
Pagi ini Annisa dan Rafka duduk bersama di balkon. Menyeruput teh hangat buatan Annisa serta menikmati indahnya panorama alam serta segarnya udara pagi saat itu. Mereka sedikit berbincang tentang kesukaan masing-masing, bahkan tak segan melontarkan candaan mengusir rasa kaku diantara keduanya, terutama Annisa. Ya, meskipun sudah beberapa bulan menjalani biduk rumah tangga dengan Rafka. Serta telah mendapatkan hak nya sebagai seorang istri, namun jujur saja ia masih agak malu-malu apalagi saat Rafka mulai mendekatinya. Maka seketika saja jantung nya akan berdebar dengan begitu kencang nya.
Pagi itu Annisa memakai kerudung yang cukup lebar mengingat udara pagi disana sangat sejuk ditambah lagi angin pantai yang tak enggan mampir di balkon nya. Annisa lalu tertawa lebar saat mendengar Rafka yang tanpa enggan menceritakan kisah lucunya. Sungguh mereka berdua terlihat semakin akrab kian hari. Setelah selesai mendengar cerita Rafka, Annisa juga mulai menceritakan masa lalunya. Rafka ingin tau dengan jelas bagaimana ia bisa begitu dekat dengan sahabatnya Dedi.
" Uhuk-uhuk . ." Sehingga membuat Dedi yang sedang menyantap sarapan paginya tersedak dirumahnya.
Siapa yang telah membicarakan tentang diriku dibelakang ku
Gumam Dedi.
Kembali di Vila dimana tempat Annisa dan Rafka sekarang berada.
Annisa menceritakan dari awal perjalanan nya masuk SMA sampai akhirnya bertemu dengan Dedi seniornya, Bahkan ia bisa menjalin persahabatan yang cukup dengan nya. Padahal jujur saja Annisa adalah tipe wanita yang tidak mudah bergaul dengan para pria. Namun entah mengapa ia bisa menjalin pertemanan dengan Dedi, bahkan terkesan cukup akrab. Mungkin karena pembawaan Dedi yang sangat luwes orang nya dan juga sangat sopan, sehingga membuat Annisa nyaman menjalin pertemanan dengan nya.
Annisa juga menceritakan bagaimana wujud Dedi saat masih sekolah. Perawakan tubuhnya yang bisa dibilang cukup gendut, pipinya yang chubby membuat Dedi begitu menggemaskan saat di lihat. Namun ia juga menjadi bahan bullyan teman-teman nya terdahulu karena penampilan nya yang sangat culun waktu itu. Namun itu tak membuat Dedi drop, ia bahkan dengan senang hati membalas candaan para murid sekolah dengan jawaban yang kadang agak sedikit nyeleneh, sehingga membuat semua orang tertawa. Sikap humornya memang sudah tampak sejak masih duduk di bangku SMA.
" Apa benar yang kamu katakan barusan Nis?" Tanya Rafka dengan raut wajah menahan senyumnya.
" Benar Bang . ." Jawab Annisa yang membuat Rafka tergelak dengan sendirinya.
" Hahahaha.." Rafka sangat senang saat mengetahui bahwa dibalik ketampanan, kegagahan serta ke populeran yang ada pada diri Dedi saat ini ternyata pernah menjadi bahan tertawaan para murid SMA.
Namun Rafka juga salut dengan sikap Dedi yang tak mudah jatuh dengan itu semua. Bahkan bisa dibilang ia telah berhasil membungkam mulut murid-murid SMA nya terdahulu dengan pencapaian yang kini telah diraihnya. Ya dedi sangat tampan, ditambah lagi tubuhnya yang kekar bisa membuat para wanita terpesona dengan nya.
" Tapi aku juga salut dengan kegigihan nya." Ucap Rafka.
" Ya Abang benar. Nisa saja sampai hampir tak mengenal jika dia adalah kak Dedi teman Nisa sewaktu SMA dulu karena perubahan yang cukup besar pada dirinya." Ujar Annisa sembari mengingat pertemuan nya dengan Dedi kala itu.
" Apa kamu terpesona?" Tanya Rafka, namun dibalik pertanyaan nya terselip kecemburuan disana.
" Annisa kagum melihat nya." Ujar Annisa polos.
" Oya, lalu bagaimana saat pertama kali bertemu denganku?" Tanya Rafka, namun dibalik pertanyaan nya sesungguhnya terselip sebuah kecemburuan disana.
" Hah!" Annisa melongo. Ia tak menyangka jika pertanyaan itu akan dilontarkan Rafka terhadapnya.
Bagaimana ini, mana bisa aku menjawabnya saat itu aku begitu kesal dengan sikapnya yang begitu dingin terhadapku.
Annisa terdiam. Sehingga membuat raut wajah Rafka berubah menjadi masam seketika.
" Apa kamu tidak kagum saat petama kali melihatku?" Tanya nya dengan nada menekan.
Deg
__ADS_1
Jantung Annisa berdegup kencang saat Rafka kembali melontarkan pertanyaan nya, sehingga membuatnya bingung ingin menjawab apa.
" Ni-nisa.." Tak mampu melanjutkan kalimatnya, karena saat ini lidah nya seolah kelu sehingga tak mampu bicara.
Ya tuhan . . bagaimana ini, akankah Abang marah jika aku tidak menjawab pertanyaan nya. Tapi sekarang mengangkat lidah saja aku tak bisa, apalagi mengucapkan kalimat.
Annisa bingung. Ia lalu segera mencari ide agar bisa menyenagkan hati Rafka dan melupakan pertanyaan nya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya kearah Rafka lalu dengan gerakan cepat Annisa mengecup pipinya.
" Cup."
Rafka tertegun. Ini kali pertama baginya Annisa mencium nya, sehingga membuat raut wajah nya yang awalnya masam berubah menjadi cerah. Rafka tersenyum di kursinya, sedangkan Annisa mulai bangkit dan hendak berlari meninggalkan balkon. Sungguh ia tak menyangka, bagaimana ia bisa mendapatkan ide gila seperti itu untuk menyenangkan hati Rafka. Namun yang pasti sepertinya ide itu cukup ampuh saat ini.
Melihat Annisa yang ingin segera kabur darinya membuat Rafka tak tinggal diam. Dengan sekejap tangan Rafka berhasil menariknya hingga jatuh kedalam pelukannya.
" Mau lari kemana kamu?" Tanya seraya mempererat pelukannya.
" Ni-nisa ingin.."
" Cup.." Belum sempat Annisa menuntaskan kalimatnya, kini bibir Rafka telah berhasil mendarat di bibirnya dengan lembut, sehingga membuat mulut Annisa terkatup tak besuara. Rafka mengecupnya dengan sangat lembut, hatinya begitu senang saat ini. Sebuah kecupan kecil yang didaratkan Annisa ternyata mampu membangkitkan gairahnya pagi itu. Rafka lalu menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju ke ranjang, lalu membaringkan nya disana.
Annisa merutuki dirinya sendiri.
" Abang mau apa?" Tanya berusaha mengalih perhatian.
" Mau apa? Seharusnya kamu sendiri sudah tau." Rafka mulai melepas jilbab yang di kenakan Annisa. " Karena kamu yang memulainya, maka sekarang kamu juga harus mengakhirinya." Bisik Rafka dengan penuh gairah.
Lalu dengan gerakan cepat ia melancarkan aksinya, sedangkan Annisa meratapi kebodohan nya sendiri.
***
Annisa sudah selesai membersihkan diri, kini ia juga telah selesai mengenakan gamis yang lainnya dan juga mengambil sehelai hijab ditangan nya. Annisa lalu berjalan kearah cermin untuk mengenakan hijabnya. Sedangkan Rafka baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan sisa-sisa peluh hasil pertempuran nya pagi ini dengan Annisa.
Ia lalu berjalan kearah lemari mengambil pakaian nya disana dan langsung mengenakan nya. Setelah itu ia beralih kearah ranjang untuk duduk disana. Rafka lalu menatap Annisa yang tengah duduk di depan cermin sembari mengenakan hijabnya. Terlintas kembali olehnya dimana momen-momen disaat Annisa mencium pipinya. Sehingga membuat senyuman kembali tersungging dari bibirnya.
__ADS_1
Drrt, drrt
Ponselnya bergetar dan membunyikan suara. Karena letak ponsel yang terlalu jauh darinya maka dengan cepat Rafka mengambilnya dan melihat siapa yang tengah memanaggilnya.
" Dedi.."
Rafka kemudian mengangkatnya.
" Assalamu'alaikum.." Sapanya.
" Wa'alaikum salam," Balas Dedi di balik panggilan.
" Ada apa Ded? Apa ada kendala di restoran?" Tanya nya.
" Tidak, tidak ada." Sahut nya.
" Terus ada apa menelponku?" Tanya Rafka dengan nada yang terdengar sedikit ketus.
" Hahaha, apa kamu marah kepadaku karena menelpon mu?" Goda Dedi dengan nada suara khas candaan nya.
" Ya, karena saat ini aku sedang bercumbu dengan istriku." Balas Rafka sembari menahan senyumnya.
Hahaha. . . Bagaiman bisa aku mengucapkan kalimat seperti itu kepada Dedi, tapi entah mengapa saat ini aku seolah ingin memamerkan kepada Dunia tentang kemesraan kami dan menunjukkan pada jika aku sangat mencintai Annisa
" Wah-wah . . sepertinya semakin banyak kemajuan nih sama hubungan kalian, jadi ikut senang mendengarnya." Ujar Dedi.
" Hahaha . ." Rafka tak bisa menahan gelak nya. " Maka dari itu segera tutup telepon mu agar aku bisa melanjutkan kembali percumbuan ku." Ujarnya.
Ia merasa sangat senang karena bisa membalas kembali godaan Dedi.
" Iya deh, iya, yang udah punya istri masih pagi udah bercumbu saja." Ujar Dedi
" Makanya cepat cari istri, maka kamu akan tau bagaimana rasanya bercumbu di pagi hari. Hahaha.." Rafka kembali tergelak sehingga membuat Dedi merasa kalah telak.
" Yasudah, kalau begitu lanjutkan saja percumbuan mu di pagi hari. Aku ingin segera sarapan." Ucap Dedi, ia lalu mematikan ponselnya.
Benar juga seperti yang di katakan Rafka, aku harus mencari seorang istri untuk mengatasi rasa kesendirian ku. Tapi bagaimana caranya, diantara begitu banyak wanita yang mendekatiku. Hatiku tidak bisa merasakan perasaan yang sama seperti rasa ku kepada Annisa.. Aaaahh . . Sudahlah, kalau jodoh pasti takkan kemana.
__ADS_1