Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Dekapan


__ADS_3

"Ke tempat Amanda? Gimana caranya?" tanya Ary sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.


"Minta tolong sama Rima," jawab Zein.


"Kalau kita pergi semua, terus siapa nanti yang bakal narik kita lagi?" tanya Chandra.


"Hmm ... berarti Satya harus tinggal. Diganti yang lain. Nggak bisa aku kalau sendiri. Penjaganya banyak," jelas Zein.


"Aku aja yang ikut," tukas Rama dari samping kiri.


Sontak saja semua kepala menoleh ke arahnya.


"Amanda mungkin lebih percaya untuk ikut bila ada aku," sambung Rama sambil jalan mendekat.


"Betul. Memang lebih baik begitu," sela Zein yang mendapat anggukan dari yang lainnya.


***


Kkrrriiieeettt.


Pintu kamar terbuka. Amanda mengintip dari celah selimut yang dikenakannya.


"Nda," panggil Calvin.


"Hmm?" jawab Amanda.


Calvin bergerak mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Besok pagi aku mau ke Bandung. Mau dibawain apa?" tanya Calvin.


"Bolen pisang dan bolu kukus."


"Itu aja?"


"Iya. Pengennya cuma itu."


"Ok. Ehm ... kamu baik-baik di sini, ya. Karena besok cuma ada empat orang di sini. Jangan berani keluar. Bahaya!" tegas Calvin.


Amanda bangkit perlahan dan memandangi Calvin dengan serius. "Koko Eric juga ikut?" tanyanya.


Calvin mengangguk.


"Apa nggak bahaya? Di sana mungkin banyak yang mengenalinya."


"Di bandara aja lolos. Berarti di Bandung juga aman."


Amanda terdiam lagi. Benaknya sibuk bertanya-tanya.


"Besok Brian akan datang dari Taiwan," sambung Calvin.


"Sama Cici Tasya?"


"Ya."


Kemudian Calvin berdiri dan berjalan ke pintu. Berhenti sejenak di ambang pintu dan berbalik memandangi Amanda.

__ADS_1


"Nda," panggilnya lagi.


"Ya?" jawab Amanda.


"Aku ... cinta kamu!" tegas Calvin.


***


Zein dan Rama berjalan paling depan. Ary dan Chandra mengikuti di belakang. Ivan, Triska dan Satya menyusul paling belakang.


Rima masih berdiri di dekat kamar Triska. Pandangannya beralih dari jendela saat melihat Zein dan Rama keluar dari pintu depan.


"Rima," panggil Zein pelan.


Rima bergeming. Memandangi orang-orang yang berada di depannya dengan sorot mata dingin.


"Rima di mana, Zein?" bisik Rama.


"Di depan jendela Triska," jawab Zein. Dia lupa membuka mata batin teman-temannya tadi.


"Rima, apa kamu bisa membawa kami ke tempat Amanda?" tanya Zein.


Tiba-tiba Rima melayang maju dan berhenti dengan jarak satu meter dari Zein yang berdiri paling depan.


Dia memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri sambil terus memandangi Zein dengan lekat. "Tidak bisa," lirihnya.


"Kenapa?" tanya Zein. Berusaha tetap menampilkan wajah tenang, walaupun sebetulnya dia sedikit ngeri berada terlalu dekat begini, karena Rima sekarang menampakkan sosok asli yang mengerikan.


"Karena rumah itu dilindungi ilmu batin yang sulit ditembus lagi," jelas Rima.


"Waktu itu kita bisa ke sana," ucap Zein.


"Dia siapa?" tanya Zein dan Satya berbarengan.


Rima beralih memperhatikan Satya yang maju selangkah.


"Koko," jawab Rima.


"Eric?" Zein dan Satya saling pandang. Hingga tidak menyadari Rima melangkah maju dan menyeruak di antara tubuh keduanya.


Tangan Rima terulur menyentuh bahu Rama yang tiba-tiba merinding. Hawa dingin terasa menyelimuti tubuhnya. Membuat Rama terdiam dan tidak mampu bergerak.


"Mas," lirih suara seorang perempuan terdengar dari depan tubuhnya.


Rama memandangi Zein dan Satya yang sudah berbalik ke arahnya.


"Itu Rima," jelas Zein sambil mengangkat dagu seperti menunjuk sesuatu.


Rama yang tidak bisa melihat hanya bisa pasrah. Merasakan ada yang menempel di tubuhnya.


"Rima meluk kamu," lanjut Zein.


Rama mengangguk. Kemudian hawa dingin itu menghilang tiba-tiba. Membuat tubuh Rama seakan tertarik ke depan. Zein langsung mencekal lengannya agar Rama tidak ikut terbawa.


"Dia sudah pergi," jelas Zein.

__ADS_1


Ketujuh orang itu duduk membentuk lingkaran di garasi. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.


"Kamu tidur di kamar abang aja, ya," ucap Zein ke Triska yang duduk bertopang dagu di sebelah kanannya.


"Jangan mau, Ris. Zein modus," seloroh Ivan yang membuat Triska tersenyum.


"Maksudnya tukeran kamar, borokokok!" sahut Zein sambil meninju lengan Ivan yang duduk di sebelah kirinya.


"Lebih bagus lagi kalian tukeran kamar secara permanen. Agar kamu nggak ketakutan lagi, Ris," sela Rama.


"Ide bagus. Gimana, Yang?" tanya Zein.


"Boleh. Pindahan baju aja deh, sama barang-barang penting lainnya. Aku males kudu pindahin semua perabot. Capek," jawab Triska.


"Oke. Besok kita pindah. Dan kalian semua harus bantuin!" tegas Zein ke teman-temannya.


"Siap! Jangan lupa nasi padangnya," sahut Ary sambil menunjukkan otot lengannya.


"Sama pizza!" sambung Ivan yang langsung mendapatkan lemparan sandal dari Triska.


Malam yang semakin larut membuat mereka semua akhirnya berpencar memasuki kamar masing-masing.


Zein mengantar Triska ke kamarnya. Setelah wanita itu mengambil bantal, ponsel dan pengisi daya, mereka keluar menuju kamar Zein.


Emak Chubie sudah meringkuk mapan di atas kasur Zein. Triska memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar dia tertegun melihat Zein yang sedang mengganti baju kausnya.


Tubuh kekar dan atletis pria itu membuat Triska ingin menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Dan berdiam di sana sampai mereka tertidur.


"Lihat apaan?" tanya Zein sambil memandangi Triska yang masih berdiri di ambang pintu.


Triska menundukkan kepala dan menggeleng pelan. Dia merasa malu tertangkap basah memperhatikan pria pemilik hatinya tersebut. Semburat merah di wajahnya membuat Zein tersenyum.


Pria itu melangkah maju dan berhenti tepat di depan Triska. Mempersempit jarak mereka dengan pelukan hangat.


Triska memejamkan mata menikmati dekapan kekasihnya. Kecupan lembut mendarat di puncak kepalanya.


"Mau terus pelukan gini atau mau tidur?" tanya Zein pelan di telinga kiri Triska.


Perempuan cantik itu sontak memundurkan tubuh. Membuat jarak mereka sedikit menjauh. "Dia yang meluk tapi dia juga yang nanya. Aneh!" sungutnya.


Zein tersenyum lebar. Mengelus lengan Triska dengan lembut. Matanya menatap Triska dengan lekat sembari berujar,"Kalo pelukan terus ntar kebablasan."


Triska langsung mencubit lengan Zein dengan gemas. Pria itu tertawa sambil menjauh. Berlalu pergi sembari menutup pintu kamar. Triska bergerak mengunci pintu. Kemudian segera berjalan ke tempat tidur.


Merebahkan diri dengan posisi menyamping ke kiri. Tangannya mengusap bantal di sebelahnya. Aroma parfum Zein masih tertinggal di situ.


Perlahan dia menutup mata dan tertidur dengan cepat.


***


Pria itu memandangi halaman belakang villa dengan pandangan menerawang. Sesekali dia menyesap minuman dari gelas sloki yang dipegangnya.


Sesosok bayangan samar tampak berdiri di bawah pohon kamboja jepang. Sosok itu perlahan mendekat dan berhenti dengan jarak beberapa langkah dari pria itu.


Mata mereka saling beradu pandang. Gelas sloki jatuh dari pegangan saat pria itu membuka pintu kaca penghubung kamar dengan teras belakang.

__ADS_1


Dia berjalan mendekati sosok itu, dan mengulurkan kedua tangannya yang bergetar.


"Rima, aku kangen!" ucap Eric.


__ADS_2