Pengantin Cempaka

Pengantin Cempaka
Hantu Baru?


__ADS_3

Bulu roma Ary masih merinding sempurna. Ada rasa takut dalam hati yang perlahan mulai muncul. Dia sering mendengar cerita tentang hantu Rima yang gentayangan di sini dan seputar komplek. Namun, baru kali ini dia melihat secara langsung.


Geraman Emak Chubie perlahan menghilang. Ary membawanya masuk ke kamar. Setelah mengambil ponsel ia pun ke luar lagi sambil tetap menggendong kucing abu belang hitam tersebut.


Ia duduk di depan kamar Triska. Menyandarkan diri ke dinding. Matanya memandangi sekeliling ruangan dengan waspada.


Emak Chubie tidur melingkar di atas pangkuannya. Melihat kucing gendut itu tertidur lelap membuat Ary merasa tenang kembali. Setidaknya Rima telah pergi menjauh.


Perlahan ia merebahkan diri dengan melipat tangan sebagai bantal. Embusan angin sejuk dari pintu yang terbuka membuatnya terlelap dengan cepat. Hingga tidak menyadari bahwa Satya dan Chandra sudah pulang.


Tepukan lembut di lengan Ary membuatnya terbangun. Mengucek mata kemudian memastikan bahwa itu Satya asli dengan mencubit punggung tangan Satya.


"Lha! Kok aku dicubit?" protes Satya sambil mengusap bekas cubitan.


"Sorry. Mau mastiin ini beneran kamu," jawab Ary sembari bangun dan duduk bersila.


Emak Chubie sudah terbangun terlebih dahulu dan sekarang sedang makan di dispenser makanan khusus kucing yang disediakan Triska di dekat pintu kamarnya.


"Emangnya, tadi ada yang bertamu?" tanya Chandra yang muncul dari dapur. Di tangannya ada tiga buah piring.


"Ho oh. Tadi Rima muncul," jawab Ary.


"Tumben? Kemaren-kemaren dia udah nggak pernah muncul lagi," sela Satya. Tangannya bergerak mengeluarkan tiga bungkus nasi padang dari dalam kantong plastik. Kemudian meletakkannya satu per satu di atas piring yang diulurkan Chandra.


Selera makan Ary muncul kembali saat melihat nasi padang di piring yang diulurkan Satya. Dengan semangat ia meraih piring dan membuka bungkusan kertas tersebut. Berdecak saat melihat ayam bakar dan perkedel melambai di antara timbunan nasi, sayur nangka dan sambel hijau khas nasi padang.


Mereka bertiga makan siang yang hampir kesorean itu dengan lahap. Sesekali obrolan dan tawa terdengar sampai ke pagar rumah kosan. Membuat beberapa orang yang melintas menoleh karena penasaran.


***


Sementara itu acara peringatan setahun kepergian Rima sudah akan dimulai. Ustaz beserta para tamu yang diundang sudah hadir dan duduk rapi.


Setelah acara pembukaan dengan kata sambutan dari Fahmi mewakili keluarga besar almarhumah Rima, selanjutnya acara pengajian dimulai.


Para tamu pria memenuhi ruang tamu hingga ke teras depan yang cukup luas. Sedangkan para tamu wanita mengisi tenda.


Dinar dan teman-teman tampak duduk di dalam ruang tengah rumah. Di sebelah kiri Dinar ada ibunya Rima dan Teh Siska, istrinya Fahmi. Uwa' dan para Bibi Rima duduk di seberang.

__ADS_1


Beberapa sepupu Rima tampak sibuk bolak balik ke garasi melalui pintu samping rumah. Mereka sedang mempersiapkan meja prasmanan untuk suguhan para tamu.


Air mata Dinar perlahan mulai turun. Berulang kali ia mengusap dengan tisu. Demikian juga dengan ibunya Rima. Wanita paruh baya itu menangis tanpa suara.


Siska merangkul pinggang Ibu mertuanya sembari mengusap bulir bening yang mengalir deras di pipi wanita dewasa itu.


"Istighfar, Bu. Neng udah tenang di sana," bisik Siska.


Dinar dirangkul Nani yang duduk di sebelah kanannya. Sementara Triska merangkul pundak Karin yang menangis tergugu di sebelah kanan Nani.


Pak Bakar, ayahnya Rima memasuki ruang tengah. Matanya berembun melihat sang istri yang menangis sedih.


Pria tua itu mendekati istrinya dan mengusap kepala wanita yang telah puluhan tahun setia mendampinginya itu dengan penuh rasa sayang.


"Teh, pengajiannya sudah selesai. Prasmanan sudah siap?" tanya Pak Bakar pada Siska.


"Teteh cek dulu, ya, Pak," jawab Siska sembari bangkit berdiri.


Dinar dan Nani juga ikutan bangun dan mengikuti langkah Siska menuju dapur. Triska dan yang lainnya juga ikut bergerak membantu.


Setelah memastikan semuanya siap, ayahnya Rima mempersilakan para tamu untuk menikmati hidangan.


Triska, Ayu, Tia dan Isti berjaga di meja prasmanan pertama. Sedangkan Dinar, Nani, Karin dan Siska berjaga di meja kedua.


Sepupu-sepupu Rima bergerak cepat menambah aneka lauk pauk di kedua meja tersebut.


Tamu yang membludak membuat mereka sedikit kewalahan. Namun, akhirnya semuanya bisa selesai dan berjalan dengan sukses.


Menjelang Magrib para tamu mulai membubarkan diri. Rama dan teman-teman yang hendak pulang akhirnya membatalkan rencana untuk menginap di rumah Karin, dan memenuhi permintaan pak Bakar untuk menginap di rumahnya.


Selesai menunaikan salat Magrib berjamaah mereka pun menuju paviliun yang sudah dipersiapkan.


Para pria langsung bergelimpangan di ruang tamu yang menyatu dengan ruang televisi paviliun. Sedangkan para wanita bergiliran menggunakan dua kamar mandi yang tersedia.


***


Malam minggu yang kelam buat tiga pria jomlo di kosan membuat mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan keliling kota Bandung.

__ADS_1


Setelah lelah berputar akhirnya Ary memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan ia menepikan mobil di sebuah minimarket di pintu utama komplek.


"Turun, yuk!" ajaknya pada Satya.


Sedangkan Chandra sudah berlayar ke samudra mimpi di kursi tengah.


Satya melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Setelah menutup pintu ia berjalan menyusul Ary yang sudah lebih dulu turun dari mobil dan memasuki minimarket.


Satya memilih beberapa bungkus mie instan, roti, susu kental manis cokelat, dan dua bungkus biskuit.


Sementara Ary membeli beberapa kaleng sarden, kornet dan sebungkus abon.


Mereka bertemu di meja kasir dan membayar belanjaan masing-masing.


Kemudian mereka beranjak keluar dan mengayunkan langkah kaki menuju mobil.


Satya yang membuka pintu lebih dulu tampak tertegun saat melihat Chandra sedang duduk dengan pandangan ketakutan. "Kenapa, Chan?" tanyanya.


Chandra hanya menunjuk ke belakang dengan jari telunjuk sebelah kiri.


Seketika Satya mematung. Ary yang hendak masuk ke dalam mobil akhirnya mundur kembali. Bulu romanya berdiri seiring dengan munculnya sosok seorang wanita yang duduk tepat di kursi pojok kanan kursi belakang.


"Astagfirullah!" ucap Satya. Spontan tangan kanannya membuka pintu tengah dan menarik Chandra keluar dari mobil.


Kemudian Satya menutup kembali pintu dan menjauhi mobil, duduk bersama Ary dan Chandra yang masih pucat pasi.


"Itu ... Rima?" tanya Ary dengan berbisik.


"Bukan. Itu sosok yang pernah aku lihat di tempat jemuran di atas kamar Ivan," jawab Satya sambil berbisik pula.


"Apa hantu di kosan ada dua?" Ary bertanya lagi.


"Entahlah. Aku juga bingung. Kemunculan dua sosok hantu ini dalam waktu yang hampir berdekatan membuatku berpikir. Sepertinya inilah petunjuk kenapa Rima tiba-tiba muncul," jawab Satya sambil mengusap keringat di dahi.


Tanpa ia sadari tubuhnya sudah sedikit basah. Ini efek ilmu tenaga dalam yang tadi ia gunakan untuk membuat pagar gaib di dalam mobil.


"Bang Zein, gimana ini?" batin Satya.

__ADS_1


__ADS_2