Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Rima ingin pindah


__ADS_3

62 (Tamat)


Ketujuh orang pria dan empat perempuan itu menatap rumah kosan yang pernah mereka tempati dengan hati yang sedih. Pemandangan di hadapan membuat bulir bening perlahan mulai luruh.


Ivan dan Ary, terduduk di depan garis kuning, menatap nanar pada kamar bekas mereka yang kondisinya paling parah dibandingkan kamar yang lainnya.


Saat petugas kepolisian mengizinkan agar empat orang penghuni boleh memasuki rumah tempat kejadian perkara, Ivan dan Ary tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Demikian pula dengan Satya dan Zein.


Mereka melangkahkan kaki dengan hati-hati agar tidak merusak barang bukti. Zein berbicara dengan petugas yang sedang mencatat. Ary menuju bekas kamarnya dan tertegun saat melihat kondisi kamar yang hancur pada bagian depannya. Sedangkan bagian belakang hanya sedikit berantakan.


Demikian pula dengan Ivan. Dia berjongkok dan mengambil gambar di beberapa tempat di bekas kamarnya. Kemudian segera keluar karena takut bagian lantai atas akan runtuh.


Satya mengambil beberapa barang miliknya dan Chandra yang masih tertinggal, tentu saja setelah diizinkan petugas.


"Ledakannya berjenis daya ledak rendah. Tapi karena meledak di dapur, menyambar ke tabung gas, jadilah ledakan ini menghancurkan sebagian dari belakang rumah. Sedangkan bagian lainnya hanya memecahkan kaca dan menjatuhkan barang-barang ringan seperti gorden atau jam dinding. Selebihnya bangunan ini masih bisa ditempati setelah diperbaiki," jelas petugas polisi yang berpangkat AKBP pada para penghuni kos.


"Terima kasih atas penjelasannya, Pak," ucap Rama.


Setelah petugas polisi itu pergi, mereka semua bergerak ke luar area rumah kosan, dan jalan masuk ke gang kecil di dekat warung nasi, untuk mendatangi rumah Bi Ai yang terletak di kawasan kampung belakang komplek.


Perempuan paruh baya itu menyambut kedatangan mereka dengan isak tangis yang memilukan. Dia memeluk Dinar dan teman-teman secara bergantian.


"Jadi, gimana, Bi, mau ikut kerja dengan kami?" tanya Ayu.


"Masalah ongkos ojek, nanti kami yang bayar. Bibi tinggal datang dan bekerja seperti biasa," tukas Dinar.


"Kan nggak jauh dari sini, Bi. Cuma jarak beberapa kilometer. Mau, ya, Bi?!" pujuk Tia yang mendapat anggukan persetujuan dari yang lainnya.


"Iya, deh. Bibi mau," jawab Bi Ai yang langsung disambut dengan pelukan oleh keempat perempuan itu.


Selanjutnya mereka beranjak pulang ke rumah pengungsian sementara dengan menumpang pada dua mobil milik Zein dan Rama.


"Aku kok mikirnya, mereka membiarkan kita pindah dulu, baru meledakkan rumah," ucap Ivan yang menjadi supir di mobil Zein.


"Itu juga hasil analisa ayahnya Hana dan anak buahnya. Karena gini, kalo mereka memang berniat membunuh kita, mungkin pas mereka pindah di pagi hari itu, bom langsung ditaro di dapur. Diatur timer agar meledak saat kita di rumah. Bukannya diledakkan saat kita baru saja beres memindahkan barang-barang," sahut Zein yang duduk di sebelah Ivan.


"Hmmm. Sepertinya kita harus menjenguk Rey dan Kris. Mungkin mereka tahu sesuatu," usul Ary yang duduk di kursi paling belakang bersama Satya.


"Nanti aja. Kita urus pindahan dulu. Sebetulnya aku betah tinggal di rumah kang Firman. Tapi jaraknya terlalu jauh dengan kantor. Ribet," celetuk Tia yang duduk bersama Triska di kursi bagian tengah.


Para pria pun menyetujui usulan Tia. Mereka melanjutkan obrolan dengan bahan pembicaraan yang lain.


***


Sosok perempuan yang mengenakan baju pengantin berwarna cempaka itu berjalan pelan mengitari rumah yang tampak sepi.


Empat orang petugas polisi yang menjaga tempat ini tampak sedang beristirahat sambil bersenda gurau dengan para pria yang sedang ronda.


Rima berhenti di depan kamar yang pernah ditempati. Menembus pintu dan masuk ke dalam kamar. Matanya menerawang memandangi plafon kamar yang runtuh di bagian depan. Kaca jendela yang pecah berhamburan ke mana-mana.


Perempuan berwajah manis itu menarik kursi yang tidak pernah berpindah tempat. Dari dulu kursi itu selalu ada di dapur kecil. Dan dia menggunakan benda itu untuk menjadi tempat transfer energi, sehingga dia bisa selalu berada di sini.


Brrraaakkk!

__ADS_1


Rima membenturkan kursi itu ke dinding pembatas kamar. Dia duduk di atas benda itu dan mulai bernyanyi lagu favoritnya, sambil menyisir rambut panjangnya yang kusut.


Setelah selesai bernyanyi, perempuan itu berdiri dan memandangi sekeliling ruangan. Menyimpan semua memori akan tempat ini, sebelum melayang menembus pintu dan berkeliling di dalam rumah. Memasuki setiap ruangan sambil bernyanyi lirih.


Gerakannya terhenti di depan jendela kamar bekas Zein. Dari jendela yang kacanya pecah itu dia melihat sebuah mobil yang melintas pelan di depan rumah. Entah kenapa dia masih bertahan di tempat saat mobil itu berputar dan melewati rumah kembali dengan pelan.


Rima melayang terbang dan mengejar mobil itu. Memaksa masuk dan duduk di kursi tengah. Matanya bersirobok dengan sepasang mata sipit milik Tasya. Di kursi pengemudi tampak Brian tetap fokus menyetir.


"Kita ketemu lagi," sapa Tasya.


Rima bergeming. Dia mulai mengerti tentang siapa sebenarnya yang telah memasang bom di rumah itu.


"Kenapa?" Satu kalimat tanya meluncur dari bibir Rima.


"Ini cara kami untuk melindungi kalian dari anggota sindikat yang lain. Ini juga ide dari Rey. Dengan syarat agar tidak ada yang menjadi korban dari peristiwa ini," jawab Tasya.


"Sebetulnya, bila menuruti perintah Eric, teman-temanmu mungkin sudah mati sejak beberapa hari yang lalu. Tapi tidak kami lakukan, karena mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan kami," sela Brian.


"Dengan peristiwa ini, yang Eric tahu bahwa teman-temanmu telah mati. Setelah ini mereka akan aman. Ini perjanjian yang kami lakukan untuk menukar kebebasan Rey dan Kris dari penjara. Dan Eric juga tidak tahu akan hal ini," sambung Tasya.


"Kepada pemilik rumah juga sudah kami berikan uang pengganti biaya kerusakan. Agar dia bisa membangun rumah itu kembali," lanjut Brian.


"Kami hanya minta agar teman-temanmu tidak ikut campur lebih jauh dalam urusan ini," sela Tasya.


"Lalu, bagaimana denganku? Apa kalian akan terus melindungi koko? Bagaimanapun dia harus bertanggung jawab atas kematianku!" tegas Rima.


Sejenak hening. Tasya tetap memandangi Rima tanpa rasa takut sedikit pun. "Bersabarlah sedikit lagi. Bila tugasnya di kelompok kami sudah selesai, dia akan menyerahkan diri. Itu janjinya kepadaku, kamu bisa memegang perkataanku," jelas Tasya. Kemudian perempuan yang sedang hamil itu membalikkan tubuhnya ke depan. Berdiam diri sampai akhirnya mobil itu berhenti di dekat taman komplek.


Rima melayang turun dan memandangi mobil itu menghilang di kegelapan malam. Kemudian dia menghilang, meninggalkan asap putih pekat di tengah jalan.


***


"Nginap di sini kan?" tanya Triska pada Zein yang sedang duduk di teras rumah.


"Iya. Tadi udah numpang naro ransel di kamarnya Rama," jawab pria tampan itu sambil menyesap minumannya.


"Abang, berangkatnya nggak bisa diundur lagi?" tanya perempuan cantik itu dengan suara yang bergetar.


"Nggak bisa, Sayang. Itu juga udah nambah libur beberapa hari. Cuti tambahan karena abang mau berkunjung ke suatu tempat dulu,"jawab Zein dengan mengulum senyum. Dia sengaja tidak memberitahukan rencana untuk mendatangi rumah orang tua Triska. Biarlah itu menjadi rahasia antara dirinya dan para penghuni rumah kontrakan lainnya.


Triska menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai berembun. Namun, semua yang ditahannya akhirnya tumpah di pundak Zein yang merangkulnya dari samping kanan. Tangan pria itu mengusap pundak kekasihnya. Meletakkan kepalanya di atas kepala Triska. Tetap diam dan memberikan waktu agar Triska bisa puas menangis.


Hari-hari selanjutnya berlalu dengan sangat cepat buat Triska. Setiap Zein berpamitan untuk pulang ke kosannya setelah mengantarkannya pulang, Triska hanya mampu tersenyum sambil menahan pedih dalam hati. Menumpahkan semua kesedihan di kamarnya. Menangis pilu sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


Sabtu pagi, tiba-tiba saja Rama mengajak Triska dan teman-teman untuk bertamasya. Tentu saja ajakan tersebut disambut baik oleh semua penghuni itu. Mereka segera bersiap-siap. Setelah semuanya selesai mereka pun berangkat, bersama Satya dan Chandra yang duduk di kursi belakang.


"Kita mau ke mana sih? Kok ini arahnya ke Sukabumi?" tanya Triska dengan bingung.


"Emang mau ke Sukabumi, Sayang. Kami mau main ke rumahmu," jawab Rama dengan santai.


"Mas, jawab yang jujur. Ada apa sebenarnya?" Triska memajukan tubuhnya ke bagian tengah mobil. Dia mendengkus kesal saat Rama tidak menjawab pertanyaannya dan hanya tersenyum simpul. Membuatnya semakin bingung saat yang lainnya juga bertingkah yang sama dengan Rama.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Triska lebih terkejut lagi tatkala menyadari semua keluarganya telah berkumpul. Ditambah lagi dengan kehadiran Zein, Adi dan Firman, serta kedua orang tua Firman dan sepasang suami istri yang pernah diperkenalkan padanya beberapa waktu lalu. Yaitu Om Hermawan dan Tante Ratih.

__ADS_1


Teman-teman kosnya pun turut hadir, termasuk Hasni yang datang bersama calon istrinya.


"Kaget, ya?" tanya Zein sambil menarik tangan Triska dan mengajaknya untuk duduk bersama di sofa ruang tamu.


"Iya. Ada apa sebenarnya ini? Apa aku lagi kena prank?" Triska balik bertanya.


"Sebetulnya, kedatangan abang ke sini adalah untuk melamar kamu secara langsung. Nah, Ayah sama Ibu memang menerima lamaran abang, tapi abang ingin dengar jawaban langsung dari kamu," jelas Zein sambil berlutut dengan satu kaki. Tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dari saku celana, dan mengulurkan benda itu ke hadapan Triska yang sontak menutup mulutnya dengan tangan.


"Triska, Sayang. Would you marry me?" tanya Zein sembari membuka kotak perhiasan kecil dan memperlihatkan isinya pada perempuan terkasih.


Triska terdiam untuk beberapa saat. Dia mengalihkan pandangan pada kedua orang tuanya, yang balik memandangnya seraya mengangguk pelan.


"Buruan atuh jawabnya. Kaki abang pegal nih," bisik Zein yang membuat Triska tersadar.


Perempuan itu memandangi wajah pria yang sangat dicintainya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan dia mengangguk sambil berkata,"Yes, i doo."


Zein nyaris saja menghambur untuk memeluk Triska, tapi untuk saat ini dia hanya bisa menahan rasa untuk merangkul kekasihnya itu, dan hanya mampu berucap,"Alhamdulillah. Makasih, ya."


Triska yang masih tertegun menjawabnya dengan senyuman lebar dan genggaman tangan yang erat. Keduanya saling beradu pandang sesaat, sebelum akhirnya Zein memasangkan cincin itu di jari manis tangan sebelah kiri Triska, yang mendadak jadi tersipu malu.


Suitan dan tawa teman-teman akhirnya menyadarkan kedua sejoli itu akan situasi saat ini. Selanjutnya Zein duduk kembali, dan mereka memulai pembicaraan mengenai acara lamaran sekaligus akad nikah, yang akan dilaksanakan dalam waktu yang berdekatan. Hal ini dilakukan agar keluarga besar Zein yang akan datang dari Riau, tidak perlu bolak balik. Tentu saja ini juga akan menekan biaya tiket pesawat yang menghabiskan cukup banyak dana.


***


Rima memandangi teman-temannya yang sedang bersenda gurau di teras rumah orang tua Triska. Canda tawa mereka terdengar hingga pagar depan rumah, serta ke pohon jambu air di mana Rima sedang duduk bersandar.


Ada rasa ingin bergabung dengan mereka, tapi dia takut nanti mereka akan takut melihat sosoknya.


Malam yang semakin larut membuat para pria yang sedang berkumpul itu membubarkan diri, dan beranjak meninggalkan rumah untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Yang tertinggal hanya para perempuan yang menginap di rumah itu.


Zein merebahkan tubuh di kasur single di kamar hotel. Tangannya dilipat di belakang kepala. Benaknya sibuk dengan berbagai pemikiran, hingga tidak menyadari bahwa Rima telah duduk di kursi yang berada tepat di bawah jendela.


"Hadeuh. Ngapain ke sini?" tanya Zein. Dia menoleh ke kanan untuk memastikan bahwa Rama sudah tertidur.


"Aku kok nggak diajakin ?" sungut Rima.


"Nggak usah diajak juga udah nongol sendiri," sahut Zein sambil duduk.


"Bang, aku udah nggak mau tinggal di kosan. Nggak ada kalian rumah itu jadi sepi dan nggak asyik lagi," ujar Rima.


Zein bergeming, dalam hati dia merasa was-was dengan kalimat yang mungkin akan diucapkan oleh Rima selanjutnya.


"Aku mau pindah, dan ikut sama Abang!" tegas Rima dengan senyuman yang melebar. Tidak peduli Zein yang menggerutu sembari mengusap wajah dengan tangan.


"Kenapa nggak ikut sama Irwan? Atau ikut tinggal bersama teman teman di kontrakan?" keluh pria berambut cepak itu dengan lelah.


"Enggak mau! Aku maunya ikut Abang. Titik. Enggak pake koma!" Rima tetap bersikeras. Hingga akhirnya Zein menggendikkan bahu pertanda menyerah.


Hantu wanita itu kembali tersenyum lebar dan bertepuk tangan dengan riang. Dia sudah tidak sabar ingin pindah ke tempat baru. Bersama sahabat manusia yang sangat mengerti tentang dirinya.


***


Hai readers yang kece. Cerita ini tamat sampai di sini dulu, ya. Terima kasih sudah berkunjung dan menjadi pembaca setia cerita ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak sopan atau menyinggung, karena hal itu tidak disengaja.

__ADS_1


Sampai ketemu di cerita lainnya.


Rima, Zein, Triska dan teman-teman pamit undur diri.


__ADS_2