
Mata Zein menyisir setiap sudut halaman. Mencoba memastikan sosok samar di bawah pohon mangga.
"Abang, mau ke mana?" tanya Triska saat Zein bergerak melepaskan genggaman tangan dan berbalik menuju pintu.
"Ke depan," jawabnya singkat.
"Aku ikut," ujar Triska sambil mendekat.
"Enggak usah. Kamu di sini aja."
"Pokoknya ikut!"
"Abang bilang jangan itu kudu nurut!" tegas Zein. Dia tersenyum saat melihat wajah Triska merengut.
"Di sana itu bahaya, Sayang. Takutnya kamu nggak kuat, bisa kerasukan kayak Ayu waktu itu," jelas Zein.
"Kalo di sana Abang kenapa-napa, gimana?" tanya Triska dengan raut wajah cemas.
"Abang nggak bakal kenapa-napa. Ehm ... gini aja. Kamu bangunin para cowok. Minta Satya nyusul abang ke luar. Yang lain tetap nunggu di garasi. Oke?"
Triska mengangguk, tidak mau berdebat lagi.
Dia hanya bisa pasrah saat Zein membuka kunci pintu depan dan melangkah ke luar rumah.
Sementara Zein ke depan, Triska berlari ke kamar Satya dan langsung menggedor pintu dengan sekuat tenaga.
"Aduh, ada apa, Mbak?" tanya Satya sambil membukakan pintu. Rambutnya tampak sama kusutnya dengan wajahnya.
"Bang Zein minta kamu nyusul ke depan,"ujar Triska dengan wajah yang pucat.
Satya terdiam sejenak sebelum akhirnya segera keluar kamar.
Chandra yang ikut terbangun dan hendak mengikuti Satya, terhenti sejenak saat tangannya ditarik Triska.
"Bantu bangunin Ivan," ujar Triska.
Chandra mengangguk dan segera berlari menyeberangi taman. Mengetok kamar Ivan dengan semangat sampai pria itu keluar.
"Nanaonan gedor pintu jiga kitu?!" hardik Ivan sambil mengucek mata.
(Apa-apaan gedor pintu kaya' gitu?!)
"Ngomelnya nanti aja, Van! Buruan ke depan!" sergah Triska sambil melotot.
Ivan yang melihat Triska begitu, sempat berpandangan dulu dengan Chandra, sebelum akhirnya mereka bergegas menuju garasi.
Sementara itu Ary dan Tia yang terbangun karena mendengar suara ribut-ribut, segera ikut ke luar.
Mereka berlima berhenti di teras rumah. Hanya bisa memandangi apa yang sedang dilakukan Zein dan Satya di bawah pohon mangga.
"Bang," panggil Satya ke Zein yang sedang berdiri dengan jarak tiga meter dari bangku di bawah pohon mangga.
Zein menoleh dan meletakkan ujung jari ke bibirnya. Meminta agar Satya berhenti bicara.
Suara nyanyian itu masih terdengar. Kian lama kian kencang, seiring dengan kemunculan sosok perempuan di bawah pohon mangga.
__ADS_1
"Rima?" panggil Zein ke sosok yang membelakanginya tersebut.
Sosok itu tetap diam. Namun nyanyiannya terhenti.
"Rima, kalau ada yang mau kamu sampaikan, aku siap mendengarkan," ujar Zein sembari maju satu langkah.
Di belakangnya Satya ikut maju, hingga jaraknya hanya berada sekitar satu meter dari Zein.
"Rima," panggil Zein lagi dengan nada yang lebih lembut.
Perlahan sosok itu berbalik Wajahnya terlihat pucat dengan sorot mata yang sedih.
"Apa yang mau kamu sampaikan?" Zein bertanya ulang. Dia sengaja melembutkan suara untuk membuat Rima bisa percaya padanya.
"A-man-da," suara Rima terdengar aneh dan berdengung.
"Amanda? Kenapa dengan dia?" tanya Zein sembari maju sedikit.
"Tolong ... dia," jawab Rima.
"Aku tidak tahu di mana dia, lalu bagaimana aku bisa menolongnya?" Zein semakin dekat dengan Rima.
Sejenak mereka saling bertatapan sebelum akhirnya kesadaran Zein menghilang.
Triska berteriak saat melihat tubuh Zein ambruk ke tanah. Dengan cepat mereka berlari menuju pohon mangga. Satya sedang memangku kepala Zein di atas pahanya.
"Abang! Abang! Bangunnn!" teriak Triska sambil menepuk-nepuk pipi Zein.
Satya menangkap tangan Triska dan menatapnya dengan tajam. "Abang nggak kenapa-napa. Dia sedang berada di lorong waktu," ujar Satya.
"Beneran. Percaya deh. Abang bakal balik lagi!" tegas Satya.
Triska terdiam. Menghela napas dan mengembuskan perlahan.
Saat yang lain membantu Satya untuk mengangkat tubuh Zein yang seolah sedang tidur itu, Triska hanya mampu menatap dengan sorot mata kebingungan.
"Ayo, Ris. Kita tunggu di sana," ajak Tia sambil menggandeng tangan Triska menuju teras.
***
Brrruuukkk!
Zein terlempar keluar dari lorong yang gelap. Kumparan hitam yang tadi menyedot dirinya ke dalam perlahan mulai menghilang.
Zein bangkit berdiri. Kemudian memandangi sekeliling tempat ini dengan penuh tanda tanya.
"Zein," suara panggilan seorang wanita membuat Zein berbalik.
Rima berdiri dengan jarak sekitar lima meter darinya. Sosoknya tampak berbeda. Lebih ceria dibandingkan yang tadi.
"Rima, Ini di mana?" tanya Zein.
"Ini tempat Amanda diasingkan oleh pihak keluarganya," jawab Rima sembari maju dua langkah.
"Kenapa diasingkan?"
__ADS_1
"Karena Amanda dianggap gila. Padahal sebetulnya tidak. Amanda hanya dibungkam, agar keberadaan Eric tidak diketahui," jelas Rima.
Dia semakin maju ke arah Zein, dan berhenti tepat di sebelah kiri Zein yang sudah berbalik kembali ke arah semula.
Di depan mereka tampak sebuah bangunan dua lantai yang terkesan kaku dan sedikit menyeramkan.
Zein menoleh ke Rima yang membalas pandangannya dengan secarik senyum.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Rima.
"Gimana ngebantunya?" tanya Zein.
"Bebaskan dia dari sini. Setelah itu baru kita bisa mencari Eric," jawab Rima sambil menoleh kembali ke rumah tersebut.
Zein beralih memandangi sekitar. Mencoba menyimpan memori tempat ini di dalam otaknya.
Tiba-tiba tangan Rima yang dingin menarik lengan Zein ke arah pohon besar di dekat mereka berdiri.
Zein yang hendak protes akhirnya mengurungkan niatnya, saat melihat dua orang pria terlihat keluar dari pintu besar bercat putih di bagian depan rumah.
Kedua pria itu berpencar, satu orang berjalan ke arah kanan. Sementara satu orang lagi berjalan ke arah kiri.
Mereka berjalan ke depan rumah dengan kepala yang bergerak ke sana dan ke sini.
Zein diam tak bergerak saat pria yang agak pendek tampak berjalan mendekati tempatnya bersembunyi.
Napasnya nyaris terhenti saat pria itu berdiri dengan jarak dua meter di depannya.
Klleeetttaaakkk.
Suara dari arah lain membuat pria pendek itu mengalihkan pandangannya, dan bergegas menuju asal suara tersebut. Demikian juga pria yang satu lagi.
Melihat kesempatan itu Zein perlahan berpindah ke tembok sebelah kiri rumah dengan merundukkan badan sembari berlari.
Dari tembok ini sosoknya menjadi tidak terlihat oleh kedua pria tersebut.
Zein memberanikan diri mengintip melalui pintu besar yang masih terbuka.
Di dalam ruangan ini minim perabotan. Hanya ada satu buah sofa dan sebuah meja di sebelah kanan sofa.
Zein mengayunkan langkah kaki memasuki ruangan lain dalam rumah itu.
Telinganya menangkap suara televisi dari sebuah pintu yang terbuka sedikit, tepat di sebuah ruangan yang berada di dinding sebelah kanannya.
Sambil menengok ke belakang untuk memastikan kedua pria itu masih belum kembali, perlahan Zein maju ke pintu itu dan mengintip ke dalam.
"Amanda nggak ada di situ," bisik Rima yang tiba-tiba sudah berada di sebelah kirinya.
Tangan Rima menunjuk ke atas. Zein mengangguk mengerti.
Dengan cepat Zein berlari ke arah tangga dan menaikinya hingga ke lantai dua.
Kondisinya lebih sepi dibanding di bawah.
Ada dua buah pintu di lorong sebelah kanan. Dan satu buah pintu di sebelah kiri.
__ADS_1
Rima menunjuk ke pintu pertama di sebelah kanan, Zein dengan cepat bergerak ke sana.