanya si bos.
Calvin menoleh sekilas pada pria pendek yang duduk di sebelahnya, sebelum akhirnya menjawab,"Enggak, Bos."
Si bos memundurkan kursi yang didudukimya ke belakang. Dia melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. Mencoba untuk tidur.
"Vin, nanti berhenti di restoran itu, ya," pinta pria pengiring si bos.
"Aku juga dong, Pak Rey," ucap pria pendek.
"Tenang. Semua dibeliin kok," tukas Rey.
Pria bertubuh sedang itu melepaskan jas dari tubuhnya. Melipat jas miliknya dan milik bos, kemudian memasukkannya ke dalam tas travel miliknya.
Mobil hitam tersebut menepi dan berhenti di sebuah restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam.
Si bos membuka matanya saat menyadari bahwa mobil sedang berhenti.
"Kita pesan makanan dulu, Bos," terang Rey saat melihat bos-nya menoleh padanya.
"Jangan lupa, buat Amanda," sahut bos.
"Siap! Sudah dipesan buat sepuluh orang," tukas Rey.
Si bos manggut-manggut. Dia menyandarkan punggung kembali ke kursi. Memiringkan wajah ke arah kanan dan mencoba untuk tidur kembali.
Beberapa menit kemudian mobil pun bergerak meninggalkan restoran. Jalanan yang cukup lengang membuat laju mobil bisa ditambah hingga kecepatan maksimal menuju daerah perbukitan.
"Bos, kita sudah sampai," ucap Rey sambil menepuk lengan bos-nya.
__ADS_1
Pria bercambang lebat tersebut sejenak mengerjapkan mata, membiasakan diri untuk melihat dalam suasana remang-remang di tempat ini.
"Lampu terasnya harus diganti, Rey. Tambahkan juga beberapa lampu di jalan masuk. Buat suasana yang nyaman dan senormal mungkin di sini. Agar penduduk sekitar tidak curiga," ujar bos sambil turun dari mobil.
"Siap!" jawab Rey.
Ketiga pria penjaga segera keluar dari dalam rumah untuk menyambut kedatangan bos mereka. Setelah obrolan basa basi mereka semua masuk ke dalam rumah.
Krrriiieeettt.
Bunyi pintu kamar yang terbuka membuat Amanda tersentak kaget. Dua sosok pria tampak berdiri di ambang pintu.
Seorang pria melangkah mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya terulur ke tangan Amanda yang segera menepis kasar.
"Kamu lupa sama aku?" tanya pria itu dengan suara lembut yang sangat dikenal Amanda.
"Koko Rey?" Amanda balik bertanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah orang.
"Ya. Aku, Rey," jawab Rey tetap dengan suara lembut.
Pria yang berada di pintu berbalik dan beranjak pergi tanpa menutup pintu. Dalam hatinya ada rasa sakit melihat pemandangan tadi.
Calvin memasuki kamar di lorong sebelah kiri lantai dua rumah besar ini. Dia menghempaskan bokong ke atas kasur single yang berada di dekat jendela.
Tangannya bergerak meremas rambut. Giginya gemeletuk menahan amarah. Perasaan cemburu itu kembali datang menghampiri.
Susah payah dia bersikap baik pada Amanda selama tiga bulan terakhir. Namun, tetap saja gadis itu tidak melupakan sosok Rey.
Si bos membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur di dalam kamar kedua di lantai satu, yang terletak di bagian belakang rumah besar tersebut.
Pandangannya menerawang, mengingat sosok wanita yang selama ini selalu dicintainya.
Pundaknya mulai berguncang saat tangisannya semakin mengencang.
Susah payah dia menghentikan tangisan, tapi air matanya tetap saja mengalir deras.
Di dunia sindikat, nama dan sosoknya selalu membuat takut dan segan para lawan. Namun bila di dunia cinta, dia akan selalu kalah oleh tangisan dan deraian air mata.
Ingatannya melayang pada beberapa bulan sebelum dia menjadi buronan.
Rasa cintanya pada seorang wanita cantik yang mungil dan ceria, membuatnya buta dan nyaris saja tertangkap.
Namun berkat bantuan Rey dan Calvin, serta beberapa sahabat setia, akhirnya dia bisa kabur ke luar negeri.
Satu tahun dia bersembunyi di negara tetangga, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Akhirnya sekarang dia bisa kembali ke sini. Tentu saja dengan identitas palsu.
Dia nekat kembali, untuk menuntaskan misinya yang tertunda dulu. Sekaligus untuk melenyapkan pria yang sangat dia benci. Karena pria ini maka dia harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai.
__ADS_1