
Rombongan itu turun dari mobil secara bergantian. Mereka berjalan mendekati seorang pria muda yang tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.
"Ayo, masuk. Karin, Nani dan Hasni sudah ada di dalam," ajak Irwan pada rombongan. Mereka berjalan bersama memasuki rumah.
Perabot sudah dipindahkan ke ruangan lain. Ruang tamu terlihat semakin besar dan luas.
Karin dan Nani menyambut kedatangan teman-temannya dengan pekikan heboh. Memeluk semuanya sambil mencium pipi kanan dan kiri. Kemudian, menarik lengan para perempuan ke sudut ruang tamu untuk melanjutkan obrolan.
Sedangkan para pria duduk berkumpul di bagian depan ruang tamu.
"Kapan nyampe, Bang?" tanya Zein kepada Hasni.
"Kira-kira satu jam yang lalu. Mampir jemput Karin dan Nani dulu yang udah nginap di rumah Karin sejak kemarin," jawab Hasni.
Seorang pria muda dengan wajah yang sangat mirip dengan Rima tampak keluar dari ruang tengah rumah. Ia berjalan menghampiri para tamu dan langsung menyalami mereka satu per satu.
"Apa kabar semuanya? Perkenalkan. Saya Yusran, kakak kedua Rima," ujar pria berambut cepak itu memperkenalkan diri. Kemudian ia duduk di sebelah Irwan.
Obrolan mereka pun berlanjut. Dengan pelan Zein mengungkapkan fakta tentang adanya informasi keberadaan Amanda dan keluarga di Singapura.
"Kalau udah ada informasi akuratnya, aku akan segera ke sana," ujar Yusran. Pria gagah yang berprofesi sebagai seorang trainer di sebuah sekolah kepribadian di Jakarta ini tampak sangat bersemangat mendengar cerita Zein.
"Iya, Kang. Nanti kita sama-sama ke sananya. Doain aja biar segera dipastikan keberadaan mereka," sahut Zein.
Yusran manggut-manggut. Ia memperhatikan semua tamu yang duduk bersila di hadapannya. Mereka semua adalah teman-teman adiknya yang tanpa singkat membantu mengungkap misteri kematian yang belum terselesaikan oleh pihak kepolisian.
Padahal mereka kebanyakan adalah orang-orang baru di kosan Bu Wahyu. Tidak pernah bertemu muka dengan adiknya. Malah kerap diganggu oleh hantu yang menyerupai sosok sang adik.
"Tamunya diajak istirahat di dalam kamar, A'," ujar ayahnya Yusran yang baru keluar dari ruang makan.
"Sampai lupa. Ayo, kita istirahat dulu di paviliun. Acaranya baru dimulai ba'da Asar," ajak Yusran. Dia kemudian bangkit berdiri, sejenak terdiam sambil menggoyangkan engkel kaki untuk melemaskan kaki yang kesemutan. Tawanya pecah saat melihat semua orang juga melakukan hal yang sama.
***
Sementara itu di rumah kosan, Ary sedang mengetik laptop di atas kasur sambil tengkurap.
__ADS_1
Di ujung kasur ada Emak Chubie sedang tidur melingkar dengan nyenyaknya.
Suasana di luar benar-benar sepi. Kamarnya yang terletak paling ujung membuatnya tidak bisa mendengar suara apa pun dari luar.
"Aduh, laper," lirihnya. Sejenak matanya melihat ke ujung laptop, ternyata sudah siang.
Dengan enggan akhirnya dia bangkit dan duduk di kasur sebelum akhirnya beringsut ke pinggir.
Ia berdiri dan melangkahkan kaki dengan gontai keluar kamar. Beberapa langkah menuju dapur di seberang kamar, tepat di ujung taman kosan.
Tangan kanannya bergerak membuka laci meja dapur, mengeluarkan dua bungkus mie instan dan sebutir telur. Mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air. Kemudian merebus mie dan telur.
Sambil menunggu mie matang, ia pun duduk di lantai teras depan kamarnya.
Suara pagar yang dibuka membuatnya menoleh. Beberapa menit menunggu tapi tidak ada yang masuk dari pintu depan.
Terdorong rasa ingin tahu akhirnya ia berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu depan rumah. Mengintip sejenak ke taman sebelum membuka pintu yang ternyata terkunci.
Matanya menangkap sesosok manusia yang berlari keluar pagar dan menaiki motor kemudian pergi dari situ.
Matanya menyipit saat melihat sebuah buket bunga yang cukup besar di bawah pohon mangga. Ia bergegas menuju pohon, berjongkok dan mengambil buket itu dengan tangan kanan.
Dahinya mengernyit saat berpikir ini buket bunga kedua yang diletakkan di sini oleh seseorang. Entah buat siapa buket itu karena tidak ada nama penerima buket.
Ary bangkit perlahan dan beranjak menjauhi pohon, kembali lagi ke dalam rumah saat teringat dengan mie yang sedang direbus.
"Hadeuh. Meni kembang kieu," keluhnya saat melihat mie yang membesar dua kali lipat dari bentuk asli. (Jadi kembang begini)
Dengan cepat ia mematikan kompor dan menuangkan mie ke dalam mangkuk yang sudah dia persiapkan sejak tadi.
Sambil menunggu mie agak dingin, Ary meraih toples dari dalam lemari gantung. Mengecek kerupuk di dalam toples sebelum mengeluarkan beberapa isinya ke dalam piring. Dalam hati ia berniat mengajak Satya dan Chandra berbelanja ke mini market nanti karena stok mie dan telur sudah menipis.
Ia duduk lagi di teras depan kamar dan mulai menyantap mie dengan lahap. Emak Chubie yang sudah bangun mendusel-dusel di kaki, meminta untuk dibelai.
"Ntar, ya, Mak. Aku makan dulu," ucap Ary sembari terus menyuap mie.
__ADS_1
Tiba-tiba matanya menangkap sekelebat bayangan dari pintu depan yang masih terbuka. Sontak ia berhenti mengunyah, meletakkan mangkuk di atas lantai dan bangun berdiri. Kemudian berjalan mendekati pintu.
Sesampainya di depan ia celingukan melihat sekeliling. Seketika bulu romanya berdiri saat merasa ada hawa dingin dari depan pintu kamar Triska.
Dia berbalik dan memandangi sekeliling tempat parkir, namun tak jua melihat penampakan yang membuat ia merinding.
"Hmm. Mau bertamu itu yang sopan atuh. Jangan nyelonong doang," omelnya.
Hening. Yang terdengar hanya gema suaranya sendiri. Ary membiarkan pintu depan terbuka, kembali ke teras depan kamar untuk mengambil mangkuk.
Emak Chubie sudah berdiri, telinganya tampak tegak mencuat. Pandangannya terarah ke depan kamar Ayu.
"Ada apa, Mak?" tanya Ary. Kucing abu belang hitam itu tetap bergeming.
Ary duduk bersila dan melanjutkan memakan mie yang sudah mengembang sempurna.
Matanya memandangi setiap sudut rumah dengan waspada.
Setelah selesai makan ia segera bangkit dari duduk, berdiri dan melangkah menuju dapur. Mencuci mangkuk, sendok dan panci bekas ia pakai tadi.
Tangan kanan bergerak mengambil gelas dari rak piring dan menuangkan air dari teko di atas meja dapur.
Gggggrrrrrr.
Gggggrrrrrr.
Geraman Emak yang sudah berubah posisi memandangi pintu kamar Satya membuat Ary merinding lagi.
Perlahan ia mendekat dan mengangkat Emak ke dalam gendongannnya. Kucing itu masih menggeram.
Tiba-tiba Ary menangkap sesosok wanita yang berdiri membelakanginya. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna broken white dengan hiasan renda menjuntai panjang hingga lantai.
Sepersekian detik Ary terpaku memandangi sosok itu tanpa melakukan apa pun.
Kemudian, sosok itu merubah arah tubuhnya, miring ke kiri dan melayang pelan menuju kamar Ayu. Diam sejenak di depan pintu kamar sebelum akhirnya menghilang.
__ADS_1