Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Tarikan Selimut


__ADS_3

Rey yang sedang lari ke teras tiba-tiba saja jatuh terjerembap ke lantai yang keras.


Umpatan dalam bahasa leluhur mengalir keluar dari bibir tipisnya. Dia tidak bisa bangun karena Rima menduduki tubuh dan mencengkram pundaknya dengan kencang.


Pria itu berusaha untuk membalikkan tubuh. Setelah berhasil dia menarik rambut panjang Rima.


Wanita itu melawan dengan meninju wajah Rey hingga pria itu tersentak ke belakang dan kepalanya membentur lantai.


"Aduh! Udah, Rima. Udah!" hardik Rey sambil melepaskan rambut Rima dan berganti mencekal pergelangan tangannya.


"Kamu ngapain di sini?! Jangan ganggu teman-temanku!" teriak Rima. Dia berusaha keras melepaskan cekalan tangan Rey. Namun, semakin kuat dia berontak cekalan itu semakin kuat.


"Bukan urusanmu!" balas Rey.


"Tentu saja ini urusanku. Mereka teman-temanku. Dan ini rumahku!" tegas Rima.


Matanya masih melotot. Rey mendadak melepaskan cekalan tangan saat menyadari kuku Rima yang memanjang.


Rima berdiri dan mundur selangkah. Matanya masih mengawasi gerakan Rey yang mencoba untuk berdiri.


Pria itu mengusap pundaknya, bekas cengkraman Rima terasa pedih.


"Aku tidak akan menyakiti mereka. Percayalah," pujuk Rey. Dia mencoba mengganti siasat. Berbicara dengan lembut kepada wanita. Keahlian yang dipelajarinya dari ayah tiri dan juga Eric.


"Aku tidak percaya! Kamu dan koko sama-sama jahat!" tegas Rima. Wanita itu mengangkat dagu, seolah menantang Rey untuk berkelahi lagi.


"Aku tidak jahat. Hanya akan kejam dengan musuh saja," jawab Rey tetap dengan suara yang tenang.


Rima terdiam dan terus memandangi wajah Rey. Mencoba mencari kesungguhan dari ucapan pria itu.


"Jangan coba-coba mengganggu mereka. Atau aku akan menyeretmu untuk ikut mati gentayangan!" ancam Rima dengan sorot mata dingin.


Perlahan tubuhnya memudar, dan menghilang di balik asap tebal. Meninggalkan Rey yang masih termangu di teras rumah.


***


Hawa dingin yang menyentuh kakinya membuat Zein terbangun. Dia membuka mata dan menghela napas kesal, ketika melihat Rima duduk di pinggir kasur sambil menarik ujung selimutnya.


"Apaan sih? Ganggu pisan!" hardik Zein.


"Bangun. Buruan! Aku mau ngomong. Penting banget!" sahut Rima.


Zein bergeming dan pura-pura menutup mata. Mencoba mengabaikan Rima.


Sentuhan di pipi membuatnya sontak membuka mata kembali. Mendengkus kasar saat melihat Rima yang menyeringai puas.


"Besok aja ngobrolnya. Sekarang aku ngantuk banget!" tegas Zein sambil mendelik.


Rima bukannya takut, tapi dia malah beringsut mendekat sambil memegang lengan Zein.


"Rima!" bentak Zein. Pria itu akhirnya benar-benar bangun dan duduk tegak. Mengusap wajah lelahnya sambil menguap.

__ADS_1


"Aku nggak bakal pergi sebelum kamu dengar omonganku!" tegas Rima.


"Iya, deh. Iya. Mau ngomong apaan?" sahut pria berkulit kuning langsat itu dengan gemas.


"Rey. Dia ... komplotannya koko Eric." Ucapan Rima membuat Zein terperangah. Dia menggeleng pelan sambil meremas rambut cepaknya yang mulai memanjang.


"Yakin?"


"Yakin banget. Di mobilnya ada tongkat dengan ukiran kepala kuda di ujungnya. Itu simbol kelompok mereka," jelas Rima.


Mereka saling berpandangan dalam diam. Larut dalam pikiran masing-masing.


"Nanti kuhubungi pamanku. Agar intelnya bisa menangkap Rey," ujar Zein.


"Arrgghhhhh!" pekik Rima tiba-tiba.


"Kenapa lagi?" tanya Zein.


"Kang Irwan. Dia kan lagi di Bandung. Aku takut dia bakal ke kosan dan ketemu dengan Rey!" jelas Rima.


Zein bergegas meraih ponsel yang sedang diisi daya. Menekan layar dengan tergesa. Menatap Rima yang memucat sambil menunggu teleponnya tersambung.


***


Pagi itu Irwan bangun kesiangan. Mengerjakan tugas hingga lewat tengah malam membuatnya melewatkan alarm dan salat Subuh.


Pria berkulit kecoklatan itu bergegas masuk kamar mandi. Membersihkan diri secara terburu-buru. Memakai pakaian dan sepatu dengan cepat. Menyambar ponsel dan kunci mobil dari atas meja. Menarik tas kerja di dekat lemari. Kemudian keluar dari kamar.


Sesampainya di tempat kerja ternyata dia sudah terlambat lima belas menit. Sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada karena masuk ruangan dengan terburu-buru, Irwan akhirnya duduk di kursi paling belakang.


Dia menghela napas lega. Walaupun terlambat tapi masih bisa mengikuti rapat.


Tiga puluh menit kemudian Irwan sudah duduk di ruangan direksi. Berhadapan langsung dengan salah satu pemilik perusahaan, membuatnya sedikit deg-degan.


Wanita dewasa di depannya ini tampak sangat anggun. Tanpa perlu bersikap angkuh, gayanya terlihat sangat bijaksana.


"Bagaimana Irwan, apa kamu bersedia untuk ditempatkan di sini?" tanya Bu Tantri.


"Siap, Bu. Di manapun saya siap," jawab Irwan dengan tegas.


Bu Tantri tersenyum. Jemari lentiknya menekan tombol telepon dan memanggil asistennya untuk datang.


Seorang wanita muda berkacamata datang dengan cepat. Mendengarkan perintah Bu Tantri dengan saksama. Kemudian beranjak pergi lagi.


"Sudah kenal sama Kayla? Yang tadi?" tanya Bu Tantri.


"Belum, Bu," jawab Irwan.


"Nanti kamu lanjut kerjasama dengan Kayla. Karena saya akan kembali lagi ke Inggris."


Irwan manggut-manggut.

__ADS_1


Siang itu barulah Irwan bisa melihat ponselnya. Ratusan chat dan puluhan telepon masuk sejak pukul 3 Subuh.


Dia mengernyitkan dahi saat melihat nomor ponsel Zein, Rama dan Triska bergantian menghubunginya.


Jarinya menekan layar ponsel dan menghubungi nomor terakhir yang meneleponnya dua jam yang lalu.


"Assalamualaikum, akhirnya kamu nelepon balik juga, Wan," sapa Zein dari seberang sana.


"Waalaikumsalam. Maaf, aku kesiangan tadi. Ini baru beres rapat dengan direktur. Ada yang bisa kubantu?" tanya Irwan dengan suara hangat khas customer service.


"Bisa. Aku mau pesan mie dokdok dua. Satu pedes dan satu nggak," seloroh Zein.


Irwan terkekeh.


"Serius, Zein. Ada apa?"


"Kamu masih di Bandung?"


"Iya. Ehh ... kok kamu tahu aku di Bandung?"


"Panjang ceritanya. Pokoknya jangan ke rumah dulu sampai aku pulang. Tunggu Rama nyamperin kamu nanti sore. Dia dan Triska akan ngejelasin semuanya."


"Hmm ... oke. Kamu emangnya ada di mana sekarang?"


"Di Jakarta. InsyaAllah malam ini pulang ke Bandung. Kita ketemu besok, ya."


"Sip. Kutunggu."


***


Rama menepuk pundak Irwan beberapa kali. Sedangkan Triska hanya menyalaminya dengan sopan.


Mereka bertemu di sebuah restoran di kawasan Dago. Menikmati makan malam yang kesorean sambil mengobrol serius.


"Jadi begitu ceritanya? Aduh. Aku ketinggalan banyak informasi," ujar Irwan dengan suara bergetar.


Dia sangat terharu saat mendengar cerita Triska, tentang pertemuan Zein dan Satya dengan Rima.


Irwan pun menceritakan kisahnya sendiri, yang beberapa kali didatangi istrinya. Dilanjut dengan beberapa karangan bunga mahal yang sering ditemukan di makam Rima.


"Apa berarti Eric tinggal di wilayah Bogor?" Rama mengetuk-ketuk meja sambil berpikir.


"Menurut analisa bang Zein juga begitu. Sayangnya, dua kali ke tempat persembunyian Eric, abang masih tidak tahu tempat itu letaknya di mana," sela Triska.


"Dan, satu lagi. Aku diperingatkan Zein untuk tidak ke rumah kosan sampai dia pulang. Ada apakah?" tanya Irwan. Dia sangat penasaran.


"Kalo itu, aku juga gak paham, Kang. Tapi menurutku, ucapan bang Zein memang patut diikuti. Dia pasti punya penjelasannya," timpal Triska.


"Hmm ... sepertinya kamu sudah sangat paham jalan pikiran Zein, Ris," goda Irwan seraya tersenyum lebar.


"Ooo ... itu sih jelas. Mereka udah mau lamaran kok," tukas Rama yang langsung mendapatkan cubitan dari Triska.

__ADS_1


__ADS_2