
Tak terasa beberapa hari telah terlewati.
Hari ini Annisa memakai gaun pengantin yang pernah ia coba di butik nya Tante Elis. Hari ini, wajah cantik nya full dengan riasan make up. Hingga membuat orang-orang di sekitar terlihata pangling saat menatapnya.
"Wah!! Mba Nisa cantik sekali." Ucap Fatimah salah satu pegawai nya yang juga sangat akrab dengannya.
"Terima kasih Fa." Ujar Annisa seraya tersenyum lembut.
Kini Annisa sudah berdiri di depan pintu kamarnya, ingin segera beranjak dari sana menuju kearah depan rumah. Namun kemudian Ibu datang menghampirinya.
"Udah siap Nis?" Tanya Ibu seraya mendekat kearah putrinya.
"Udah Bu, nih juga mau keluar." Timpal Annisa.
"Oh, yasudah yuk." Sahut Ibu seraya menggandeng tangan putrinya, membawanya keluar rumah.
Para kerabat sudah menunngu di depan rumah, karena pernikahan akan dilangsungkan di sebuah Masjid besar yang tak jauh dari rumah Annisa.
Sesampainya Annisa disana. Para Ibu-ibu yang sedang menunggu, tak hentinya memuji Annisa yang tampil dengan sangat cantik dan anggun hari itu hingga membuat Annisa tersipu malu. Ya, dia malu karena ini pertama kali baginya di puji oleh begitu banyak orang yang ada disana.
"Udah Ibu-ibu, jangan terlalu memuji Annisa ntar kita telat sampai disana." Ucap Ibu yang membuat para Ibu-ibu laninya menyudahi pujian mereka dan kini mulai meninggalkan Annisa bersama ibunya untuk segera pergi ke Masjid yang di maksud.
Setelah kepergian mereka, kini Annisa beserta Ibunya ikut masuk kedalam mobil dan pergi menuju ke tempat yang di maksud. Masjid tempat mereka melangsungkan akad nikah disana.
Tak berapa lama kemudian sampailah rombongan Annisa disana. Saat mereka mulai memasuki Masjid tersebut, tak terlihat sama sekali Rafka disana, yang ada hanyalah kerabat mereka serta Ustad Maulana yang berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Rafka kemana?
Di dalam hati, Annisa bertanya-tanya tentang keberadaan Rafka sang mempelai pria. Ia tak kunjung datang meski kini sepuluh menit telah berlalu, sehingga membuat Annisa kembali bertanya-tanya didalam hatinya.
"Kenapa ia belum datang? Apakah sekarang ia sedang bersama kekasih nya dan membatalkan pernikahan ini.
Gumam nya dalam hati.
Penghulu, tamu undangan, serta para saksi mulai terlihat jengah dalam menanti kehadiran Rafka disana, sehingga membuat Annisa semakin khawatir dengan perasaan nya.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika ia tidak datang. Ayah dan Ibu pasti malu sekali. Ya Allah seharusnya aku membatalkan pernikahan ini sedari awal.
Gumam nya lagi.
Namun kekhawatiran nya seketika hilang saat mendengar suara langkah kaki seseorang.
"Tap . . tap . . tap.
Rafka memasuki ruangan Masjid bersama dengan sang Bunda yang menggandeng tangan nya dengan erat.
"Maaf, saya terlambat." Ucap nya sembari duduk di tempat nya.
"Tidak apa-apa Nak, yang penting kamu sekarang di sudah berada disini." Sahut Ayah sembari tersenyum lembut.
Setelah kehadiran Rafka disana, kini acara akad nikah pun dimulai. Rafka kemudian menyalami tangan Pak Kosim yang notabene nya adalah Ayah Annisa yang ingin menikahkan langsung putri tercinta nya. Lalu mereka pun mulai mengucapkan ikrarnya.
***
"Sah .!!" Ucap Pak Penghulu sembari menatap ke arah para saksi.
"Sah.!!" Sahut para saksi beserta orang-orang yang ada disana secara bersamaan.
"Alhamdulillah.."
Doa pun dipanjatkan setelah akad nikah selesai dengan khidmat. Setelah berdo'a Pak Penghulu juga tak lupa memberi sedikit wejangan untuk kedua mempelai dalam mengarungi mahligai rumah tangga, dan setelah itu Rafka beserta Annisa meminta restu kepada para orang tua mereka.
Pernikahan memang telah usai. Namun pesta masih berlangsung. Kini mereka berpindah tempat disebuah gedung yang sengaja di sewa untuk acara pesta pernikahan mereka.
Rafka berdiri dengan kaku disamping Annisa, begitu pula sebaliknya. Namun mereka menyalami setiap para tamu undangan yang hadir disana dengan sangat ramah. Annisa mencoba tersenyum kearah Rafka saat mereka bertatap muka. Namun Rafka terlihat dingin saat Annisa tersenyum padanya.
__ADS_1
"Apa dia masih tidak menyukaiku? Jika dia belum bisa menyukaiku kenapa hari ini ia datang untuk menikahiku.
Gumam Annisa saat melihat sikap dingin yang di tunjukkan Rafka kepadanya.
.
.
.
.
Hari semakin larut. Pesta pernikahan pun telah usai.
Para tamu undangan serta kerabat yang hadir telah hilang satu persatu pulang kerumah masing-masing. Begitu juga dengan pengantinnya. Mereka kini tengah menuju arah pulang kerumah orang tua Annisa.
Ustad Maulana beserta istri juga ikut mengantarkan putranya pulang kerumah mertuanya. Hingga tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah.
"Akhirnya selesai juga ya yah." Ucap Ibu sumringah.
"Alhamdulillah ya Bu." Jawab Ayah yang tak kalah sumringah nya.
"Alhamdulillah ya, akhirnya kita sudah jadi besan." Timpal Bundanya Rafka.
"Iya." Jawab Ibu sembari tersenyum.
"Silahkan masuk semuanya, masak kita yang sudah menjadi satu keluarga harus berdiri di luar sih ngobrolnya." Seru Ibu lagi.
Mereka pun akhirnya masuk kedalam rumah dan melanjutkan perbincangan disana. Ibu berlalu kedapur bersama Bundanya Rafka untuk membuat minuman kepada semuanya. Sedangkan Annisa dan Rafka memilih beranjak darisana berniat masuk kekamar nya.
"Cie . . yang udah nikah, buru-buru amat sih mau malam pertama." Goda Winda di hadapan semua nya sehingga membuat wajah Annisa merona menahan malu.
"Apaan sih dek, kakak mau membersihkan diri serta make up yang nempel di wajah kakak tau." Jawab Annisa di hadapan semua nya.
"Wush . . kamu ini ngomong apa sih? Lihat wajah kakak mu jadi merona begitu saat kamu menggoda nya." Sambung Ibu yang datang dengan membawakan nampan yang berisikan minuman di atas nya, sedangkan Bunda membawakan sedikit camilan untuk mereka.
Bunda tersenyum saat mendengar ucapan Winda, namun Rafka tampak tak begitu perduli dengan ucapan adik iparnya itu. yang ia inginkan sekarang adalah segera membersihkan diri dan setelah itu ia ingin langsung beristirahat, karena hari ini adalah hari paling melelahkan di sepanjang hidupnya.
"Sudah sana masuk, nggak usah kamu dengerin ucapan adikmu ini." Ucap Ibu yang menyuruh Annisa dan Rafka sengera masuk kedalam kamar.
Mendengar ucapan Ibu. Rafka beserta Annisa segera pergi darisana menunu ke arah kamar Annisa yang berada tak begitu jauh dari ruang keluarga tersebut.
Sesampainya disana. Annisa membuka pintu kamar nya dan melangkah masuk kedalam disusul Rafka yang berjalan di belakang nya.
Dilihat nya isi kamarnya yang kini berubah drastis tak seperti biasanya. Malam ini kamar itu terlihat begitu indah dengan taburan kelopak bunga mawar merah di atas ranjang nya. Lilin-lilin aromaterapy yang menyala tampak ikut menghiasi sudut kamarnya sehingga membuat suasana kamar menjadi sangat romantis malam ini.
Rafka melangkah masuk mendekat ke arah ranjang. Di perhatikan nya sekeliling ruangan, lalu ia memilih duduk di atas ranjang tanpa berbicara apapun.
"Bagaimana ini? Haruskah aku terlebih dahulu yang bertanya kepadanya.
Gumam nya sembari menatap kearah Rafka.
"Abang mau mandi dulu." Ucap Annisa dengan suara bergetar.
"Apa.!!" Sahut Rafka sembari menatapnya tajam.
"Mau mandi dulu?" Ucap nya lagi memberanikan diri.
"Bukan itu, aku ingin dengar tadi kamu memanggil ku apa?" Ujar nya tanpa memperdulikan ucapan Annisa.
"Abang." Jawab Annisa polos.
Rafka mengerutkan dahinya saat mendengar kata "Abang" yang baru saja diucapkan Annisa kepadanya.
"Ya sudah,terserah kamu lah." Ujar Rafka tak peduli.
__ADS_1
"Mana handuk?" Tanya nya kepada Annisa.
"Oh, sebentar, ini." Jawab Annisa sembari menyerahkan handuk yang ia ambil di dalam lemari miliknya.
"Terima kasih." Sahut Rafka sembari berlalu menuju ke arah kamar mandi kecil yang ada didalam kamar itu.
Setelah Rafka berlalu masuk kedalam kamar mandi. Kini Annisa berjalan ke arah cermin dan memilih untuk duduk disana. Ia mulai melepas hijabnya, lalu setelah itu ia juga melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut panjang nya terurai dengan indahnya.
Ditatap nya wajah nya. Ia melihat make up yang begitu tebal masih menempel di wajah nya. Lalu ia pun mengambil kapas serta Micellar Water yang ada di atas meja dan kemudian membersihkan riasan make up yang masih menempel di wajah nya.
Tak lama berselang Rafka selesai dari kamar mandi sehingga kini ia berjalan untuk kembali masuk kedalam.
"Ceklek" Suara pintu kamar mandi terbuka oleh Rafka. Ia lalu keluar dari sana dan kemudian memasuki kamar Annisa hanya dengan memakai handuk yang ia lilitkan di pinggang nya.
"Deg . .
Jantung Annisa berdebar kencang saat melihat Rafka yang hanya mengenakan handuk saat masuk kedalam kamar nya melalui pantulan cermin yang ada didepan nya.
"Ya Allah . . Abang!!
Gumam nya sembari menunduk malu.
"Kamu tidak mandi?" Ucap Rafka begitu duduk di atas ranjang.
"Ya, Nisa mandi." Jawab Annisa seraya menunduk. Ia kemudian berdiri di tempatnya dan berjalan melewati Rafka untuk mengambil handuk nya yang letak di atas meja laptopnya.
"Hmm, nggak nyangka dia bisa secantik ini.
Gumam Rafka saat memandangi Annisa yang berjalan di depan nya.
Rafka duduk di atas ranjang sembari menyenderkan kepala nya disandaran tempat tidur. Setelah Annisa masuk kedalam kamar mandi, Rafka pun mulai menatap langit-langit kamar membayangkan kejadian hari ini yang ia anggap sebagai mimpi.
"Nggak nyangka, akhirnya aku bisa menjadi suami dari gadis yang sama sekali tak kucintai.
Gumam nya.
Namun lamunan nya akhirnya buyar saat mendengar suara ketukan dari arah Pintu kamar.
Tok . . tok . . tok . .
Rafka bangkit dari sana, lalu ia mengambil baju dalam yang ia gunakan tadi dan juga celana panjang miliknya. Dan setelah itu, ia pun melangkah mendekati pintu kamar.
"Ceklek"
pintu kamar terbuka.
"Eh Ibu." Sapa Rafka tersenyum hangat saat melihat sosok yang berdiri di hadapan nya.
"Malam nak Rafka." Jawab Ibu seraya membalas senyuman Rafka.
"Ada apa ya Bu?" Tanya Rafka sembari menatap curiga ke arah Ibu mertua yang kini berdiri di hadapan nya.
"Ini, Ibu membawakan koper yang berisi beberapa pasang pakaian milikmu." Jawab Ibu sembari tersenyum.
"Oh, terima kasih ya Bu. Maaf jika Rafka merepotkan." Timpal Rafka.
"Sama-sama nak, tapi Ibu nggak merasa direpotin kok." Ujar Ibu lembut.
Rafka tersenyum saat mendengar ucapan Ibu mertuanya itu.
"Ya sudah nak, kamu istirahatlah. Karena Ibu juga akan pergi." Ujar Ibu seraya melangkah pergi meninggalkan kamar mereka.
Rafka yang melihat kepergian Ibu mertuanya itu kemudian kembali masuk kedalam kamarnya tanpa lupa menutup pintunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1